
“Lalu, Nek... kenapa mereka mendapatkan gelar Tujuh Penjaga gerbang? Kesannya melecehkan keagungan mereka yang hanya disamakan dengan prajurit penjaga gerbang istana..” Gentayu kembali bertanya sambil mulutnya penuh oleh umbi ungu yang ternyata rasanya sangat lezat itu.
“Itu karena mereka tetap membentengi dan menjaga agar segel kekuatan Jahat Mislan Katili tidak bisa dilepaskan. Agar kekuatan itu tidak bangkit atau dibangkitkan lagi..” Jawab perempuan tua itu sambil tangannya mulai membuka pembungkus benda misterius yang disebut sebagai pasangan dari liontin Gentayu.
“Menurut catatan yang kubaca, masing-masing dari ketujuh pendekar itu adalah murid dari dua orang Dewa cahaya yang turun ke bumi dan mampu memukul mundur pasukan Mislan Katili sebelumnya di perbatasan Kekaisaran Lembah Kuning. Sekitar seratus tahun kemudian, mereka baru muncul. Namun mereka bertujuh konon tetap hidup hingga beberapa ratus tahun kemudian. Para murid penerusnyapun tidak menemukan makam mereka.. itulah yang mendasari keyakinan bahwa mereka tetap hidup..” Perempuan itu kini telah selesai membuka benda misterius dari buntelan hitamnya.
“Sedangkan kedua dewa cahaya yang diyakini sebagai guru mereka bertujuh adalah Haruta dan Murata. Keduanya harus mendidik ketujuh murid hebat itu dan tidak lagi turun langsung karena tidak diperbolehkan mencampuri langsung urusan alam manusia. Bagaimanapun kehadiran Mislan Katili telah merusak keseimbangan alam. Jika keduanya juga turun langsung, justru ketidakseimbangan akan semakin membesar. Alam manusia bisa saja menjadi arena peperangan terbuka antara Para Dewa dengan Bangsa Iblis. Tapi sejujurnya aku tidak meyakini alasan itu..” Lanjut perempuan itu menyampaikan pendapatnya.
“Bagaimanapun, sebenarnya memang manusia sendiri yang harus bertanggungjawab untuk menciptakan kedamaian dunianya sendiri..” Perempuan itu mengakhiri pendapatnya. Lalu menunjukkan sebuah benda yang bentuknya dapat diubah-ubah dengan menggeser-geser formasi penyusunnya yang terdiri dari puluhan batu-batu berbentuk kubus yang saling melekat seperti magnet. Perubahan formasi itu berakhir dengan sebuah bentuk kubus yang menampakkan gambar api dengan sebuah titik hitam berupa lubang di tengahnya.
“Masukkan liontinmu ke sini, dan kita akan melihat apa rahasianya” Perempuan itu meminta Gentayu memasangkan liontinnya pada bagian kubus berlubang di tengah ‘simbol api’ setelah sebelumnya menyegel ruangan tersebut dengan sebuah formasi sihir yang lain demi keamanan rahasia mereka.
Gentayu segera melaksanakan petunjuk perempuan tersebut, dan...
‘Klik!’
Kubus batu itu bersinar terang terang sebelum redup kembali.
Tidak terjadi apapun.
Mereka menunggu beberapa saat dengan waspada. Namun tetap tidak ada yang terjadi.
“Apa ada yang salah?” Gentayu sedikit keheranan.
“Entahlah... sayangnya gurukutidak menjelaskan apapun tentang hal ini. Sepertinya beliaupun tidak memahami cara kerja benda ini...” Perempuan itu menjawab lesu.
__ADS_1
“Kenapa nenek tidak mencoba mengalirkan sedikit energi tenaga dalam?” tiba-tiba Gentayu seperti mendapatkan ide.
“Ah, kenapa tidak terpikirkan olehku?” Perempuan tua itu merasa tercerahkan.
Tangannya segera menyentuh sisi bergambar api pada kubus dan perlahan menyalurkan tenaga dalamnya...
‘trek..tek,tek,tek....’ batuan kubus-kubus kecil pembentuk kubus utuh tersebut bergerak dan gambar api tersebut kemudian berubah bentuk kembali...
‘Klik..!’
Terdengar suara ‘klik’ yang lain sebelum kubus itu berhenti berformasi dan menampilkan gambar matahri pada salah satu sisinya menggantikan gambar api.
“Apa ini berarti sebuah petunjuk? Tadi api, sekarang matahari...” perempuan itu bergumam keheranan juga bingung.
“Ah, bagaimana kalau kita ikuti saja, Nek? Kita jemur di bawah matahari..!” seru Gentayu semangat yang segera disetujui Perempuan itu.
Kubus batu itu diletakkan di bawah sinar matahari dengan bagian bergambar matahari menghadap langit, dan....
‘Klik...!’
Tidak terjadi perubahan formasi seperti sebelumnya, namun kubus itu memancarkan sinar menyilaukan yang berpendar dan berubah-ubah warnanya pada sisi kanan kubus dan memancar horizontal....
Gentayu mengarahkan telapak tangannya untuk merasakan apakah sinar yang muncul itu panas atau mengandung hawa tertentu..... Ternyata itu hanya cahaya seperti cahaya pada umumnya tanpa pancaran energi yang memiliki kekuatan sebagaimana lazimnya sinar energi sebuah pukulan.
“Aih, tidak panas. Tidak ada rasa apapun.. ini sinar biasa... Eh, tunggu...” Gentayu menyadari sesuatu.
__ADS_1
Saat didekatkan ke arah sumber sinar dari kubus di sisi kanan kubus yang mengarah horizontal dan berpendar makin melebar seiring makin jauhnya jarak dari kubus, dia mendapati bahwa sinar yang berubah-ubah warna itu membentuk pola tertentu yang tertangkap di telapak tangannya sebagai gambar. Iya, tidak salah lagi, itu adalah sebuah gambar. Tepatnya adalah sebuah proyeksi gambar tertentu.
“Nenek, cepat ambilkan kain hitam....”
‘PLETAK!” sebuah pukulan gagang sapu kembali mampir di kepala Gentayu sebelum pemuda itu menyelesaikan kalimatnya.
“Aduh!” Gentayu mengaduh. “Maaf Nek.! Baiklah.. Aku akan ambil sendiri” Gentayu yang menyadari kesalahannya karena ‘memerintah’ orang tua segera berlari kembali ke dalam gubuk mengambil kain hitam pembungkus kubus selama ini sambil meringis.
“Mari kita lihat gambar apa ini..” Gumamnya yang terdengar oleh perempuan tua didekatya.
Kain hitam yang semula menjadi bungkus membuntel batu kubus itu sgera berfungsi sebagai layar untuk menangkap gambar dengan jelas di bawah sinar matahari. Ukurannya hanya sekitar tiga kali lebar telapak tangan, namun itu sudah lebih dari cukup untuk menampilkan gambar yang cukup jelas.
“Ini... bukankah ini peta?” Kening keduanya mengkerut.
Ternyata harta yang selama ini dijaga mati-matian adalah sebuah peta. Tapi peta apa? Keduanya bingung dan keheranan.
Gentayu mencoba memahami peta tersebut. Peta itu nyaris seperi gambar hidup. Setiap titik penting disertai dengan gambar nyata. Ada sebuah jembatan bergambar naga merah di sisi kanan-kirinya sebagai titik bernomor 1. Lalu ada titik berupa gunung yang memiliki puncak berapi dengan sebuah penanda berupa dua buah pohon Ruyung yang melengkung saling bersilangan sebagai gerbangnya tak jauh dari sebuah air terjun yang masih satu aliran dengan sungai pada jembatan bertanda nomor 1. Kemudian titik ketiga adalah sebuah padang rumput luas yang gersang dengan sebuah batu menyerupai trisula di salah satu sudutnya berdekatan dengan pohon beringin raksasa yang menjulang menuju sebuah jurang sebagai penanda.
Semuanya adalah misteri. Karena ketiga tempat tersebut sama sekali belum pernah terjelajahi oleh Gentayu dan perempuan itu. Bahkan peta itu menunjukkan apa, atau siapa juga belum mereka ketahui. Apakah membawa kebaikan ataupun bencana. Bahkan Apakah baik atau buruk masih gelap sama sekali.
“yang jelas, sekarang adalah giliranmu dan tugasmu untuk mengungkap dan menemukan arti dari petunjuk dalam peta ini. Urusanku sudah selesai dengan telah kuserahkan tugasku ini secara sempurna. Aku akan melakukan satu hal lain yang juga menjadi amanah dari guruku selain batu kubus ini, yaitu menurunkan ilmuku padamu. Melihat penyerangan kelompok aliran hitam kepada padepokan Matahari Emas, sepertinya waktumu tak akan banyak lagi untuk bersantai...” Perempuan tua itu memecahkan kebuntuan dengan menjelaskan maksudnya untuk sedikit membantu kelancaran perjalanan Gentayu.
“Baiklah, Nek. Mungkin ini sudah garis tanganku. Aku akan menerimanya” Gentayu menjawab dengan mantap.
“Baguslah kalau begitu. Engkau pasti belum mengenalku secara baik. Kalau kau pernah mendengar tentang Pendekar Bulan Perak generasi ini, akulah orangnya..” Perempuan itu akhirnya memperkenalkan diri dan membuka jatidirinya sebelum menjadikan Gentayu sebagai muridnya.
__ADS_1
Hingga beberapa hari kemudian, Gentayu akan berguru dan mendalami ilmu-ilmu dari Pendekar Bulan Perak. Tentu ilmu-ilmu ini akan melengkapi kesaktiannya karena pada dasarnya Matahari Emas dan Bulan Perak adalah ‘sepasang’ ilmu yang saling melengkapi celah-celah kecil di antara keduanya. Walaupun sebenarnya Matahari Emas saja atau Bulan Perak saja sudah cukup memadai untuk mencapai level Pendekar Sakti.