JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Gandini I


__ADS_3

Anjani merasa kikuk sekaligus merasa bersalah. Namun akhirnya dia memberanikan diri untuk mengangguk.


Terlihat wajah kecewa pada raut muka Nyai Suntari. Namun, hal itu tidak berlangsung lama sebelum wajah tua itu kembali tersenyum. Senyum yang teduh.


“Apa itu karena Gentayu?” Tanya Nyai Suntari selanjutnya.


Anjani menggeleng pelan, terkesan ragu.


“Antara iya, dan bukan nek..”


Anjani kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya di kolam teratai saat mencari teratai bulan untuk menyembuhkan Gentayu.


Wajah Nyai Suntari terlihat berkerut mendengar cerita Anjani. Ada raut terkejut sekaligus tegang bercampur rasa tidak percaya di wajahnya kali ini. Terlihat Nyai Suntari menghela nafas panjang setelah Anjani menyelesaikan ceritanya.


“Mustahil...” gumam Nyai Suntari lirih saat Anjani menyelesaikan ceritanya. Matanya bergerak cepat, namun tertunduk menatap tanah di bawah kakinya.


Meskipun lirih, namun Anjani masih bisa mendengarnya. Satu kata dari Nyai Suntari membuat jantung Anjani berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


“Nak, ketahuilah.. kau telah bertemu dengan sosok iblis yang dianggap telah musnah ratusan tahun silam.. ini.. ini.. Aaaah...! Segera kembali ke rumah goa. Minta Gentayu kemari secepatnya. Bawa ini..” Nyai Suntari tampak gugup. Dia menyerahkan sebuah medali berwarna kuning kepada Anjani. Medali perintah.


Medali perintah adalah medali khusus milik para sesepuh. Warna kuning, menunjukkan posisi Nyai Suntari sangat tinggi di padepokan. Hanya ada medali merah sebagai medali tertinggi di atas medali kuning. Medali merah hanya dipegang oleh ketua padepokan dan kepala balai.


Anjani menerima medali itu dengan wajah diselimuti kebingungan. Namun, dia tak banyak bertanya. Segera berbalik setelah memberi hormat pada gurunya, dan langsung melesat secepatnya menuju ke puncak gunung. Menuju rumah goa milik Nyai Suntari.


++++++


Di rumah Goa milik Nyai Suntari, Gentayu sejak pagi telah keluar untuk melihat-lihat kondisi sekitarnya. Itu adalah kebiasaan rutin Gentayu setelah siuman. Setiap pagi, dia akan berkeliling di sekitar perkebunan tanaman obat yang sangat luas di gunung itu.


Tubuhnya sudah terlihat kuat, bahkan lebih kuat dari manusia biasa pada umumnya. Namun, setidaknya masih butuh waktu tiga hari lagi untuknya pulih sepenuhnya.


Pagi itu, saat kembali ke rumah goa milik Nyai Suntari, Gentayu tidak menemukan Anjani. Rupanya, Anjani memang pergi ke lembah menuju padepokan tanpa berpamitan dengan Gentayu.

__ADS_1


Merasa tidak ada yang bisa dilakukan dengan berdiam di rumah goa, Gentayu akhirnya memilih melanjutkan kativitasnya berkeliling. Tanpa disadari, Gentayu telah berada jauh dari rumah goa. Kini, dirinya memasuki area rawa di mana kolam teratai berada.


Matanya tertuju pada satu titik di tengah kolam yang sepenuhnya tertutup teratai.


Di tengah kolam teratai tersebut, Gentayu melihat sosok wanita bergaun putih tinggi semampai. Rambutnya hitam lurus memanjang sejajar pinggul. Wanita itu membelakangi Gentayu, berdiri mengambang di atas daun-daun teratai. Sepertinya, bahkan tidak menyadari kehadirannya. Jaraknya memang cukup jauh, sekitar 500 meter!


Tiba-tiba, wanita itu melesat cepat seperti peluru ke udara. Di bawah kakinya, air seolah tersedot di kedua kakinya membetuk seperti ekor air yang mengikutinya naik ke angkasa. Saat itulah, sebuah ledakan dahsyat mengguncang seisi kolam.


‘BHUM!!!’


Bumi di sekitarnya bergetar seolah terjadi gempa.


Suara ledakan dahsyat itu terdengar hingga beberapa kilometer jauhnya. Goncangan akibat ledakan itu bahkan membuat air di dalam kolam bergolak seolah tertumpah ke daratan, memunculkan lumpur dasar kolam dengan ikan-ikan yang menggelepar kekurangan air.


Gentayu sendiri terbanting ke tanah karenanya. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


Rupanya, ledakan barusan diikuti dengan sebuah gelombang kejut yang merusak. Seluruh pepohonan dalam radius kurang dari 500 meter bahkan bertumbangan patah pada batangnya. Suara bergemuruh menyusul sekitar lima detik berikutnya setelah ledakan. Itu adalah suara runtuhnya pepohonan hutan secara serentak akibat gelombang kejut ledakan.


‘Grotak!


‘Krekek!’


‘Bruk!’


‘Bruk!’


Nyaris saja Gentayu tertimpa salah satu pohon yang roboh di dekatnya. Matanya segera menoleh ke arah sosok wanita terlihat sebelum melesat tinggi sebelumnya. Kolam itu benar-benar seperti dikuras!


Namun, yang menarik perhatian Gentayu adalah munculnya sosok lain yang tertawa terbahak-bahak dengan pandangan menatap ke langit. Ke arah wanita bergaun putih melayang menghindar dari ledakan di dalam kolam.


“Hahahahahaha....!! Kau bisa menyegelku ratusan tahun lalu karena keluguanku! Aku terlalu bodoh waktu itu karena mempercayaimu! Tapi hal itu tidak akan terulang, Gandini!!... Hahahahaha...!!”

__ADS_1


Suara tawa itu terdengar mengerikan. Cukup untuk membuat bulu kuduk yang mendengarnya berdiri, dan memnyebabkan lutut orang yang mendengarnya gemetar. Bahkan, Gentayu sendiri mengalaminya.


Sosok pemilik tawa itu adalah makhluk berwarna hijau dengan kepala bagian atas cenderung datar. Alis Matanya terbentuk dari tulang dan otot keras yang menonjol. Kaki dan tangannya seperti memiliki selaput. Dan.. seluruh tubuhnya terlihat berlendir.


Itu adalah makhluk yang sama yang ditemui Anjani saat mencari teratai bulan untuk Gentayu. Sedagkan sosok wanita yang sepertinya menjadi lawannya, sepertinya terikat dengan sebuah kejadian masa lalu.


Tiba-tiba, sosok berwarna hijau itu menoleh ke arah Gentayu yang tengah bersembunyi dengan cara tiarap di antara pepohonan tumbang. Namun tak lama, perhatiannya kembali fokus kepada wanita bergaun putih di angkasa karena sesuatu berwarna putih nampak bersinar terang di sekitar lengan perempuan yang tengah melayang tersebut.


Puluhan gelang-gelang raksasa terbuat dari cahaya meluncur dari tubuh wanita bergaun putih bernama Gandini, melesat cepat ke arah makhluk berwarna hijau. Suara berdengung mengiringi meluncurnya gelang-gelang cahaya raksasa, membuat gendang telinga seakan mau pecah karenanya.


Gentayu yang berjarak ratusan meterpun terkena dampaknya. Untuk beberapa saat, telinganya kehilangan kemampuan mendengar. Dunia tiba-tiba terasa sunyi. Segalanya seolah berjalan lambat. Sebelum sebuah gelombang kejut lainya kembali menghempaskan tubuhnya sekali lagi.


Kali ini, gelombang kejut itu berasal dari gelang-gelang cahaya raksasa yang tampaknya berusaha mengurung sosok berwarna hijau di tengah kolam. Gentayu terpental sejauh seratus meter. Tubuhnya bahkan sempat melanting ke angkasa sebelum kembali jatuh menabrak tanah keras di bawahnya.


Sebelum kehilangan kesadaran karena memang tubuhnya belum sepenuhnya pulih, Gentayu sempat menyaksikan sebuah ledakan lebih dahsyat terjadi berkali-kali saat gelang-gelang cahaya raksasa bertemu dengan tubuh sosok berwarna hijau.


Setiap kali ledakan terjadi, setiap kali pula tubuhnya terhempas semakin jauh oleh gelombang kejut yang ditimbulkan ledakan tersebut.


+++++ +++++


Anjani telah sampai di rumah goa, tempat seharusnya Gentayu memulihkan diri. Tapi, Anjani juga mengetahui bahwa pagi tadi Gentayu meninggalkan rumah goa ini untuk berkeliling areal perkebunan tanaman obat dalam rangka mempercepat pemulihan fisiknya.


Tidak berhasil menemukan Gentayu yang seharusnya sudah kembali mengingat lelaki itu masih harus terus mengkonsumsi beberapa ramuan tiap empat jam sekali, Anjani menjadi sedikit cemas.


‘Seharusnya, saat ini adalah waktunya minum obat..’ Anjani segera masuk ke dalam rumah goa dan menemukan obat yang seharusnya dikonsumsi Gentayu sejam yang lalu masih utuh di tempatnya. Anjani hafal betul karena dialah yang menyiapkan ramuan tersebut.


Dalam kecemasannya, suara ledakan terdengar dari arah lokasi kolam teratai berada. Disusul kemudiandengan bumi yang bergetar. Anjani meyakini, ini bukanlah sebuah gempa bumi biasa.


Fikirannya semakin kalut. Rasa khawatirnya semakin meningkat, saat mengingat bahwa makhluk hijau yang mengancamnya kemungkinan penyebab dari suara ledakan dan goncangan yang melanda saat ini.


Tanpa membuang waktu, Anjani segera melesat meninggalkan rumah goa menuju ke sumber suara ledakan. Ke arah kolam teratai.

__ADS_1


Di lembah bawah, pada komplek padepokan Pinang Emas, setelah suara ledakan yang samar terdengar diikuti getaran kecil dirasakan para sesepuh, mereka segera terbang menuju kolam teratai. Tampak Nyai Suntari berada paling depan di antara mereka.


__ADS_2