JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Tombak Kristal II


__ADS_3

“Kalau apa?” Sergah Gentayu, masih dalam senyum mengejek tak senangnya.


Melihat senyuman itu, kedua rekan Shinbi yang sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi menjadi geram dibuatnya.


Tanpa fikir panjang, si pria pendek melangkah mendekat untuk menampar Gentayu.


“Senyummu bisa membuatmu kehilangan nyawa, anak muda!”


Tanpa bisa dicegah dan tanpa banyak bicara lagi, pria pendek itu segera melayangkan tangan ke wajah Gentayu. Sebuah tamparan!


Gentayu terlihat tenang tanpa berusaha mengelak.


Tetapi tangan si pria pendek yang terlanjur melayang untuk menampar Gentayu terasa terbakar ketika tamparannya mendarat di pipi kanan Gentayu.


Cepat-cepat ditariknya tangannya sambil menjerit “Aaaarghh.. Bocah sialan! sihir apa yang kau gunakan??” raungnya marah.


Saat itulah, pria pendek itu menyadari bahwa Shinbi menutup hidungnya sebab hidung itu patah. ‘Shinbi terluka, tapi oleh apa? Apakah karena Bocah ini juga?’ tatapnya heran seraya memegangi telapak tangannya yang memerah.


Shinbi dan pria pendek bernama Genbi itu saling pandang.


Selisih waktu antara tinju Gentayu yang mematahkan hidung shinbi dan tamparan Genbi memang hanya sekitar lima tarikan nafas saja, membuat Genbi terlambat menyadari bahaya karena rasa marahnya akibat merasa dicibir pemuda lemah.


Dalam pandangan mereka bertiga, Gentayu memang terlihat tak memancarakan tenaga dalam sama sekali. Terlihat tidak berbahaya.


Tangan Genbi melepuh. Wajahnya nampak keheranan. Selama ini, bahkan batu keraspun hancur olehnya. Tak terhitung pendekar yang tewas di tangannya. Tapi pemuda ini?


Gentayu mendekati mereka seraya mengacungkan tombak kristal di tangannya.


“Kenapa? Tidak mau mengambilnya? Atau harus kuantarkan pada kalian..?”

__ADS_1


Selesai berkata demikian, dalam gerakan sangat cepat Gentayu melemparkan tombak kristal itu ke arah Genbi dan Sinbi.


Terkejut, keduanya segera melakukan ggerakan membentuk perisai tenaga dalam untuk memblokir laju tombak yang mengarah ke mereka.


Perisai energi mereka berhasil terbentuk, namun terlambat.


Tombak kristal itu telah menembus leher Genbi, lalu menancap pada sebatang pohon di belakang mereka.


Sinbi dan wanita berwajah judes yang menyaksikan bagaimana tombak itu menembus leher rekannya dan meninggalkan lubang menganga hanya bisa melongo tak percaya. Semuanya terjadi begitu cepat.


Bagaimanapun, Genbi adalah seorang pendekar Sakti Bergelar. Sinbi, Genbi, dan si wanita Judes, Yubi dikenal sebagai Tiga Setan Pendosa, karena keseharian mereka adalah sebagai pembunuh bayaran tanpa pandang bulu. Kejam, sadis, dan tanpa ampun terhadap sasaran.


Tapi hari ini, pemuda yang terlihat lemah ini membunuh Genbi, salah satu yang terkuat dari ketiganya tanpa beranjak dari tempat berdirinya.


Shinbi untuk pertamakali merasakan perasaan kritis. Dia mulai menyadari bahaya maut tengah mengintainya.


Berbeda dengan Shinbi, Yubi justru masih berfikir bahwa Genbi tewas karena kesaktian tombak kristal semata. Bagaimanapun, tubuh pemuda itu tak terlihat memiliki tenaga dalam. Hal itu makin membuat keyakinan dan tekadnya untuk memilki tombak luar biasa tersebut.


Yubi yang terkenal dengan kecepatannya di antara mereka bertiga segera melesat cepat untuk mengambil alih tombak kristal yang menancap di pohon besar.


Tapi, baru saja tangannya hendak meraih tombak kristal, Gentayu telah berada di hadapannya. Menghalangi antara Yubi dan tombak kristal.


Yang mengejutkan Yubi dan membuat matanya terbelalak, dirinya terpental beberapa meter begitu Gentayu mengibaskan jubahnya.


Perempuan itu terlempar hanya oleh angin dari kibasan jubah Gentayu saja.


Kini, sadarlah Yubi bahwa pemuda yang mereka anggap sepele sebelumnya menyimpan kekuatan tak terukur.


Gentayu berjalan santai ke arah pohon, lalu mencabut tombak kristal yang menancap di sana.

__ADS_1


Ajaib, pohon besar itu seketika mengering keriput seolah telah mati bertahun-tahun lamanya. Dari akar, daun, hingga buahnya semua mengering.


Padahal, pohon ini awalnya sangat rimbun dan subur menaungi sekitarnya.


Gentayu berusaha menyembunyikan rasa takjubnya. Lalu berbalik menghadap ke arah Yubi dan Shinbi dengan tombak yang telah digenggamnya.


“Masih berminat dengan Tombak ini? Aku tak akan menghalangi kalian lagi..”


Mendengar kata-kata Gentayu ini, keduanya segera membentuk perisai energi di tempat masing-masing. Bersiap untuk memblokir lemparan tombak kristal. Kematian yang menimpa Genbi membuat mereka sedikit trauma saat melihat Gentayu bersama tombak itu dan menawarkannya pada mereka seperti sebelumnya.


Nyatanya, setelah perisai energi mereka terbentuk, lemparan tombak yang mereka khawatirkan tidak dilakukan Gentayu.


Pemuda itu justru menancapkan tombak kristal ke tanah, dan berjalan menjauh.


Shinbi dan Yubi saling berpandangan. Lalu, sambil tetap mempertahankan perisai energinya dua dari tiga Setan Pendosa itu bergerak cepat untuk mengambil tombak yang ditancapkan ke tanah dan ditinggalkan Gentayu.


Jarak mereka masing-masing dengan tombak cukup jauh. Melihat Gentayu seolah tidak mempedulikan mereka, Yubi dan Shinbi mempercepat diri menuju ke tombak itu.


Tapi, saat jarak keduanya tersisa sekitar sepuluh meter saja, mereka roboh begitu saja. Mereka tidak mati, tapi kehilangan roh mereka!


Gentayu diam-diam menjadikan keduanya sebagai kelinci percobaan untuk memastikan dirinya mampu mengaktifkan kekuatan penyegelan roh dalam bentuk formasi sihir dari tombak kristal itu.


Dia telah menyalurkan cukup banyak energinya pada tombak untuk mengaktifkan kekuatan dari tombak kristal itu. Begitu yakin kekuatan tombak itu telah aktif barulah ditinggalkannya begitu saja. dan akhirnya, percobaannya berhasil sempurna.


“Ah, senjata yang bagus dan cukup berguna, sepertinya..” Gentayu bergumam sendiri melihat korbannya, lalu tersenyum lebar.


Tak lama, dari balik semak-semak seorang lelaki dengan rambut gimbal panjang, muka penuh brewok, janggut dan kumis muncul keheranan. Dia adalah Ryu yang telah selesai membersihkan diri.


Pria itu keheranan karena melihat tiga mayat tergeletak di sana. Sebelumnya, dia sama sekali tidak mendengar suara pertempuran apapun.

__ADS_1


Dilihatnya, Gentayu asyik memeriksa persediaan sumber daya dari ketiga korbannya, dan memindahkannya ke dalam gelang gerobok. Tiga pendekar yang cukup kaya, dan Gentayu tersenyum makin lebar


__ADS_2