
Pagi-pagi sekali, Anjani, Gentayu dan Hao Lim telah bersiap untuk meninggalkan kediaman Joh Kaiman. Mereka hanya perlu menunggu sang empunya rumah untuk keluar sebelum berpamitan. Sang Istri, sudah berada di dapur sejak pagi-pagi buta.
Begitu Joh Kaiman keluar dari kamarnya, lelaki gempal itu terkejut melihat ketiga tamunya telah bersiap meninggalkan kediamannya.
“Waduh, kenapa kalian harus buru-buru? Hari masih pagi. Bahkan, istriku juga belum selesai memasak sarapan untuk kalian.. Bagaimana kalau kita menunggu istriku selesai memasak dan kita bisa sarapan bersama terlebih dahulu?” Joh Kaiman tidak ingin tamunya keluar rumah dalam kondisi belum menyantap apapun. Sudah tradisi bagi mereka, bahwa tamu yang datang tidak boleh dibiarkan kelaparan saat pergi, atau mereka akan terhalang mendapatkan keberuntungan hari itu.
“Maafkan kami, Kepala Rombong. Kami harus berangkat sekarang. Terimakasih telah menjamu kami. Aku memberikanmu ini, sebagai bentuk keberuntunganmu menjamu kami..” Gentayu memberikan sebuah kantung berisi kepingan emas kepada Joh Kaiman. Dia memahami, bahwa bagi suku-suku terasing seperti mereka, kedatangan tamu adalah sebuah keberuntungan, terlebih bila tamu yang datang adalah orang-orang penting.
“Terimakasih, tuan. Terimakasih.. kalau begitu, aku tidak bisa menghalangi kalian. Semoga perjalanan kalian lancar dan dilindungi Yang Maha Kuasa. Bila suau hari kalian kembali ke daerah ini lagi, jangan lupa untuk menyempatkan mampir ke gubuk kami..” Joh kaiman akhirnya membiarkan para tamunya untuk pergi pagi itu.
Lelaki itu bahkan mengantar mereka hingga batas rombong atau kampung, ditemani istrinya dan pembantunya. Makanan yang sedianya untuk mereka sarapan, telah dikemas dan diberikan sebagai bekal kepada Gentayu, membuat pemuda itu kagum dengan ketulusan keluarga kepala rombong tersebut memperlakukan tamunya.
Sebelum berpisah, Joh kaiman membisikkan sesuatu kepada Gentayu. Kalimat yang dibisikkan tersebut membuat wajah Gentayu sedikit tegang. Tapi pemuda itu segera mengangguk.
Hao Lim nampak penasaran dengan isi pesan Joh Kaiman. Sementara Anjani, berkat kemampuan pendengarannya dpat dengan jelas mendengar kalimat demi kalimat yang dibisikkan.
Joh Kaiman membungkuk hormat sebelum mebalikkan badan dan kembali ke kediamannya. Setelah kepal Rombong itu menghilang di balik tikungan jalan yang dipenuhi pepohonan besar, Hao Lim segera mendekat.
“Dia mengatakan, agar kita tidak melalui jalan ke arah kanan. Di sana, ada orang-orang Telegu Merah yang sepertinya tengah mencari orang asing. Sepertinya, orang yang dicari adalah kita..” Gentayu mengatakan apa yang didengarnya kepada Hao Lim yang baru saja hendak menanyakan isi kalimat yang dibisikkan Joh Kaiman. Juga dengan berbisik.
Melihat gelagat tak lazim itu, Hao Lim segera menoleh ke sekitarnya. Mencari sesuatu yang menjadi alasan mereka saling berbisik di tempat sesepi ini. Pandangannya menjadi membelalak saat matanya menangkap sosok seekor burung hantu bertengger di dahan tak jauh dari mereka.
Hao Lim hendak mengerahkan kekuatannya untuk membunuh burung yang diduganya sedang memata-matai mereka, namun Anjani memegang pundaknya, lalu menggeleng saat Hao Lim melihat kepadanya.
__ADS_1
Akhirnya mereka berjalan dalam diam. Tanpa suara apapun. Mereka berjalan biasa, tanpa menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Penggunaan tenaga dalam pada kondisi seperti sekarang hanya akan mengundang masalah, karena Burung hantu dan orang yang menggunakannya untuk mengawasi jalanan itu pasti akan segera menyadari identitas mereka. Orang asing.
Akhirnya, Mereka bertiga telah sampai di persimpangan jalan yang dimaksud Joh Kaiman setelah berjalan beberapa lama. Tanpa ragu, mereka memilih jalur ke kiri sesuai pesan yang diterima.
Baru berjalan sekitar dua kilometer, tiba-tiba Anjani memberikan isyarat agar mereka segera bersembunyi. Tanpa banyak tanya, Hao Lim dan Gentayu segera ikut bersama Anjani melompat ke semak-semak di tepian jalan tersebut.
Tak terlalu lama, melintas lima kereta barang yang ditarik dua ekor sapi. Kereta itu jelas berisi barang-barang berharga untuk diperdagangkan. Di bagian depan, dua orang pendekar level Pendekar Bumi menunggang kuda bertindak sebagai pemandu. Sedangkan di belakang kereta, empat orang lainnya sebagai pengawal. Keempatnya setidaknya berada di level pendekar bumi tingkat 5. Mereka menggunakan seragam yang sama, Seragam berwarna hijau dengan gambar pegunungan batu di punggung mereka.
Anjani dan lainnya baru berani keluar setelah rombongan itu menghilang dari pandangan.
“Itu orang-orang dari Gunung pelangi. Bagian dari Marga Tanah. Mereka pasti tengah mengawal pedagang menuju pasar..” Anjani mengenali seragam rombongan itu.
“Apa kita akan mengikuti mereka?” Tanya Hao Lim, berfikir bahwa mengikuti kelompok itu bukanlah ide yang baik, sementara sorot mata Anjani menunjukkan antusias yang tinggi.
“Bahkan, kemungkinan kita akan tinggal di lingkungan mereka jika memungkinkan. Gentayu harus segera mendapatkan seorang guru untuk meningkatkan kemampuannya..” Kata Anjani dengan yakin.
“Salah satu kakek dari pihak ibuku, berasal dari Gunung Pelangi. Seharusnya ini akan mudah..” Lanjutnya dengan semangat.
“Bagaimana dengan aku?” timpal Hao Lim, merasa bahwa perjalanan ini hanya seputar Gentayu dan Anjani saja.
“Kau? Apakah kau punya pilihan lain?” Anjani melirik dengan tak yakin kepada Hao Lim, bahkan sudut bawah bibirnya sedikit terangkat, dengan mata melebar.
__ADS_1
Hao Lim hanya menggeleng.
“Aku bukanlah penduduk atau berasal dari dunia ini. Kalian bisa meningkatkan kemampuan kalian selama di sini, lalu.. aku, aku hanya akan jadi beban saja bukan?” Kata Hao Lim tiba-tiba.
Entah darimana muasalnya, tiba-tiba mantan matriark Sekte Naga Emas itu merasa keputusannya untuk mengikuti perjalanan Gentayu itu salah. Salah karena hanya akan berakhir menjadi beban tanpa kekuatan melakukan apapun yang berarti.
“Lim. Kau mungkin tidak menyadarinya. Tapi, Plasma Rakkurai yang selama beberapa waktu menjadi sumber energi sekte kalian itu adalah benda dari dunia ini juga...” Pernyataan Anjani, membuat Hao Lim menyadari sesuatu.
“Apakah itu artinya....” Kata Hao Lim, tak selesai.
“Iya.. Seluruh benda dari dunia Danyang ini hanya akan bertuan kepada orang-orang dari dunia ini juga. Plasma Rakkurai, Pasagi Kubuk, dan Liontin kunci. Semua adalah benda-benda yang saling terhubung. Mereka hanya akan ditemukan dan bekerja pada orang-orang yang berasal dari dunia ini. Sebagai penanda, juga identitas... Terakhir, semua kekuatan dan kehebatan benda tersebut digunakan untuk melepaskan dari segel yang memenjarakanku dalam batu trisula..” Kata Anjani memotong perkataan Hao Lim.
Penjelasan Anjani ini membuat Hao Lim menyadari alasan Karang Setan tidak mampu membunuhnya, namun justru mengunci sebagian kekuatannya sehingga membuatnya tampil sebagai nenek-nenek cantik sebelumnya.
Karang Setan ternyata menyadari, bahwa senjata dan pusaka yang berasal dari dunia Danyang hanya bisa digunakan jika menggunakan kekuatan yang berasal dari dunia Danyang juga.
Demikian juga jika ingin membunuh orang-orang dari dunia Danyang, termasuk Gentayu, hanya bisa dilakukan dengan menggunakan energi yang berasal dari dunia Danyang.
Gentayu menanggapi penjelasan Anjani dengan menggaruk kepalanya, karena baru menyadari bahwa Pedang Satam adalah salah satu pusaka dari dunia ini juga.
“Apakah itu berati, andai ada orang lain di Dipantara atau benua tengah yang berasal dari dunia Danyang ini, benda-benda itu akan mengenalinya?” tanya Hao Lim.
“Tentu tidak. Saat ini semua benda yang kusebutkan itu kekuatannya telah melebur dalam diriku dan melepas segel kekuatanku. Tapi aku pasti akan mengenal mereka, sekalipun aku hanya berwujud trisula di sana..” Anjani, memang baru benar-benar terbebas dari belenggu segel seutuhnya setelah kembali ke dunia para Danyang ini.
__ADS_1
Namun begitu, kekuatan aslinya belum bisa dipulihkan seperti saat dirinya belum tersegel sebagai batu trisula. Setidaknya, dia harus melakukan beberapa hal lagi untuk bisa pulih sepenuhnya.