
Gentayu akhirnya tiba di depan komplek kepatihan yang terlihat sangat berantakan. Sebagaian besar bangunan tampak hangus terbakar, sedangkan sisanya tidak lagi berwujud bangunan utuh. Beberapa sisi telah runtuh.
Dalam jarak kurang dari tiga ratusan meter dari komplek kepatihan, kondisi komplek utama istana raja terlihat lebih buruk. Seluruh bangunan terbakar tanpa sisa. Semuanya telah hangus menjadi arang dan abu yang menumpuk, dengan sisa-sisa bara api yang bahkan tidak segera padam setelah diguyur hujan.
Gentayu hendak masuk ke komplek kepatihan. Dirinya telah berada di depan gerbang komplek kepatihan saat tiga orang pendekar menghadangnya.
Tiga orang itu menggunakan seragam yang sama dengan para prajurit dari aliansi tiga kadipaten. Tanda kain putih di leher mereka menunjukkan mereka adalah pengawal khusus adipati.
Tatapan ketiganya kepada Gentayu nampak tidak bersahabat. Jelas saja, hal itu karena mereka tidak mengenali Gentayu.
“Hai, orang asing! Mau kemana kau?” Salah satu dari ketiga orang itu menghardik dengan kasar Gentayu yang hendak melewati mereka begitu saja.
Gerbang yang sudah roboh itu sebenarnya tidak lagi berpenjaga. Kebetulan saja, saat hendak memasuki Kawasan kepatihan, Gentayu bertemu ketiganya.
“Maaf tuan pendekar, saya hanya ingin memeriksa sesuatu di dalam sana..” Gentayu berusaha untuk tidak tersinggung telah dibentak pendekar yang usianya mungkin tidak terpaut jauh dengannya itu.
“Ada keperluan apa kau mau ke dalam? Mau memeriksa apa? Eh,.. siapa kau? Sepertinya, kau bukan bagian dari aliansi pendekar! Jangan-jangan kau adalah sisa-sisa dari kelompok aliran hitam, hah!?” Sikap kasar pengawal itu tidak berkurang, justru semakin bertambah kasar. Bahkan pengawal itu telah menodongkan pedangnya ke arah leher Gentayu.
Telinga Gentayu menjadi merah menerima perlakuan tidak wajar itu.
Sikap arogan yang ditunjukkan pengawal tersebut membuat Gentayu naik pitam. Bagaimana mungkin orang dihadapannya bisa menuduh dirinya sebagai bagian dari aliran hitam tanpa bukti?
Yumiko, Sakuza, dan Hao Lim yang datang kemudianpun ikut geram mendengar kelancangan pengawal itu. Namun Hao Lim memberi isyarat kepada mereka untuk membiarkan Gentayu menyelesaikan gangguan yang dihadapinya dengan tangannya sendiri.
Sementara itu, di halaman kepatihan tampak beberapa pendekar mulai terlihat keluar dari sisa bangunan kepatihan dengan wajah masam. Tak ada senyum. Tampaknya, sesuatu di dalam sana membuat mereka mengkhawatirkan sesuatu.
__ADS_1
Gentayu melihat sekilas ekspresi di wajah para pendekar tersebut. Lalu berpaling kembali kepada tiga pengawal yang kini mengepungnya dengan sikap mengintimidasi. Senjata mereka bahkan telah berada di leher dan tubuh Gentayu, seolah Gentayu adalah penjahat yang tertangkap.
“Kalian tahu, karena keberadaan pecundang seperti kalianlah orang-orang aliran hitam bisa dengan mudah mengambil alih kerajaan!” Gentayu berkata sambal telunjuknya mengarah ke wajah tiga pengawal. Ucapan Gentayu membuat sosok jangkung di antara tiga pengawal itu melayangkan pukulan ke arah wajah Gentayu.
“Kurang Ajar! Jaga mulutmu, atau….”
Pengawal itu tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba sebuah pukulan tangan Gentayu mendarat di dada pengawal jangkung, lebih cepat mendahului tangannya yang baru saja terangkat mengarah ke wajah Gentayu. Pengawal jangkung terlempar berapa meter ke belakang karena pukulan Genatyu yang seperti tak terlihat saking cepatnya.
“Atau Apa?!” Gentayu kini menatap dua rekan pengawal tersebut yang seolah tersadar dari lamunan melihat rekannya terlempar begitu saja.
Kedua pengawal yang masih menodongkan pedang ke arah Gentayu terlalu terkejut menyaksikan rekannya tiba-tiba terlempar menjauh. Mereka sama sekali tidak dapat melihat gerakan tangan Gentayu.
Setelah sesaat saling pandang, kedua pengawal itu segera menyerang Gentayu.
Gentayu hanya memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan dengan santai menghindari tebasan pedang dua pengawal itu.
Namun langkah mereka yang hendak bergabung mengeroyok Gentayu tiba-tiba berhenti saat seorang lelaki berambut putih berbadan kekar tiba-tiba menghadang ketiganya.
Saat itulah, dua pengawal yang menjadi lawan Gentayu terlihat telah terlempar menyusul pengawal jangkung. Dengan kondisi lebih parah karena menabrak sisa pagar runcing tak jauh dari gerbang kepatihan. Mungkin saja mereka telah tewas karena beberapa bagian pagar itu menancap di tubuh mereka.
Tiga orang yang sedang ditahan lelaki berambut putih nampak tak terima melihat rekannya dikalahkan Gentayu tanpa kesulitan. Ketiganya bermaksud melompat untuk ikut menyerang Gentayu, namun laki-laki paruh baya yang menahan mereka menghadiahi mereka bertiga dengan pukulan telak di wajah masing-masing. Darah mengucur dari hidung ketiganya, tapi mereka tampak tak berani melawan lelaki yang menghadang itu.
Alih-alih melawan, mereka justru menunduk hormat lalu berbalik menuju kerumunan pendekar yang berjumlah tak kurang dari dua puluh orang itu.
Tatapan semua orang kini tertuju pada lelaki yang tak lain adalah Rambang Dangku dan Gentayu. Mereka menebak-nebak, siapa pendekar muda yang membuat Rambang Dangku memilih menghajar para pengawal adipati.
__ADS_1
“Gusti Patih..” Gentayu segera memberi hormt begitu mengenali orang yang menghajar dua pengawal itu ternyata Mahapatih Rambang Dangku.
“Apa kabarmu, anakku?” suara Rambang Dangku yang ramah dan berwibawa terdengar berbeda dengan sikapnya yang terlihat tegas saat menghajar tiga orang pengawal barusan.
“Baik, Gusti. Hamba dalam kondisi baik-baik saja saat ini..” Getayu berkata jujur.
“Aio.. jangan panggil aku dengan gusti patih lagi. Kau lihat, sekarang aku hanya pendekar biasa, bukan?”
Rambang Dangku tampaknya sudah bisa membiasakan diri melepaskan atribut kerajaan yang selama ini disandangnya. Namun, hal itu tidak merubah sikap hormat Gentayu padanya.
Para pendekar yang berkumpul di pelataran menatap heran kepada sikap Rambang Dangku yang kini malah memeluk Gentayu. Tentu saja para pendekar itu heran karena tidak mengenali Gentayu dan kiprahnya sebelum ini.
Tetapi, ternyata seorang di antara para pendekar itu merasa tidak asing dengan sosok Gentayu.
Pendekar bersenjata celurit kembar di balik punggungnya itu segera berlari menghampiri Gentayu dengan antusias. Dia adalah Pendekar Lengan Seribu, yang sempat bertarung bersama Gentayu melawan Karang Setan tiga malam yang lalu.
“Aih.. Kau.. bukankah kau pendekar yang berhasil mengalahkan Karang Setan kemarin malam itu?”
“Apa? Benarkah itu, Nak?” Rambang Dangku terkejut bukan main kali ini. Ternyata sosok pendekar misterius yang dielu-elukan seluruh pendekar dan prajurit itu adalah Gentayu.
Mendengar percakapan Benduriang dan Pendekar Lengan Seribu Bersama Gentayu, pengawal jangkung yang semula hendak bangkit kemudian memilih melanjutkan berpura-pura pingsan saja. Jelas dia kini menyadari kecerobohannya menyinggung pendekar yang selama dua hari terakhir dielu-elukan seluruh pendekar dan prajurit itu.
Rambang Dangku kemudian memperkenalkan secara singkat siapa Gentayu sesuai yang diketahuinya kepada Pendekar Lengan Seribu dan para pendekar lain di sana. Namun Rambang Dangku segera menyadari bahwa Gentayu datang ke kepatihan bukan untuk sebuah sambutan yang tak perlu itu.
“Gusti, apa yang sebenarnya terjadi di sini?” tanya Gentayu tak ingin mengulur waktu.
__ADS_1
“Sejujurnya, aku pun sebenarnya tak terlalu mengerti. Namun, ayolah, kita langsung ke dalam saja dan kau lihat sendiri..” Rambang Dangku segera menarik Gentayu dari kerumunan pendekar yang mulai mengerubunginya itu menuju bagian dalam bekas bangunan utama istana kepatihan, diikuti Hao Lim dan lainnya.