JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Keturunan Ryu


__ADS_3

Gentayu menunggu sang tetua berkumis di tengah pelataran, tempat di mana banyak murid-murid sekte sedang berlatih olah fisik dan Sebagian lagi sedang bermeditasi. Tak lama kemudian, sang tetua berkumis datang dengan melompat serta melakukan flip diudara sebelum mendarat tidak jauh darinya. Tetua berjanggut putih mengiringi Matriark Lim hanya berdiri di depan aula pertemuan, pada anak tangga teratas guna menyaksikan aksi dua orang yang sedang berhadapan di tengah pelataran.


“Gentayu, murid dari Pendekar Matahari Emas, mohon petunjuk!” Gentayu menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan badan sedikit membungkuk memberi hormat.


“De Wu, Pendekar Tapak Layu, tidak akan sungkan! Bersiaplah, anak muda!” Tetua berkumis membalas sikap penghormatan Gentayu dengan tangan kanan mengepal dan tangan kiri setengah terbuka yang disatukan di depan dada, menyebut diri sebagai Pendekar Tapak Layu.


Keduanya segera mengambil sikap Kuda-kuda. Gentayu bersiap untuk menyambut serangan dari De Wu dengan mengerahkan jurus Perisai Naga Apinya. Dia tidak ingin menyerang, karena dirinya hanya ingin membuktikan kebenaran dari ceritanya mengalahkan musuh yang melukai mendiang tetua Shou. Itu saja. Melukai apalagi sampai membunuh pendekar sakti Sekte ini jelas akan menguntungkan kelompok aliran hitam. Gentayu tentu tidak akan melakukan itu.


De Wu bersiap-siap. Kedua tapaknya terkembang sejajar tubuhnya dan mulai mengeluarkan asap putih. Nampaknya tetua ini benar-benar serius untuk menyerang dengan kesaktiannya sejak awal. Mendadak tetua berkumis itu melompat dengan telapak tangan mengarah ke tubuh Gentayu dan menghilang dari pandangan saat jarak keduanya hanya tinggal sekitar 2meter saja. Gentayu sendiri tidak terpengaruh oleh trik tersebut. Dia justru mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya sedangkan posisi kuda-kuda kakinya berubah. Kakinya kini saling merapat. Gentayu berdiri sempurna, namun seluruh energi dari jurus Perisai Naga Api telah tersebar merata di seluruh tubuhnya, bersiap menyambut serangan.


Tiba-tiba saja, puluhan telapak tangan melesat cepat menghantam beberapa bagian tubuh Gentayu.


‘Blak!’


‘Plak’


‘Plak!’


‘Blak’


‘DAGH!


Kemudian diakhiri suara ledakan keras..


‘DEBAMM!!’


Pemilik serangan tapak, yaitu De Wu si Pendekar Tapak Layu terpental ke udara dan jatuh dengan kasar menghantam tanah keras di tepi pelataran. Seluruh serangannya memang tidak dihindari atau ditangkis oleh Gentayu. Pemuda itu hanya membiarkan saja semua serangan tetua itu menghantam tubuhnya. Akibatnya justru di luar dugaan tetua De Wu. Seluruh serangannya seperti berbalik ke arahnya dan menjungkalkannya tanpa sempat diantisipasinya.

__ADS_1


Tetua itu bangkit sambal memegangi dadanya yang sepertinya sakit. Dari tepi mulutnya merembes keluar darah segar. Tetua itu begitu terkejut. Bahkan Gentayu merobohkannya tanpa bergerak sedikitpun.


“Kau.. Kau.. bagaimana.. Ilmu itu..” Mata tetua De Wu menyorotkan keterkejutannya atas sesuatu. Dia seolah mengenali ilmu yang digunakan oleh Gentayu. Ilmu Perisai Naga Api, bagian dari Jurus Naga Api yang diperoleh Gentayu melalui Ryu.


“Maaf, tetua. Apakah tetua mengenali jurus yang kugunakan tadi?” Gentayu justru antusias melihat keterkejutan tetua Wu.


Yang ditanya tidak menjawab. Dia merapatkan kedua kakinya. Lalu mengangkat kedua tangannya sejajar kepala, menarik nafas Panjang, dan menghembuskannya perlahan seiring Gerakan tangannya Kembali turun perlahan sejajar dada. Diulanginya Gerakan itu sebanyak tiga kali. Rupanya, tetua Wu melakukan itu guna menetralisir rasa skit sekaligus menstabilkan kondisinya.


“ Tentu saja aku mengenalinya..” Tetua Wu menjawab sambal melangkah mendekati gentayu.


“Apa hubunganmu dengan mendiang Kakek Buyutku, Ryutaro?” Sebuah pertanyaan, namun berhasil mengejutkan Gentayu.


“Ryutaro? Kakek Buyutmu?” Gentayu mengulangi menyebut nama Ryutaro, seolah tak percaya tetua yang semula terlihat arogan ini menyebut Ryu sebagai Kakek Buyutnya.


“Iya, benar. Seingatku, dalam penuturan keluarga kami, hanya beliaulah yang berhasil mendapatkan Pedang Naga Api yang konon juga menyimpan ilmu pedang dan ilmu kanuragan tingkat tinggi. Pedang itu adalah pedang legendaris karena pemiliknya bahkan mampu merajai dunia persilatan selama ratusan tahun lamanya. Lalu pedang itu menghilang bersamaan dengan menghilangnya sang Pendekar Naga Api. Dua ratusan tahun kemudian, mendiang Kakek Buyut buyutku itu menemukan pedang tersebut saat mengalami kecelakaan di hutan kematian. Berkat pedang itu, Kakek Buyutku menjadi pendekar yang sangat kuat hingga diangkat menjadi panglima perang kekaisaran Hidama. Sayangnya, beliau belum berhasil menyempurnakan ilmunya. Salah satu yang belum dikuasainya adalah ilmu bernama Perisai Naga Api” Penjelasan itu cukup mencengangkan bagi Gentayu. Bagaimana bisa semua kebetulan ini terjadi begitu saja?


“Beliau menulisnya. Bukan menyalin ulang ilmu Naga Api itu. Hanya menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku harian yang kami simpan dalam perpustakaan keluarga.


“Lalu apa yang terjadi selanjutnya, tetua?” Gentayu mencoba menelusuri lebih jauh Riwayat sebenarnya dari sahabatnya yang ternyata masih penuh dengan misteri.


“Beliaupun menghilang bersama pedangnya begitu saja dalam sebuah misi khusus dari Kaisar.. Kami tidak berhasil menemukan jasadnya hingga hari ini. Sampai-sampai, sebagaian keluarga kami menganggap pedang Naga Api itu sebagai kutukan karena membuat pemiliknya harus menghilang..” Tetua Wu menghela nafas Panjang, kemudian berlalu menuju kepada Matriark sekte dan tetua berjenggot putih yang menyaksikan mereka dari atas tangga teratas di depan pintu aula pertemuan. Gentayu tetap mematung di tempatnya. Mencerna segala kebetulan di hadapannya saat ini.


Bagaimana Ryutaro Sinju, yang rohnya terlantar dan bertemu dengannya saat harimau yang menjadi wadah terakhirnya mati. Lalu tiba-tiba di tempat ini dia malah bertemu dengan salah satu keturunannya. Kalau begitu, bukankah artinya tetua Wu ini bukan orang bangsa Han? Bukankah artinya tetua Wu ini juga belum terlalu lama berada di pulau Emas Besar ini? Apa yang membuat tetua Wu ini justru berkelana ke Dipantara ini? Sederet tanya memenuhi kepala Gentayu, hingga sebuah suara dari seorang wanita membuyarkan kebingungannya.


“Hei, anak muda! Apa kau kemari untuk melamun ataukah ingin berbuat sesuatu untuk kami?” Tentu saja itu adalah suara Matriark Lim.


Gentayu menoleh. Tersenyum serba salah sebelum melangkah Kembali menemui ketiga petinggi Sekte yang masih berdiri di tempatnya. Mereka kemudian memasuki ruangan pertemuan yang mereka gunakan sebelumnya. Tapi kali ini tidak ada lagi tatapan sinis dari tetua berkumis. Bahkan kini, matriark Lim tampak tersenyum penuh arti saat memandang Gentayu.

__ADS_1


‘Eh, nenek cantik ini tersenyum-senyum begitu bukan karena tertarik padaku, khan?’ Tentu saja kalimat ini hanya ada dalam fikiran Gentayu.


“Tuan Pendekar. Kami mohon maaf atas sambutan kami yang mungkin tidak pantas. Semoga tuan pendekar sudi untuk melupakan sikap saudara kami..” ini adalah kalimat pertama yang keluar dari tetua berjenggot dalam pertemuan kedua ini.


Tetua berjenggot putih itu jelas tidak ingin mencari masalah dengan anak muda yang kekuatannya jelas lebih tinggi dari ketiga orang di ruangan ini. Tampaknya, mereka kini percaya dengan cerita Gentayu. Bahkan mulai berfikir untuk setuju mengungsikan seluruh sekte.


“Tidak masalah, tetua. Semuanya wajar saja menurutku. Namun kufikir, kita harus bergerak cepat. Saat ini aku meyakini bahwa kelompok aliansi aliran hitam tidak terlalu jauh dari desa terdekat dari hutan ini. Jadi kufikir, kita mulai saja gelombang pengungsian kita. Jangan lupa untuk menarik seluruh anak muda yang tadi pagi menyambutku di tepi sungai, Matriark. Itu saranku..” Gentayu kembali menegaskan kekhawatirannya.


“Bagaimana kalau kau panggil saja aku Nona Lim saja, tuan Gentayu? Dipanggil lengkap dengan sebutan Matriark Lim olehmu sungguh membuatku tidak nyaman..” Sang Matriark, Huo Lim berkata dengan mimiklemah lembut. Tidak ada lagi gaya bicara ketus yang tadi diperlihatkan saat pertama mereka berjumpa.


Mendengar hal itu, kedua tetua yang mendampingi saling pandang dengan perasaan aneh.


Melihat tingkah kedua orang tetua itu, Matriark lim melotot, mengisyaratkan sesuatu. “Tidak berlaku untuk kalian!” katanya kemudian.


“Ehem! Baiklah, Nona Lim. Saya tidak keberatan untuk hal itu. Jadi, bagaiana cara mengungsikan seluruh anggota sekte dengan secepat-cepatnya? Apakah kalian memiliki pintu keluar lainnya? Syukur-syukur itu adalah pintu rahasia..” Gentayu memecahkan kebekuan dengan Kembali membahas rencana mengungsikan anggota sekte.


“Iya, kami punya cara tercepat!” Matriark Lim mengangguk bersamaan dengan kedua tetua yang lain.


“Kita mulai mengungsikan seluruh murid, dimulai dari yang terlemah. Kita dan beberapa tetua dan murid senior akan menjadi orang terakhir yang mengungsi. Berjaga-jaga bila musuh dating lebih awal!” tambahnya lagi sekaligus memberi perintah kepada kedua tetua di hadapannya. Kedua tetua itu segera bangkit dan keluar menuju ruangan, meninggalkan Gentayu dan matriark Lim di ruangan tersebut.


"Tetua Wu, kita akan bicara lagi setelah urusan ini selesai!" Gentayu berkata kepada tetua De Wu sebelum lelaki itu menghilang dari pandangannya dan melesat menuju satu komplek bangunan di dalam sekte tersebut.


Nb. Ternyata banyak juga typo dalam tulisan saya ya..😁


Silakan kritik dan sarannya.. Saya akan perbaiki sambil jalan.


Oh ya, buat yang udah kasih komen, like, dan vote maupun sekedar mampir, author ucapkan terimakasih dan permohonan maaf sebesarnya bila ada komen yang terselip belum dijawab 🙏

__ADS_1


__ADS_2