
Pasukan Upang Jenglot baru hendak bernafas lega ketika mereka telah tiba kembali di gapura gerbang yang mereka lihat sebelumnya. Mereka berfikir bahwa mereka akan selamat setelahnya. Namun dugaan mereka ternyata salah besar.
Persis saat mereka tiba di dekat gapura palsu tersebut, tiba-tiba nyala api mengepung mereka dan merambat dengan cepat. Api itu berasal dari sebuah anak panah berapi yang dilesatkan pada satu titik saja. Namun, dari titik inilah api dengan cepat membantuk lingkaran. Mengurung sisa prajurit Lamahtang yang beberapa saat lalu memasuki hutan ini dengan percaya diri.
Awalnya, Upang Jenglot mengira api ini hanya api kecil yang bisa mereka lalui dengan mudah. Diapun memerintahkan seluruh anggotanya agar bersegera keluar dari kurungan api. Tapi hal lain terjadi.
Api itu ternyata bukan hanya satu lapis. Bahkan berlapis-lapis sebelum akhirnya menyatu membantuk kobaran besar. Api tersebut bergerak semakin ke tengah, mempersempit ruang gerak mereka.
Para pendekar di dalam pasukan itu bahkan harus menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk bisa keluar dari kurungan api yang jilatannya lebih tinggi dari sepuluh kali tinggi orang dewasa. Namun nasib berbeda dialami oleh para prajurit biasa dan para pendekar tanpa ilmu meringankan tubuh. Seluruh pasukan itu tewas dilahap api yang semakin ke tengah semakin membesar.
Upang Jenglot berikut tiga kaptennya dan lima prajurit yang berasal dari padepokan Kelabang Hitam berhasil keluar dari kungkungan api yang berkobar semakin besar. Mereka jatuh terguling tak jauh dari api di belakang mereka. Sebagian pakaian para prajurit itu hangus berikut beberapa bagian kecil kulit tubuh mereka.
Upang Jenglot yang cepat belajar dari keadaan segera memerintahkan bawahannya agar bersiaga karena meyakini serangan lain pasti akan datang. Dia bahkan tidak lagi menoleh ke arah api besar yang melahap seluruh pasukannya. Matanya mencoba menemukan pergerakan mencurigakan di balik semak-semak. Ketemu!
Upang jenglot segera memusatkan tenaga dalamnya ke tangan kanannya. Bersiap melakukan serangan jarak jauh terhadap sosk yang bersembunyi di balik rerimbunan pohon. Upang Jenglot, terkenal dengan kemampuannya mengunci gerakan lawan dari jarak jauh melalui perantaraan bayangan. Namun, dalam kegelapan, jelas lawan yang diincarnya tidak akan memiliki bayangan. Sehingga dia memutuskan untuk menyerangnya langsung.
‘WHOSS!’
Selarik cahaya merah keunguan melesat dari tangan kanannya yang mengarah ke balik pohon besar berjarak sekitar tiga puluhan depa. Nyala api membantunya menemukan sasarannya yang terlihat bersembunyi di balik pohon besar.
‘Trak!!’
Pukulannya tepat menghantam sosok yang menjadi sasarannya. Namun Upang Jenglot justru keheranan karena sosok tersebut sama sekali tidak bereaksi setelah terkena pukulannya.
“Apa yang kau serang, bod*h ?!!” tiba-tiba terdengar suara hardikan di belakang telinga Upang jenglot.
Saat itulah Upang jenglot menyadari bahwa yang baru saja diserang hanyalah gundukan rumah semut yang menempel di pohon besar. Bukan manusia. Bukan musuh.
Suara bernada dingin itu berhasil mengagetkannya dan membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. Seketika dia menoleh dengan reflek, namun yang dilihatnya adalah seluruh anak buahnya telah tewas.
Seorang berpakaian hitam-hitam dengan wajah tertutup terlihat berdiri memegang sebuah botol yang diciumi dan ditempelkan ke dekat pelipis nya. Dari postur tubuhnya, jelas sosok tersebut adalah seorang wanita.
__ADS_1
“Kalian ahli racun, tapi tidak mengenali racun ini?” tanya sosok berpakaian hitam itu dengan senyum mengejek kepada Upang jenglot.
“Kau.. Siapa Kau? Uhuk.. Uhuk..!” Upang jenglot menjadi waspada. Tapi di saat bersamaan, dia merasakan nafasnya menjadi sesak dan sulit bernafas.
“Kalian keluar dari api itu, hanya untuk mati menghirup racun dari mawar hitam.. hahahahaha..” perempuan itu tertawa terbahak-bahak.
“Kau bisa kembali ke kerajaan dan meminta penawarnya pada Nyi Mawar Arum. Tapi, kukira guru besar Mawar Hitam itu telah binasa saat ini. Jadi kufikir, daripada kau capek-capek berjalan pulang....” wanita berpakaian hitam-hitam itu berkata semakin dingin, membuat bulu kuduk Upang Jenglot sekalipun berdiri “lebih baik mati saja di sini..”
Wanita itu melompat mundur ke belakang sembari melepaskan pisau-pisau kecil menyerang Upang Jenglot. Upang jenglot berhasil menghindari serangan pisau-pisau kecil tersebut, namun saat bersamaan dia merasakan nafasnya semakin sesak.
Wanita itu kembali menghilang di balik kegelapan malam setelah melakukan serangan mendadak tersebut. Upang Jenglot sama sekali tidak menurunkan kewaspadaan. Tapi, rasa sesak di dadanya semakin bertambah berat.
Alasan satu-satunya senopati itu menjadi satu-satunya yang masih hidup saat ini adalah kekuatan tenaga dalamnya masih cukup untuk menekan penyebaran racun pada pembuluh darahnya. Namun saat bertarung, otomatis tenaga dalamnya akan terkonsentrasi untuk menyerang dan bertahan.
Upang Jenglot jelas belum menyadari situasi yang dihadapinya. Lelaki itu tidak sadar, bahwa pisau-pisau kecil yang kini menancap di tanah memang tidak ditujukan untuk melukai atau membunuhnya secara langsung. Pisau-pisau itu tertancap di tanah. Mengandung racun yang akan menguap dan menjadi gas berbahaya saat terkena panas. Dan saat ini, Upang Jenglot tanpa sadar terus terhirup racun pisau yang dipanaskan oleh api besar di belakangnya.
Sesaat kemudian, perempuan yang menyerangnya tadi muncul kembali.
Perempuan itu menerima kembali pisaunya dengan bersalto dan menangkapnya dengan jepitan di kaki. Lalu kembali menancapkan pisau itu ke arah kaki Upang Jenglot. Saat itulah upang jenglot menyadari kesalahannya. Namun sudah terlambat.
Upang Jenglot merasakan matanya menjadi gelap sebelum akhirnya roboh tak jauh dari empat pisau kecil yang semuanya terus mengeluarkan gas beracun.
“Ah, ternyata aku berhasil menggunakan trik ini!” Serunya riang sebelum mencabut pisau lain dari pinggangnya. Kali ini dilemparkan ke bagian kepala belakang dan menembus batok kepala Upang jenglot. Mengakhiri hidup senopati kerajaan yang belum mengetahui siapa musuh yang dihadapi sampai nyawanya lepas dari badan sekalipun.
Pendekar perempuan itu segera melesat ke arah benteng kerajaan sembari bersiul keras. Dari balik kegelapan, melesat mengikutinya sepuluh orang berpakaian hitam bergerak ke tujuan yang sama, Benteng kerajaan.
Mereka akan bergabung dengan pasukan tiga adipati yang direncanakan menyerang dari sayap barat dan timur.
+++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++
Sementara itu, empat orang berkuda melaju cepat menembus kegelapan malam. Kuda-kuda mereka telah beristirahat cukup lama di sebuah rumah makan sebelum matahari terbenam, sehingga mereka tetap memacu kuda-kuda mereka di malam hari tersebut. Mereka adalah Gentayu bersama tiga wanita yang mengiringinya.
__ADS_1
“Aku merasakan kehadiran segel itu semakin kuat, Nona Lim! Kuarasa, malam ini kita akan menyaksikan sesuatu..” kata Gentayu sembari memacu kudanya.
Mereka hanya berjarak kurang dari tiga mil saja dari benteng kerajaan. Menjelang Melewati hutan terakhir sebelum benteng kerajaan, terdengar suara ledakan dahsyat dari udara.
‘BHUM!!’
Samar-samar, mereka berempat dapat melihat semburat kemerahan di langit selama beberapa saat.
“Sepertinya, sebuah pertarungan hebat sedang berlangsung..” seru Hao Lim sambil melambatkan kudanya.
“Kufikir juga begitu. Mari kita bergegas..” Sahut Gentayu.
Mereka terus memacu kuda-kudanya. Beberapa saat kemudian, mereka terpaksa berhenti dan bersembunyi melihat banyak sekali prajurit Lamahtang memasuki hutan. Sepertinya mereka mengejar sesuatu.
“Ada hal besar yang terjadi di kerajaan! Sepertinya pasukan sebesar itu tidak mungkin dikerahkan keluar istana tanpa ada hal genting terjadi..” Kata Gentayu setelah pasukan itu semuanya memasuki hutan.
“Apa kita perlu mengikuti pasukan itu untuk tahu apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Hao Lim lagi. Sakuza dan Yumiko tampak ikut antusias.
Tiba-tiba..
“SHUT!!”
Puluhan anak panah mengarah kepada mereka berempat. Keempatnya segera melompat menghindar. Sebagai gantinya, kuda-kuda mereka meringkik karena beberapa di antara anak panah itu memang menyasar para kuda.
“Hai! Keluarlah! Kalau kalian dari aliran putih, kami bukan musuh!” Hao Lim atau matriark Lim berteriak lantang. Otaknya cepat mencerna situasi. Setidaknya, prajurit Lamahtang yang baru saja lewat pasti mengejar orang-orang yang sekarang menyerang mereka karena mengira mereka berempat adalah bagian dari Lamahtang.
Dua sosok berpakaian hitam muncul dari balik kegelapan. Salah satunya tetap mengarahkan busur panahnya ke arah Gentayu dan rekan-rekannya.
“Siapa kali... oh! Kau.. Bukankah kau Pemimpin Sekte Naga Merah??” ternyata salah satu dari kedua sosok tersebut mengenali Hao Lim setelah mendekatkan obor ke arah wajah mereka berempat.
‘Mengenali Hao Lim sebagai pemimpin sekte? Siapa orang dengan wajah tertutup ini?’ demikian kata Sakuza, Yumiko dan gentayu, mungkin juga Matriark Lim dalam hati.
__ADS_1
“Maaf, anda mengenali saya? Berarti, anda adalah pemimpin atau petinggi aliran putih juga?” Hao Lim tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Seharusnya tidak banyak orang yang mengenalinya sebagai pemimpin sekte. Terlebih, sektenya adalah sekte rahasia.