JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Sayembara VI


__ADS_3

Dari balik debu beterbangan yang mulai menipis, sosok Tunggulwaru bangkit.


Lelaki brewok itu terlihat sangat berantakan. Wajahnya tak lagi terlihat karena kulitnya tertutup debu. Hanya mata dan giginya yang terlihat, itupun saat meringis. Rambutnya berwarna coklat, sepenuhnya karena debu.


Selain dari sudut bibirnya, tak ada darah menetes. Tak ada luka gores. Tubuh luarnya terlihat baik-baik saja.


Tunggulwaru sejenak menoleh ke arah panggung kehormatan yang terlihat kosong. Di sana hanya ada raja dan keluarganya berikut para pengawal terkuatnya. Matanya tertuju ke arah Manik Baya.


‘Pasti laki-laki itu yang mengendalikan patung ini! Sungguh sihir yang merepotkan’ batinnya sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Ada rasa kesal di dalamnya.


“Aku akan menghancurkanmu menjadi remahan debu!” Tunggulwaru berteriak lantang sambil melesat ke arah kepala patung tersebut. Berniat menghancurkannya dengan pukulan terkuatya.


Tapi di luar dugaan, ketika pukulan tangannya yang bertenaga super besar dan dilapisi energi daht dalam jumlah besar itu dilepaskan, patung itu mampu menghindarinya dengan sangat mudah.


Kecepatan patung itu menghindar bahkan lebih cepat dari kedipan mata karena gerakan kepala itu nyaris tak terlihat.


Pukulan yang dilepaskan Tunggulwaru yang lolos menghantam tembok pembatas alun-alun dan merobohkannya.


‘Bruggh..!’


Suara keras terdengar saat tembok pembatas itu hancur.


Para penonton yang awalnya merasa posisi mereka telah aman kemudian mulai berlarian menjauh. Jarak tembok itu dengan patung cukup jauh. Lebih dari tiga ratusan meter, menunjukkan betapa kuatnya serangan tersebut.


Tunggulwaru tak percaya pukulan yang dilepaskan dengan kekuatan penuh dan kepercayaan diri yang tinggi itu bisa dihindari oleh patung raksasa itu tanpa kesulitan.


Dia ingin menoleh kembali ke panggung untuk melihat apa yang dilakukan Manik Baya, tapi serangan berikutnya dari patung raksasa itu terlihat menyasar ke arahnya.


Tunggulwaru dapat mengindar tepat waktu dengan melesat menjauh ketika tangan-tangan batu raksasa melesat ke arahnya dengan posisi mengepal.


Tapi, lagi-lagi di luar dugaan, sekalipun telah berhasil menghindar dari terkena serangan tangan patung tersebut, energi besar yang menyertai serangan patung itu masih mempengaruhinya.


Kesalahan Tunggulwaru kali ini adalah tidak sempat menyiapkan perisai apapun, sehingga energi serangan patung tersebut menghantamnya sekali lagi sekalipun tangan fisik patung tersebut telah melewatinya.

__ADS_1


Tunggulwaru mampu bertahan dari dampak serangan tersebut. Dirinya hanya termundur lima langkah sekalipun tubuhnya dengan telak menerima serangan tersebut.


Serangan berikutnya kembali melayang ke arahnya. Kali ini serangan berasal dari atas kepalanya. Kepalan tangan patung itu menghantam seperti palu godam hendak memecah batu di bawahnya.


Tunggulwaru faham, menangkis serangan itu bisa berakibat fatal. Maka dirinya bergerak sangat cepat membuang tubuhnya ke kiri, mendekati bagian dada patung tersebut.


Berfikir bahwa telah menemukan celah untuk memukul sasaran, Tunggulwaru sekali lagi melesakkan sebuah pukulan pamungkas menggunakan seluruh energi daht miliknya yang tersisa.


Baginya ini adalah pertarungan hidup dan mati. Kecepatan patung ini bergerak sangat tidak sesuai dengan besar fisiknya. Biasanya, mereka yang berfisik besar akan lambat dalam bergerak. Nyatanya hal itu tidak berlaku pada patung leluhur raja Jayadilaga ini.


Patung ini gesit. Bahkan lebih gesit dari rata-rata pendekar langit sekalipun.


‘BAMM!!’


‘BAMM!!’


Dua kali ledakan terdengar saat Tunggulwaru menyarangkan dua kali pukulan beruntun ke dada patung raksasa itu.


Yang terjadi, tubuh Tunggulwaru terhempas ke belakang sekali lagi. Kali ini, terlihat ceceran darah muncrat sepanjang lintasan hempasan tubuhnya yang mendarat di tanah, tak jauh dari panggung kehormatan.


Dada patung yang menerima serangan penuh dari Tunggulwaru hanya sedikit gompel. Runtuhan batu dari patung itu jatuh meluruh ke bawah. Tak jauh dari posisi Gentayu berlutut setengah berdiri.


Pemuda dari Lamahtang itu memang belum beranjak dari tempat itu. Bahkan matanya masih terpejam seperti saat terakhir cahaya api yang membentuk pilar cahaya menghilang.


Adapun Tunggulwaru sendiri kesulitan berdiri setelah benturannya dengan tubuh patung itu yang membuatnya terhempas dan berakhir di bawah panggung kehormatan.


Begitu berhasil bangkit dengan tubuh gemetaran karena seluruh kekuatannya telah dikeluarkan pada serangan pamungkasnya barusan, Tunggulwaru sekali lagi menoleh ke arah tempat duduk Manik Baya yang menatapnya dengan santai tampak mengernyitkan kedua alisnya, seolah-olah mempertanyakan alasan Tunggul Waru menatap penuh selidik.


Patung raksasa itu memang dikendalikan sebagaimana dugaan semua orang. Tapi selain Sang Raja dan Putri Cedrawani serta Manik Baya sendiri, tak ada yang tahu bahwa patung itu digerakkan oleh perintah fikiran Putri Cendrawani sepenuhnya.


Bahkan, putri cendrawani dengan fikirannya mampu memberikan kemampuan-kemampuan khusus sesuai keinginannya terhadap patung itu. Semua itu diberitahukan oleh Manik Baya lewat bisikan kepada Cendrawani sebelum sayembara dimulai. Itulah alasan Manik Baya meminta patih Mangkubumi memulai sayembara hanya setelah sang putri siap.


Pengawalan terhadap sang putri bahkan lebih ketat daripada raja saat ini. Karena Raja khawatir, saat rahasia ini diketahui salah satu peserta, para pendukungnya akan melakukan sesuatu yang menguntungkan mereka terhadap putri Cendrawani.

__ADS_1


Tapi sekali lagi, peningkatan keamanan terhadap Cendrawani ini luput dari pengamatan orang lain selain raja dan pengawal inti yang melaksanakannya.


Tunggulwaru hendak melangkah kembali ke dalam alun-alun yang menjadi arena. Namun langkahnya goyah. Tubuhnya tak mungkin bisa dipaksakan.


Pertarungan yang terbilang singkat melawan patung raksasa itu benar-benar menguras energinya lahir dan batin. Akhirnya tanpa bisa dicegah, dia terjatuh.


Lalu dengan berat hati dia mengangkat kedua tangannya. Menyerah.


Bagaimanapun, Tunggulwaru adalah kepala pengawal.


Keselamatan rombongan utusan Loh Jati termasuk putra adipati sangat bergantung kepadanya.


Dia ingin membawa kehormatan bagi Loh Jati, namun dia tidak bisa mengorbankan nyawanya untuk itu saat ini karena Adipati dan keluarganya lebih membutuhkannya tetap hidup walaupun gagal.


Setelah ini, dia juga harus mempersiapkan diri menghadapi utusan Suku samudera. Karena dirinya telah membunuh putra kepala suku tersebut sebelumnya. Sepertinya, konflik yang melibatkannya itu akan berlanjut setelah sayembara selesai.


Patih Mangkubumi segera berdiri kembali. Melihat Tunggulwaru menyerah, pria tua itu berfikir sayembara telah selesai dengan tidak ada satupun peserta yang berhasil melalui tantangan.


“Yang Mulia, para utusan, dan rakyat Giri Kencana sekalian. Dengan memohon kepada Sang Maha Tunggal, dan demi kemuliaan singgasana yang mulia prabu Jayadilaga, sayembara perjodohan Putri Cendrawani dinyatakan selesai.. dan seluruh peserta dinyatakan tidak ada yang berhasil..!”


Beberapa orang pembesar Giri Kencana di belakang sang raja dan patih Mangkubumi sudah mulai bertepuk tangan dengan senyum sumringah, saat suara sang raja memecah keriuhan tersebut.


“Tunggu dulu! Masih ada satu peserta tersisa dan belum menyerah!” Kata sang raja sembari menunjuk ke arah Gentayu yang masih berlutut setengah berdiri, di tengah arena. Di sudut lain dari pertarungan Tunggulwaru melawan patung raksasa.


Perhatian semua orang kini terarah kembali pada Gentayu.


Para hadirin membenarkan, bahwa pemuda itu sebelumnya belum menyatakan diri menyerah.


Dari salah satu sudut tepian alun-alun, Karangwangge ingin berteriak mengatakan bahwa sebelumnya Gentayu telah menyatakan di hadapannya bahwa dirinya menarik diri dari sayembara.


Tapi mengingat dendamnya akibat terluka bakar karena ditabrak Gentayu belum hilang, dirinya memilih bungkam sembari berharap Gentayu mati melawan patung raksasa.


Dia sama sekali tidak ambil pusing dengan belati pusakanya yang tidak kembali. Putra mahkota Mangkalayang itu tersenyum mengejek.

__ADS_1


‘Tidak perlu aku yang membunuhmu! Sudah kukatakan, tidak ada yang lolos begitu saja setelah melukaiku! Bahkan, lelaki brewok itupun tidak!’ sumpahnya dalam hati.


__ADS_2