
Hujan turun dengan deras siang itu.
Gentayu dan rombongan kini telah tiba kembali di depan gerbang kerajaan Lamahtang. Kondisi bagian dalam benteng tersebut masih berantakan. Puing-puing bangunan berserakan. Bekas terbakarnya bangunan meninggalkan noda gosong dan menyisakan arang serta abu.
Di beberapa titik, tampak terlihat abu yang menggunung. Aroma daging dan tulang tercium lamat-lamat dari tumpukan abu yang mulai basah tersiram air hujan. Sepertinya, itu adalah tumpukan abu pembakaran jenazah korban perang.
Gentayu dan lainnya berhenti melangkah menyusuri jalanan yang telah basah sepenuhnya oleh hujan. Mereka berteduh sejenak di sebuah bekas bangunan yang masih berdiri meskipun beberapa sisinya telah hancur. Sepertinya, itu adalah rumah salah satu petinggi kerajaan yang turut diserbu para pendekar aliran putih dan prajurit aliansi tiga kadipaten.
“Kurasa, para pendekar seharusnya tengah berkumpul di suatu tempat. Mereka seharusnya sudah selesai mengurus mayat-mayat korban perang...” Mak Payung berkata sambil mata tuanya berusaha menyapu areal di sekitarnya. Berusaha menemukan seandainya ada prajurit ataupun pendekar di sekitar tempat itu. Tapi nihil.
Mereka berlima kini diselimuti keheningan. Hanya curah hujan yang semakin deras yang mengisi suasana diamnya lima pendekar tersebut. Masing-masing tampak sibuk dengan fikirannya masing-masing.
Kehancuran akibat perang terlihat memprihatinkan. Tapi sepertinya, tidak ada korban dari warga sipil, begitulah seharusnya.
Semenjak jatuh ke tangan kelompok aliran hitam, warga sipil lebih memilih keluar dari kotaraja dan memilih menetap di desa-desa sekitar.
Sedangkan mereka yang terpaksa harus berdiam di kota atau justru mengungsi ke kota karena paceklik dan kekurangan pangan, umumnya hanya berada di kota ini untuk mengais rejeki dan kembali pulang ke desa-desa sekitar di malam hari.
__ADS_1
Mereka tidak berani tinggal di lingkungan kotaraja kerajaan ini.
Telah jamak diketahui, bahwa kelompok aliran hitam sangat gemar membunuh warga sipil, memperkosa perempuan, dan tindakan keji lainnya. Hanya orang tua dan lanjut usia saja sepertinya yang lolos dari kekejaman mereka di kotaraja ini selama menaati aturan yang ketat.
Kalaupun ada warga sipil yang menjadi korban, mereka adalah para wanita penghibur yang memang semakin banyak jumlahnya semenjak penguasaan aliran hitam atas kerajaan. Banyak rumah bordil berdiri selama kurun tiga bulan terakhir, beserta komplek-komplek perjudian di dalamnya. Bahkan, hampir di tiap sudut, terdapat arena judi sabung ayam.
Di tempat-tempat itulah para pengemis dari desa yang biasanya terdiri dari para lanjut usia dan orang cacat mengais rejeki. Dan karena keberadaan merekalah, penyusupan para pendekar Bintang Harapan dapat berjalan mulus beberapa waktu lalu.
“Ah, sepertinya hujan sudah berhenti. Apakah kita akan melanjutkan perjalanan atau berdiam diri saja di sini?” Sakuza, yang mulai bosan berbicara memecah kebekuan.
“Mari..” Gentayu segera mendahului keluar dari teras bangunan tersebut tanpa menunggu yang lainnya. Bahkan Mak Payung yang hampir tertidur di lantai sudut teras bagian dalam itu sedikit kesulitan untuk bangkit dengan buru-buru.
Dia dan lainnya segera menyusul pemuda itu yang ternyata telah menghilang di balik sebuah bangunan pada tikungan jalan tak jauh di hadapan mereka.
Ketika para wanita itu telah tiba di tikungan jalan yang menghalangi pandangan mereka dari Gentayu, keempatnya dikejutkan oleh pemandangan di hadapan mereka. Gentayu tengah duduk setengah berlutut menopang tubuh seorang lelaki paruh baya dengan tangannya. Darah nampak membasahi sekujur tubuh laki-laki itu. Lelaki itu tak lain adalah Ki Geringsing, salah satu pendekar yang tersisa dari padepokan Matahari Emas.
Perang seharusnya telah berakhir sejak semalam.
__ADS_1
Namun sesuatu telah terjadi menimpa Ki Geringsing dan beberapa pendekar lainnya. Ki Geringsing bisa menyelamatkan nyawanya meskipun dengan kondisi sangat parah.
Ki Geringsing menjelaskan secara singkat, bahwa saat mereka tengah menyisir beberapa bangunan, mereka tak sengaja menemukan sebuah cermin aneh di bekas bangunan kepatihan, tempat tinggal Mpu Jangger dan Karang Setan sebelumnya.
Dari cermin itu, keluar lima sosok manusia dipimpin seorang perempuan berjubah merah yang segera menghabisi para pendekar rombongan Ki Geringsing.
Ki Geringsing tak mampu menjelaskan lebih detail perihal para penyerang mereka maupun tentang cermin itu. Lelaki paruh baya itu segera kehilangan kesadaran akibat banyaknya darah yang keluar dari luka di sekujur tubuhnya.
“Apa yang terjadi??” Mak Payung yang mengenali Ki Geringsing segera mengambil alih tubuh Ki Geringsing dari gentayu.
Dibaringkannya tubuh lemah Ki Geringsing di atas jalanan begitu saja.
“Luka-luka ini.. sepertinya bukan karena senjata.. “ Mak Payung menyampaikan hasil temuannya setelah memeriksa tubuh ki geringsing yang kian melemah dari waktu ke waktu.
“Apapun itu nek, cepat tolong obati dia! Aku akan memeriksa sesuatu..” Gentayu segera bangkit setelah Mak Payung menyanggupi untuk merawat ki Geringsing.
Dengan segera, Gentayu melesat mennggalkan rombongan kecilnya menuju komplek kepatihan. Berusaha menemukan orang-orang sekaligus cermin yang dimaksud ki Geringsing.
__ADS_1
‘Jika tebakanku benar, cermin itu pasti pintu gerbang menuju dunia lain sebagaimana batu buana..’ batin gentayu.