
Dari dalam botol giok di tangan kiri Gentayu, perlahan keluar asap hitam perwujudan dari Iblis yang terkurung di dalamnya. Namun, ketika asap hitam itu perlahan hendak membentuk tubuhnya, permata hitam di tangan kanan Gentayu bercahaya terang dan menghisap asap hitam yang tengah berusaha membentuk wujud tersebut.
Diiringi teriakan memilukan, asap hitam itu lenyap terhisap tanpa sisa, kembali terperangkap dalam permata hitam di tangan kanan Gentayu.
Gentayu menyudahi ritual penyegelan dengan melakukan sebuah gerakan jari jemari yang unik terhadap permata hitam. Permata hitam itu bersinar sangat terang sekali lagi, sebelum redup kembali.
Hao Lim, Sakuza, Yumiko dan perempuan tabib tua itu melongo menyaksikan perbuatan Gentayu.
Hao Lim yang menguasai sedikit banyak ritus penyegelan roh sekalipun dibuat takjub. Iblis yang disegel kembali oleh Gentayu jelas merupakan salah satu iblis terkuat yang pernah menjelajah bumi. Namun, Gentayu menyegelnya nyaris tanpa kesulitan berarti.
Bukan karena kekuatan iblis itu yang telah melemah sedemikian jauh karena kekuatannya memang belum berhasil dilepaskan sepenuhnya dari dalam permata hitam. Tapi teknik yang digunakan Gentayu-lah yang membuat Hao Lim terpukau.
Dia mengenali teknik tersebut adalah teknik lanjutan dari ilmu penyegelan roh yang dikuasai sektenya. Sempat terpikir oleh Hao Lim bahwa ilmu itu diperoleh Gentayu dari salah satu tetua sektenya. Namun dugaan itu ditepisnya mengingat dirinyalah yang memiliki pencapaian tertinggi dari ilmu penyegelan roh di sekte Naga Merah saat ini.
“Kenapa kalian memandangiku seperti itu?” Gentayu berpaling karena menyadari dirinya diperhatikan oleh keempat perempuan berbeda geerasi itu.
Permata Hitam itu telah lenyap, tersimpan dengan aman di gelang geroboknya.
Hao Lim maju mendekati Gentayu. Memandanginya lekat dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Lalu kembali lagi dari ujung kaki ke ujung kepala.
__ADS_1
Gentayu menjadi salah tingkah dibuatnya. Diapun ikut memeriksa kondisi badannya barangkali ada hal aneh yang tidak disadarinya. Tapi semuanya normal-normal saja, menurutnya.
“Itu.. bukankah itu jurus ‘Lima Jari Paku Dewa’? darimana kau mempelajarinya?” Hao Lim tidak menahan lagi rasa penasarannya.
“Oh, itu.. itu jurus yang baru kupelajari. Baru saja..” Jawab Gentayu. Jawabannya itu kemudian menimbulkan kerutan lain di kening Hao Lim dan tiga perempuan di belakangnya.
Gentayu sebenarnya berkata jujur. Jurus itu memang baru saja dipelajarinya. Anjani-lah yang membimbingnya. Suara perempuan itu terus menerus memberikan instruksi di telinga Gentayu. Tentu saja hanya dirinya yang dapat mendengar suara Anjani.
Sekalipun begitu, Hao Lim, Sakuza dan Yumiko sekaligus tabib tua sama-sama tidak bisa mempercayai penuturan gentayu tentang kata-kata ‘baru saja’ yang diucapkannya. Karena mereka berempat telah menunggui tubuh Gentayu yang tak sadarkan diri selama dua hari. Dan tak ada hal aneh apapun terjadi selama dua hari itu selain keluarnya keringat yang tak lazim sesaat sebelum dirinya bangun.
“Maksudmu,.. kamu mempelajari ilmu itu dalam kondisi pingsanmu?” Hao Lim menegaskan isi fikirannya.
Membenarkan ucapan Gentayu, mereka segera melesat kembali ke arah benteng Kerajaan, meninggalkan tanah lapang di tepian sungai yang telah mereka tinggali selama dua hari lamanya.
Hujan turun tak lama setelah mereka meninggalkan tempat tersebut.
Tak ada yang menyadari, bahwa tidak terlalu jauh dari tempat tersebut, tepatnya dari tempat tubuh Karang Setan terkapar dan mulai membusuk, sesosok perempuan berjubah merah dan tiga pengawalnya mengamati gerak-gerik Gentayu sejak siuman.
Mereka memang tiba di tempat tersebut belum lama. Energi iblis yang tersegel dan sempat keluar itulah yang mengundang kehadiran mereka ke tempat itu.
__ADS_1
“Tak Kusangka, di tanah Dipantara ini ada orang yang memiliki kekuatan setinggi pemuda itu. Menarik! ” Sosok perempuan itu beserta pengawal-pengawalnya lenyap begitu saja setelah itu.
Nb.
Chapter pembuka, sedikit singkat sih ya..
Maafkan yah para pembaca JBBK semuanya.
Kurang lebih empat hari saya tidak rilis update karena kondisi sedang tidak memungkinkan. Saya harus mengistirahatkan diri karena kondisi badan menunjukkan kelelahan. Memang kemarin sedang banyak deadline juga.
Pesan saya: di tengah Pandemi yang semakin menggila ini, kita tidak boleh lengah.
Perbanyak istirahat dan minum air hangat. Biasakan pola hidup sehat agar imun tubuh menguat.
Hindari begadang, karena begadang terbukti sangat cepat menurunkan imun tubuh. Untuk yang terpaksa bekerja malam, jangan lupa asupan gizinya dicukupi. Setidaknya, makanlah tepat waktu.
Terus dukung kisah Jaga Buana (Bangkitnya Kegelapan) ini yaa..
Kalau Saya tak rilis, bukan berarti saya menghilang atau berhenti. Tapi sekedar melepas lelah saja.
__ADS_1
Semoga, kalian tidak lelah mendukung author..