
Gentayu berniat tinggal sementara waktu di perkampungan yang dibangun oleh raja beserta sisa pengikutnya dari Lamahtang tersebut. Setidaknya, dia akan tinggal di tempat itu hingga kompetisi antar pendekar Kelana yang digelar di Muara Sabak berakhir dua minggu lagi. Instingnya mengatakan, bahwa akan ada hal besar yang terjadi dalam waktu dua minggu tersebut.
Tidak seperti sewaktu tinggal di Sekte 7 Tirai dimana Gentayu aktif memperkuat setiap anggota sekte hingga setidaknya naik dua level, di tempat ini dirinya belum ingin melibatkan diri terlalu jauh. Memperkuat orang-orang yang bekerja dan mengabdi kepada negara hanya karena digaji menurut Gentayu bukanlah pilihan tepat. Dan Gentayu hingga detik ini masih berfikiran demikian terhadap sebagian besar sisa prajurit tersebut yang berjumlah tak kurang dari 200 orang tersebut. Setidaknya, pemikiran Gentayu memiliki bukti kuat karena setiap hari selalu akan ada prajurit yang mengundurkan diri ataupun menghilang tanpa kabar. Sepertinya mereka sudah tidak menemukan harapan pada raja mereka ini sehingga memilih mundur. Cukup masuk akal dan realistis sebenarnya, namun jelas salah di mata seorang ksatria seperti Gentayu.
Kini, jumlah pengawal raja tidak lebih dari 30 orang saja di luar Mahapatih, Panglima dan Binduriang serta sang Kapten, Dandun. Meskipun jumlah prajurit tersebut hanya 30an orang saja, namun sebenarnya mereka adalah prajurit-prajurit pilihan yang telah banyak melewati masa-masa sulit dalam karier mereka sebagai prajurit. Kemampuan mereka rata-rata akan sedikit lebih unggul saat berhadapan dengan pendekar pendekar tingkat dua bahkan mengimbangi pendekar tingkat Madya level awal. Bila berhadapan dengan prajurit biasa yang umumnya hanya di level pendekar pemula atau pertama, maka jelas mereka bukanlah tandingannya.
Gentayu memperingatkan para prajurit melalui ayah angkatnya dan juga Benduriang agar tidak menurunkan kewaspadaan dalam dua minggu mendatang. Para prajurit itu mengerti, dan mereka tidak ingin mengambil resiko terhadap keselamatan raja mereka. Maka selama dua mingu tersebut, mereka berbagi tugas dan bekerja bergiliran dalam shift-shift yang dibagi oleh Dandun selaku kepala pengawal raja. Salah satu prosedur yang ditetapkan Dandun adalah membuat penanda peringatan bahaya di beberapa titik yang mudah dijangkau serta tidak membiarkan sang raja, permaisuri ataupun pangeran Lokajaya sendirian saat di luar rumah.
Rencana terakhir ini mendapat penolakan keras dari sang raja. Beliau bersikeras untuk tidak terlalu ketat dalam pengawalan dengan alasan mereka merasa seperti tahanan yang harus dijaga kemanapun. Tentu saja ini adalah alasan yang dibuat-buat sang raja. Sebenarnya, sang raja sudah mulai putus asa dan tidak ada keinginan lagi untuk merebut kembali tahta kerajaan. Hidup di desa dan menjadi warga biasa seperti ini jauh lebih nyaman daripada di dalam istana dengan bermacam aturan dan tanggungjawab, fikirnya.
Saat hal itu terjadi, Gentayu tengah berada di bawah sebuah pohon beringin besar. Dia bersemedi di tempat tersebut melanjutkan kebiasaanya selama di Sekte 7 Tirai. Gentayu mendapatkan pemahaman baru setelah tinggal bersama dengan sekte kerohanian tersebut. Kini dia menyadari bahwa kekuatan terbesar seseorang bukanlah pada fisiknya semata. Namun lebih pada kekuatan jiwanya. Sebenarnya, falsafah ini juga pernah diajarkan gurunya, Ki Brajawana namun pemahaman mendalam justru didapatinya dari sekte 7 Tirai.
__ADS_1
Kekuatan fisik tidak akan berarti tanpa dibarengi kekuatan jiwa. Kekuatan jiwa itulah yang akan menentukan kualitas hidup seorang manusia, terlepas dari lemah dan kuatnya fisik. Banyak pendekar sakti yang justru tidak mendapatkan kehormatan, ketenangan, bahkan hidup dalam kehampaan karena kekosongan jiwanya. Sebaliknya, banyak pertapa yang sebenarnya lemah secara fisik namun dengan kekuatan jiwanya dia memperoleh kehormatan, ketenangan, dan kebahagiaan dalam jalan hidupnya. Bahkan, orang kuat sekalipun tetap akan dianggap lemah selama dia tunduk dan diperbudak pada hawa nafsunya.
Sudah lima hari lamanya Gentayu bermeditasi. Hari ini adalah hari dimulainya pertandingan atau kompetisi beladiri antar pendekar kelana atau pendekar tanpa perguruan di desa Muara Sabak. Selama melakukan meditasi, Gentayu merasakan ketenangan yang tak mungkin dirasakan dalam kondisi kesadarannya.
Perasaan tenang yang sangat dalam. Hingga dia bisa merasakan nafasnya keluar-masuk tubuhnya. Merasakan setiap sel tubuhnya melakukan regenerasi dan bekerja melayani setiap hajatnya. Dia seolah menjadi jantungnya yang terus berdetak. Menjadi lambungnya yang kini beristirahat karena puasanya. Menjadi kulit yang mengeluarkan keringatnya. Dan Gentayu semakin masuk ke dalam dirinya hingga dia seolah bisa mendengar setiap suara bagian tubuhnya yg sedang bekerja dan beristirahat. Lalu mendengar suara sangat halus di sekitar tubuhnya. Lalu mendengar suara sebuah pertarungan yang sangat jauh, di muara sabak. Bahkan suara pertarungan tersebut menjadi semakin jelas saat Gentayu mengkonsentrasikan indranya pada titik tersebut. Ternyata, Gentayu berhasil membuka salah satu kunci dalam dirinya, yaitu kunci pendengaran.
Kini dirinya bahkan bisa mendengar suara seekor lalat dan nyamuk yang terbang tak kurang dari 50 meter darinya. Bahkan suara kaki-kaki semut tak jauh dari dirinya terdengar sangat berisik.
Ketika dia mengarahkan pendengarannya ke arah kampung raja, Gentayu terkejut dan segera membuka matanya... “Serangan!!” Serunya sambil terloncat kaget.
Seperti dugaannya, serangan benar-benar terjadi.
__ADS_1
Rupanya, keberadaan mereka di tempat ini terendus pihak Lamahtang yang kini di bawah kuasa pangeran Tulung Selangit. Hadiah besar dan iming-iming fasilitas bagi siapapun yang memberikan informasi keberadaan raja Prabu Menang membuat salah satu prajurit yang mengundurkan diri menjadi gelap mata. Dia menukar informasi tentang rajanya dengan harapan memperoleh pundi-pundi emas sesuai yang dijanjikan. Namun alih-alih mendapatkan imbalan, prajurit itu langsung dihabisi setelah menyampaikan informasinya.
“Hukuman yang layak bagi pengkhianat adalah Mati. Karena sekali dia berkhianat, maka tidak ada jaminan dia tidak akan mengkhianati tuan barunya di kemudian hari” itu adalah kata-kata Mpu Jangger sebelum mengerahkan dan memimpin tak kurang dari seratus pendekar aliansi aliran hitam menuju kampung raja.
Gentayu melihat mayat para prajurit dan pendekar kelas dua aliran hitam tergeletak di beberapa tempat. Gentayu mengikuti arah mayat-mayat terkapar yang di dominasi para pendekar aliran hitam menuju ke dalam hutan. Tampaknya, raja dan para pendukungnya sedang dalam upaya melarikan diri dan dikejar.
Gentayu menajamkan indera pendegrannya dan menemukan suara pertarungan tak jauh dari tempatnya berdiri. Bergegas dia menuju ke sumber suara dan menemukan Panglima Wiratama dan Benduriang sedang dikeroyok oleh tiga orang pendekar sakti dari aliansi aliran hitam.
Tampak Gandos, pria botak petinggi dari kelompok Rambut Iblis menyerang menggunakan puluhan belati yang nyaris tak terlihat, dibantu oleh seorang perempuan cantik berambut putih keperakan bergaun hitam dengan senjata kipas hitam, dialah Dewi Mawar Hitam. Sedangkan seorang lagi adalah Piyut atau Pendekar Kelabang Darah dari Perguruan Kelabang Hitam dengan senjata serupa cambuk perak bergerigi dengan ujuang mirip bola berduri.
Ketiganya berhasil mendesak dua orang petinggi militer Kerajaan Lamahtang tersebut. Bahkan, panglima Wiratama yang bergelar Pendekar Lengan Baja dengan tubuhnya yang kebalpun kini telah dipenuhi beberapa luka di tubuhnya. Nampaknya, senjata cambuk perak itu menjadi kelemahan dari ilmu kebal panglima perang tersebut, karena di ujung cambuk perak yang berbentuk bola berduri itu tertanam mustika siluman berumur ribuan tahun.
__ADS_1
Benduriang sendiri bernasib tak kalah buruk. Kemampuannya yang jelas di bawah panglima Wiratama adalah alasan mengapa senopati itu belum terbunuh. Para pengeroyok itu berfikir bahwa membunuh Benduriang bukanlah hal sulit. Bahkan salah satu di antara ketiganya pasti mampu melenyapkan senopati itu. Masalah besar mereka justru pada keberadaan Panglima Wiratama.
Panglima ini bahkan mampu menghabisi hampir enam puluh orang lebih pendekar aliansi yang dibawa Mpu Jangger sendirian. Senjata bahkan racun para pendekar tingkat tinggi aliran hitam tidak mampu menghadapi amukan panglima ini. Maka, Mpu Jangger merasa perlu menurunkan langsung ketiga pendekar terkuat dari sekte aliran hitam anggotanya. Mpu Jangger sendiri memimpin sisa pasukannya mengejar Raja Prabu Menang yang kini hanya dilindungi Mahapatih bersama lima pengawal tersisa.