
“Lalu, bagaimana cara memanggil atau mendatangkan pesaingmu itu agar bisa datang kemari?” Tanya Gentayu, membuat banaspati dalam wujud asap itu mengernyitkan kening.
“Aaa.. apa? Mengundangnya? Untuk apa?” Jayud bertanya balik. Mencurigai maksud tersembunyi dari pertanyaan Gentayu yang tak lazim. Tapi, dia benar-benar tak bisa menebaknya.
“Lah,.. bukankah engkau mengatakan bahwa sainganmu akan menghapuskan keluargamu kalau kau pulang tanpa kekuatanmu? Bukan begitu?” Gentayu menjawab dengan enteng, membuat Jayud tak memiliki alasan untuk tidak menjawabnya.
“Ini.. ini..” katanya terlihat ragu.
“Kenapa? Apakah pesaingmu itu begitu menakutkan bagimu?” tanya Gentayu.
Jayud hanya menggeleng pelan.
Makhluk asap itu menatap lekat Gentayu. Walau tak terlihat bentuk mata dan ekspresi wajahnya, Gentayu dapat merasakan tatapan tajam itu.
‘Tampaknya makhluk ini cukup cerdas. Dia sedang berusaha membaca arah fikiranku’ Gentayu menyadari, Jayud tengah berusaha menebak fikirannya.
“Kalau kuberitahu cara memanggil bangsaku, apakah engkau mau berjanji untuk tidak memusnahkan mereka?” kata Jayud penuh ragu.
“Tergantung. Selama mereka tidak membahayakanku maka aku akan membiarkan mereka. Tapi jika mereka membahayakanku, maka itu yang akan aku lakukan..” Jawab Gentayu, menatap balik kepada makhluk asap tersebut.
Sedikit ragu, tapi makhluk asap itu akhirnya memberitahukan sebuah cara memanggil bangsa banaspati. Gentayu mengangguk faham, senyum anehnya kembali terlihat walau hanya sekilas.
“Lalu, siapa nama pesaingmu itu?” tanya Gentayu selanjutnya setelah mengulangi yang diajarkan Jayud.
“Namanya Koncor. Eh, apa yang tuan lakukan?” Jayud segera menyadari Gentayu bukan sedang mengulangi ajarannya, tapi tengah mempraktekkannya.
Jayud tampak gugup mengetahui Gentayu telah melakukan pemanggilan Banaspati sebagaimana diajarkannya. Semakin panik, Jayud segera berusaha mencegah.
“Tunggu, tuan..” katanya seraya melayang di dekat muka Gentayu, berusaha mengacaukan prosesi pemanggilan.
“Eh, kenapa?” tanya Gentayu tanpa menghentikan prosesi pemanggilan.
“Tuan tidak bisa melakukan ini sedangkan aku berada di sini.. dia, dia pasti akan memakanku” kata Jayud dengan ekspresi ketakutan.
“Kenapa begitu?” Gentayu bertanya, tapi terlihat tak peduli terhadap Jayud.
__ADS_1
“Karena begitulah seharusnya. Bangsa kami akan memakan sesama kami yang lebih lemah agar bisa tumbuh kuat..” Kali ini, Jayud kembali menjatuhkan diri. Berlutut memohon agar Gentayu menghentikan pemanggilan yang akan mencelakainya.
“Begitukah? Lalu, bagaimana caranya agar bangsa kalian tidak memakan kita?” Kali ini, Gentayu terlihat lebih meyakinkan. Seolah menginginkan Jayud selamat.
Tanpa berfikir lagi, Jayud segera memberikan petunjuk lainnya.
“Itu berarti, saat ini kau tidak bisa selamat dengan cara itu bukan?”
Makhluk asap itu mengangguk sambil menutup mulutnya. Dia baru saja menyadari bahwa dirinya telah terjebak oleh Gentayu.
Jelas, Gentayu sebenarnya ingin membunuhnya. Tak ingin melepaskannya. Namun saat ini pemuda itu tidak memiliki pemahaman apapun tentang bangsa banaspati.
Dengan memanggil Koncor, bukankah itu berarti kematian Jayud telah di depan mata?
“Kau Licik!” Jayud mengumpati Gentayu penuh penyesalan.
Kalimat sumpah serapah hendak disemburkannya pada Gentayu. Namun tiba-tiba udara menjadi sangat panas, dan sesuatu yang menyala terang muncul di tempat tersebut.
Gentayu benar-benar memanggil Koncor! Musuh Jayud.
“Aku harus pergi...!” Jayud berusaha meninggalkan tempat itu, tapi makhluk api yang baru saja tiba itu telah menjulurkan salah satu tangannya dan menangkap Jayud, lalu menghisapnya hanya dalam dua detik berikutnya. Jayud seketika lenyap. Musnah. Tanpa sempat berteriak.
Selain itu, Gentayu juga ingin melihat langsung cara yang dilakukan makhluk api itu memangsa sesamanya, dan berharap, cara yang sama dapat dilakukannya dan bekerja.
“Hreeeeek...!” makhluk api itu bersendawa keras, melontarkan percikan api dari mulutnya ke sekitarnya.
Tapi, makhluk ini sama sekali tidak menyadari keberadaan Gentayu berkat petunjuk dari Jayud.
‘Oh, begitu caranya. Tapi aku tidak akan bisa melakukannya.. itu pasti bakat alami mereka..’
Gentayu memperhatikan semua dalam diam. Lalu dengan cepat segera memanggil ajian Rembulan Menarik Samudera, dan diarahkan pada makhluk api di hadapannya.
Makhluk api itu benar-benar tidak menyadari keberadaan Gentayu, tapi dia merasakan keanehan karena kekuatannya berkurang secara cepat.
“Hrrrrr.. Hrrrr...” makhluk itu menoleh ke kiri dan ke kanan, memeriksa lingkungan sekitarnya.
__ADS_1
Sadar kekuatannya terus berkurang dengan cepat seolah terhisap ke alam lain, Poncor segera melayang mundur.
Nyala api di tubu Koncor tiba-tiba membesar. Berusaha mengusir atau menakuti makhluk apapun yang dikiranya tengah menempel pada dirinya dan menghisap kekuatannya.
Makhluk itu terus berusaha melawan pencurian kekuatan yang dilakukan Gentayu. Tapi seolah semua sia-sia karena dirinya terus melemah.
Tubuh Dewa Api Gentayu ternyata memiliki kemampuan menyerap energi yang begitu menyeramkan ketika dipadukan dengan ilmu ‘Rembulan Menarik Samudera’.
“Hrrr.. Hrrr.. Hrrr...!” Semakin panik karena tak menemukan siapapun di tempat itu, makhluk itu akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.
Gentayu terpaksa menampakkan diri untuk menangkap dan mengunci pergerakan makhluk itu. Melihat Gentayu yang seolah muncul tiba-tiba dari ruang hampa, Koncor, nama makhluk itu menjerit semakin panik.
Namun, saat melihat bahwa Gentayu hanya berada di level pendekar bumi, keganasan makhluk itu muncul
Sama sekali lupa bahwa beberapa saat lalu dia berkeinginan melarikan diri, makhluk itu mulai menyerang Gentayu.
“Akruu Akran.. melumatmuurr...!” raungnya penuh marah.
Banas pati ini tiba-tiba berubah menjadi sebuah bola api raksasa. Sejurus kemudian, mulut di kepalanya terbuka sangat lebar dan sedetik kemudian, mulut yang menganga lebar itu dengan cepat melesat ke arah Gentayu. Berusaha untuk menelan pemuda itu hidup-hidup.
Meskipun kekuatan awalnya setara dengan level pertengahan pendekar langit, makhluk itu terlambat menyadari bahwa kekuatannya tengah dihisap hingga sejak awal tidak melakukan upaya perlawanan apapun. Sekarang, ketika ingin melakukan perlawananpun segalanya telah terlambat.
Kepala besar dengan mulut membuka lebar dan menyala terang itu terlalu cepat meluncur ke arah Gentayu. Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal, makhluk itu baru menyadari bahwa tubuhnya kini terhisap oleh tubuh Gentayu.
Kobaran api di tubuh Koncor sama sekali tidak berpengaruh apapun pada tubuh Gentayu. Namun, pakaian Gentayu yang saat itu baru saja berganti setelah siuman kembali terbakar menjadi abu.
“Lrepaskkkkraan... Groaaarrhhh... Lepraskaaan.... “ Koncor meronta berusaha melepaskan diri dari hisapan tubuh Gentayu yang begitu menakutkan baginya.
Akhirnya, hanya butuh waktu kurang dari empat puluh detik bagi Gentayu untuk menghisap habis kekuatan makhluk tersebut, menyisakan sosok asap yang jatuh lemas di hadapannya.
“Kau.. kau.. bagai.. mana.. bisa?” makhluk itu tidak menyelesaikan kalimatnya, karena Gentayu kini tengah berusaha menghisap dan mencernanya sebagaimana ditunjukkan Koncor ketika memangsa Jayud.
Namun gagal. Upaya Gentayu tidak berhasil menghabisi makhluk asap tersebut.
“Kau.. manusia.. heh.. heh.. berfikir.. heh.. bisa memakan.. heh.. banaspati..? Lucu!” Makhluk asap itu tersenyum mengejek. Tapi senyumnya berubah menjadi kengerian saat Sempati muncul di hadapannya.
__ADS_1
“Tidaaaaaaaakkk!!” Makhluk itu menjerit sengsara saat tubuhnya terhisap masuk ke dalam paruh anakan Garuda tersebut.
Berdecak kagum, Gentayu lalu mengacungkan dua jempol ke arah hewan itu.