
“Jadi, kemana kita akan menuju?” Matriark Lim bertanya pada Gentayu.
Akhirnya, wanita pemimpin sekte Naga Merah atau Tujuh Tirai ini memaksa untuk mengikuti Gentayu karena melihat dua perempuan cantik dari Hidama mengiringi perjalanan Gentayu selanjutnya.
“Entah apa yang difikirkan nenek tua itu..” gerutu Yumiko ketika mengetahui niat dari ketua sekte tersebut.
Matriark Lim justru menyerahkan kepemimpinan sekte kepada tetua muka lebar atau Tetua Feng yang memang paling kuat di antara para anggota sekte lainnya. Matriark Lim kemudian menyatakan mundur baik-baik sebagai anggota sekte dan kembali menggunakan nama aslinya, Nona Hao Lim.
“Tugasku sudah selesai, bukan? Segel yang dimintakan kepadaku sebagai matriark untuk menjaganya, telah di tangan orang yang tepat. Bukankah ramalan itu juga menyatakan bahwa pembasmi iblis berikutnya adalah sang pewaris api? Jadi, kenapa aku harus membatasi peranku jika aku bisa lebih berperan di dunia luar?
Aku Cuma berharap, tetua Feng bisa membawa sekte menjadi lebih baik. Saudara Gentayu telah sangat banyak membantu tugas-tugasku meningkatkan kekuatan sekte. Mungkin sekarang saatnya aku berusaha membantunya...” begitulah alasan yang disampaikan matriark Lim saat menyerahkan kepemimpinan sekte dan memilih mengikuti Gentayu.
Anehnya, tak ada satupun di antara para tetua yang berusaha mencegahnya.
Maka jadilah, sejak hari itu Gentayu diiringi tiga pendekar wanita dalam petualangannya.
“Aku ingin mengunjungi adik angkatku terlebih dahulu kalau begitu.. “ jawab Gentayu.
“Maksudmu, saudari Lestini dan adiknya?” celetuk Sakuza yang dibalas anggukan pelan oleh Gentayu.
“iya.. Tapi, sepertinya mengunjungi terlebih dahulu paman Sabrang Giri juga tidak terlalu buruk. Aku ingin mendengar beberapa informasi terbaru dunia persilatan, khususnya mengenai kerajaan Lamahtang saat ini.
Kalau benar Karang Setan memiliki salah satu segel iblis seperti disampaikan tetua Sengkuang, bukankah artinya cepat atau lambat aku harus menghadapinya? Kufikir paman Sabrang dengan jaringan usaha dagangnya tentu memiliki banyak informasi yang bisa kita peroleh..” Gentayu menjelaskan rencananya untuk waktu dekat.
Ki Sabrang Giri ternyata mengenali Gentayu saat memeriksa desa Tujuh Tirai usai pertempuran melawan pasukan kadal api yang dibawa Panunggul Sewu dan Pandan Wungu. Memang meskipun tidak terlalu lama, sosok Gentayu cukup menonjol di kalangan pendekar sekitar istana termasuk di mata Ki Sabrang Giri.
__ADS_1
Perjalanan mereka menuju markas utama Lentera langit yang kini telah menjadi kelompok usha dagang tidak terlalu jauh. Ternyata mereka juga mendiami sisi lain dari Lembah tujuh curup, di tepi sebuah danau yang airnya berasal dari salah satu dari ketujuh air terjun.
Kedatangan mereka berempat disambut baik oleh Ki Sabrang Giri. Pria tua itu memperkenalkan Gentayu sebagai mantan kapten dari prajurit Lamahtang kepada bawahannya. Sedangkan matriark Lim dikenalkan sebagai kepala desa Tujuh Tirai karena keduanya sama sekali tak saling mengenal sebelumnya. Andaikan Ki Sabrang Giri mengetahui bahwa desa Tujuh adalah samaran dari Sekte Naga Merah, tentu sikapnya akan lebih hormat lagi.
“Ah.. nona berdua ini sungguh cantik. Apakah nona-nona ini istri atau kekasih dari keponakan kami Gentayu?” Ki Sabrang Giri bicara dengan polos karena memang tidak mengetahui hubungan kedua pendekar wanita itu dengan Gentayu. (Sebutan keponakan adalah sebutan lazim yang menunjukkan kedekatan hubungan, tidak harus memiliki ikatan keluarga*)
Mendengar itu, Gentayu tertawa cekikikan tapi tertahan. Sementara kedua pendekar wanita yang disinggung justru memerah pipinya.
“Ahahahaa.. bukan, bukan.. kami, kami hanya pengawal.. hehe iya.. pengawal..” Jawab Sakuza gugup. Karena pernyataan seperti ini memang di luar perkiraannya sebelumnya.
Sakuza dan Yumiko bahkan di negeri asalnya tidak pernah memiliki kekasih. Jalan hidup mereka yang keras membuat mereka sama sekali tidak pernah memikirkan kehadiran seorang lelaki dalam hidup mereka.
“Jadi, apa tujuan Keponakan kemari, kalau boleh tahu?” tanya Ki Sabrang Giri setelah berbasa basi cukup lama.
“Oh, begini paman. Ini berkaitan dengan Lamahtang. Kami berencana melanjutkan perjalanan ke Lamahtang. Tapi, jujur saja kami sama sekali tidak memiliki gambaran apapun tentang kondisi terakhir kerajaan..” sahut Gentayu.
“Lebih dari itu, paman. Aku memiliki urusan dengan Karang Setan. Ada hutang lama yang belum terbayarkan. Juga dengan seorang bernama Mpu Jangger..” Gentayu menjawab tanpa merinci maksudnya.
Dia sudah merasa geram saat menyebutkan nama dua orang yang diingatnya bertanggungjawab atas rangkaian kekacauan di wilayah Lamahtang. Bukan hanya sekedar kematian Panglima Wiratama. Bahkan pemusnahan beberapa padepokan termasuk kematian gurunya. Api amarah tampak tersirat di wajah Gentayu, namun pemuda itu segera menghela nafas panjang menenangkan emosinya.
“Dari informasi yang kumiliki, ada pergerakan pasukan dalam jumlah besar akan menyerang kadipaten Tulang Mesuji. Kudengar, Kadipaten itu beserta Serelo Pualam dan Ujung Jambe melakukan perlawanan. Seharusnya, saat ini kekuatan istana sedang tidak dalam kondisi terkuatnya..” Ki Sabrang Giri menjelaskan beberapa hal yang diketahuinya sejauh ini.
Sama sekali tidak menyinggung tentang pergerakan para pendekar aliran putih karena memang Ki Sabrang belum mendengar apapun tentang mereka.
Siang itu, Ki Sabrang Giri menjamu tamunya untuk makan siang di salah satu sudut komplek markasnya. Pria tua itu juga memberikan bekal makanan kepada Gentayu.
__ADS_1
“Nakandaku, Gentayu. Paman hanya memiliki ini. Sedikit bekal berupa obat-obatan yang berkhasiat dalam penyembuhan luka dalam. Kami tidak berniat menjualnya secara bebas karena tak ingin digunakan oleh orang-orang aliran hitam. Aku hadiahkan kepadamu, beserta sekantung obat pemulih tenaga. Jujur saja, obat-obatan ini dikembangkan oleh para tabib kami yang berasal dari negerinya Nyonya Matriark Lim..” Ki Sabrang berkata sembari melihat ke arah Hao Lim yang wajahnya segera berubah karena panggilan Nyonya itu.
“Nona, Nona Lim saja, tuan..” Hao Lim buru-buru meralat.
‘Nenek tua ini benar-benar merasa masih muda..’ celetuk Sakuza di dalam hatinya.
‘Sok muda’ batin Yumiko.
Sementara Gentayu menerima hadiah itu dengan membungkuk dan mencium tangan Ki Sabrang sebagai penghormatan.
Tak menunggu lama, mereka segera pamit dari kediaman Ki Sabrang.
Dua orang pendekar ditugaskan untuk mengawal rombongan Gentayu hingga ke gerbang markas yang tak berpenjaga. Mereka meneruskan perjalanan dengan berkuda, lagi-lagi kuda itu jiga hadiah dari Ki Sabrang giri.
Hari tepat tengah hari saat mereka berempat memacu kuda-kuda itu meninggalkan markas Lentera Langit yang kini berganti nama menjadi ‘Rumah Herbal’ itu. Tujuan perjalanan mereka yang terdekat adalah menuju istana kerajaan Lamahtang.
++ +++ +++ +++ ++ ++ +++
Sehari setelah keberangkatan pasukan Lamahtang menuju Tulang Mesuji, pintu Gerbang Benteng Kerajaan dihujani panah berapi. Panah-panah berapi itu segera melalap menara jaga pada kedua sisi gerbang.
Para prajurit yang berjaga dalam kondisi lelah akibat tidak tidur selama hampir seminggu itu tidak berdaya menghadapi serangan panah. Puluhan prajurit itu tewas terbakar di pos-pos mereka, sebagian yang sempat melarikan diri dari jilatan api juga tewas tertembus anak panah.
Suara lonceng dan gong tanda bahaya segera dibunyikan dari menara puncak, tak jauh dari Gerbang benteng bagian depan.
“Serangaaaaaaan....!!! Kerajaaan diseraaaaaang....!!”
__ADS_1
Teriakan para prajurit diantara upaya menyelamatkan diri terdengar, dalam pekatnya malam yang tiba-tiba menjadi terang menderang oleh kebakaran hebat pada beberapa titik di sekitar gerbang benteng.