
Anjani, Nyi Suntari dan Rajo Narako terpental ke arah berbeda. Makanan dan minuman yang telah dihidangkan dan siap dinikmati berhamburan.
Mereka memang baru saja hendak menikmati jamuan makan malam yang disiapkan Anjani dan Nyi Suntari malam itu, ketika tiba-tiba bumi bergoncang dahsyat.
Bebatuan goa di atas kepala mereka mulai berjatuhan, meskipun batu-batu itu hancur ketika mengenai tubuh ketiga pendekar tersebut, namun ketiganya tetap melompat keluar menghindar dari reruntuhan goa yang hendak mengubur mereka hidup-hidup.
“Apa yang terjadi??” Rajo Narako bertanya, tapi tentu tidak akan ada yang bisa menjawab pertanyaannya.
Wajah tegang Anjani dan Nyi Suntari semakin terlihat ketika goncangan terasa semakin kencang, rekahan mulai terlihat pada tanah di sekitar mereka.
Firasat mereka mengatakan, ada hal buruk yang sesaat lagi akan terjadi.
Dari kejauhan, lolongan srigala terdengar menyalak bersahutan. Membuat suasana malam semakin mencekam. Sekaligus menjelaskan, bahwa goncangan yang terjadi, bukan gempa bumi biasa.
Sesuatu yang dahsyat seolah tengah berkecamuk di dalam bumi, di bawah kaki mereka bertiga. Dan sesaat kemudian sesuatu yang bersinar kemerahan meluncur keluar dari saku jubah Rajo Narako! Melesat cepat meninggalkan mereka bertiga ke ketinggian.
“Bola Sembilan Arwah!!” Rajo Narako berteriak panik dan berusaha mengejar sinar kemerahan yang melesat cepat ke udara.
Gerakan benda itu meluncur sangat cepat!
Namun, Rajo Narako masih akhirnya berhasil menggapai dan menangkap bola bercahaya merah tersebut setelah melakukan pengejaran beberapa detik.
Benda berwarna bercahaya merah terang membara Itu adalah satu-satunya bola sembilan arwah berbentuk kristal bulat dari sembilan bola lainnya.
Meskipun memiliki nama bola, nyatanya memang hanya satu ini saja yang bentuknya benar-benar bulat membola. Sedangkan tujuh dari sembilan bola sembilan arwah lainnya, saat ini berada di tangan Dana Setra. Itu adalah ketujuh bola arwah hasil merampas dari kelompok Telegu Merah pimpinan Centini, semuanya tidak berwujud bola.
__ADS_1
Bola di tangan Rajo Narako memancarkan hawa panas yang luar biasa. Andaikan Rajo Narako bukan pendekar yang merajai unsur api, tentulah tangan berikut tulangnya saat ini telah meleleh karena panasnya bola itu.
Rajo Narako segera menyadari sesuatu…
“Mislan Katili Bangkit?!!”
Walau kalimat yang diucapkannya pelan, namun hal itu cukup untuk didengar Anjani dan Nyi Suntari. Keduanya saling memandang dengan muka tegang. Ingin bertanya, tapi menyadari kondisinya tidak tepat.
Terlihat, Rajo Narako wajahnya semakin tegang, penuh kekhawatiran.
Mislan Katili, adalah iblis terkuat sepanjang sejarah. Mampu mengalahkannya beberapa ratus tahun yang lalu adalah sebuah keajaiban. Dan akan butuh keajaiban lebih besar di masa depan bila benar-benar iblis itu telah berhasil dibangkitkan.
Bola kemerahan di tangan Rajo Narako, sebenarnya tengah menyambut dan memenuhi panggilan untuk penyatuan kembali.
Dengan hanya tujuh bola disatukan, sudah cukup untuk membangkitkan Mislan Katili. Tapi, iblis itu akan butuh waktu cukup lama untuk memiliki kekuatan sehebat dahulu sebelum dikalahkan. Andai kesembilan bola berhasil disatukan, maka Mislan Katili akan benar-benar bangkit dengan kekuatan penuhnya!
Meskipun bingung dengan maksud Rajo Narako, Anjani dan Nyi Suntari mengangguk. Saat ini bukan waktunya bertanya dan meminta penjelasan. Kondisi darurat! Dan mereka menyadari itu.
Wajah tegang tampak menyelimuti keduanya, ditambah dengan goncangan bumi yang semakin kuat dan belum akan berhenti.
Raja Narako sendiri, setelah menyelesaikan persiapan penyegelannya, segera menelan bola merah sebesar genggaman bayi itu.
Rongga mulutnya bersinar merah saat bola panas itu memasuki mulutnya.
Lalu kerongkongannya, juga bersinar kemerahan ketika bola sembilan arwah mulai tertelan.
__ADS_1
Lalu bola itu berhenti di antara ulu hati Rajo Narako. Membuat sinar terang merah membara memancar dari antara ulu hati pertapa tua itu.
Rajo Narako mengambil sikap meditasi begitu bola merah menyala itu berhenti di ulu hatinya, tidak lagi turun ke bagian bawah tubuhnya. Sinar cahaya merah terang memancar dari tubuhnya, berpusat di sekitar ulu hati di mana bola sembilan arwah berada.
‘AAAAARRRGGHHHHHH…..’
Jeritan kesakitan terdengar dari rajo Narako.
Lelaki itu bahkan sampai setengah berdiri dalam meditasinya, dengan tangan menggenggam tapi kedua bahunya membentang.
Suhu udara di tempat itu meningkat secara drastis. Panas dan semakin panas.
Anjani dan Nyi Suntari terpaksa menyingkir menjauh, karena hawa panas itu muali membuat tanaman dan tumbuhan di sekitarnya layu dan terbakar.
Setelah beberapa saat berteriak menahan sakit, tubuh Rajo Narako perlahan mulai stabil. Cahaya merah membara itu perlahan namun pasti mulai meredup walau bagi mata yang tidak terlatih tidak akan menyadarinya.
Tepat saat itulah, suara berdesing terdengar.
Seseorang dengan jubah hijau berkelebat di dalam kegelapan malam, langsung menuju tubuh Rajo Narako.
“Enyahlah kau, Iblis!!” sebuah suara menyusul kelebat bayangan yang kini hanya berjarak kurang dari tiga meter dari Rajo Narako itu.
Anjani yang masih waspada bergerak cepat, melesat ke udara dan menghadang pemilik suara yang hendak menyerang Rajo Narako.
‘BLAZZZ!!’
__ADS_1
‘Trank!’
Sebuah pedang terbang hancur berkeping-keping saat bertemu dengan pukulan tangan Anjani. Gadis itu bergerak di saat yang tepat, ketika pedang itu hampir saja menyentuh tubuh Rajo Narako.