
Wajah Mpu Jangger merah padam menahan amarah yang memuncak ke ubun-ubun. Siang itu, sehari setelah peristiwa pembantaian dua ribuan pasukan mereka yang dikirim untuk menyerang kadipaten Tulang Mesuji, tiga pendekar yang meloloskan diri dengan menunggang burung besar dating melapor.
“Apa?? kalian bahkan tidak mengetahui berapa orang yang menyerang kalian??!” Mpu Jangger yang kalap bertanya sambil menampar wajah ketiga anak buahnya. Ketiga pendekar pengendali hewan buas itu yang kini berlutut sambil memegangi wajah mereka yang memar.
“Bagaimana kalian bisa dibantai dan kalian tidak mengetahui lawan kalian??!!” Mpu Jangger seolah tak terima dengan berita kehancuran pasukannya. Kembali pertapa sesat itu melayangkan pukulan pada ketiga pendekar dihadapannya.
Betapa tidak, ini adalah misi pertamanya sebagai Panglima merangkap Mahapatih. Dan dia harus mendengar berita kehancuran pasukannya. Dua ribu prajurit bukanlah jumlah yang sedikit.
Jumlah itu bahkan lebih besar lima kali lipat dari jumlah seluruh pendekar yang dibawanya dari pulau Padi Perak. Dari jumlah dua ribu itu, bahkan separuhnya adalah pendekar yang berasal dari aliansi aliran hitam sejak awal. Sedangkan sisanya adalah para prajurit pendukung pangeran ketiga.
Para pimpinan aliansi aliran hitam pasti akan menuntut kompensasi atas terbantainya orang-orang mereka yang tergabung dalam pasukan itu. Apalagi, senopati yang memimpin pasukan itu juga berasal dari Segoro Geni.
Saat ini, gesekan akibat perebutan pengaruh antar faksi atau kelompok di dalam aliansi aliran hitam semakin memanas. Terutama setelah kematian tiga orang pimpinan aliansi beberapa waktu lalu dalam penyerbuan persembunyian raja Prabu Menang di desa Air Kati. Kini, kendali dari tiga kelompok itu sepenuhnya dikendalikan langsung oleh para guru besar masing-masing padepokan.
Selama ini, para guru besar aliran hitam merasa tidak perlu turun tangan karena meyakini kemampuan para ketua yang mereka tunjuk sebagai wakil padepokan di dalam aliansi. Namun begitu melihat korban dari kelompok mereka terus bertambah banyak, ditambah kecilnya porsi jabatan yang diterima, membuat para guru besar ini turun gunung.
Hal ini membuat posisi para pendekar dari Segoro Geni sedikit tertekan. Bagaimanapun saat ini memang merekalah yang mendominasi banyak jabatan penting dalam kerajaan. Mpu Jangger merasa pening dihadapkan pada situasi yang dihadapinya kini.
“Ampun Gusti. Senopati Situngkoro sebenarnya sudah cukup waspada dan berhati-hati saat bergerak. Namun…” pendekar itu gagal menyelesaikan kalimatnya. Sebuah tebasan lurus memenggal kepala mereka bertiga dari arah belakang.
“Banyak omong!” Dengus sosok yang baru saja memenggal ketiga prajurit itu.
Dari belakang ketiganya muncul seorang laki-laki berjubah hitam dengan sebuah luka bakar menggores kening. Berambut putih namun botak di bagian tengah kepalanya. Lelaki itu melangkah seolah tanpa beban setelah memenggal kepala tiga orang tersebut.
“Kau harus turun tangan sendiri, Jangger! Sepertinya Tulang Mesuji masih menyimpan kekuatan tersembunyi. Aku tak mau, kadipaten kecil itu menjadi sandungan dari rencana kita. Cepat selesaikan itu sebelum kadipaten lainnya ikut-ikutan berontak karena mengira kita lemah!” Kata lelaki itu. Dialah Karang Setan, satu-satunya di Kerajaan ini orang yang bisa memerintahnya.
__ADS_1
Karang Setan jelas mengira bahwa kekuatan dari Kadipaten Tulang Mesuji sendirilah yang telah mengancurkan pasukan yang dikirim Mpu Jangger. Menghancurkan dua ribuan pasukan tanpa kehilangan seorangpun, jelas lawan mereka menggunakan trik dan siasat yang matang.
“Tapi, Kau jangan gegabah kali ini. Kirim saja dahulu teliksandi untuk menyelidiki semua ini. Kau bisa mengirimkan orang-orangku. Para pengendali hantu lebih tepat untuk misi ini. Sementara itu, kau sebaiknya mulai mengumpulkan orang-orang terbaik kita. Serang mereka dengan kekuatan penuh kita bila perlu. Aku yakin, mereka tidak lebih kuat dari perguruan aliran putih yang telah kita hancurkan!” Karang Setan memberi petunjuk.
“Baiklah, Paman Karang..” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Panglima sekaligus Mahapatih itu.
Ada sedikit rasa dongkol di hatinya, karena sebagai Mahapatih tak selayaknya dia turun tangan sendiri mengatasi hal yang dianggapnya bisa diselesaikan oleh para Senopati. Menurutnya, jika anak buahnya lebih berhati-hati dan tidak ceroboh, tentu jumlah korban yang jatuh tidak akan sebesar ini. Apalagi mereka dibantai sebelum sampai di tempat tujuan dan tidak pula mengetahui seberapa besar kekuatan yang menyerang mereka. Konyol, benar-benar konyol.
Tapi Mpu Jangger memang harus melaksanakan perintah Karang Setan. Membantahnya bukanlah hal baik, dan tak pernah berakhir baik. Bagaimanapun, pengalaman pendekar tua itu jauh di atas generasinya. Sebagai Pendekar, Mpu Jangger mungkin sangat mumpuni dalam bertarung. Namun dalam urusan siasat perang, dirinya harus jujur mengakui kemampuannya masih nol besar.
Membenarkan ucapan Karang Setan, Mpu Jangger memang menyadari kekeliruannya. Rasa percaya diri yang terlalu tinggi membuatnya mengabaikan langkah pencarian informasi kekuatan lawan sebelum perang. Kini, buah pahitnya harus ditelan. Dan jika kembali ceroboh, bukan berarti pesukan kedua ini juga akan kembali dihancurkan lawan dengan mudah.
Selepas kepergian Karang Setan, Mpu Jangger memerintahkan pembantunya agar memanggil ‘setan tanpa wajah’. Setan Tanpa Wajah adalah julukan bagi Qiao Shen. Seorang pendekar dari bangsa Huang. Dia adalah pendekar terkuat kedua di antara generasi muda padepokan Rambut Iblis. Murid kesayangan Karang Setan ini saat ini menjadi Senopati yang khusus menangani teliksandi atau intelijen kerajaan.
“Apa perlu aku sendiri yang harus turun tangan saat ini, paman gusti jangger, eh.. gusti paman jangger.. anu eh, gusti panglima jangger?” ternyata lelaki itu menjadi gugup saat berhadapan dengan Mpu Jangger. Teringat akan nasib rekannya, salah satu senopati yang dipukuli di aula rapat gara-gara salah menyebut gelar bagi Panglima kerajaan itu.
“Hmmh.. tidak perlu!” Mpu Jangger menjawab sambil menahan dongkol. Kenapa orang-orang ini susah sekali sekedar memanggilnya ‘Gusti Panglima’?, fikirnya.
“Aku hanya perlu, kau kirim saja orang terbaikmu menyelidiki kekuatan Tulang Mesuji. Siapa pendekar atau kelompok yang membantu mereka dan seberapa besar kekuatannya. Jangan lupa, racuni sumber air mereka agar lebih mudah kita hancurkan! Setelah menerima kabar darimu, baru kita serang mereka. Faham?” lanjut Mpu Jangger.
+++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ +++
Tanpa mereka ketahui, saat mereka tengah bersiasat untuk kembali melakukan serangan dengan kekuatan lebih besar itu, gelombang pertama pendekar aliansi Bintang Harapan telah memasuki benteng kerajaan.
Para Pendekar Bintang Harapan itu rencananya akan masuk ke kerajaan dalam tiga atau empat gelombang. Mereka akan masuk dengan menyamar sebagai pengungsi dan tukang bangunan atau penjual hasil bumi.
__ADS_1
Gelombang pertama yang sudah berhasil masuk adalah adalah para pendekar senior yang menyamar sebagai pengungsi Bersama keluarganya. Agar para pendekar laki-laki lebih mudah lolos, beberapa dari mereka terpaksa harus berdandan selayaknya ibu-ibu yang tengah kelaparan, namun dengan dandanan yang sangat tidak enak dipandang mata.
Mereka berhasil mengelabui petugas yang berjaga berkat dandanan menor mereka. Para penjaga itu serasa mau muntah melihat centilnya tingkah polah para laki-laki yang berlagak sebagai perempuan itu.
Beberapa bahkan mencium para penjaga yang segera mencuci mukanya setelah dicium. “Eh, Memangnya aku ini najis apa ya? Dicium gratisan malah dicuci mukanya?” Omel salah satu pendekar berdandan ala banci itu kepada penjaga. Penjaga itu menatap rombongan aneh itu dengan perasaan mual dan memerintahkan mereka agar segera enyah dari tempat itu.
Di sisi lain, para Pendekar wanita justru berusaha untuk sedapat mungin menyembunyikan kecantikan mereka. Kecantikan adalah masalah di hadapan para pendekar berwatak jahat yang menguasai kerajaan ini. Begitulah keadaannya.
Para Pendekar Gelombang pertama yang berhasil masuk ini berasal dari sebagian kecil regu Merpati dan seluruh anggota regu regu Pemetik.
Regu Pemetik itu terpaksa masuk terlebih dahulu guna menghindari bertemu dengan Adipati Suro Langun yang mereka peras dengan menyamar sebagai prajurit Lamahtang. Keenam belas orang pendekar yang terlibat dalam skenario ‘pemerasan’ itu bahkan harus berdandan layaknya pendekar tua selama sisa misi ini berlangsung agar tidak dikenali, terutama Sumambang yang dengan apik berperan sebagai pemimpin rombongan saat itu.
Sedangkan regu Sapu Jagat, regu Bunga Murni, dan sisa regu Merpati akan masuk pada gelombang berikutnya. Mereka harus melakukan beberapa hal sebelum memasuki gerbang kerajaan dan menjalankan rencana mereka.
Berkat kemampuan Pendekar Paruh Emas yang sejak awal telah berada di sekitar istana, rencana pengiriman teliksandi oleh Mpu Jangger berhasil diketahui secara detail. Kelelawar Hitam segera menyampaikan pesan Pendekar Paruh Emas tentang teliksandi itu kepada Benduriang.
Ternyata yang dikirim adalah tiga orang pendekar level Madya saja untuk menyelidiki kekuatan Kadipaten Tulang Mesuji.
Tiga teliksandi itu berangkat pagi-pagi buta dan akan menyamar sebagai penari keliling. Iya, penari keliling karena ketiganya adalah wanita-wanita cantik dan memang ahli ilmu pukau atau gendam. Satu orang yang paling cantik akan menjadi penarinya, dan dua rekannya akan memainkan alat musik berupa gendang dan sejenis alat petik serupa harpa. Lewat alat musik itulah, pengaruh gendam atau pukau itu akan mempengaruhi fikiran sasarannya.
Setelah mengetahui dengan detail identitas dan ciri-ciri ketiga teliksandi tersebut, Benduriang memerintahkan pendekar Pedang Petir dan pendekar panah api untuk menghadang ketiganya. Sebenarnya, kekuatan satu diantara keduanya lebih dari cukup untuk menghadapi ketiga teliksandi itu. Namun Benduriang tak ingin mengambil resiko gagal dan ingin misi itu segera diselesaikan serapi mungkin.
Pendekar Pedang Petir dan Pendekar Panah Api adalah pendekar-pendekar perempuan di bawah kepemimpinan Benduriang. Nama asli mereka adalah Diah Rangi dan Putik Embun. Termasuk pendekar yang tidak bisa dibilang masih muda, namun sisa kecantikan keduanya masih nampak terlihat. Keduanya memiliki suami yang juga bergabung dalam aliansi Bintang Harapan ini.
Diah Rangi dan Putik Embun Segera melesat untuk mencegat ketiga teliksandi yang dikirimkan guna memata-matai kekuatan Kadipaten Tulang Mesuji.
__ADS_1