JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Yang Tersisa


__ADS_3

Empat hari sudah mereka bertiga menempuh perjalanan. Mereka tidak lagi memasuki desa dan kota kecil yang dilewati kecuali sekedar membeli makanan sebagai bekal melanjutkan perjalanan lalu kembali masuk menyusuri jalur hutan. Mereka sengaja menghindari pertemuan dengan warga karena khawatir keberadaan mereka akan terendus mata-mata atau anggota kelompok aliran hitam lain. Sepanjang perjalanan tersebut, baik Gentayu maupun Senopati Benduriang saling menceritakan pengalaman masing-masing selama empat tahun terakhir.


Fajar itu, mereka harus berhenti di sebuah tepian sungai besar. Jelas tidak mungkin bagi mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menyebrangi sungai yang tepinya saja nyaris tak terlihat dari tempat mereka berdiri sekarang. Akhirnya mereka hanya menunggu kapal nelayan atau pedagang yang lewat untuk menumpang. Untunglah tak lama kemudian, sebuah perahu nelayan berukuran sedang dan diawaki empat orang lelaki melintas. Pemilik perahu bersedia memberikan tumpangan kepada Gentayu dan Benduriang karena melhat ada anak kecil bersama mereka menandakan bahwa kedua orang tersebut bukanlah orang jahat.


“Maaf tuan, kalau boleh kami tahu kemana tujuan tuan bertiga sebenarnya?” Pak tua pemilik kapal bertanya tentang tujuan Gentayu dan Benduriang saat ketiganya telah naik di atas perahu.


“Kami ingin ke muara sabak, paman. Maaf, berapa kami harus membayar atas jasa ini?” Benduriang menjawab dengan sopan.


“oh, muara sabak ya. Berarti nanti tuan akan turun dua desa lagi dari sini. Kalau kami masih harus terus ke hulu tuan. Masalah bayaran, itu tidak perlu, tuan.. Kalau boleh tahu, apakah tuan berdua ini pendekar yang hendak mengikuti turnamen beladiri di sana?” ucapan pak tua pemilik perahu cukup membuat kening Gentayu berkerut.


Bagaimana mungkin ada turnamen di tempat persembunyian raja? Bukankah itu akan sangat mencolok? Turnamen beladiri yang pasti akan mengundang banyak pendekar, fikirnya.


“Tidak, paman. Kami hanya orang biasa yang sedang berkelana. Kami ke kampung tersebut untuk menemui kepala kampung saja..” Kembali Benduriang menjawab.


Pak tua pemilik kapal nampak tidak terlalu mempedulikan jawaban Benduriang, karena tiba-tiba di depan perahu mereka kini menghadang sebuah kapal besar berbendera tiga riak air dengan pedang kembar bersilangan dan bergambar padi-kapas di sisi kiri kanannya. Jelas itu adalah bendera kerajaan Lamahtang. Dalam kondisi normal, seharusnya mereka tidak perlu cemas karena di perahu ini ada seorang senopati istana. Sayangnya, istana saat ini telah diambil alih oleh pangeran Selangit dengan dukungan kelompok aliran hitam.


Baik Gentayu maupun Benduriang sama-sama tak ingin gegabah. Mereka tidak akan bereaksi terhadap apapun yang akan terjadi selama kehadiran mereka tidak diusik.


“Berhenti!!” Teriak seorang berpakaian prajurit Lamahtang dengan lantang dari atas dek kapal bagian depan ditujukan kepada perahu yang ditumpangi Gentayu dan Benduriang. Tampaknya, lelaki tersebut adalah pemimpin dari armada tersebut.


Pak tua pemilik kapal memberi isyarat agar menghentikan laju perahu. Perahu menjadi bergoyang-goyang disebabkan pertemuan ombak dari kapal kerajaan tersebut dan arus air di sekitar perahu itu.


“Maaf, tuan prajurit. Ada apa sebenarnya ini? Kenapa kami dihentikan?” bertanya pak tua tersebut kepada prajurit yang sudah menggerakkan tangannya memberi isyarat kepada rekan-rekannya untuk naik menuju perahu milik pak tua.


“Kami hanya harus memeriksa isi perahumu saja, pak tua. Kami ingin memastikan di perahumu tidak ada pelarian dari istana! Suruh semua awak kapalmu keluar dan berdiri di tepi dek perahumu itu. ” Suara lelaki pemimpin armada itu lantang menjawab keberatan pak tua pemilik kapal.


Seluruh awak kapal berikut Gentayu dan Pangeran Lokajaya keluar keluar dari dalam ruang awak kapal. Benduriang sendiri memilih bersembunyi di dalam air di bawah perahu, tepat di depan moncong perahu. Gentayu dan Benduriang telah sepakat, seandainya mereka dikenali atau ditangkap sekalipun mereka akan menurut untuk dibawa ke kapal kerajaan tersebut. Tidak ingin merugikan pak tua pemilik kapal.

__ADS_1


Tiga orang prajurit melompat dari kapalnya menuju ke perahu pak tua. Wajah penuh keangkuhan terlihat dari ketiga orang ini. Kemudian mulai memeriksa orang-orang di perahu pak tua yang kini berdiri berbaris. Sebagian berdiri dengan gemetar karena mereka mendengar bahwa para prajurit yang sekarang berkeliaran tidak lain adalah para pendekar aliran hitam dan bekas perampok yang sedang mengejar raja Prabu Menang dan para pengikutnya.


Ketiga orang prajurit itu berhenti cukup lama saat berada di depan Gentayu. Mereka tampak mencocokkan wajah Gentayu dg gambar wajah benerapa orang di tangan mereka. Pangeran Lokajaya yang ketakutan sedang memeluk paha sebelah kanannya dengan erat.


“Maaf tuan prajurit, saya dan anak saya memang bukan bagian dari para nelayan ini. Kami hanya menumpang di perahu ini untuk menghadiri pesta pernikahan keluarga mendiang istri saya di desa Muara Sabak..” Jelas Gentayu bersandiwara, saat ketiga prajurit terlihat mencurigainya yang berpenampilan berbeda dari para nelayan lainnya.


Ternyata sandiwara itu berhasil. Tiga prajurit itu tanpa curiga segera bergegas kembali ke kapalnya tanpa menoleh lagi karena ada perahu-perahu lain yang harus di periksa selain perahu yang ditumpangi Gentayu ini.


Gentayu menghela nafas lega karena tidak harus bertarung di tengah perairan ini. Setidaknya, kehadiran mereka tidak akan tersendus sejauh ini bila segalanya berjalan sesuai rencana. Benduriang yang semula menyembunyikan diri ke dalam airpun kini telah kembali ke dalam geladak kapal.


Dia bermaksud memberi sedikit penjelasan kepada pak tua pemilik kapal, namun rupanya pak tua itu telah lebih dulu menemuinya di dalam ruang awak kapal.


“Tuan tak perlu kuatir. Kami berada di pihak tuan berdua seandainya benar tuan berdua adalah bagian dari kelompok perlawanan terhadap kekuasaan aliran hitam di kerajaan. Maafkan kami tidak memperkenalkan diri sebelumnya. Kami adalah sisa-sisa dari Perguruan Matahari Emas yang tersisa. Kami sedang menjalankan sebuah misi saat penyerangan terjadi..” Pak tua pemilik kapal menceritakan jati diri sebenarnya kepada Benduriang, namun yang terkejut Justru Gentayu yang mendengarnya dari tempat duduk di belakang pak tua tersebut.


Gentayu sangat ingin membuka jati dirinya sebagai murid kelana sekaligus pewaris jurus-jurus Matahari Emas, namun dia mengurungkan niatnya karena sepertinya hal itu belum perlu dilakukannya untuk saat ini. Masih ada lain waktu, fikirnya.


“Tidak. Tepatnya belum. Kami melihat kepemimpinan raja Prabu Menang terlalu lemah. Walaupun suatu saat Prabu Menang berhasil merebut kembali tahta kerajaan, kami tidak yakin bahwa keadaan akan membaik. Toh selama beliau memimpinpun, keadaan rakyat juga serba sulit... saat ini bagi kami lebih baik berjuang langsung memerangi aliran hitam yang bikin onar di tengah masyarakat... Tidak perlu terlalu larut dalam politik kekuasaan. Kecuali, bila nanti muncul sosok kuat yang bisa tampil mengayomi, mungkin kami akan mati-matian berjuang bersamanya. Untuk saat ini, masyarakat bawah lebih membutuhkan kami..” Ucapan pak tua ini tajam dan menusuk. Benduriang bahkan berfikir hal yang sama selama ini, namun bagaimanapun dirinya adalah bagian dari kekuasaan raja yang disebut pak tua itu.


Senyum pahit menghiasi bibir Benduriang. Tidak tahu harus berkata apa karena semuanya memang benar apa adanya. Raja Prabu Menang memang sosok pemimpin yang lemah, lamban dan kurang tegas serta cenderung emosional. Bahkan raja inipun tidak melakukan tindakan apapun saat satu persatu kekuatan aliran putih dihancurkan oleh aliansi aliran hitam. Wajar jika sikap para pendekar aliran putih yang tersisa juga tidak seperti yang diharapkan raja dan pengikutnya. Dan hari ini Benduriang melihat sendiri salah satunya.


Gentayu yang menyadari canggungnya keadaan di ruangan sempit itu segera berdiri dan menghampiri pak tua pemilik kapal. Memberikan hormatnya yang sama sekali tidak dimengerti oleh pak tua itu.


“Paman, boleh kutahu siapa nama paman?” Gentayu memberanikan diri masuk dalam situasi canggung tersebut.


“Oh anak muda. Maafkan aku mengabaikanmu. Namaku Ki Geringsing. Tetua.. maaf maksudku mantan salah satu sesepuh di padepokan Matahri Emas. Mereka bertiga adalah murid-muridku yang kubawa saat menjalankan misi. Yang Jangkung, Pontoh. Yang Gendut itu Baung, dan yang paling muda itu Ompak...”Pak tua bernama Ki Geringsing itu memperkenalkan para awaknya yang ternyata adalah para muridnya.


“Apakah hanya kalian yang tersisa, Ki?” Gentayu cukup bahagia dalam hatinya bisa bertemu dengan murid-murid dari gurunya dan berharap ada lebih banyak yang selamat.

__ADS_1


“Sejauh ini, hanya kami yang kuketahui selamat..” Ki Geringsing menjawab singkat dengan mata berkaca-kaca.


Hati Gentayu tiba-tiba merasakan pedih yang sangat menusuk. Terbayang kembali jasad Danang, anak dari Bandu Aji yang gagal diselamatkannya. Rasa bersalah kembali muncul dan tak terasa, ada bulir air di sudut matanya saat mengingat hari mengerikan itu.


“Kenapa kau menangis, anak muda? Apakah kau memiliki rekan-rekan yang juga terbunuh oleh aliran hitam? Aahhh.. kalau difikir-fikir, semuanya membuatku lapar! Eh, tapi itu, kalian sudah sampai” Ki Geringsing buru-buru keluar menemui Ompak yang mengemudikan perahu itu dan memerintahkannya menepi.


Benduriang mengucapkan terimakasih sebelum melangkah meninggalkan perahu dengan menggendong pangeran Lokajaya yang telah tertidur. Fikiran senopati itu masih terngiang pada ucapan Gentayu dan Ki Geringsing tentang sang raja lemah yang saat ini sedang dibela dan diperjuangkannya untuk kembali bertahta. Salahkah tindakannya?


Sementara Gentayu menyempatkan untuk memberikan beberapa koin emas kepada ki Geringsing. Tentu saja ki Geringsing menolak karena khawatir itu adalah upaya untuk membuatnya bersimpati dan mau berjuang untuk membantu raja Prabu Menang.


“Terimalah Ki.. aku juga bukan bagian dari kelompok perlawanan pendukung raja, walau dulunya aku juga prajurit. Namun karena berbeda prinsip empat tahun lalu aku keluar dari istana dan mengembara. Terimalah ini, ini dari adik seperguruanmu.. dan namaku adalah Gentayu” Gentayu terus mencoba membujuk ki Geringsing agar mau menerima koin meas darinya. Namun kalimat terakhirnya membuat wajah ki Geringsing berubah.


“Apa? Benarkah kau murid guruku?” kata ki Geringsing tak percaya.


“Ceritanya panjang. Namun aku ada di padepokan saat penyerangan.. “ Gentayu tak banyak bercerita. Waktunya kurang tepat menurutnya. Dia hanya menunjukkan sebuah liontin pemberian Bandu Aji sebagai bukti bahwa dia adalah pewaris dari gurunya.


“Pantas saja tadi kau menangis... Gentayu, kalau begitu, datanglah kapan-kapan ke dusun kami. Ujung Miang, dan tanyakan namaku di sana.. kami akan menjamumu..” Ki Geringsing cukup faham akan situasinya sehingga akhirnya memberitahukan tempat di mana mereka bisa kembali bertemu suatu hari nanti.


“Ujung Miang, ya... Baiklah paman. Aku pasti akan mampir ke sana setelah bertem ayah angkatku..! Gentayu membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepada pak tua yang pernah menjadi sesepuh perguruan gurunya tersebut sebelum berbalik dan menyusul langkah Benduriang.


Ki Geringsing menatap lekat punggung Gentayu dari atas perahu yang kembali berlayar hingga sosok tersebut menghilang dalam rimbunnya pepohonan hutan pembatas desa Muara Sabak.


“Ah, guru.. ternyata engkau menyembunyikan muridmu yang lebih berbakat tidak di dalam padepokan..” Gumam Ki Geringsing sambil tersenyum.


Sepintas dia bisa melihat bahwa sosok Gentayu bukanlah orang sembarangan. Kekuatannya tampak memancar lebih kuat menjelang perpisahan, mungkin untuk membuktikan diri bahwa benar dia adalah murid Ki Brajawana. Yang jelas, kini sebuah harapan baru muncul, setidaknya bagi Ki geringsing dan ketiga muridnya.


Nb. **Terus dukung tulisan ini yaa.. Dengan cara like, love, dan jangan lupa kritik dan sarannya.. Syukur-syukur kalo dikasih Vote, pasti gak nolak..😅

__ADS_1


Oh ya, Terimakasih buat kalian yang sudah mendukung dan menjadi pembaca walau sekedar mampir. Srmoga saya bisa terus memberikan yang terbaik sesuai kemampuan saya dan kita semua sebantiasa dijauhkan dari wabah, bala dan bencana**.


__ADS_2