JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Kita Tak Punya Waktu


__ADS_3

Mata Dana Setra terkunci pada satu titik di di tubuh Dandun. Tepat di sekitar tulang pubisnya.


Dalam sekali lihat, Dana Setra mampu melihat ada sesuatu tertanam di sana. Sebuah kristal merah!


Dari kristal merah itulah sumber aura kekuatan pendekar bumi level awal itu memancar. Hal yang jarang ditemui di dunia ini, tapi justru dapat ditemui pada semua pendekar yang menjadi tawanan di dalam kantong buana.


Tangan Dana Setra menjulur, berniat hendak merenggut paksa kristal berwarna merah itu dari tubuh Dandun, tapi segera diurungkannya niat itu.


Dalam penglihatannya, awalnya memang kristal itu membuat tubuh inangnya sekuat pendekar bumi level awal, tetapi seriring waktu sesuatu terjadi pada kristal itu.


Gejala fisik bisa diamatinya dari ekspresi kesakitan yang terus bertambah di wajah Dandun.


Pendekar itu, awalnya masih mampu duduk setengah berlutut. Dalam beberapa tarikan nafas berikutnya, telah berubah posisi menjadi menunduk setengah bersujud. Dan kini posisinya berubah lagi menjadi berguling-guling.


Sepertinya, pemuda itu tengah menahan sakit yang teramat sangat dan semakin bertambah seiring berjalannya waktu.


Dana Setra segera bertindak cepat karena mengkhawatirkan nyawa pendekar muda di hadapannya.


Diraihnya kembali kantong Buana, dan dengan cepat tangannya membentuk sebuah formasi mantra.


Saat tangan kanannya dikibaskan ke arah Dandun, pendekar itu telah lenyap dan kembali ke dalam Kantong Buana.


“mereka kesakitan saat berada di luar kantong ini. Namun kembali normal setelah berada kembali di dalamnya.Bukan hanya itu saja. Kekuatan di tubuh mereka juga terus berkurang saat berada di luar kantong. Tetapi malah semakin bertambah kuat ketika berada di dalam kantong!” Dana Setra nampak terhenyak dengan kesimpulan yang diperolehnya, hasil dari mengamati salah satu tawanan.


“Senior, Aku juga menemukan ini..” Montawiraba mengeluarkan dua lembar catatan terbuat dari kulit hewan.


Catatan itu barusan diperolehnya dari tubuh Centini yang kini tak sadarkan diri. Siap untuk di bawa berteleportasi sebelumnya.


“Ah.. ini catatan rencana mereka, berikut cara kerja rencana itu! Sedangkan ini.. ini peta!” kata Dana Setra setelah membuka sekilas dua catatan yang ditemukan juniornya.

__ADS_1


Dari lima kantong yang mereka kumpulkan, kantong pertama adalah kantong Buana di tangan Dana Setra saat ini. Keempat kantong lainnya adalah kantong ‘tepak’.


kantong tepak pertama berisi 7 bola sembilan arwah serta beberapa segel permata hitam,


kantong kedua berisi i seluruh senjata, pusaka dan barang berharga milik para pendekar serta perguruan yang berhasil dihancurkan Centini dan kelompok kecilnya.


Kantong tepak ketiga ternyata berisi persediaan bibit kristal dalam jumlah ribuan buah. Sedang kantong terakhir, berisi barang berharga berupa emas, permata, giok langka, kristal energi dalam jumlah besar, dan setumpuk perhiasan hasil rampasan.


Melihat kantong terakhir, Dana Setra hanya geleng-geleng kepala. Sebuah pertanyaan muncul di kepalanya. apakah perampok yang mendapatkan segalanya dengan mudah membutuhkan emas sebagai bekal perjalanan?


“Ini Penjajahan.. Telegu merah berusaha menjadikan dunia ini sebagai jajahannya! Tapi sayangnya, saat ini kita memang tak memiliki cukup waktu untuk mengurusnya. Tidak sekarang. Prioritas kita saat ini adalah mencegah kebangkitan Mislan Katili dalam dua hari ke depan!” Dana Setra berjalan mondar-mandir sembari memegangi kepalanya yang mulai berdenyut.


Saat ini, dia tidak memiliki banyak peluang untuk mengakhiri atau mencegah kekacauan yang akan terjadi sesaat lagi.


Di satu sisi, ribuan pendekar yang masih ditawan harus segera diselamatkan. Jika tidak, maka mungkin nyawa mereka akan terancam.


Tapi, saat sekarang ini tidak ada ide apapun yang terlintas di benak Dana Setra untuk menyelamatkan nyawa mereka. Tidak setelah Dana Setra dan Montawiraba melihat apa yang terjadi pada Dandun. Tepatnya, Dana Setra tidak tahu cara membebaskan para pendekar ini dari pengaruh kristal merah yang ditanam di tubuh para pendekar.


“Senior, Maaf kalau lancang. Bukankah seharusnya Bola Sembilan Arwah itu seharusnya terdiri dari sembilan macam benda?”Montawiraba bertanya.


“Betul!” Jawab Dana Setra.


“Tapi, walaupun hanya dengan tujuh dari sembilan bola itu sudah cukup untuk dirinya bangkit. Selebihnya, Cuma masalah waktu baginya menemukan dua lainnya setelah bangkit itu… “ jawab Dana Setra dengan mimik serius.


“Tapi.. bukankah, dahulu senior dan keenam jagoan berhasil menyegelnya? Bukankah hal itu seharusnya bisa diulangi?” Montawiraba masih belum kehilangan kepercayaan diri terhadap seniornya.


Bagi para generasi muda di marga, Dana Setra adalah sosok pahlawan yang terkenal dan melegenda. Maka wajar bila mereka menganggapnya luar biasa kuat, nyaris seolah tak tertandingi.


“Tidak.. Sebenarnya, kekuatan Mislan Katili telah dilemahkan sangat jauh oleh dua dewa cahaya sebelumnya. Kami hanya meneruskan sisanya. Itupun, membuat empat orang di antara kami harus bertapa ratusan tahun sebelum bisa memulihkan kekuatannya di dunia ini..” Dana Setra menghela nafas panjang. Berat.

__ADS_1


“Dua rekanku telah kembali ke Lemuria. Empat orang terpaksa tinggal di dunia ini dalam rangka pemulihan. Aku sendiri, kau tahu aku juga di sini. Seandainya iblis itu berhasil bangkit lagi.. entahlah..”


Wajah Dana Setra terlihat kusut. Matanya memandangi cakrawala. Terbayang kengerian dan penderitaan yang harus ditanggung manusia bila iblis sekuat Mislan Katili berhasil melepaskan diri dari segel dan bangkit kembali.


“Senior, bukankah berkuasanya mislan katili di dunia ini tidak akan berpengaruh kepada kita di Lemuria?” Kali ini, pertanyaan Montawiraba tidak terdengar bersemangat.


Dana Setra menoleh ke arahnya, lalu tersenyum.


“Hmmm.. Kau memang terlalu muda dan polos. Nyatanya, semua tidak sesederhana itu…” Katanya sembari mengambil tempat duduk tak jauh dari bekas keberadaan Centini sebelumnya.


“Mislan Katili, tetaplah sosok Iblis. Bahkan di seluruh daratan dunia kita, hanya para dewa yang bisa mengalahkannya. Tujuan apapun yang ingin diraihnya dengan memperbudak manusia di dunia ini, aku yakin tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Telegu Merah saat ini. Setidaknya, Telegu Merah memiliki pemahaman sendiri, terinspirasi Mislan Katili”


Montawiraba terdiam merenungi kata-kata seniornya.


Tiba-tiba dia seperti menemukan sesuatu


“Senior. Apa mungkin kristal-kristal merah ini sengaja ditanam di tubuh manusia-manusia ini untuk dipanen suatu hari? Bukankah Telegu Merah selama ini memang terkenal karena aktivitas jual beli kristal siluman?” Kali ini, Montawiraba berkata sambil menunjukkan sebuah bibit kristal yang diambilnya dari salah satu kantong tepak.


“Hah? Kenapa aku tidak terfikir hingga ke sana..?” Dana Setra juga seperti menemukan sesuatu.


“Berarti, mereka ini ternak?” nyaris bersamaan, kedua jagoan beda generasi ini berkesimpulan.


Sunyi. Keduanya kini terdiam dalam kecamuk di kepala masing-masing.


“Aku tahu… kalau benar kristal-kristal ini bagian dari peternakan, berarti benda-benda itu buatan para ahli alkimia. Karena ini buatan, ahli alkimian, tentu ahli lainnya akan tahu bagaimana mengatasinya! Rekan Lou pasti tahu jawabannya!” kini giliran dana Setra yang bersemangat.


“Senior, apakah harus saat ini juga?” Montawiraba hendak protes melihat perubahan mimik wajah seniornya. Dia ingin mengatakan bahwa pulang ke marga adalah hal terpenting saat ini. Tapi ucapan itu berhenti hanya di tenggorokan.


“lalu, kapan lagi?aku bahkan tak akan tahu, apakah aku masih akan hidup sampai purnama ini ataukah tidak?” Dana Setra telah menyelesaikan mantra teleportasinya saat mengatakan hal ini.

__ADS_1


Tangannya segera mencengkeram belakang kerah jubah juniornya..


Sebuah medan energi tercipta di hadapan keduanya. Membuat udara di sekelilingnya seolah terdistorsi. Medan energi itu membentuk sebuah ruang hampa berkekuatan menghisap sangat besar. Menrik keduanya tersedot ke dalam kehampaan dan menghilang!


__ADS_2