
Anjani yang tengah melesat secepatnya menuju kolam teratai tidak mampu menyeimbangkan diri di udara dan jatuh dengan kasar di antara tanaman perdu di bawahnya.
Tubuhnya yang tengah melesat seolah terdorong oleh sebuah medan energi yang melaju cepat memotong jalurnya, nyaris menabraknya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara ledakan terkuat dan bumi yang bergetar lebih keras.
Sesosok makhluk yang tak lain adalah Gola Ijo muncul dari ruang hampa, nampak terkejut karena nyaris menabrak Anjani. Di bahunya, tubuh Gentayu dibopong seolah tanpa beban. Keduanya masih melayang di udara.
“Eh, kau gadis tempo hari ternyata.. “Gola Ijo mengenali Anjani. Anjani sebenarnya terkejut sekaligus takut berhadapan kembali dengan makhluk ini. Tapi, melihat Gentayu yang menurutnya ditawan, membuatnya memberanikan diri menatap mata Gola Ijo.
“Terimakasih sudah menepati janji. Aku juga akan menepati janjiku...” Gola Ijo bahkan terlihat bersikap hormat pada Anjani.
Sikapnya itu membuat kemarahan meledak dalam dada Anjani. Bagaimana mungkin setan hijau ini mengira dirinya membarter Gentayu karena dirinya menelan racun?? Muka Anjani merah padam.
“Tapi, perlu kau tahu bahwa yang kau telan sebenarnya bukan racun” Gola Ijo mendahului berbicara, sebelum Anjani sempat mengeluarkan sepatah katapun. Segala sumpah serapah yang telah disiapkan Anjani seperti tersangkut di tenggorokannya.
Mendengar bahwa yang ditelannya bukan racun membuat Anjani tak bisa percaya begitu saja. Karena dia sendiri menyaksikan sesuatu berwarna putih yang dipaksakan untuk ditelannya adalah sesuatu yang sama dengan yang meledakkan celeng hutan tempo hari.
Anjani bahkan meyakini, bahwa bila mau, Gola Ijo bisa dengan mudah membunuhnya dan membuatnya meledak seperti para celeng, saat ‘racun’ putih masih ada di dalam tubuhnya.
“Aku melihatmu tak mempercayai ucapanku. Tapi, kebenarannya adalah, yang kau telan sebenarnya obat panjang umur ciptaanku. Bisa memperpanjang umurmu hingga lima tahun. Tapi, harus dengan meminum pasangannya ini..” Kata Gola Ijo. Tangannya melemparkan sesuatu berbentuk mirip pil obat sebesar ibu jari berwarna merah ke arah Anjani.
“Kau tidak harus mempercayaiku. Tapi, cukup dengan obat yang telah kau telan itu kekuatanmu sendiri akan meningkat satu tingkat. Pil obat itu mengandung energi dath dalam jumlah besar..” lalu, Gola Ijo ternyata melemparkan satu pil lainnya berwarna putih “Ini adalah racun yang kau lihat kemarin..” Lanjutnya, seolah memerintahkan Anjani untuk membandingkannya.
“Baiklah, Terimakasih telah mengantarkan pemuda ini kepadaku. Sesuai perjanjian, satu tahun untuk setiap satu teratai bulan yang kau ambil..” Tanpa menunggu Anjani mengatakan apapun, Gola Ijo kembali lenyap bersama Gentayu.
Anjani dengan putus asa melesatkan pukulan dengan segenap kekuatannya sebagai pendekar langit ke arah titik di mana makhluk itu berada sebelumnya. Dia telah menyiapkan serangan ini beberapa tarikan nafas setelah kemunculan makhluk itu. Nyatanya, dia tetap terlambat.
Pukukan itu hanya menghantam ruang hampa, karena sasarannya telah berteleportasi entah kemana.
“Gentayuuu!!!”..
Anjani melolong seperti orang kehilangan sesuatu yang berharga.
__ADS_1
Iya, tentu saja. Gentayu, bagaimanapun adalah alasannya berada di tempat ini. Gentayu adalah putra majikannya yang harus dijaga sebagai pelayannya. Kini, bahkan dirinya membiarkan begitu saja Gentayu diculik di depan matanya.
Anjani awalnya jelas berfikir, bahwa semua suara ledakan dan kekacauan di kolam teratai, adalah dampak dari pertarungan antara Gola Ijo dan Gentayu. Sekalipun akal sehatnya menolak dugaan tersebut.
Gadis cantik itu terduduk lemas. Tak percaya bahwa Gentayu kini harus hilang dan dia tidak berdaya menyelamatkannya.
‘7 Tahun.. apa yang akan terjadi padanya? Bagaimana bila ternyata makhluk itu melakukan hal keji pada Gentayu? Bagaimana aku mempertanggungjawabkan semua ini pada kakek Datuknya?’ Anjani akhirnya menangis. Walau dia tak terlalu faham, apa alasannya menangis.
Rasa kehilangan?
Rasa bersalah?
Rasa tak berdaya?
Lemah?
Entahlah...
Matahari mulai condong di ufuk barat saat sebuah tangan mengelus kepalanya lembut. Menyadarkannya bahwa hari sudah sore dan lebih empat jam dirinya menangis di tempat ini.
Anjani menyeka air matanya dan menoleh. Tabib Suntari bersama tiga sesepuh mendampinginya berdiri di belakang Anjani.
+++ ++++ +++
Gentayu terbagun keesokan paginya dengan seluruh tubuh merasakan sakit luar biasa.
“Aaahkkk...” rintihnya lirih, menghasilkan suara bergema di ruangan dirinya terbaring.
Saat itulah Gentayu menyadari, bahwa dirinya kini berada di sebuah goa bawah tanah. Suara air gemericik terdengar tak jauh dari tempatnya berbaring.
Gentayu mengedarkan pandangannya untuk menemukan fakta bahwa tempat ini sepenuhnya terang benderang berkat puluhan ribu batuan kristal yang terlihat menjorok dari dinding.
__ADS_1
Beberapa batuan kristal membentuk pilar bercahaya, sebagian lagi melapisi lantai ruangan yang sepertinya sangat luas ini.
“Hoo.. kau sudah bangun! Ternyata, sebagai pemilik tubuh dewa api dirimu csangat cengeng dan lemah!” sebuah suara yang tidak dikenali Gentayu terdengar tidak jauh dari balik ruangan.
“Tapi, aku memaklumi. Sekalipun kau berusaha membuat perisai dari energi yang kalian sebut tenaga dalam itu sekalipun, akan sia-sia di sini..” Suara itu terkekeh. Menertawakan entah dirinya sendiri atau Gentayu.
“Ssiapa.. siapa tuan??” Gentayu segera bangkit begitu sosok pemilik suara muncul di hadapannya dari ruang hampa. Gola Ijo terlihat lebih rapi sekarang.
“Hmm..” Gola Ijo mendengus
“Aku dan temanmu itu memiliki perjanjian. Dia akan menyerahkanmu kepadaku setelah dia mengambil teratai bulan-ku. Teratai bulan, hanya mungkin dipakai untuk para pemilik tubuh khusus, tubuh dewa api. Kufikir orang memiliki tubuh dewa api itu pasti sangat kuat! Ternyata..” Gola Ijo menggeleng-gelengkan kepalanya. Antara sikap mengejek atau meremehkan Gentayu.
“Bahkan pengawalmu juga mengkhianatimu..ckck” Kali ini Gola ijo tertawa mengejek dengan jelas.
“Apa maksudmu??!” Gentayu, sekalipun masih lemah tetapi tidak gentar melawan makhluk hijau di depannya ini. Tangannya bahkan terkepal dengan sejumlah tenaga dalam mengalir dalam jumlah besar pada kepalan tangannya.
Dia tidak terima Gola Ijo menuduh Anjani berkhianat kepadanya karena dikira telah menyerahkan Gentayu sebagai bayaran untuk mendapatkan kesembuhan dari racun. Karena pertemuannya dengan Gola Ijo hanyalah kebetulan semata menurutnya, bukan karena Anjani memintanya.
Dalam kemarahannya, Gentayu tiba-tiba seperti didorong mundur hingga menabrak dinding ketika Gola Ijo melambaikan tangan kanannya. Tenaga dalam jumlah besar yang terkumpul di tangannya meledak menghajar dadanya sendiri.
Gentayu muntah darah karenanya.
“Aku akan mengajarimu menjadi sombong dengan benar! Bukan dengan sesuatu bernama tenaga dalam yang kekuatannya kecil itu!” bersamaan dengan itu, tangan Gola Ijo telah menyambar tubuh Gentayu dan melemparkannya ke atas..
Tubuh Gentayu melesat tinggi ke udara.
Ternyata, di atas sana adalah daratan normal. Menunjukkan bahwa mereka hidup di bawah tanah.
Saat tubuh Gentayu yang dilemparkan tinngi mencapai permukaan tanah di atasnya, Gola Ijo telah berada di belakangnya dan menendangnya sekali hingga Gentayu melanting di atas padang rumput yang luas.
Gentayu tidak membiarkan lagi tubuhnya terbanting dan kembali luka. Maka, saat tubuhnya terlempar hendak jatuh di atas tanah, dirinya segera menyiapkan jurus perisai yang dikuasainya dari Bulan Perak. Perisai yang dibuatnya adalah perisai energi dari tenaga dalam. Sayangnya, semuanya tidak bekerja maksimal di hadapan Gola Ijo.
__ADS_1
Tetap saja, Gentayu mendarat dengan muka mendahului dan perisai energinya hancur.