
Gentayu nyaris kehilangan kesadaran saat tubuhnya meluncur dengan cepat ke udara akibat tendangan keras dari lelaki tua kurus itu. Darahnya serasa tertinggal di belakang tubuhnya untuk beberapa saat. Kabut tebal menyambutnya saat tubuhnya terus meluncur semakin tinggi, terus naik semakin tinggi..
Merasa ini mungkin menjadi akhir petualangannya, Gentayu memejamkan mata. Ia yakin, saat tubuhnya sampai di bawah, walaupun tidak hancur remuk oleh benturan dengan tanah akibat nantinya, tapi lelaki tua itu pasti akan melakukannya. Menghancurkan tubuhnya hingga remuk.
Dalam pasrah, Gentayu memejamkan mata. Mustahil dirinya akan selamat. Saat ini, tubuhnya sudah hampir mencapai batas. Pukulan bertubi yang diterimanya dari lelaki tua kurus itu, membuat hampir seluruh tulangnya serasa patah. Ia ingin melakukan sesuatu untuk memperbesar kemungkinannya bertahan hidup Ketika terhempas nantinya, tapi bahkan ia sudah tak bisa lagi menggerakkan jari-jarinya.
Tubuhnya meluncur semakin deras ke bawah.
Lelaki tua kurus itu telah berdiri di sana menunggunya, kaki kanannya telah terangkat tinggi untuk menyambut kedatangan tubuh Gentayu dalam posisi tempur.
‘JBUM!!’
Suara keras terdengar membahana saat tubuh Gentayu benar-benar bertemu dengan kaki kanan yang terangkat tinggi itu. Melemparkan tubuhnya yang sudah sangat lemah menghantam tebing jurang berbatu.
Suara gema dari tabrakan tubuh Gentayu dengan tebing bahkan membuat hewan-hewan yang sedang merumput di lembah berlarian dengan rasa takut. Burung-burung beterbangan. Bahkan suara itu juga terdengar oleh Anjani dan Hao Lim yang menunggu dengan cemas di bibir jurang. Jauh di atas sosok lelaki tua kurus yang tengah menghajar Gentayu habis-habisan.
Tanpa menunggu dan berfikir Panjang, Anjani segera melompat terjun ke dalam jurang. Setidaknya, kekuatannya jauh di atas Gentayu saat ini, sekalipun kekuatan sebenarnya dari gadis itu masih terkunci oleh segel khusus.
Tak butuh waktu lama, Hao Lim pun menyusul Anjani. Tapi, saat mantan matriark itu memasuki kabut tebal sesuatu terjadi pada dirinya. Gelang perak yang dipakainya tiba-tiba bersinar terang, dan…
‘BLAP!’
Hao Lim menghilang.
+++++++
Tubuh Gentayu kini menempel lekat pada bagian tebing di mana tubuhnya terhempas. Bebatuan runcing di belakangnya hancur membentuk pola tubuhnya. Namun jelas dirinya kini menempel lekat, tak bisa lagi bergerak.
Energi tenaga dalam yang membantunya bertahan sejauh ini telah habis terkuras.
Matanya masih berusaha terbuka perlahan untuk sekedar melihat seringai lelaki tua kurus yang kini menghampiri dan mencekik lehernya.
“Kau,.. Kau tahu sedang berurusan dengan siapa bocah tengik? Aku! Akulah Hang Kumbara, Sang Setan Pemutus Urat!” Lelaki itu berkata dengan tegas, penuh kemarahan di depan wajah Gentayu yang matanya perlahan mulai menutup.
Tanpa mengendurkan cengkeraman pada lehernya, lelaki itu kembali menghajar tubuh Gentayu yang sudah sepenuhnya tak sadarkan diri lagi.
Gentayu telah kehabisan seluruh tenaganya. Kesadarannya telah pergi meninggalkan tubuhnya.
Anjani yang baru saja tiba di tempat tersebut merasa geram Ketika menyadari sosok yang tengah dicekik oleh lelaki tua kurus itu adalah Gentayu.
Tanpa menunggu seperti kebiasaannya, dilesatkan sebuah pukulan mengarah ke kepala lelaki tua kurus tersebut.
Berbeda dengan Gentayu yang bahkan belum mencapai level pendekar Bumi, Anjani sebelum tersegel di dalam wujud batu trisula adalah pelayan biasa yang mampu mencapai puncak pendekar langit. Karena itulah, lelaki tua kurus itu sama sekali tidak mampu mengantisipasi serangan yang dating tiba-tiba dengan sangat cepat tersebut.
__ADS_1
‘GROK!!’
Lelaki tua kurus itu terlempar ke kiri saat kepalanya serasa dihantam batu besar keras yang panas.
Sekalipun mampu segera bangkit dengan terkejut dan menjaga kembali keseimbangan, tetap saja kepalanya terasa terbakar. Ditambah bunyi berdengung pada gendang telinganya yang kini mulai mengalirkan darah.
Lelaki itu menoleh Ke arah Anjani yang kini berusaha membebaskan Gentayu dari bebatuan tebing tersebut.
“Aiyyooooo.. Banguuun..!” diraiknya paksa tubuh Gentayu, lalu digendongnya di belakang tubuhnya. Anjani bermaksud melompat untuk membawa Gentayu keluar dari jurang dengan pemandangan surgawi itu. Tapi tentu saja, lelaki tua kurus yang sudah bangkit berdiri kembali itu tak akan membiarkannya begitu saja.
Melesat cepat, lelaki itu melepaskan serangan tapak Ke arah Anjani. Serangan tapak yang sama yang menghempaskan Gentayu beberapa saat lalu itu berhasil ditepis Anjani dengan kaki kanannya. Dan Ketika serangan tapak lainnya dari lelaki bernama Hang Kumbara itu menyusul, Anjani melompat tinggi ke udara dan menjadikan tangan Hang Kumbara sebagai titik tumpu lompatan.
Sangat kesal karena serangannya luput dan menghantam bagian tebing lainnya, Hang Kumbara melesat ke atas menyusul Anjani yang telah lenyap ditelan kabut tebal.
++++++
Hao Lim terkejut Ketika dirinya tidak jatuh ke dalam jurang Bersama Anjani saat menyusul Gentayu. Yang terjadi, justru dirinya kembali berada di dalam bangunan utama kepatihan kerajaan lamahtang yang sudah ditinggalkan.
Bila orang melihatnya, mungkin Hao Lim akan terlihat seperti hantu yang muncul dari ruang hampa. Di belakangnya adalah sisa tembok di mana cermin yang mengantarkan mereka ke dunia para Danyang berada sebelumnya.
‘ini.. ini.. apa yang terjadi…??” Hao Lim memeriksa keadaan dirinya.
Memeriksa pakaiannya, memeriksa gelangnya yang kini terasa panas. Lalu pandangannya beredar menyapu sekeliling. Sepi. Hanya ada dirinya di tempat itu.
Tak ada para pendekar aliansi Bintang Harapan maupun Bunga Kebenaran. Bahkan, para prajurit dari tiga kadipaten juga tidak terlihat di sana.
“Benar-benar sulit dipercaya.. ternyata, ada satu tikus tersisa!” Suara di atas kepalanya mengagetkan Hao Lim yang baru saja dua Langkah berjalan. Bermaksud meninggalkan tempat itu.
Hao Lim mendongak ke atas dan menemukan seorang perempuan berjubah merah dengan wajah tertutup cadar tipis, juga berwarna merah. Pandangannya tajam dan dingin. Empat orang berpakaian mirip dirinya, terlihat sebagai pengawal berdiri di belakangnya. Mereka dalam posisi melayang.
“Tangkap dia! Barangkali, dia punya inti yang bisa kita ambil!” Kembali perempuan itu bersuara. Kali ini memberikan perintah kepada para pengawalnya yang segera membuat kecut nyali Hao lim.
Menghadapi empat orang yang mampu melayang di udara tanpa kesulitan jelas hal yang berat bagi Hao Lim. Tapi, Tak ada pilihan lain baginya. Walaupun dia masih bingung, siapa orang-orang berjubah merah yang tiba-tiba menghardik dan ingin menangkapnya ini, tapi menyerah tanpa melawan juga bukan pilihan yang ada di fikirannya.
Merasa terancam, hao Lim bergerak secepat yang dia bisa untuk keluar dari gerakan mengepung keempat pengawal di belakang perempuan berjubah merah. Dengan cepat, tangannya bergerak ke depan, mengarah kepada pengawal pendek yang menghadang langkahnya keluar.
Sebuah sinar putih melesat menghantam dada sang pengawal.
‘Dar!’
Hao Lim terkejut. Serangannya mengenai tepat di dada sasarannya, tapi pengawal pendek itu sama sekali tidak terpengaruh sedikitpun. Asap putih tipis menguap dari titik bekas tembakan Hao Lim di dada pengawal pendek.
Sang pengawal pendek hanya menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang putih sembari mengibaskan tangannya ke dada. Seolah membersihkan debu yang menempel di pakaiannya. Lalu melangkah mendekat dengan tatapan tajam Ke arah Hao Lim.
__ADS_1
Nb.
Semoga para pembaca semuanya dalam kondisi sehat wal afiat.
Izinkan saya menjelaskan beberapa hal berkaitan dengan pertanyaan para pembaca yang telah meluangkan waktu menyapa di kolom komentar.
Pertama,
Mengenai Latar Kisah.
Sebenarnya kisah ini mengambil latar di mana sih, Thor?
Kenapa gak pake latar Nusantara saja?
Kenapa.. kenapa..
Baiklah, Saya Jawab.
Pulau Sumatra, sebelum menjadi Andalas bernama Swarnadwipa. Artinya Pulau Emas. Dan Pulau Jawa bernama asli Jawadwipa/Javadwipa, artinya Pulau Padi (Koreksi bila salah).
Dari sini, sebenarnya sudah tergambar, pulau Emas Besar dalam cerita ini sebenarnya di mana dan Padi Perak itu di mana.
Saya sengaja gak pakai nama asli Jawa atau Andalas atau swarnadwipa, karena tidak semua orang bisa terima bila kebetulan daerahnya dijadikan setting tempat munculnya tokoh-tokoh jahat, atau hal tidak baik lainnya. Maka, demi menjaga perasaan pembaca, setting tempat saya ‘fiktifkan’ walau tidak sepenuhnya. Semisal Sei Asen (Sei\=Sungai, air, banyu dan Asen\=Asin), Juga Tulang-mesuji dll, bahkan nama Lamahtang sendiri.
Ada banyak penanda tempat di dalam cerita ini yang sebenarnya nyata. Misal, nama-nama bukit dan Gunung, termasuk bukit barisan. Nama kota dan desa. Sebagian besar dari nama nyata dan asli, Sebagian saya samarkan. Setidaknya, lokasi tempat tersebut tetap bisa menjadi anchor cerita, minimal sebagai penunjuk arah barat-timur-utara-selatan supaya lebih mudah difahami dan si Gentayu yang sampai sekarang masih jomblo gak hilang arah dan gak sesat terlalu jauh. Masa’ nanti dari Baharus (Barus di Sumut) jalan sebentar udah sampai di Tulang-Mesuji (gabungan tulang bawang-mesuji, hehehe..), khan lucu jadinya…
Sekali lagi, beberapa nama tempat tersebut saya fiktifkan atau samarkan saja supaya sama-sama enak, karena saya tahu, bahwa saya memiliki keterbatasan literatur sekaligus kembali ke alasan pertama, menjaga perasaan pembaca. Ok?
Kedua, Mengenai para tokoh
Ceritanya berlatar lokal, tapi kenapa ada nama-nama china dan ke jepang-jepangan?
Dipantara aka Nusantara, sejak jaman Fir’aun mesir telah erat menjalin hubungan dengan banyak bangsa. Aceh sendiri, dipercaya sebagai Akronim Arab, China, Eropa dan Hindia. Jadi menurut saya, tidak ada salahnya memasukkan para tokoh asing dalam cerita. Karena kita bangsa besar yang memang bergaul secara internasional sejak jaman purba.
Berkat catatan China kita mengetahui sedikit lebih detail tentang sriwijaya dan Tarumanegara, walau yang tertinggal di sini hanya prasasti, yang beberapa bahkan tanpa nama kerajaan secara gamblang.
Mohon maaf bila kesan Nusantara dalam cerita ini terasa kurang kental.
Saya maklumi, bahwa Nusantara tanpa Jawa mungkin tidaklah lazim dalam cerita silat. Nama-nama orangnya gak pake Rangga, Arya, bhirawa dan sederet nama khas kejawen lainnya yang familiar. Tapi yakinlah, Jawa tetap ada sebagai salah satu pilar Nusantara dalam kisah ini.
Saya hanya ingin memperkenalkan citarasa berbeda dari negeri dengan 17 ribu pulau bernama Nusantara ini.
Atau mungkin nanti ke depannya saya buat disclaimer tentang ini.
__ADS_1
Semoga Berkenan.
Salam Sehat