JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Batu Trisula II


__ADS_3

Benduriang dan Mahapatih Dangku saling berpandangan. Tak berani bertanya dan segan untuk menanyakan sekalipun sangat penasaran. Akhirnya mereka berdua memilih kembali diam sembari menyaksikan yang akan terjadi berikutnya. Gentayu sendiripun nampak sedikit kebingungan melihat benda berbentuk kubus itu untuk pertamakali berubah dengan bentuk yang sama sekali berbeda. Cakram.


Melihat ada cekungan pada bagian batu mirip trisula itu yang sangat identik dengan bentuk dan ukuran cakram di tangannya, Gentayu mencoba untuk menempelkan dan mencocokkan keduanya. Aneh! Bila semula batuan trisula itu seperti dilapisi energi pelindung dengan daya tolak sangat kuat sehingga tak bisa disentuh, kini hal sebaliknya terjadi. Batuan itu justru seolah hendak menyedot tangan Gentayu yang memegang cakram saat didekatkan ke arah cekungannya. Semakin dekat daya tariknya semakin kuat. Akhirnya cakram tersebut menempel sempurna tepat pada cekungan berbentuk lingkaran di leher batu trisula tersebut.


Tidak ada yang terjadi selanjutnya.


Sunyi.


Gentayu celingukan, Benduriang dan Mahapatih Dangku hanya mengerutkan kening. Menunggu jika ada hal ajaib yang akan terjadi.


Tidak terjadi apapun sama sekali.


Sedetik, dua detik, lima detik, sepuluh detik...


Saat Benduriang dan dan Mahapatih Dangku berfikir untuk berbalik saja karena tidak ada kejadian apapun yang terjadi setelah menunggu lebih dari satu menit dalam diam, bumi tempat mereka berpijak tiba-tiba bergoncang cukup kuat.


“Gempa!!” Benduriang berkata setengah berteriak pada Mahapatih Dangku.


Mahapatih itu tentu saja tahu bahwa itu gempa, tapi ada hal lain yang lebih menarik terjadi.


Batu trisula itu tiba tiba memancarkan cahaya sangat terang. Seterang matahari saat menatapnya di siang hari. Sangat menyilaukan mata dan terasa hangat cenderung panas. Tubuh Gentayu yang berdiri di dekatnya bahkan tak terlihat karena cahaya menyilaukan itu memang melingkupi tubuhnya dan areal di sekitar batuan trisula tersebut.


Lokajaya yang sedari tadi bermain sendirianpun sampai berdiri menyaksikan fenomena itu dari kejauhan sebelum berlari mendekati kedua orang kepercayaan mendiang ayahnya tersebut.


Benduriang dan Rambang Dangku yang berusaha melindungi mata mereka dari sinar menyilaukan dengan telapak tangan di depan wajah terkejut.


Sinar menyilaukan itu semakin bersinar terang dan mengaburkan pandangan mereka. Makin terang, semakin terang dan membesar sebelum...


‘ZAP!!’


Menghilang tiba-tiba bersamaan dengan menghilangnya Gentayu beserta batuan trisula tersebut dari pandangan mereka. Meninggalkan hanya rerumputan dan bekas kaki Gentayu di atasnya.

__ADS_1


Benduriang setengah berlari menuju ke bekas menghilangnya batu trisula berikut Gentayu tersebut. Bekas senopati itu mengibas-ngibaskan kedua tangannya ke ruang kosong bekas berdirinya batu trisula dan Gentayu. Namun tidak merasakan apapun. Kosong.


“Dia Menghilang??” hanya itu yang keluar dari bibirnya.


Tak lama kemudian, Lokajaya menyusul mereka dengan ketakutan membayang di wajahnya. Bocah itu segera berlari memeluk paha kanan Benduriang. Benduriang mengangkat tubuh mungilnya dan menggendongnya kembali ke tempat mereka beristirahat sebelumnya. Kedua bekas petinggi militer Lamahtang itu kini diliputi kebingungan.


++++++ +++ ++++ ++++ ++++ ++++ ++++ ++++


Sementara itu, Gentayu merasakan tubuhnya seperti diselimuti cahaya hangat yang kini mengangkat tubuhnya ke angkasa. Berputar dan meluncurkannya menuju suatu titik gelap di ujung lorong cahaya dengan kecepatan yang tak pernah terbayangkan. Gentayu kembali merasakan seolah darah berikut seluruh organ dalam tubuhnya tertinggal di belakang tubuhnya yang terus meluncur semakin cepat.


Sensasinya mirip seperti saat dirinya berpindah dari bekas markas Sekte Naga Merah di tepi hutan wilayah lembah Kaling menuju Lembah Tujuh Curup. Perbedaannya, saat ini seluruh tubuhnya berputar seperti peluru sehingga perutnya merasa seperti diaduk-aduk.


Saat hampir kehilangan kesadaran karena kecepatan yang di luar jangkauan akalnya itu, Gentayu merasa tubuhnya dihempaskan ke luar dari lorong cahaya itu ke angkasa. Benar-benar angkasa, karena bahkan Gentayu menabrak seekor burung yang sedang terbang sebelum mencapai awan dan kembali meluncur turun ke bawah deras..


Gentayu melihat alam di bawahnya yang terlihat berwarna hijau menghampar dengan kelokan-kelokan air terlihat seperi ular meliuk di beberapa titik menuju hamparan lain berwarna kebiruan di kejauhan. Hamparan warna hijau dan kelokan air tersebut semakin lama semakin jelas seiring semakin dekatnya dirinya dengan permukaan tanah. Sadarlah dia bahwa kelokan air itu tak lain adalah sungai, dan hamparan kehijauan yang membentang luas tak lain adalah tetumbuhan dan pepohonan hutan yang kini terlihat semakin jelas.


Gentayu memejamkan mata saat tubuhnya semakin deras meluncur ke bumi tanpa sanggup mengurangi kecepatannya. Merasa bahwa dirinya mungkin akan berakhir sebagai daging penyet akibat terhempas dari ketinggian tersebut, Gentayu hanya bisa pasrah. Yang bisa dilakukannya hanya berusaha memusatkan tenaga dalamnya pada kedua tangannya yang beberapa saat lagi akan menabrak tanah, berharap setidaknya tubuhnya tidak hancur sebagai serpihan daging saat benturan terjadi.


Betapa kagetnya Gentayu saat mendapati tubuhnya tidak kunjung mendarat di atas tanah menghampar, namun justru meluncur menghunjam ke dalam bumi. Tak ada rasa sakit saat tubuhnya melewati berlapis-lapis tanah dan batuan menuju ke bagian dalam bumi.


‘Apakah aku sudah mati dan sekarang dikirim ke alam bawah karena kejahatan yang kulakukan?” Terbersit begitu saja bahwa sebenarnya dirinya telah mati menabrak bumi, dan kini ruhnya sedang dikirim ke neraka, atau dalam keyakinan Gentayu dikenal sebagai alam bawah.


Apapun itu, Gentayu benar-benar sudah pasrah. Toh, selama ini hidupnya juga tidak terlalu banyak melakukan hal berarti? Bahkan bebrapa kali menyaksikan pembantaian tanpa bisa berbuat banyak? Mungkin, alam bawah adalah tempat yang sesuai untuknya karena gagal menyelamatkan murid-murid gurunya, gagal menyelamatkan Sekte Bambu Hijau, gagal menyelamatkan Lamahtang, bahkan gagal melindungi nyawa raja..


‘Byur!!’


Gentayu tersadar dari fikiran liarnya saat tubuhnya tiba-tiba tercebur seutuhnya ke dalam air yang dalam. Sebuah sumur! Dan dia kini benar-benar dibuat syok! Betapa dalam sumur ini hingga momentum jatuh dari angkasa itupun tidak mampu mengantarkannya mencapai dasar sumur. Dan Gentayu sangat tidak menyukai berada di dalam air yang gelap!


“Ahkk.. apa ini??”


Kejutan yang dialaminya ternyata belum berhenti. Sebuah pusaran air terbentuk mendadak di bawah kakinya yang telah berhenti tenggelam. Tiba -tiba dirinya merasa tersedot masuk ke dalam sebuah lubang lain di balik pusaran air muncul dari kedalaman dengan tiba-tiba tersebut.

__ADS_1


‘WHUZZZZZZ......!’


Lubang itu kembali menyemburkan tubuh Gentayu ke atas menuju permukaan, bahkan saking kuat semburannya mampu melontarkan tubuh Gentayu keluar dari dalam sumur yang kini dilihatnya ternyata adalah lubang di dasar air terjun.


Gentayu terlempar ke atas, tepat menuju air terjun dan tubuhnya segera menghilang masuk ke balik air terjun.


‘Bruk!’


Gentayu mendarat dengan kasar di atas lantai batuan di balik air terjun yang licin. Dalam posisi tengkurap menelungkup. Rupanya dirinya masuk ke dalam sebuah goa cukup luas di balik air terjun.


Tulang-tulangnya serasa remuk redam. Mungkin ada beberapa yang patah. Tubuh dan pakaiannya yang basah membuat lantai goa yang licin bertambah licin.


“Selamat datang anak muda..!” Sebuah suara perempuan terdengar di atas langit langit. Mengagetkan gentayu tentu saja.


Segera dia membalik tubuhnya dan berusaha bangkit dari posisinya yang tengkurap.


“Sss... ssiapa.. siapa nona? Dddi..ddi..dimana aku?” Gentayu hampir tak bisa menguasai dirinya. Terlalu banyak hal mengagetkannya membuatya sangat gugup dan waspada.


“Tamu yang datang, seharusnya mengucapkan salam dan permisi.. apalagi tuan rumah telah menyambut. Beginikah pendekar aliran putih dididik??” Suara yang semula lembut itu kini berubah menjadi berat.


Gentayu celingukan. Kepalanya tolah-toleh berusaha mencari sumber suara yang barusan menegur sikapnya yang dianggap tidak sopan. Namun dia tidak menemukan siapapun kecuali dirinya sendiri di tempat itu.


“Apakah kau tidak melihat kehadiranku?” suara itu kini terdengar berada di bawah tubuh Gentayu.


Gentayu yang panik segera meloncat berdiri, dan hanya menemukan sebuah trisula.


Tunggu, trisula?? Ah, apalagi ini? Apakah trisula ini bisa bicara? Mungkinkah di dalamnya ada roh juga?


Trisula itu kemudian menampakkan sinar keemasan yang semakin terang.


Kini nampaklah wujud trisula tersebut. Sebuah trisula dengan hiasan sebuah lingkaran cakram kehitaman di antara pangkal ketiga bilah mata tombaknya yang tajam. Cakram itu jelas cakram milik Gentayu yang kini seolah menyatu dengan cakram itu sendiri. Cakram itu berdiri tegak dan melayang setinggi mata kaki namun tidak bergerak.

__ADS_1


__ADS_2