JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Sayembara II


__ADS_3

Gentayu yang sejak awal memang tidak tertarik dengan sayembara tersebut diam-diam pergi menyelinap menuju kerumunan penonton.


Dengan penampilannya yang sekarang, keberadaan Gentayu di tengah kerumunan penonton jelas sangat mencolok.


Namun, para penonton lebih tertarik mengamati jalannya pertempuran antar peserta sayembara daripada memperhatikan Gentayu yang malah memilih duduk santai di warung kopi kosong karena ditinggalkan pemiliknya menonton sayembara.


Di sisi pertempuran, dalam waktu kurang dari satu jam kemudian peserta tersisa hanya sebelas orang. Semuanya adalah pendekar di level pendekar langit. Masing-masing mereka telah mengalahkan lebih dari lima orang pesaing.


Di antara lima orang tersebut, Karangwangge dari Mangkalayang dan seorang utusan dari suku samudera tampak mendominasi di antara sembilan orang lainnya. Keduanya telah sama-sama berada di level pendekar langit.


Kekuatan yang akan sulit dicari bandingannya pada generasi mereka saat ini, apalagi di kalangan para pangeran dan putra mahkota kerajaan.


Karangwangge nampak tidak terlalu kesulitan merobohkan empat orang pesaingnya yang masih berada di level pendekar bumi. Menggunakan senjata aneh berbentuk kipas, pemuda itu membabat habis pendekar di sekitarnya tanpa ampun.


Setiap kali kipasnya bergerak menyerang, angin kencang yang menusuk kulit tercipta. Setajam jarum, angin itu akan menembus kulit lawannya tanpa peduli perisai apapun yang digunakan lawannya. Beberapa pusaka bahkan tak berguna berhadapan dengan kipas tersebut. Sedangkan perisai berupa energi, hanya akan berujung sia-sia di hadapan Karangwangge.


Di sisi lainnya, sang putra mahkota dari suku samudra juga tak kalah membahayakan bagi pendekar-pendekar yang menjadi lawannya.


Suku samudra merupakan sebuah suku misterius. Diyakini, suku ini hidup di bibir pantai sepanjang laut selatan. Kemampuan mereka yang paling menakutkan adalah pengendalian terhadap air dan segala benda berbentuk cair!


Namun, pemuda suku samudra di arena ini baru berada di level awal pendekar langit. Kemampuan mengendalikan airnya belum sampai pada tahap pengendalian darah sebagaimana mereka yang telah berada di level puncak pendekar langit.


walaupun begitu, tetap saja kemampuannya cukup menakutkan bagi lawan-lawannya.


Nampaknya, hasil pertarungan antarsesama peserta ini akan mengerucut pada kedua orang pendekar ini. Tarsumo sebagai pendekar dengan elemen air akan dipastikan bertarung melawan Karangwangge sebagai pendekar dengan elemen logam. Keduanya telah sama-sama memastikan posisi sebagai calon-calon juara.


Tentu saja, mata semua bangsawan, para utusan, para peserta maupun penonton tidak memperhatikan seorang peserta yang belum sama sekali bertarung. Dialah Gentayu yang justru asyik menikmati kopi gratisnya di kedai kosong, tak terlalu jauh dari alun-alun.


‘Sepertinya, ini kesempatanku untuk kabur dari sayembara konyol ini..ah, nikmatnya..’ Gentayu akhirnya merebahkan diri di bangku panjang yang biasa diduduki para pelnggan kedai.


Tanpa mempedulikan riuhnya suara sorak sorai penonton di sisinya, Gentayu memejamkan mata. Bukan untuk tidur, tapi dia tengah mengumpulkan energinya karena melihat sepak terjang Manik Baya, semuanya tidak akan semulus kelihatannya.


Tiga kali suara dentuman terdengar dari dalam arena pertempuran di bawah patung raksasa.

__ADS_1


Gentayu sudah menduga, bahwa dentuman itu akibat ledakan energi pertempuran. Namun, hal yang tidak disangkanya adalah salah satu pecahan batuan terbang tinggi dan melesat jatuh ke arahnya.


Dengan sedikit malas, Gentayu menendang balik pecahan batu sebesar kepala tersebut.


Batu itu hancur menjadi debu begitu menyentuh kaki Gentayu.


Bersamaan dengan hancurnya batu di kakinya, teriakan kematian terdengar di antara kerumunan penonton. Ternyata, batu yang mengarah padanya hanyalah salah satu dari banyak batuan yang melayang kemana-mana terkena imbas pertempuran.


Kondisi itu memang membahayakan bagi warga biasa. Gentayu segera melongok ke arah penonton yang histeris. Segera saja, dilihatnya dua mayat digotong keluar dari kerumunan. Salah satunya ternyata bapak tua pemilik kedai.


Pemandangan itu mengusik hati gentayu.


Untuk memperebutkan seorang perempuan, bagaimana nyawa rakyat bisa menjadi korban, meskipun bukan sebuah kesengajaan.


Gentayu lalu melangkah untuk melihat kembali jalannya pertarungan.


Benar dugaannya, batuan itu berasal dari kaki patung yang sedikit rusak akibat terkena senjata dari Tarsumo. Pemuda itu menggunakan sejenis tongkat aneh sebagai senjata. Dalam sekali lihat, Gentayu bisa melihat bahwa senjata itu adalah sebuah pusaka tingkat tinggi.


“Kau bisa tinggalkan tempat ini. Tapi kau akan kehilangan kesempatan bertambah kuat. Kau ikut sayembara, maka kekuatanmu akan tidak terbatas di masa depan.. “


“Maaf, kek. Aku tak tertarik..” Jawab Gentayu ketus. Tapi suara itu hanya didengar kembali oleh telinganya saja. Kemampuan bertelepati hanya dimiliki mereka yang telah berada di level pendekar langit ke atas.


Gentayu hendak melanjutkan kesantaiannya, saat suara berdesing terdengar di telinganya.


‘Whizzzzzz…!!’


Tongkat milik pemuda suku air melesat deras ke arahnya. Tidak dalam posisi lurus menombak, tapi melayang tanpa kendali dan menancap tak jauh dari kakinya.


Jelas tongkat tersebut telah terlepas dari tangan pemiliknya secara paksa.


Gentayu mencabut tongkat itu, bermaksud hendak mengembalikannya pada sang pemilik. Saat tongkat itu dalam genggamannya, aura dingin tiba-tiba mengalir nyaris membekukan jemari dan telapak tangannya.


Tapi hal itu tidak berarti bagi Gentayu. Dia segera melayang di antara penonton dengan tombak air itu di tangannya. Di dalam arena pertarungan, Tarsumo tengah berjuang habis-habisan mempertahankan diri dari Karangwangge.

__ADS_1


Darah telah melumuri seluruh kulitnya. Tampaknya, senjata Karangwangge benar-benar merepotkan untuk dihadapi seseorang dari suku samudra seperti tarsumo. Kemampuan mengendalikan airnya tidak berguna di hadapan Karangwangge yang secara kekuatan jauh di atasnya.


“Saudara.. ! Ini, terimalah tongkatmu..!” suara Gentayu terdengar di antara para penonton.


Sebuah tombak kemudian melesat ke arah Karangwangge, membuat pemuda itu melompat mundur seraya mengumpat ke arah Gentayu.


Tongkat itu mendarat tepat di tangan sang pemilik bersamaan dengan Karangwangge yang melompat mundur.


Tarsumo hendak berterimakasih, namun Karangwangge tidak memberinya kesempatan itu. Serangan kipasnya kembali mengarah kepadanya.


Menghindari pengaruh buruk kipas yang telah menyulitkannya, Tarsumo bergerak mundur menjauh.


Saat itulah, Karangwangge juga mengarahkan serangannya pada Gentayu yang baru saja hendak berbalik untuk kembali menuju kedai.


Gerakan Karangwangge terlalu cepat untuk dihindari oleh pendekar di level pendekar bumi seperti Gentayu.


Mendapatkan serangan mendadak, Gentayu segera bertindak untuk menghindar, namun terlambat. Gerakannya kalah cepat dari Karangwangge.


Sebuah luka goresan empat garis jarum menghiasi lengan kirinya. Membuatnya Gentayu mendengus kesal.


Bagaimana tidak, dirinya sudah sejak awal tidak ingin terlibat justru kini harus terseret.


Tak ingin terkena serangan kedua, Gentayu segera berubah menjadi manusia api dan dengan kecepatan tinggi menabrakkan tubuhnya ke arah karangwangge.


Tipe serangan aneh Gentayu tidak mampu diantisipasi oleh Karangwangge. Sejatanya terlepas. Gentayu meraihnya untuk digunakan, tapi kulit perutnya merasakan dinginnya sebuah belati telah menancap di sana.


Dengan sebuah tendangan Karangwangge yang nyaris tak terlihat, tubuh Gentayu terlempar ke belakang. Pisau belati itu tetap menancap di tubuh Gentayu, sementara kipas andalan karangwangge telah kembali ke tangannya.


Meskipun berhasil memukul mundur dan melukai Gentayu dengan mudah, tapi Karangwangge juga terluka bakar cukup parah karena serangan Gentayu.


Tiga orang dalam arena, dalam kondisi terluka.


Dan Gentayu adalah yang terlemah sekaligus menderita luka paling serius.

__ADS_1


__ADS_2