
Tubuh Gentayu kini selayaknya orang kesurupan. Seperti tak terkendali.
Sambil terus meraung kesakitan, sesekali terlihat sosoknya bangkit berlari. Lalu terbang, untuk kemudian jatuh ke bumi secara mendadak. Berguling-guling di atas tanah. Kemudian terbang lagi. Jatuh lagi. Berlari, melompat.
Semuanya terlihat liar.
Perlawanan dan pertarungan hebat tengah terjadi jauh di dalam diri Gentayu, memaksa tubuhnya bergerak tanpa memiliki kendali penuh.
Sesekali jiwa Gentayu berhasil mengambil alih kembali tubuhnya, lalu segera sang makhluk api itu mengalahkannya.
Akibatnya, seringkali terlihat kobaran api menyelimuti tubuh Gentayu sebelum kembali padam. Begitu seterusnya selama beberapa waktu berikutnya.
Rambut Gentayu kini telah habis dilahap api yang berkali-kali keluar dari tubuhnya. Demikian juga dengan alis, bulu mata, dan bulu-bulu lain di tubuhnya semuanya habis terbakar. Tak terkecuali pakaiannya.
“Aaaaarggggg....!!”
“GROAAARRRRHHHHH....”
Suara raungan Gentayu berhasil menakuti hewan-hewan di sekitarnya.
Selain itu, nyala api yang berkali-kali muncul di tubuhnya telah menciptakan kebakaran kecil di beberapa titik hutan, sebelum titik-titik itu bergabung membentuk sebuah kebakaran hebat dan membakar bagian tepi hutan itu secara keseluruhan.
Jauh di dalam sana, jiwa Gentayu terus terdesak dalam pertarungan hidup dan mati.
Jiwanya tetap dikungkung oleh lautan api tiada berujung, membakarnya dan perlahan melemahkannya. Hingga akhirnya, dalam kondisi sangat kritis, Gentayu seolah mendapatkan pencerahan.
‘Matahari adalah sumber api terbesar. Dan aku ditakdirkan untuk bisa menggunakan kekuatan api matahari sebagai sumber kekuatanku. Sedangkan makhluk ini hanyalah api yang tidak lebih besar dari matahari. Bukankah setiap api di dunia adalah sumber energi bagiku?’ Gentayu mencapai sebuah kesimpulan dalam perenungan singkatnya di tengah hidup dan mati itu.
Kemudian sebuah ide terlintas. Ide untuk menyerap kekuatan api itu untuk memperkuat dirinya, bahkan jiwanya. Menggunakan jurus Rembulan menarik samudera. Dan Gentayu segera bermeditasi setelahnya.
“Tridraaaaaakk...!!! Aaaaarghhhh.....!!”
__ADS_1
Tiba-tiba, kembali kobaran api muncul dan keluar dari tubuhnya. Kali ini berkobar berkali-kali lipat dan tak kunjung padam.
Namun, ekspresi kesakitan penuh kesengsaraan terlihat berbeda ditunjukkan oleh tubuh Gentayu yang diselimuti api tersebut.
Tubuh itu jatuh dalam posisi berlutut, kepalanya mendongak ke langit dengan mulut menganga.
“Hrentrikan.... grrroaaaaahrr... Arrrrghhhh...!!”
Tubuh itu menjerit kesakitan seperti sebelumnya, tapi dengan suara berbeda.
Selain itu, tubuh Gentayu juga tidak lagi bergerak liar seperti sebelumnya, sekalipun kobaran api di tubuhnya itu terlihat makin membesar.
Cahaya api itu terlihat mengalami perubahan. Tidak lagi merah menyala, melainkan sedikit putih kebiruan, bersamaan dengan volume kobarannya yang perlahan menyusut secara kasat mata.
Mata Gentayu mendelik. Tubuhnya menjadi kaku. Kobaran api itu kini semakin mengecil, menyusut. Namun warna apinya kini berubah menjadi putih kebiruan.
“Arrrgghhhhh... arpra yrang krau lakrukraaaaan?!! Oarghhhh... Lrepashkan Akruuuuu...Grrrroarhhh...!!” suara yang keluar telah sepenuhnya suara si makhluk api. Suara kesakitan.
Meskipun kesakitan, namun tubuh Gentayu tetap terpaku di tempatnya. Terkunci tak bergerak dari posisinya berlutut. Masih dengan kepala mendongak dan mulut menganga.
Sekitar dua jam berikutnya, dari mata dan mulut Gentayu yang menganga dalam posisi mendongak itu, sinar kemerahan memancar jauh ke langit. Menerangi gelapnya malam. Keluar dari tubuh Gentayu.
Saat pancaran sinar merah itu melesat keluar, api berkobar di tubuh Gentayu mendadak padam. Rupanya, makhluk api itu tengah berusaha keluar meninggalkan tubuh Gentayu. Masih sambil meraung kesakitan.
Tepat ketika drama hidup dan mati sedang berlangsung, saat itulah bumi di sekitar Gentayu tiba-tiba bergetar.
Gempa bumi terjadi di sekitar tubuh Gentayu.
Bersamaan itu, Gelang Geroboknya tiba-tiba juga bersinar kemerahan, disertai dengan hawa panas lainnya yang memancar dari dalam gelang warisan Pendekar Bulan Perak tersebut.
Ternyata, di dalam gelang gerobok itu, salah satu dari sembilan bola arwah juga tengah mencoba untuk keluar, menyambut panggilan Mislan Katili yang telah bangkit jauh di bagian lain dunia ini.
__ADS_1
Aura panas pada gelang tersebut telah menekan kekuatan makhluk api yang tengah mencoba meninggalkan tubuh Gentayu, melemahkannya lebih jauh sekaligus menyerapnya.
Andaikan saat itu sang Makhluk Api tidak sedang berada dalam tubuhnya, maka Gentayu sendirilah yang harus menanggung akibat dari kuatnya pancaran kekuatan Bola Arwah dalam gelang gerobok itu.
Sinar kemerahan yang memancar jauh ke langit dari kedua mata dan mulut Gentayu tiba-tiba melesat masuk kembali ketika gelang gerobok itu bersinar semakin terang, dengan aura panas yang juga semakin meningkat.
Gempa bumi terasa semakin kuat, sementara dalam tubuh Gentayu saat ini tiga kekuatan tengah bertarung.
Kekuatan Bola Arwah menekan kekuatan makhluk api secara alamiah, karena menganggapnya sebagai pengganggu proses penyatuan kekuatannya dengan sembilan bola arwah lainnya.
Sementara makhluk api itu, mengira bahwa kekuatan baru yang bangkit tersebut justru berasal dari Gentayu sendiri.
Jiwa Gentayu akhirnya berhasil membebaskan diri dari kungkungan kekuatan makhluk api itu ketika pergolakan kekuatan iblis tengah berlangsung dalam tubuhnya.
Bukan hanya berhasil membebaskan diri, jiwa Gentayu juga berhasil menyerap dan mengambil alih sebagian besar energi api murni dari makhluk api itu sehingga membuat dirinya menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Sebaliknya, makhluk api yang semula hendak mengambil alih tubuhnya kini telah melemah jauh.
Namun begitu, makhluk api itu masih harus bertarung melawan kekuatan bola arwah yang tengah berusaha menyerap kekuatannya guna memenuhi panggilan penyatuan Mislan Katili, dan itu membuat makhluk api terus melemah.
Namun begitu, sekalipun telah menyerap kekuatan makhluk api, Bola Arwah itu tidak mampu keluar menembus Gelang gerobok.
Bagaimanapun, gelang gerobok adalah sebuah dimensi berbeda yang tidak bisa ditembus begitu saja, kecuali sengaja dibuka dari luar. Hal inilah yang menyebabkan hawa panas memancar dahsyat dari gelang gerobok.
Sebuah ledakan di dalam gelang gerobok terjadi sebelum gempa bumi berhenti. Ledakan itu mengakibatkan terjadinya retakan kecil pada batu buana, batu yang menjadi gerbang menuju dunia tepi danau.
Saat semuanya terjadi,Gentayu telah berada di ambang batas kemampuannya bertahan. Seluruh tubuhnya tidak lagi bisa dirasakan.
Syaraf-syaraf tubuhnya seolah mati.
saar itulah, gempa berhenti.
Tubuh Gentayu lalu jatuh dalam posisi tertelungkup. Jatuh pingsan.
__ADS_1
Tak lama setelahnya, kepulan asap putih keluar dari mulut dan hidung Gentayu.
Asap itu perlahan membentuk sesosok tubuh. Tubuh makhluk serupa manusia dengan ekor mirip buaya. Namun kali ini, tanpa kobaran api seperti sebelumnya.