
Tak terlalu sulit.
Gentayu berhasil mencongkel keluar sebuah batu besar seukuran dua kepala manusia nyaris tanpa kesulitan. Dia sengaja melakukan pencongkelan, bukan menghancurkan menggunakan kekuatannya karena khawatir merusak apapun yang ada di balik batu tersebut.
Ketika batu itu berhasil diangkat, sebuah pendar cahaya terlihat menyebar dari bawah sana. Ternyata, batu itu digunakan untuk meredam cahaya tersebut agar tidak keluar ke permukaan tanah.
Gentayu tak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya melihat sebuah benda bercahaya terang, bahkan ketika cahaya matahari pagi tengah menyorot cahaya tersebut tidak pudar.
Batu yang semula digunakan sebagai penutup itu diambilnya kembali untuk diamati lebih lanjut. Dia harus memastikan bahwa batu itu batu biasa dan sesuatu bercahaya itu tidak akan membahayakannya jika diambil secara langsung.
Dilemparkannya batu itu ke udara dan dengan sekali pukulan tangan, batu itu hancur menjadi butiran kerikil halus dan debu.
“Aman!” Kata Gentayu bersemangat.
Hancurnya batu itu menunjukkan bahwa batu itu hanya batu biasa. Artinya, cahaya berpendar itu tidak berbahaya.
Lalu, Gentayu kembali berjongkok ke tanah dan tangannya masuk ke dalam cerukan tanah bekas batuan itu menyumbat. Di dalamnya, terdapat sebuah lubang seukuran paha orang dewasa sedalam hanya setengah meter.
Tangan Gentayu masuk di antara pendar cahaya dengan menyipitkan mata agar cahaya itu tak masuk ke matanya dan membuatnya silau.
sesuatu yang padat, keras dan dingin terasa oleh telapak tangannya saat meraih sumber cahaya yang diperkirakan pusat dari formasi sihir di dalam lubang itu.
Ditariknya perlahan benda tersebut ke permukaan. Ternyata, benda itu menghunjam ke dalam tanah. Benda itu terlihat bulat memanjang.
Ketika seluruh bagian benda tersebut berhasil ditarik keluar, Gentayu takjub bukan main. Itu adalah sebuah kristal berbentuk tombak dengan permukaan berwarna-warni yang indah.
Bersamaan dengan telah ditariknya tombak kristal itu, formasi sihir yang melingkupi tempat itu langsung menghilang.
Gentayu kemudian menoleh ke arah Ryutaro berada, namun justru lelaki yang tubuhnya belum terbebas sempurna dari tanah dan rumput itu buru-buru melambaikan tangan seraya menunjuk-nunjuk ke bagian belakang.
Ryutaro tengah meminta izin untuk pergi membersihkan diri di sungai kecil tak jauh dari sana. Perutnya terasa mulas. Ratusan tahun tanpa roh, tubuhnya mungkin rindu rutinitas sebagai manusia, buang air.
Gentayu mengangguk, dan Ryu segera berlalu dari tempatnya lalu menghilang di balik semak-semak.
Tombak kristal di tangan Gentayu terlihat begitu mewah. Bukan hanya itu, kekuatan yang memancar dari benda itu kemungkinan cukup besar untuk sekedar mengalahkan pendekar di level Pendekar langit seperti dirinya. Tapi, Gentayu tak tahu pasti kebenarannya sebelum mencobanya secara langsung.
Ketika tengah menimang-nimang tombak kristal itu, Gentayu merasakan kedatangan tiga orang yang tengah mendekat ke arahnya. Menurut perkiraannya, berdasarkan pancaran kekuatan yang tertangkap oleh tubuhnya mereka bertiga berkekuatan setara Pendekar Sakti bergelar.
__ADS_1
Gentayu sengaja menunggu kemunculan mereka. Karena ketiganya tidak berusaha menyembunyikan kekuatannya, menunjukkan tiga orang itu datang secara sengaja ke tempat itu, bukan sekedar melintas.
Mamoto memang mengatakan bahwa tempat ini selalu didatangi para pendekar tingkat tinggi yang berusaha mengambil harta karun dan keuntungan lain dari tubuh Ryu yang mereka anggap sebagai artefak hidup.
Keberhasilan seorang asing mengambil pedang Naga Api dari tubuh Ryu beberapa waktu sebelumnya membuat keserakahan orang-orang yang datang semakin tak terbendung, sekalipun ‘korban’ telah banyak berjatuhan.
Ketiga orang berpakaian ungu mendarat tak jauh dari tempat Gentayu berdiri. Dari lagaknya, mereka terlihat arogan. Kepala mereka mendongak dengan dada membusung. Ketiganya terdiri dari seorang wanita dengan bibir kecil berwajah judes, dan dua orang lelaki berwajah putih bersih.
Ketiganya memandang Gentayu penuh selidik. Kecurigaan seketika muncul di wajah mereka melihat Gentayu berada di tempat yang sebelumnya tak pernah ada orang yang berhasil mencapainya.
Kecurigaan mereka bertambah, ketika artefak hidup yang mengundang kehadiran mereka di tempat ini telah menghilang dari tempatnya.
Mereka mengamati Gentayu lebih lanjut, berusaha mengukur kekuatan pemuda tersebut. Wajahnya yang terlihat ramah dan pancaran kekuatan tenaga dalam yang tak terdeteksi di tubuhnya membuat ketiga orang itu mengira Gentayu hanyalah pendekar tingkat rendah.
Memang mereka tak akan bisa mendeteksi kekuatan tenaga dalam Gentayu, karena tenaga dalam adalah bagian dari masa lalu Gentayu. Dan wajah orang baiknya, membuatnya terlihat seperti manusia lemah.
“Hei bocah! Serahkan apapun yang telah kau peroleh di tempat ini..!” Si perempuan berwajah judes tiba-tiba menghardiknya keras. Nada bicaranya penuh ancaman.
“Siapa yang kalian maksud? Aku?” Tanya Gentayu sembari menunjukke arah hidungnya sendiri. Dalam hati, Gentayu ingin melhat apa yang akan dilakukan ketiga orang dihadapannya.
“Owh.. “ kata Gentayu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berjalan pelan mondar mandir. Sikapnya membuat tiga orang di depannya semakin marah.
“Aku hanya menemukan benda ini di sini. Ambillah..” Gentayu berkata santai sambil menunjukkan tombak kristal di tangannya.
Melihat benda itu, keserakahan semakin terlihat di wajah mereka. Air liur bahkan menetes di bibir mereka.
Gentayu hanya berdiri di tempatnya. Tidak menyerahkan tombak di tangannya seperti ketiga orang itu harapkan.
“Hei, Cepat serahkan kemari!” Si botak setengah berteriak.
“Atas alasan apa aku harus menyerahkan hartaku pada kalian? Dan, kalaupun harus, kenapa tidak kalian ambil sendiri saja kemari?” Kata Gentayu santai menanggapi teriakan si botak.
Kini justru Gentayu berkeinginan untuk melakukan sesuatu pada ketiganya. Orang yang suka berbuat sewenang-wenang pada yang lemah tak lebih dari sampah di mata Gentayu.
“Kau...!” si botak menahan geram melihat Gentayu yang tersenyum mengejek ke arah mereka.
Dengan dipenuhi kemarahan karena merasa diremehkan bocah ingusan, si botak segera melompat ke arah Gentayu.
__ADS_1
Dia bermaksud memberikan Gentayu sedikit pelajaran.
Pria botak mendarat hanya dalam jarak satu meter dari Gentayu. Sementara dua rekannya bersedekap melihat mereka.
“Bocah! Mungkin kau lupa bagaimana caranya menghargai senior! Di dunia ini, kau harus ingat untuk selalu tunduk pada orang yang lebih kuat! Sebagai pengingat, terima ini..!”
Lelaki botak itu melayangkan kepalan tangan kanannya ke arah wajah Gentayu, sementara tangan kirinya bergerak untuk merampas tombak di tangan Gentayu. Dia benar-benar memandang enteng Gentayu.
Tapi betapa terkejutnya si botak, karena pukulannya tidak berhasil mengenai sasaran. Gentayu bahkan hanya memiringkan kepala tanpa bergerak dari tempatnya berdiri untuk menghindar.
“Oh.. Jadi kau ingin menguji kesabaranku.. Jangan sebut aku Sinbi kalau...” Lelaki itu tak berhasil menyelesaikan kata sesumbarnya. Sebuah pukulan telah mendarat di wajahnya. Kecepatan pukulan Gentayu tak dapat diikuti oleh matanya, sehingga pukulan itu mendarat sempurna dan mematahkan hidung lelaki itu.
Lelaki botak bernama Sinbi termundur dua langkah menerima pukulan itu. Wajahnya menyiratkan keterkejutan menerima pukulan yang tak terlihat saking cepatnya.
Memegangi hidungnya yang memerah, Sinbi merasakan rasa sakit luar biasa di wajahnya.
Biasanya, bahkan seorang pendekar sakti sekalipun tak mampu membuatnya kesakitan seperti saat ini.
Dia meraba hidungnya, tidak ada tanda-tanda pukulan yang diterimanya itu mengandung tenaga dalam.
Dan memang, pukulan itu memang hanya pukulan tangan kosong biasa bagi Gentayu.
Kedua rekannya yang menyaksikan juga terperangah melihat Sinbi tiba-tiba mundur dan memegangi hidungnya. Pukulan itu benar-benar terlalu cepat untuk bisa dilihat keduanya.
**Nb. Seharian kemarin saya harus bolak-balik rumah sakit nganterin Istri. Di rumah, ibu kami juga tengah sakit. Akhirnya, baru bisa up malamnya.
Pas pagi baru ingat belum upload 😁
Terimakasih mau menunggu..
Saya masih on going update, semoga lancar
Jaga kesehatan
Jangan lupa 3M bila harus keluar rumah
Kalaupun tidak mempercayai adanya Covid, setidaknya menghindari masalah dengan aparat.
__ADS_1