
Seorang pendekar berjubah putih melesat cepat dari dahan yang satu ke dahan yang lain di dalam hutan tak bernama di tepi sungai Muji. Sungai Muji adalah sungai yang sangat besar sehingga masyarakat setempat sering menyebutnya sebagai ‘laut’ walaupun jelas-jelas itu adalah sebuah sungai terpanjang di pulau ini dan airnya pun tidak asin. Begitulah, Pendekar itu seperti sedang berpacu dengan waktu. Dia terus melesat hingga tiba di sebuah muara sungai lain yang menyatu dengan sungai Muji ini.
“Sial!” Katanya kesal.
Pendekar ini baru pertama kali ditugaskan oleh sektenya untuk mengambil sesuatu yang seharusnya berada pada salah satu kuil di tepian sungai ini. Namun, setelah dua kali dia bolak-balik di sekitar area yang ditunjuk oleh para sesepuhnya dia mulai meragukan petunjuk tersebut.
‘Bukankah seharusnya ada kuil sebelum muara ini?’ pendekar itu bertanya pada dirinya sendiri penuh keheranan. Peta yang dilihat benar. Jalan yang dilalui juga benar. Mungkinkah dia melewatkan sesuatu?
Pendekar ini kemudian berbalik arah. Dia Kembali mengulangi perjalanannya. Kali ini tidak lagi melayang seperti pertama kali dia datang. Dia memilih berjalan layaknya manusia biasa. Pendekar itu bernama Sengkuang, salah satu tetua lainnya dari Sekte Naga Merah. Sengkuang termasuk tetua termuda di sekte Naga Merah. Umurnya baru berkisar 30an tahun. Dalam misinya ini, Sengkuang telah berada di luar sekte lebih dari tiga bulan lamanya.
Lamanya perjalanan dari Lembah Kaling ke tempat ini adalah karena Sengkuang banyak menghabiskan waktunya untuk menolong warga desa yang dilaluinya. Banyak desa yang telah dibebaskannya dari cengkeraman perampok dan kelompok aliran hitam yang menindas mereka. Perbekalan dari sekte yang dibawanya sudah lama habis. Namun, dari setiap desa dan kampung yang dikunjunginya selalu saja ada warga yang dengan sukarela memberikan Sebagian hartanya sebagai ucapan terimakasih atas pertolongan Sengkuang.
Ketika telah berjalan selama hampir satu jam lamanya, keningnya berkerut melihat sesuatu di balik semak-semak. Matanya menyipit untuk memperjelas penglihatannya. Tak jauh di hadapannya, dia melihat puing-puing bangunan yang sepenuhnya telah tertutup oleh rerumputan jalar liar. Gentayu mendekati puing-puing yang sebelumnya lolos dari penglihatannya saat melesat dari udara.
Saat dilihatnya, ternyata itu benar-benar bekas bangunan dan Sengkuang makin yakin itu adalah bekas kuil yang dicarinya. Petunjuk paling jelas bahwa itu bekas bangunan kuil adalah adanya patung dewa berwujud manusia bermahkota kepala burung dan memegang gendewa. Tampaknya, kuil itu hancur karena dibakar belum terlalu lama. Terlihat dari sisa kayu bekas puing bangunan yang Sebagian besar dalam kondisi hangus.
Sengkuang segera duduk bersila. Tangan kanannya membentuk seperti pisau tangan di depan dada sedangkan tangan kirinya diletakkan dalam posisi lotus di pahanya. Matanya terpejam. Tak lama kemudian, perlahan-lahan tubuhnya terangkat dari atas tanah dan kemudian naik perlahan-lahan. Semakin tinggi dan terus meninggi sebelum tubuh itu berputar pelan dan melayang turun ke salah satu titik lain di sekitar reruntuhan diduga kuil tersebut.
Sengkuang melanjutkan meditanya di tempat tersebut beberapa saat lamanya sebalum membuka mata dengan wajah kecewa.
Sengkuang baru saja memperoleh petunjuk dari membaca jejak energi benda yang dicarinya, yaitu sebuah segel lainnya berwujud kotak terbuat dari batuan meteorit. Petunjuk itu mengindikasikan bahwa segel tersebut telah menghilang. Secara samar, Sengkuang dapat merasakan pernah ada jejak energi hitam yang mulai menghilang di sekitar tempat yang seharusnya menjadi lokasi tersimpannya segel.
‘Segel itu benar-benar berada di Kuil ini! Sayangnya aku terlambat. Seseorang telah mengambilnya! Kuil ini pasti hancur juga karena orang yang mengambil segel itu! Ini gawat!’ Sengkuang termenung menyadari bahaya yang akan dialami manusia saat segel-segel yang diburu Sekte Naga Merah jatuh ke tangan kelompok aliran hitam.
Sekte Naga Merah bukanlah sekte bela diri biasa. Sekte ini lebih banyak berperan sebagai sebuah kelompok spiritual yang aktif melawan kelompok aliran hitam sejak pertamakali didirikan. Sekte Naga Merah di Pulau Emas Besar sebenarnya hanya cabang dari sekte Naga Merah di Benua Tengah. Sekte Naga Merah konon memiliki setidaknya lima cabang di seluruh dunia. Cabang di Pulau ini adalah cabang terbesar dari sisi jumlah anggota sekaligus yang terlemah dari sisi kekuatan.
Beberapa bulan lalu, utusan dari sekte pusat di Benua Tengah membawa perintah dari sang Patriark agar mereka mencari 3 benda yang diyakini tersebar di seluruh wilayah Dipantara. 3 Benda itu terdiri dari dua buah segel dan sebuah benda lain yang disebut ‘Bola Arwah’. Berdasarkan petunjuk yang diterima, satu segel dan ‘bola’ arwah’ ada di pulau Emas Besar ini. Sedangkan satu segel lainnya berada di pulau Padi Perak.
Sembilan tetua Sekte Naga Merah kemudian berbagi tugas. Tiga orang tetua bertugas mencari benda-benda tersebut di pulau Emas Besar. Yaitu Sengkuang sendiri dan kedua rekannya yang kini mencari di titk lain yang berkemungkinan terdapat kedua benda tersebut. Sedangkan untuk tugas pencarian ke pulau Padi Perak, dilakukan oleh empat orang tetua. Alasannya sederhana, pulau tersebut dihuni kelompok aliran hitam lebih banyak dan jauh lebih kuat daripada pulau Emas Besar ini. Salah satu yang bertugas di antara empat tetua untuk menuju pulau Padi Perak adalah mendiang tetua Shou.
Menyadari yang dicarinya telah hilang, Sengkuang berniat untuk menelusuri jejak energi hitam yang tertinggal di reruntuhan kuil ini. Setidaknya, meskipun kekuatannya tidak akan sebanding dengan kekuatan pendekar aliran hitam tersebut, Sengkuang berharap mengetahui lokasi di mana segel itu berada.
Selama sekitar tiga hari kemudian, Sengkuang dalam penelusurannya berhasil menemukan jejak energi hitam tersebut di sebuah desa. Energi hitam yang sangat pekat sehingga jejaknya tidak segera menghilang setelah beberapa hari itu ternyata milik seorang lelaki tua bertubuh kekar yang sedang melayang. Lelaki tua itu sedang bertempur menghadapi tiga orang lawan yang kekuatannya tidak sebanding dengannya. terlibat dalam sebuah pertempuran dengan lawan yang tidak sebanding. Seorang Pemuda dan dua orang pendekar senior paruh baya Nampak tak berdaya. Mereka terlilit sebuah ikatan yang berasal dari energi Hitam. Tak lama kemudian, lilitan yang membelit tubuh sosok Pemuda itu membawa korbannya mendekat. Lalu entah apa yang dikatakan pemuda itu, tampaknya berhasil memancing kemarahan sosok pendekar aliran hitam tersebut hingga melemparkan tubuh pemuda itu dan segera menghujani tubuhnya yang belum mendarat dengan pukulan-pukulan energi jarak jauh.
‘BUM! BUM! BUM!’
__ADS_1
Terdengar suara ledakan dahsyat saat pukulan itu menghantam pohon randu hingga roboh dan gundukan tanah di sekitarnya menjadi rata. Sedangkan pemuda yang menjadi lawannya berhasil menghindar dan terhuyung saat mendarat.
Tak lama kemudian, dua orang lainnya yang juga terbelit oleh energi hitam dari tubuh sosok tua bertubuh kekar itu mengalami nasib yang sama. Mereka dilemparkan dan segera dihujani dengan pukulan energi tenaga dalam yang juga dahsyat! Salah satu dari keduanya tidak berhasil menghindar. Pukulan itu menghajarnya sebelum tubuhnya jatuh terhempas menghantam tanah keras di tempat itu.
Sengkuang tetap fokus menyaksikan jalannya pertempuran sambil menjaga jarak aman. Dia belum memastikan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun sepintas dia bisa menyimpulkan, bahwa para pendekar itu adalah pendekar aliran putih yang sedang mencoba menghentikan sepak terjang lelaki tua bertubuh kekar yang memancarkan energi hitam pekat tersebut.
Pemandangan berikutnya sangat menakjubkan bagi Sengkuang. Pemuda yang terhempas dan berhasil menghindari serangan itu tiba-tiba terlihat memancarkan energi besar setelah tubuhnya terlilit Kembali oleh sulur-sulur yang berasal dari sebuah tongkat. Detik berikutnya, bukan hanya sulur yang mengikatnya terlepas dan hancur menjadi debu, pemuda itu bahkan Kembali melesat dan berhasil menyerang sosok lelaki tua aliran hitam itu dengan sebuah pukulan yang menyebabkan gelombang kejut di sekitarnya. Namun pemuda itu Kembali terhempas ke bawah dan menabrak rumah penduduk.
Lelaki tua yang kekar itu masih berdiri kokoh di udara. Melihat ke bawah, dan tiba-tiba meluncur turun dengan marah. Terjadi sedikit dialog sebelum pemuda itu Kembali menyerang. Kini pemuda itu justru menyerang menggunakan pedang sakti. Namun, pedang sakti yang menyerang dengan kekuatan penuh itu hanya menebas ruang kosong karena lelaki tua yang diserangnya menghilang begitu saja dan berpindah tempat.
Sengkuang sempat melihat kelebat bayangan bergerak secepat kilat ke sudut desa yang lain. Selang beberapa saat kemudian..
‘BHUM!’
‘BHUM!’
‘DHUAR!’
Suara ledakan dahsyat terdengar disusul dengan semburat warna merah membakar Nampak membumbung di langit malam. Suasana atmosfer menjadi terang benderang untuk sesaat sebelum Kembali gelap.
Lelaki tua bertubuh kekar itu tentu saja adalah Karang Setan. Namun Sengkuang jelas tidak mengenalnya. Dia bermaksud terjun langsung ke pertempuran itu untuk membantu rekannya sesama tetua, namun belum sempat dia bergerak, sosok Karang Setan telah Kembali menghilang dengan membawa serta tubuh rekan dari tetua Shou.
Sengkuang segera melompat menghampiri tetua Shou yang tiba-tiba kesakitan dan kelojota memegangi dadanya. Rupanya, Karang setan telah melancarkan sebuah serangan hitam untuk membunuh tetua Shou!
“Tetua Shou!, tetua Shou!” Sengkuang bergerak cepat menangkap tubuh tua yang hampir roboh itu. Dia segera membawa tubuh tetua Shou untuk Kembali ke Sektenya, namun terlambat! Tetua Shou telah meninggal dunia saat itu juga.
Rasa marah, sedih, geram dan tidak berdaya menjadi satu dalam dada Sengkuang. Dia segera berlari untuk ikut bertarung melawan Karang Setan, tiba-tiba.. Suara ledakan lain terdengar dari jarak tidak terlalu jauh!
Tanah bergetar..
Sebuah cahaya putih tampak membelah malam. Itu adalah energi pedang Satam milik Gentayu. Energinya merambat dan..
‘BLAR…!!
Tanah di depan Sengkuang terbelah dan membentuk parit besar. Energi pedang itu nyaris mengenainya seandainya Sengkuang tidak cepat menghindar.
__ADS_1
Kemudian sepi. Tidak lagi terdengar suara apapun.
‘Apa sudah berakhir?’
Sengkuang menggendong tubuh tetua Shou yang telah menjadi mayat menuju medan pertempuran di mana energi pedang yang membelah tanah itu berasal. Sesampainya di tempat itu, keterkejutan lain menyambutnya. Di sana justru masih berdiri sosok tua si Karang Setan dengan memegang pedang milik pemuda yang tak lain adalah Gentayu.
Karang Setan dengan Langkah terseok kemudian menenteng pedang itu dan melangkah menuju arah barat, menuju bukit seguntang. Sengkuang membuntuti lelaki itu. Dia tak tertarik untuk mencari tahu bagaimana nasib pemuda yang menjadi lawannya berikut dua orang lainnya. Bahkan dia mengabaikan jasad tabib mo. Sengkuang malah meletakkan tubuh tetua Shou di dekatnya agar sewaktu dikuburkan tubuh tetua Shou ikut terurus.
Perjalanannya ternyata menuju ke Bukit Seguntang. Sengkuang ingin menyerang pendekar tua berkekuatan iblis itu. Namun diurungkannya niat itu. Kondisi Lelaki Tua ini sepertinya melemah sangat jauh, namun tetap saja Sengkuang bukan lawan sebanding baginya. Kini hal terpenting adalah mengetahui di mana segel itu disimpan. Saat pagi tiba,terlihat Karang Setan yang tampak semakin lemah itu memasuki gerbang sebuah perguruan yang tersembunyi di antara rimbunnya belukar.
Sengkuang tidak mengikutinya memasuki padepokan. Dia memilih Kembali, namun saat dalam perjalanan dia berjumpa dengan seorang berpakaian selayaknya kaum terpelajar dan bangsawan ibukota terlihat memacu kudanya.
‘Ada urusan apa seorang bangsawan mengunjungi padepokan aliran hitam? Ada hal tidak beres sepertinya’ Sengkuang mengurungkan niatnya untuk Kembali ke Sekte. Dia memilih untuk mencegat orang itu saat Kembali guna memperoleh informasi yang sepertinya akan sangat berharga. ‘Mungkinkah kelompok aliran hitam itu dibiayai pihak tertentu dalam kerajaan?’ Fikirnya.
Hampir dua jam lamanya Sengkuang menunggu, akhirnya penunggang kuda itupun Kembali. Sengkuang menghentikan laju kuda itu dengan melemparkan kerikil yang menghantam kaki kuda itu dan membuatnya jatuh terbanting di atas rerumputan bertanah keras.
Sengkuang melompat dan menyeret lelaki itu menuju semak-semak dan membiarkan kuda tunggangan itu lari tanpa tali kekang dan pelananya. Kuda itu segera berlari meninggalkan tuannya yang kini menampakkan ketakutan dihadapan Sengkuang.
“Katakan apa yang kau lakukan di perguruanku!?” Sengkuang mengancam lelaki itu dengan sebuah belati sambal bersandiwara bahwa dia adalah bagian dari padepokan.
“Heh?? Kau orang Rambut Iblis, kenapa tak kau tanyakan saja pada tetuamu?” Lelaki itu termakan drama dari Sengkuang.
“Ah, aku malas bicara dengan orang tua itu! Aku ingin mendengarnya langsung darimu saja! Katakan, pesan apa yang kau bawa? Aku tak mau kalah cepat soal informasi, kau tahu? Aku juga tetua mereka! Sayangnya, karena aku terlalu kejam dan suka bergerak sendiri sesuka hati, aku mendapat hukuman seperti ini! Tidak boleh terlibat urusan perguruan, tidak boleh membunuh.. Hah! Menyebalkan!” Sengkuang makin menjadi-jadi dalam dramanya.
Sengaja menyebut terlalu kejam dan suka bertindak sesuka hati agar menimbulkan kengerian dalam hati bangsawan tersebut. Umpannya berhasil! Dengan malas, bangsawan itu membuka semua rahasia yang dia juga sampaikan saat berada di dalam padepokan Rambut Iblis.
Tiba-tiba sorot mata Sengkuang berubah menjadi dingin dan mengerikan.
“Eh, kau tidak berniat membunuhku setelah aku ceritakan yang mereka dengar juga, bukan? “ Lelaki yang ternyata utusan itu menjadi pucat. Lalu mulai menyadari kebodohannya. Semua terlambat, karena hukuman yang layak bagi pengkhianat hanyalah kematian! Dan Sengkuang menganggap bangsawan ini adalah pengkhianat!
Sengkuang membersihkan noda darah pada belatinya menggunakan pakaian utusan itu sendiri.
‘Aku harus memberitahukan pengkhianatan ini kepada pihak istana. Tapi bagaimana caranya?’ Sengkuan terus berjalan sambal memikirkan rencana apa yang akan dilakukannya selanjutnya.
+++++++++++++ +++++++++ +++ +++ +++
__ADS_1