
Perjalanan Gentayu menuju sekte Naga Merah di Lembah Kaling selanjutnya ditempuh dengan berlari cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya dari padepokan Pedang Tunggal. Ilmu tersebut dikenal dengan sebutan ‘ilmu langkah angin’. Pemiliknya akan terlihat berlari tanpa menapak tanah, bahkan dapat melintasi perairan tanpa perlu menggunakan perahu sekalipun. Kecepatannya bisa melebihi lari kuda tercepat, namun tentu saja dibutuhkan stamina dan tenaga dalam yang cukup sehingga pengguna ilmu ini membutuhkan waktu istirahat untuk memulihkan tenaganya secara berkala.
Menjelang siang, Gentayu telah hampir mencapai sebuah desa di dekat bukit lainnya setelah berlari hampir setengah hari. Bila tanpa halangan, dalam dua hari dia seharusnya akan sampai di tempat tujuan. Menjelang memasuki gerbang desa, Gentayu memelankan langkahnya karena tak terlalu jauh di depannya terlihat gerbang desa yang dijaga empat orang laki-laki.
Kedatangan Gentayu segera di hadang keempat penjaga tersebut. Sepertinya, mereka adalah pendekar-pendekar yang bertugas mengamankan desa. Masing-masing mereka membawa pedang, kecuali seorang lelaki tinggi kurus di antaranya yang bersenjatakan tombak.
“Maaf Kisanak. Desa kami sedang ditutup untuk pendatang.. Kisanak silakan kembali kemari lain kali..” Seorang di antara keempatnya, yaitu laki-laki bermata juling mencegah Gentayu untuk memasuki desa.
“Oh, maafkan saya. Saya pengelana yang kebetulan melintas saja. Bukan semata-mata bermaksud menuju desa ini. Tujuan saya adalah ke Lembah kaling, barangkali tuan ber empat sudi memberikan saya izin untuk sekedar melintas” Gentayu mencoba menjelaskan maksud kedatangannya.
“Tidak bisa, kisanak! Maaf..” Lelaki juling itu tegas menutup pintu dialog dengan Gentayu dan segera mengusirnya agar meninggalkan desa.
“Tunggu, baiklah. Saya akan pergi, tuan. Tapi bolehkah saya tahu alasannya kenapa saya dilarang sekedar melintas saja?” Gentayu tidak keberatan meninggalkan desa ini, namun tentu ada alasan khusus kenapa desa ini begitu tertutup untuk orang luar.
“Kisanak sepertinya seorang pendekar. Baiklah. Akan kami jelaskan. Desa kami ditutup karena di desa ini hampir tiap malam terjadi kematian misterius. Kami sebut misterius karena tiap malam selalu saja ada orang yang meninggal dunia. Awalnya, kami anggap hal yang lumrah. Tapi setelah menyadari kejadian ini sepertinya rutin tiap malam terjadi, apalagi yang meninggal tak seorangpun yang sudah lanjut usia, maka kami mulai menyadari ada yang aneh. Selama semingu terakhir, angka kematiannya justru bertambah menjadi paling sedikit dua orang tiap malam..” Gentayu mendengarkan penjelasan lelaki juling dengan seksama.
Keningnya berkerut saat lelaki tersebut menyebutkan bahwa awalnya mereka mengira kematian tersebut disebabkan sebuah wabah. Namun kemudian tabib di desa tersebut tidak menemukan adanya tanda-tanda maupun gejala penyakit aneh apapun pada setiap mayat yang diteliti. Hingga akhirnya, dua hari yang lalu penduduk melalui kepala desa memutuskan untuk meminta bantuan cenayang dan pengusir setan dari desa sekitarnya.
Para cenayang yang mencoba membantu desa tersebut menyebutkan bahwa kematian misterius tersebut disebabkan ulah keji dari orang jahat. Sedangkan pengusir hantu menyatakan bahwa kematian tersebut disebabkan para hantu dan roh jahat yang membalas dendam. Namun demikian, penyelidikan oleh tim bentukan kepala desa yang dibantu para pendekar dari padepokan ‘Bambu Hijau’ belum bisa mengungkap dalang di balik kematian tersebut. Tim hanya berhasil menggagalkan kematian seorang warga mereka tadi malam, setelah para pendekar bertempur melawan segerombolan hantu-hantu yang bermaksud mencelakai penduduk. Jelas bahwa hantu tersebut dikendalikan sebagai senjata. Belum diketahui siapa mereka dan apa tujuannya. Karena itulah, disarankan agar menutup dan mengisolasi desa ini dari para pendatang dan orang asing.
‘Ah, ini menarik’ Gentayu membatin.
__ADS_1
"Tuan, ijinkan saya masuk. Saya akan mencoba membantu.." Gentayu yang tertarik mencoba menawarkan bantuan
“Membantu?? Hahahahaha... Bisa apa kau bocah?!" Tiba-tiba sebuah suara lain terdengar di belakang Gentayu. Keempat penjaga segera memberi hormat
Ternyata dia adalah Kulais, berjuluk 'Pendekar Betung" salah satu tetua terkuat dari padepokan Bambu Hijau yang ditugaskan membantu desa ini. Kulais adalah seorang lelaki berusia 40an tahun yang terkenal dingin dan cenderung angkuh. Maklum saja, dia adalah salah satu jenius berbakat di padepokan Bambu Hijau. Menjadi Pendekar sakti di usia 30an berkat dukungan sumber daya yang cukup dari padepokan serta digadang-gadang sebagai penerus kursi ketua padepokan yang memiliki murid ribuan orang tersebut.
"Kami tak butuh bantuanmu, bocah! Aku yakin, Dengan kemampuanmu yang tak seberapa itu kau malah akan jadi beban bagi kami.." kata-kata yang singkat dari Kulais dan bernada meremehkan itu hanya ditanggapi senyum dingin Gentayu. Dia masih menganggap wajar bila ada yang meremehkannya mengingat usianya yang belum genap 20 tahun itu pasti membuat pendekar-pendekar dihadapannya mengira dia murid yang baru keluar untuk berkelana.
Gentayu tidak banyak bicara lagi. Dia segera berbalik dan hendak melangkah pergi, namun langkahnya dihentikan oleh Kulais.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk pergi, bocah?" Kulais menghardik.
"Tunggu dulu! Kami jadi curiga jangan-jangan kau adalah mata-mata aliran hitam yang dikirim untuk mengganggu desa ini. Kami harus menggeledahmu, baru setelah itu kau boleh pergi!" Kata Kulais lagi.
"Apa?? Kalian menuduhku mata-mata? Atas dasar apa, hah?!" Gentayu mendebat perkataan Kulais, mempertanyakan alasan dirinya dituduh sebagai mata-mata.
"Atas dasar kami mencurigaimu, dan jika menolak untuk kami geledah maka itu hanya berarti satu hal, yaitu kecurigaan kami benar!" Kulais kembali menekan Gentayu.
" Baik. Silakan geledah!" Gentayu akhirnya mengalah. Namun dia tentu memikirkan banyak hal sebelum mengizinkan dirinya digeledah oleh para penjaga tersebut. Setidaknya, seluruh barang berharganya telah aman dalam Gelang gerobok.
Kulais tersenyum puas karena berfikir Gentayu menerima diheledah sebab takut kepadanya dan telah mengenali dirinya dan nama besarnya. Kulais lalu memerintahkan rekan seperguruannya untuk menggeledah.
__ADS_1
Tiga orang selain lelaki bermata juling dengan sigap melaksanakan tugasnya. Setelah beberapa lama menggeledah dan tak menemukan apapun di balik pakaian Gentayu ketiganya segera mundur dan kembali ke tempatnya semula. Namun tampaknya, Kulais belum bersedia melepaskannya. Dia segera menghadang langkah Gentayu.
"Kau boleh pergi! Tapi tinggalkan apapun yang kau sembunyikan di sini!" Kulais kembali menekan Gentayu.
"Apa maksudmu? Bukankah kalian tidak menemukan apapun di balik bajuku?" Gentayu menjawab.
"Jangan berfikir aku bodoh, bocah! Kau sedang dalam perjalanan, mustahil tidak membawa apapun, bukan? Cepat serahkan atau..." Kulais mulai menggertak
"Atau apa??..." Gentayu kehabisan kesabaran, lalu tanpa aba-aba melayangkan sebuah pukulan yang dilambari jurus 'Tinju Naga Api' ke wajah Kulais.
'BHUMMM...!!'
Kulais terpelanting puluhan depa dan menghantam tembok gapura desa akibat pukulan itu. Gapura itu langsung roboh. Kulais sama sekali tidak mengantisipasi pukulan mendadak tersebut. Tenaga pukulan itu membuat seluruh giginya rontok. Hal yang belum pernah dialami dan dirasakannya seumur hidup karena selama ini dia dikenal menguasai salah satu ilmu pertahanan tubuh yang hebat. Dia bahkan belum menyadari, bahwa bocah yang diremehkannya tersebut kemampuannya bahkan sejajar dengan guru besar padepokan Bambu Hijau sekalipun.
Para penjaga yang sebelumnya berada di depan gapura kocar-kacir menyelamatkan diri memghindari tertimpa reruntuhan. Sementara Kulais sendiri yang tertimpa reruntuhan segera bangkit sambil meringis menahan sakit sekaligus malu.
Kulais adalah sosok yang angkuh dan tak terbiasa menerima kekalahan. Tentu sebuah penghinaan baginya dirobohkan oleh seorang bocah yang semula diremehkannya itu.
"Kau.. Kau...." Seru Kulais menunjuk-nunjuk ke arah Gentayu yang masih berdiri di tempatnya semula. Keempat penjaga yang sebelumnya menyelamatkan diri kini telah bergabung di belakangnya. Namun pandangan keempatnya telah berubah terhadap sosok Gentayu. Ya, Gentayu kini terlihat seperti monster dalam tubuh pemuda lugu. Mereka seolah tidak percaya bahwa pemuda lugu itu mampu menghajar dan menjatuhkan murid senior terhebat di padepokan Bambu Hijau dengan sekali pukul.
Tampaknya Kulais belum menerima kenyataan dirinya dirobohkan oleh Gentayu. Dia berfikir, bahwa semua hanya kebetulan saja. Bahwa dia bisa dipukul karena tidak dalam keadaan siap. "Kau, terimalah ini..!" Kulais mengambil tombak milik salah satu penjaga. Dia harus memberi pelajaran kepada bocah ini, fikirnya
__ADS_1