
Kehadiran Gentayu yang tiba-tiba dalam arena menarik perhatian semua orang. Para penonton dari masyarakat umum mengira, Gentayu baru muncul dan sengaja menunggu pesaingnya melemah.
Para peserta yang telah menepi karena terluka dan harus dirawat baru menyadari bahwa pemuda inilah alasan diulangnya sayembara ini. Tapi tak satupun di antara mereka yang merasa mengenal sosok Gentayu.
Di atas panggung kehormatan, Manik Baya tersenyum ketika mengetahui Gentayu sengaja menyingkir dan justru bersantai di kedai kopi. Sebenarnya, pecahan batu patung itu tidak akan mencapai posisi gentayu di kedai andai tidak ada campur tangan Manik Baya di dalamnya.
Bahkan, jika jeli akan diketahui bahwa batu yang menyasar Gentayu terbang mendahului batuan lain yang hanya mengenai kerumunan penonton. Jaraknya kedua lokasi terpaut lebih dari seratus meter.
Sang raja awalnya antusias karena menyadari pemuda ini sebagai satu-satunya yang berhasil melewati tantangan Manik Baya. Namun begitu melihat kekuatannya hanya pada level pendekar bumi, Jayadilaga sedikit kecewa.
‘Mungkin hanya kebetulan, karena dia murid Begawan Manik Baya..’ fikir sang raja.
Sebenarnya bukan hanya sang raja yang berfikiran demikian, para bangsawan di panggung kehormatan juga berfikiran sama. Bahkan sampai berfikir Manik Baya memanipulasi laporannya.
Sementara itu, di dalam arena, Karangwangge, Tarsumo dan Gentayu saling berhadapan.
Tarsumo terlihat paling berantakan di antara mereka bertiga karena sekujur tubuhnya dipenuhi oleh darah dari luka sayatan akibat kipas milik Karangwangge. Tapi sebenarnya, dirinya adalah yang paling baik kondisinya. Luka sayatan yang diterimanya hanyalah luka ringan pada kulit, namun dalam jumlah banyak.
Di sisi lainnya, Gentayu tampak memegangi perutnya. Darah merembes dari luka tusukan pisau milik Karangwangge.
Pemuda itu baru menyadari setelah meraba gagang pisau yang gagal dicabut Karangwangge dari perutnya, bahwa pisau ini ternyata juga merupakan pisau pusaka berkualitas.
Sebenarnya Gentayu menguasai sejenis ilmu kebal. Senjata biasa akan sulit untuk bisa melukainya.
‘Orang ini benar-benar kaya..’ batinnya ketika menatap Karangwangge dan pisau di perutnya bergantian.
Gentayu memang tidak mengetahui latar belakang masing-masing peserta. Tapi, cara bersikap dari Karangwangge yang angkuh mengingatkannya pada putra Jalamandana di Lamahtang, Bahastian.
Sementara Karangwangge yang telah melukai Gentayu dan Tarsumo juga tidak dalam kondisi baik-baik saja. Dia mengalami luka bakar serius setelah ditabrak Gentayu dalam wujudnya sebagai manusia api. Pakaian bagian depannya hangus, berikut lapisan kulit dan daging di bawah pakaian tersebut. Beruntung, properti utamanya sebagai laki-laki masih selamat.
__ADS_1
“Tunggu..! Apakah aku boleh keluar dari konflik kalian berdua? Aku sebenarnya tidak berminat mengikuti sayembara ini...” kata Hentayu pada dua orang lainnya di arena itu. Ketiganya saling menunggu dengan waspada.
“Dan kau..” lanjutnya sambil menunjuk Karangwangge “Andai kau tidak memaksaku, aku tidak akan terlibat di sini dan kau juga tidak akan terluka. Dengan luka tusuk ini kuanggap kita sudah impas. Jadi, apakah aku boleh pergi saja?” ucap Gentayu mencoba bernegosiasi. Tak ingin melanjutkan pertempuran lebih jauh.
‘Aku masih ingin bebas’ batin gentayu sambil menghela nafas, tangannya masih memegangi gagang belati di perutnya. Darah merembes membasahi pakaiannya.
Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang lainnya, Gentayu langsung berjalan keluar ke arah keumunan penonton.
“Kau fikir kau bisa lolos begitu saja setelah melukaiku?!” hardik Karangwangge dari belakangnya.
Selesai berkata demikian, Karangwangge langsung melepaskan sebuah pukulan jarak jauh ke arah tengkuk Gentayu.
Gentayu yang belum menurunkan kewaspadaan segera merunduk, dan sebuah ledakan terjadi ketika energi pukulan itu menghantam tanah tak jauh dari Gentayu berdiri.
Ketika Gentayu berbalik, ternyata Karangwangge telah berada di belakangnya, menerjangnya dengan sebuah tendangan mematikan. Beruntung, Gentayu yang masih dalam posisi merunduk sempat menggulingkan tubuhnya ke kiri dan melentingkan tubuhnya ke belakang untuk bangkit berdiri kembali.
Tendangan yang meleset itu menimbulkan bunyi ledakan lainnya di tanah, sebuah rekahan kecil tercipta di bekas tempat Gentayu berguling.
Namun justru saat Karangwangge disibukkan oleh Gentayu yang ternyata tak selemah kelihatannya, Tarsumo dengan cepat melesat menuju puncak patung untuk mengambil hadiah utama sayembara tersebut. Cincin sayembara!
Merasa tanpa penghalang, Tarsumo melesat dengan kecepatan tinggi. Dalam sekejap dirinya telah berada di area dada patung tersebut. Sayangnya, langkahnya yang cukup ceroboh dan kurang waspada harus disesalinya kemudian.
Sebuah rantai hitam dengan ujung berupa celurit telah membelit tubuhnya. Rantai itu telah dilapisi dengan sejumlah besar energi yang cukup untuk membunuh manusia.
Suara ‘bedebum!’ mengiringi jatuhnya tubuh Tarsumo ke tanah. Tarsumo terbanting kembali ke tanah, hanya dalam tempo kedipan mata.
Seorang lelaki brewok dengan wajah sangar dan tubuh pendek yang kekar telah berada di sana. Pria itu adalah peserta baru. Seorang kepala pengawal salah satu utusan yang tengah dirawat. Kekuatan puncak pendekar langit memancar kuat dari tubuhnya.
Karangwangge yang awalnya ingin segera membunuh Gentayu segera menoleh. Membiarkan begitu saja Gentayu menyingkir dari arena.
__ADS_1
Melihat seorang lelaki asing lainnya memiliki kekuatan mengimbanginya, Karangwangge merasa terancam. Dalam kondisinya yang tengah terluka, pangeran dari Mangkalayang itu berfikir bahwa peluangnya untuk menang menjadi tipis.
Akhirnya, krangwangge harus menghadapi seseorang yang kekuatannya setara dengannya. Bedanya, kondisi tubuhnya tidak sedang dalam kondisi terbaik. Selain terluka karena Gentayu, pemuda ini juga mulai kelelahan karena terus menerus bertarung sejak awal menggunakan energi daht yang tidak sedikit.
Mendapatkan celah untuk menyingkir, Gentayu segera duduk tak jauh dari para penonton yang berkerumun. Beberapa pasang mata di antara penonton sempat memperhatikannya sebelum kembali terfokus ke medan pertempuran.
Tanpa mempedulikan suara pertarungan Karangwangge dan lelaki brewok itu, Gentayu berusaha untuk mencabut belati yang menancap di perutnya. Hanya butuh sedikit usaha, dan Gentayu akhirnya berhasil mencabut belati itu dari tubuhnya.
Gentayu memperhatikan belati di tangannya. Benar dugaannya bahwa belati ini bukan belati biasa.
Belati itu mengeluarkan hawa pembunuh yang kuat. Sepertinya, belati ini telah banyak memakan korban. Ada tanda api pada bilah belati tersebut. Awalnya, Gentayu berfikir bahwa tanda api itu hanya hiasan belaka. Namun ketika jari Gentayu menyentuh simbol tersebut, sesuatu terjadi.
Bilah belati itu berubah menjadi bilah api. Sepenuhnya api, namun tetap dalam bentuknya sebagai belati. “Belati Api?” kata Gentayu heran.
Seolah merespon Gentayu, belati itu berubah menjadi panjang. Api yang terlihat menyala-nyala itu berubah bentuk sekali lagi setelah memanjang, membentuk makhluk berwujud naga!
“Pedang Naga Api?”
‘Zzzzzt...’
Belati yang berubah menjadi pedang itu melesat masuk ke dalam tubuh Gentayu. Gentayu sampai terlempar karena tidak mengantisipasi hal tersebut. Lonjakan energi yang besar meledak di dalam tubuh Gentayu.
Gentayu meraung kesakitan. Lonjakan energi yang besar itu mendorong kekuatan tubuhnya hingga ke titik batasnya. Pembatas antara level pendekar bumi dan pendekar langit yang sebelumnya tak mampu ditembusnya kini telah berhasil didobrak!
Level energi Gentayu masih terus melonjak. Gelora api di dalam tubuhnya bangkit memuncak. Seolah tak terbatas. Otot dan sel-sel tubuh Gentayu seolah dipaksa oleh kekuatan asing untuk berkembang. Hawa panas mulai memancar keluar dari tubuhnya, mengagetkan para penonton di sekitarnya.
Keributan mulai timbul di antara para penonton. Beberapa orang di panggung kehormatan bahkan mulai menyadari keributan kecil yang tengah terjadi tersebut. Namun mereka tidak mengetahui persis apa yang tengah terjadi sebenarnya.
Ketika hawa panas semakin meluas, pertarungan antara lelaki brewok dan Karangwangge berhenti seketika. Tapi bukan karena hawa panas tersebut. Bahkan, kini mata semua orang terarah pada sudut di belakang penonton, titik di mana Gentayu berada.
__ADS_1
Sebuah pilar cahaya api memancar ke langit.
Ketika mata semua orang mendongak ke langit, mengikuti ujung pilar cahaya api tersebut, di sana telah tergambar kepala besar. Kepala seekor naga api!