JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Racun Lili Hitam


__ADS_3

“Hahahahaha...!” Suara sosok itu tertawa membahana di seluruh sudut hutan.


“Kau orang asing! Bahkan kau tidak memenuhi syarat untuk berlutut di tepi kolam ini! Kolam ini adalah kolam suci! Aku tidak pernah mengizinkan orang yang tidak memenuhi syarat untuk sekedar memasuki kawasan ini, apalagi mengambil teratai berharga milikku! Pergilah sebelum aku memusnahkanmu!..” Suara itu terdengar tegas saat mengusir Anjani, disertai sekali lagi hempasan angin sangat kencang. Kembali, Anjani terlempar ke sisi lainnya karena angin tersebut.


Anjani mengatupkan rahangnya. Rasa kecewa, marah, kesal tumbuh dan membuncah menjadi satu dalam fikirannya. Namun, dia tetap berusaha kembali bangkit.


Dia, mungkin hanya seorang pelayan di masa lalu. Tapi, jelas bukan orang yang mudah digertak dan menyerah. Bukan! Anjani tidak akan mengalami masa pengasingan yang panjang jika sifat itu dimilikinya.


Alih-alih beranjak pergi setelah diancam, Anjani justru berdiri tegak, menantang.


Dia menyadari bahwa sosok yang belum juga menampakkan wujud ini jelas sangat kuat. Jauh lebih kuat darinya. Tapi, saat ini dia belum berfikir untuk meninggalkan kolam ini tanpa hasil.


“Maafkan saya, Tuan leluhur penguasa kolam yang mulia...” Katanya dipenuhi sanjungan. Penyebutan kata ‘leluhur’ itu adalah karena biasanya, makhluk yang sangat kuat tentulah melalui proses ratusan tahun menempa dirinya. Anjani kemudian melanjutkan “tapi temanku hampir meregang nyawa bila tidak segera ditolong oleh tabib mulia itu. Aku telah menghadapi bahaya untuk menolongnya sejauh ini, bahkan nyawaku juga hampir saja melayang saat menolongnya dari iblis tua di dasar jurang! Maka, hari ini, aku juga tak bisa meninggalkan tempat ini tanpa hasil, sekalipun nyawaku sebagai gantinya...” kata Anjani tegas.


Tiba-tiba, kolam teratai itu beriak. Riak kecil yang lambat laun tumbuh menjadi riak yang besar. Nyaris berubah menjadi gulungan ombak, menandakan sesuatu segera akan muncul dari kolam di depannya.


Saat riak kolam tumbuh semakin besar, gelembung udara keluar dari tengah-tengah riak air itu.. gelembung udara yang tumbuh semakin banyak, menyebabkan air berubah menjadi keruh. Semakin keruh, lalu berubah menjadi berwarna hitam. Tampaknya, itu adalah lumpur di dasar kolam yang terangkat naik ke permukaan.


Tak lama, sebentuk kepala perlahan muncul dari dasar kolam.


Kepala itu tidak terlihat bulat, namun pipih di bagian atasnya. Tampak alisnya digantikan oleh tulang keras yang memanjang ke belakang hingga mencapai ke atas telinga berbentuk runcing. Telinga itu, tampak berselaput, lebih mirp sirip ikan.


Mata makhluk itu berwarna kuning memanjang mengikuti alis yang berupa tulang keras menonjol. Di bagian tengah mata makhluk itu, terlihat warna hitam berupa garis, bukan bulatan, membuatnya lebih mirip mata ular.


Memang, secara sepintas, keseluruhan wajah makhluk yang mulai menyembul keluar itu lebih mirip wajah ular. Bahkan, hidung makhluk itupun hanya berupa dua buah lubang yang membuka dan menutup saat bernafas. Mulut tanpa bibir di bawah hidungnya, menyeringai lebar. Menampakkan rangkaian gigi tajam menambah kesan seram ketika memandangnya.


Yang lebih membuat kesan seram adalah besarnya kepala tersebut bahkan melebihi lima wajah manusia biasa! Luar biasa besar!

__ADS_1


Setalah kemunculan kepala tersebut, tubuh makhluk hidup itu secara keseluruhan segera terlihat saat makhluk tersebut melesat ke udara, menimbulkan air rawa di tubuhnya jatuh ke bawah. Sensasi seperti hujan sesaat membasahi tubuh Anjani yang berusaha tetap berdiri tegak, melawan rasa gemetar di tubuhnya.


Makhluk bertubuh seperti manusia dengan jari tangan dan kaki berselaput itu melayang di atas kolam. Hanya berjarak kurang dari dua meter di atas permukaan, dan lima meter kurang dari posisi tubuh Anjani berdiri.


Aura yang kuat menekan udara di sekitar makhluk itu, menyebabkan kengerian yang berlipat ganda. Bisa dipastikan, manusia biasa akan tewas seketika dalam kondisi tekanan seperti saat ini.


Anjani sendiri, terpaksa melawan tekanan itu menggunakan energi dath-nya yang cukup besar dari level pendekar langit. Itupun belum cukup untuk menghentikan lututnya yang gemetar.


“Manusia lemah sepertimu berani lancang terhadapku?? Aku ingin tahu, apa yang membuatmu merasa layak berdiri menantangku!” Suara makhluk itu kini terasa seperti kilatan tajam di telinga Anjani. Dengan suara itu saja, telinga Anjani terasa berdenging. Bahkan, bagi Anjani dunia terasa hening untuk beberapa lama. Dia kehilangan kemampuan pendengarannya, meskipun hanya sementara.


“Maafkan saya, tuan leluhur yang agung..! tidak ada maksud untuk menentang yang mulia!” bersamaan dengan kalimat itu, Anjani kembali berlutut.


“Namun, saya benar-benar membutuhkan teratai itu..” katanya semakin merendah menjelang akhir kalimat, diiringi kepalanya yang kini menunduk. Anjani jelas tak ingin memancing permusuhan dengan makhluk di hadapannya tersebut.


“Hahahahahahaha....!!” tiba-tiba, makhluk itu tertawa keras. Mengagetkan Anjani.


“Saya.. saya.. “ Anjani tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya, karena makhluk mirip manusia tersebut segera memotongnya.


“Hidup temanmu! Aku ingin hidup temanmu sebagai bayarannya!” Kata makhluk berlendir itu sembari bersedekap. “Terima, atau kau tinggalkan tempat ini?!” Ancamnya selanjutnya.


“Tuanku leluhur yang mulia, aku tidak bisa memberikan sesuatu yang bukan menjadi hakku. Bagaimana kalau hidupku saja sebagai gantinya?” tawar Anjani.


“Kurang Ajar!! Kau berani menawar!!?” makhluk itu meraung marah.


Tiba-tiba, ledakan energi kejut keluar dari tubuh makhluk mirip manusia yang sedang melayang di atas permukaan danau. Sekali lagi, Anjani terhempas ke belakang, kali ini dengan darah muncrat dari hidung dan mulutnya karena dadanya yang terkena ledakan energi kejut tersebut.


Anjani berusaha bangkit sambil menyeka darah di bibir dan hidungnya. Kini, bahkan darah itu mengotori sebagian mukanya. Dadanya sesak, bahkan sulit untuk bernafas normal.

__ADS_1


“Aku ingin hidup temanmu! Karena aku tahu, dia lebih berarti daripada hidupmu!” Dengus makhluk itu.


Bersamaan dengan kalimat terakhir yang penuh tekanan itu, sesuatu berwarna tampak melesat sangat cepat dari mulut makhluk berlendir itu ke mulut Anjani. Langsung masuk ke mulut dan kerongkongannya tanpa bisa dicegah..


Anjani yang terkejut segera memegangi lehernya, tentu berharap agar sesuatu itu bisa dikeluarkan dari tubuhnya. Tapi terlambat. Hawa panas segera menjalar dari kerongkongannya ke seluruh tubuh.


“Itu adalah racun lili hitam. Kau punya waktu sepuluh hari untuk membawanya temanmu ke sini! Atau.. kau akan meledak bersama dengan temanmu sekaligus...” makhluk itu berkata dengan nada dingin. Lalu melesatkan benda yang sepertinya sama ke arah sekumpulan lima ekor **** hutan di tepi kolam, sepertinya sedang berusaha untuk memasuki kolam untuk minum.


Ketika benda putih itu berhasil masuk ke mulut salah satu **** hutan yang terbuka itu, **** hutan itu meringkik, terkejut dan ketakutan, lalu kelimanya melarikan diri ke arah berlawanan.


“Bum!” Kata makhluk berlendir tersebut.


Benar saja, tak lama kemudian, suara ledakan terdengar dari **** yang mulutnya dimasuki benda putih itu. Ketika tubuhnya meledak, gumpalan daging dan darah menyebar ke sekitarnya. Anehnya, ketika potongan kecil gumpalan daging dan darah itu menempel di tubuh **** hutan lainnya, **** itu juga meledak!


Segera saja, kelima **** hutan itu meledak seluruhnya... pemandangan yang mengerikan.


“Kau faham, sekarang!??” kata makhluk itu, menatap tajam ke arah Anjani dengan pandangan mengancam.


“ Segera ambil teratai bulan sejumlah yang kau mau ambil. Satu tahun hidupnya untuk setiap teratai yang kau ambil..” bersamaan dengan ucapan terakhirnya, makhluk itu meletus menjadi asap putih. Menghilang begitu saja.


Anjani yang terbengong hanya menghela nafas panjang beberapa saat kemudian, ketika telah mampu menguasai dirinya kembali. Tak menunggu lama, dirinya segera melangkah menuju kolam.


Nb.


Yang disensor itu kata "B a b i".


Saya gak tau, gimana ngakalinnya.. 😂

__ADS_1


__ADS_2