JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Batu Trisula


__ADS_3

Tepat saat tubuh Gentayu terjatuh dalam posisi berlutut di tanah, tiga larik berkas cahaya berwarna merah menyambar tubuhnya dan membawanya melesat pergi secepat kilat. Bahkan, kedua lawannya tak sempat melihat kelebat bayangan mereka merengkuh tubuh Gentayu.


“Apa itu tadi?” Seru si muka bopeng, bertanya heran karena kibasan angin akibat munculnya tiga larik cahaya tersebut membuatnya harus melindungi matanya agar tidak terkena serpihan ranting kering yang beterbangan ke segala arah.


“Apa kau pikir aku tahu, hah?!” si wajah hitam menjawab dengan mendengus sengit.


“Oh iya, aku lupa! Bahkan banyak hal lain yang orang lain tahupun kamu tak tahu,.. hahahahaha...” Si Bopeng menjawab.


“Maksudmu, kau bilang aku ini bodoh, hah?!” Tampak si wajah hitam mulai marah kepada rekannya itu.


“Oh.. tidak, tidak.. aku tidak bilang dirimu bodoh. Tidak! Maafkan aku jika begitu dan membuatmu tersinggung. Iya, aku tahu.. levelmu sedikit di bawah bodoh! Hahahahaha....”


Kali ini si Muka hitam tidak langsung menyahut. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, justru sebaliknya tersenyum lebar. Menampakkan gigi-giginya yang menghitam sebagian.


“Kamu tahu, kenapa aku bodoh?” Muka Hitam bertanya, sesaat kemudian.


“Kenapa?” sahut si muka bopeng.


“Karena terlalu lama berteman dengan orang-orang sepertimu!” Jawab si muka hitam ketus sambil ngeloyor pergi.


Kedua pendekar aliran hitam itu nampak tak mempedulikan mayat-mayat bergelimpangan di sekitar mereka. Juga tidak mempedulikan Mpu Jangger yang menatap mereka berdua dengan kesal karena tidak segera mengejar musuhnya.


“Kalian! Kenapa tidak dikejar??” Mpu Jangger nampak ingin meluapkan amarahnya kepada kedua anggotanya itu.


“Yah, kenapa Mpu gak mengejarnya sendiri? Bukannya tadi Mpu Jangger yang membiarkannya pergi dan merusak kesenangan kami?” Si Muka hitam menjawab dengan ketus dan sekenanya. Seperti biasanya. Membuat pertapa sesat di hadapannya semakin kesal sebelum berbalik dan meninggalkan mereka dengan dongkol di hatinya.


‘Pantas saja orang menjuluki kalian berdua sebagai setan api pemalas!’ Mpu Jangger terus menggerutu. Menghadapi kedua bawahannya lebih lama hanya akan membuatnya naik darah, fikirnya.


++++ +++++ +++ +++++ +++++ +++


Gentayu baru siuman dari tidur akibat terkena efek bius yang disebabkan Lebah beracun setelah tertidur selama dua hari. Racun Lebah merah, seperti yang mengenai Gentayu memang tidak mematikan. Namun cukup efektif melumpuhkan musuh dengan membuatnya tertidur hanya melalui terhirupnya aroma tubuhnya saja.

__ADS_1


Meskipun kemampuan beladirinya telah berkembang sedemikian hebat, daya tahan tubuh Gentayu terhadap racun nyatanya tidaklah terlalu baik. Racun yang disuntikkan, baik dari jarum beracun maupun pisau dan senjata lainnya tidak akan berbahaya baginya.


Hal itu karena kulit Gentayu tidak akan bisa ditembus oleh jenis senjata-senjata tersebut. Namun, racun dalam bentuk aroma dan gas akan sulit dihindari.


Lebah Merah yang menyerang Gentayu sebenarnya telah menempel di jubahnya cukup lama karena lebah tersebut adalah senjata yang digunakan Dewi Mawar Hitam sebelum terbunuh. Hanya saja, Dewi Mawar Hitam sendiri tidak mengerti, kenapa racunnya bekerja sangat lambat kepada Gentayu. Pendekar biasa, pasti akan terkena efeknya kurang dari sepuluh detik saat menghirup aroma hewan kecil tersebut.


Gentayu tersadar bahwa kini dirinya terbaring di rerumputan di tengah padang ilalang yang tinggi. Tidak jauh darinya, Mahapatih dan Benduriang sama-sama sedang bermeditasi memulihkan diri dan kekuatannya.


Keduanya bisa saling menemukan karena setiap prajurit pendukung Raja pasti mengetahui bahwa dalam kondisi tertentu wajib bagi mereka mengungsi menuju titik kumpul yang telah dibuat. Dan wilayah ini adalah titik kumpul yang dimaksud. Terletak sekitar 4 kilometer dari lokasi perkampungan yang dibangun oleh raja dan pengikutnya. Masih tidak terlalu jauh dari Muara Sabak.


Tak jauh dari mereka, seorang bocah kecil sedang duduk dengan memeluk kedua lututnya. Di sampingnya terdapat sebuah mainan terbuat dari kayu berbentuk hewan kaki empat. Tak jelas bentuknya, apakah itu tiruan sapi, kambing, atau kuda karena Benduriang bukanlah ahli pemahat kayu. Namun mainan tersebut bisa membuat sang bocah sejenak melupakan kedukaan karena tewasnya kedua orang tuanya.


Gentayu menghampiri anak tersebut, mengelus puncak kepalanya dan mengeluarkan perbekalan makanan yang cukup untuk mereka bertiga selama dua hari. Tentu masih ada lebih banyak lagi tersimpan di dalam gelang Gerobok miliknya.


Ketika mengedarkan dan memperhatikan sekelilingnya, Gentayu justru terkejut. Matanya langsung berbinar.


Tempat ini sepertinya tidak asing baginya. Pohon Beringin raksasa itu..


‘Tunggu! Bukankah ini.. ah..!’ Gentayu tak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya.


Gentayu berkeliling ke beberapa titik di sekitar pohon berigin raksasa tersebut, nampak sedang mencari-cari sesuatu.


“Ketemu!” Teriaknya girang. Hampir saja dia meloncat saking gembiranya.


Mahapatih dan Benduriang yang menyaksikan tingkah pemuda ini hanya mengangkat bahu saat keduanya sama-sama saling menanyakan maksud perbuatan Gentayu melalui isyarat. Keduanya belum pulih benar dari luka akibat pertempuran melawan kelompok pimpinan Mpu Jangger dan tiga Senopati yang berasal dari aliansi aliran hitam, yaitu Gandos, Dewi Mawar Hitam dan Piyut.


Sang penolong nyawa Gentayu yang melarikannya dari medan pertempuran adalah tiga Siluman monster yang kini menjadi bagian dari senjata rahasianya. Ketiganya saat ini telah berubah kembali dalam bentuk tiga buah gambar mirip tato di bahu kirinya sebagaimana sebelumnya.


Dengan semangat Gentayu bermaksud menggunakan pedangnya untuk membersihkan areal di sekitar tempatnya berdiri dari rerumputan liar. Namun..


‘Crank.....!’

__ADS_1


Bukan benturan! Tapi pedang itu menghantam sebuah medan energi pelapis yang sangat kuat sehingga menimbulkan efek membal.


Gentayu segera memeriksa tempat tersebut. Kali ini lebih hati-hati. Perisai energi itu kini jelas dapat dirasakannya melingkupi sebuah batu berbentuk trisula setinggi dadanya. Satu hal yang membuatnya heran adalah, rerumputan tersebut bisa menyatu dengan batuan mirip trisula tetapi pedang dan tangan Gentayu tidak bisa menyentuhnya.


Gentayu mengitari batuan tersebut. Tak lama, Benduriang dan Mahapatih yang penasaran juga tiba di dekatnya. Masih dengan wajah mereka yang penuh tanda tanya karena tidak memahami apapun. Mereka baru mengangguk mengerti setelah melihat batuan mirip trisula di tengah-tengah mereka.


“Gentayu, batu apa ini? Kenapa sepertinya sangat penting bagimu?” Mahapatih tak lagi dapat menahan diri untuk bertanya.


Sejak awal, Gentayu memang terlihat tengah mencari sesuatu tak jauh dari beringin raksasa yang menjuntai batangnya ke arah jurang yang menganga di sisi sebelah selatan mereka.


“Batu ini adalah bagian dari tugas hamba, mahapatih..” Gentayu menjawab singkat sebelum matanya kembali fokus pada batuan di hadapannya.


Mahapatih dan Benduriang yang tidak memahami maksud perkataan Gentayu memilih diam. Tak lagi bertanya. Mereka kemudian hanya mengamati apa yang selanjutnya akan dilakukan pemuda tersebut.


Gentayu seperti mendapatkan petunjuk.


Dikeluarkannya pasagi kubuk, pusaka berbentuk kubus batu warisan dari para gurunya. Diputarnya liontin pada lubangnya di salah satu sisi benda itu yang seolah menjadi kuncinya.


‘Klik’


‘Trek..! Trek!..’


Pasagi itu kini tidak lagi menampilkan gambar peta. Justru cahaya keperakan menyilaukan berpendar dari ke enam sisinya. Cahaya itu mengingatkan Gentayu dengan cahaya dari pusaka Plasma Rakurai yang kini menyatu ke dalam pasagi kubuk itu. Lalu benda kubus itu berubah sama sekali dalam bentuk berbeda di tangan Gentayu. Kini benda itu telah berwujud seperti cakram dengan bentuk teratai di lubah tengahnya.


Sesaat kemudian cahaya keperakan yang menyilaukan mata itu meredup kembali dan menghilang. Cakram kecil setebal jari manusia dewasa yang tersusun dari ratusan bebatuan aneh berwarna hitam kini berada di tangan Gentayu. Liontin yang berperan menjadi seperti kuncinya tetap berada di salah satu sisi lingkaran cakram.


Sejenak Gentayu memperhatikan keterkaitan antara perubahan bentuk pasagi tersebut dengan batu mirip trisula besar di hadapannya. Matanya melihat bahwa di bagian tengah trisula seperti ada cekungan berbentuk lingkaran seukuran cakram yang kini ada di telapak tangannya.


Nb. Selamat Hari Raya Idul Adha 1441H


bagi segenap pembaca muslim yang merayakannya..

__ADS_1


Mohon maaf lahir dan batin


Semoga ibadah Kurbannya diterima Allah SWT.


__ADS_2