JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Kediaman Joh Kaiman


__ADS_3

Mereka berjumlah sekitar seratusan orang. Semuanya menunjukkan wajah tidak bersahabat. Senjata di tangan mereka diacung-acungkan ke arah kelompok kecil Gentayu. Mereka bertiga telah terkurung dalam kepungan para lelaki warga kampung tersebut.


Seorang dari mereka, memakai ikat kepala berwarna kuning dengan kalung berliontin permata kuning selebar telapak tangan maju dan tampil ke depan para warga tersebut. Tangan kanannya terangkat sejajar telinga, dan orang-orang yang mengepung kelompok Gentayu itu menjadi lebih tenang.


“Aku, Joh Kaiman, kepala Rombong Dajau di sini. Siapa kalian yang telah lancang memasuki desa kami?” Lelaki berbadan gempal itu berhenti hanya dua meter dari Gentayu dan lainnya. “Maafkan kam..” Gentayu baru hendak bicara ketika tangan Anjani yang berdiri di sampingnya berada di dadanya. Memintanya tidak bicara.


“Tuan Joh, terimalah hormat dan persembahan kami..” Anjani maju dengan kedua tangan di atas kening dalam posisi menegadah. Di dalam kedua telapak tangan gadis cantik tersebut, terdapat sebuah permata berwarna kuning, namun warna kuningnya tidak secerah liontin kalung Joh Kaiman.


“Dari manakah asal Nona bertiga ini?” Sikap Joh Kaiman berubah jadi lebih santai dan bersahabat setelah menerima pemberian dari Anjani. Perubahan sikap itu juga terlihat pada wajah-wajah warga Rombong Dajau yang lain.


Gentayu dan Hao Lim jadi lebih memahami situasinya sekarang. Ternyata, kedatangan orang asing akan dianggap ancaman, kecuali mereka bisa memberikan sesuatu sebagai tanda bersahabat. Dan Anjani ternyata faham benar apa yang harus diberikan kepada Joh Kaiman, menunjukkan bahwa Anjani cukup familiar dengan budaya orang-orang ini.


“Kami dari Lembah Kenangan. Kami murid dari Datuk Alehah, Rajo Narako...” Jawab Anjani, menyebutkan nama asli dari datuk rajo Narako.


“A..a..Apa? Ka.. kalian.. Aih, maafkan kami, maafkan kekurang ajaran kami, Nona. Kami tidak bermaksud menyinggung Marga Api..” Kini justru raut Wajah Joh Kaiman menjadi pucat. Begitu juga para warga yang sesaat lalu telah menurunkan senjata.


“Ini, ini salah faham, Taioko.. mari , mari singgah ke Rombong kami. Maafkan sikap kami Taioko..” Berkali-kali Joh Kaiman membungkukkan badan, menunjukkan kecemasan karena khawatir telah menyinggung Marga Api, asal dari Datuk Rajo Narako atau nama asli yang dikenal di dusun ini sebagai Datuk Alehah.


Setelah mengetahui bahwa nama Datuk Rajo Narako cukup dikenal di tempat ini, Anjani meyakini bahwa mereka berada di wilayah Kerajaan Sindur Kuntala, di benua Lemuria. Dan orang-orang ini, kemungkinan adalah suku Talang Dalam, yang terkenal karena peradaban perkampungan di atas pohon.


Dengan demikian, seharusnya tak terlalu jauh lagi mereka berjalan untuk menemukan lokasi Marga Api berada.


Marga Api, yang merupakan asal leluhur dari Datuk Rajo Narako dan Gentayu adalah klan besar yang cukup diperhitungkan di kerajaan Sindur Kuntala, bahkan cukup dikenal di dataran Benua Lemuria. Termasuk satu dari tujuh klan terkuat di Benua tersebut, dan sekaligus merupakan satu dari tiga kelompok terkuat di Sindur Kuntala.


Sindur Kuntala sendiri adalah sebuah kerajaan kecil di antara delapan kerajaan dan kekaisaran di benua Lemuria. Kerajaan kecil ini menjadi cukup diperhitungkan karena sepanjang sejarahnya, banyak memiliki ksatria-ksatria hebat dan terkenal hingga ke seluruh penjuru benua.


Kepala Rombong lalu mengajak Anjani, Gentayu dan Hao Lim untuk singgah ke rumah besar, paling besar di antara yang lain. Itulah kediaman Joh kaiman, kepala rombong.


Joh Kaiman meminta istrinya untuk menjamu tamunya ini dengan hidangan terbaik yang mereka miliki. Bahkan, beberapa warga datang ke rumah Joh Kaiman guna turut membantu sang istri mempersiapkan hidangan tersebut.

__ADS_1


Selagi sang istri dibantu beberapa warga tengah menyiapkan masakan, Joh Kaiman ditemani dua orang sesepuh dusun asyik berbincang dengan Gentayu, Hao Lim, dan tentu saja Anjani.


“Ada angin apa, sehingga kalian bertiga bisa sampai ke tempat terpencil seperti ini?” Joh Kaiman bertanya sembari menuangkan minuman air nira dari bumbung bambu ke dalam gelas-gelas yang juga terbuat dari bambu dan diletakkan melingkar di hadapan masing-masing peserta jamuan.


“Kami hanya kebetulan lewat, paman. Kami sedang menjalani misi khusus, tapi malah tersesat hingga kemari..” Anjani mengambil inisiatif untuk menjawab pertanyaan kepala kampung. Dia tidak ingin Gentayu salah menjawab dan menimbulkan kesulitan lain, karena perbedaan budaya yang terlalu jauh antara kedua dunia .


Joh kaiman dan dua sesepuh dusun mengangguk seolah memahami pernyataan Anjani. Mereka memang sering mendengar, orang-orang dari tujuh marga sering harus keluar dari wilayah mereka guna menjalankan sebuah misi. Namun kepala rombong jelas tak akan mau mengulik lebih jauh tentang ketiga orang yang mereka percayai berasal dari marga api tersebut.


“Oh ya, kami tadi siang berada di hutan di sisi hulu sana, paman. Apakah paman tahu hutan apa itu?” Gentayu tampaknya masih penasaran dengan hutan yang telah membuatnya menyadari bahwa di dunia ini dirinya termasuk makhluk lemah itu.


“Oh, hutan yang di hulu itu bernama hutan telegu. Termasuk hutan keramat serta terlarang bagi warga kami. Hutan itu cukup misterius, sehingga tidak banyak orang yang pernah ke sana. Tapi kudengar, sejak dua ratus tahun terakhir, kelompok pemburu mendirikan padepokan di sana. Kalau tidak salah, Namanya Telegu Merah. Apakah kalian menemui masalah di sana?” kata kepala rombong.


“Tidak paman. Tidak ada masalah. Kami bahkan baru tahu kalau di dalam hutan itu ada padepokan juga…” Jawab Gentayu.


“Benar. Mereka setahuku termasuk Padepokan aliran hitam. Yang kudengar juga, mereka memperjualbelikan hewan-hewan danyang, terutama pada tingkat di atas pendekar langit. Kristal danyang sangat laku dan harganya sangat tinggi. Kudengar begitu..” Joh Kaiman menyeruput air nira dari gelas bambunya. Sementara Hao Lim tampak memikirkan sesuatu.


“Paman, kenapa kelompok telegu merah termasuk sebagai kelompok aliran hitam?” pertanyaan itu keluar dari mulut Hao Lim. Sejauh ini, dirinya belum mendapatkan gambaran kenapa telegu merah termasuk ke dalam kelompok aliran hitam jika hanya memburu.


Di Dunia ini, ada dua jenis hewan yang kedua jenisnya sama-sama memiliki kekuatan dahsyat. Mereka adalah Danyang dan hewan suci.


Yang pertama disebut sebagai Danyang, yaitu hewan dan manusia yang menjalani lelaku menuju mandiwata atau moksa dengan cara menyerap energi alam. Kadangkala orang menyebut energi ini dengan sebutan energi prana, energi dewa maupun Qi.


Energi alam tersebut tersebar tidak merata di seluruh dunia. Beberapa memadat membentuk benda-benda berkekuatan maha dahsyat. Beberapa harus diserap sedikit demi sedikit, lalu dipadatkan, lalu terbentuk menjadi kristal.


Kristal di tubuh danyang disebut permata siluman. Sedangkan pada tubuh bhakta disebut permata dewa. Kristal inilah yang sebenarnya diburu oleh kelompok semisal telegu merah. Mereka membunuh Danyang dan bhakta untuk tujuan mengambil alih kristal yang dimiliki sebagai sumnber kekuatan.


Berbeda dengan Danyang yang harus menyerap energi alam untuk menjalani lelaku menuju mandiwata, hewan-hewan suci dipercaya hidup abadi secara alami karena memiliki kristal khusus sejak lahir.


Mereka meningkatkan kekuatan dengan mengabdikan diri pada bhakta dan kekuatannya bertambah seiring bertambah kuatnya sang tuan.

__ADS_1


Atau, ada juga hewan suci yang bertambah kuat tanpa harus mengabdi pada bhakta. Yang dilakukan hewan-hewan ini hanyalah bertapa dan bertambah kuat seiring lamanya waktu mereka bertapa.


Manusia atau bhakta sendiri bisa termasuk kelompok aliran hitam maupun putih dilihat dari caranya meningkatkan kekuatan. Mereka yang memiliki kekuatan karena mengambil alih kekuatan makhluk lain, misalnya menelan permata siluman atau permata suci dan permata dewa maka mereka termasuk kelompok aliran hitam.


Sedangkan mereka yang meningkatkan kekuatan dengan cara menyerap energi dewa atau energi alam secara langsung digolongkan sebagai kelompok aliran putih.


Kelompok aliran hitam tidak bisa menggunakan permata dari hewan suci dan para bhakta aliran putih. Mereka bisa menggunakan permata siluman sebagai sarananya. sebaliknya kelompok aliran putih juga tidak bisa menggunakan permata dari siluman ataupun bhakta aliran hitam.


Selain itu, ada sumber kekuatan dahsyat lain selain menyerap energi dewa langsung dari alam maupun dari permata danyang dan hewan suci. Kekuatan itu berasal dari sesuatu bernama Adi Sakti. Wujudnya bisa bermacam-macam, mulai pohon, hewan bahkan berbentuk benda-benda lainnya termasuk batuan.


Gentayu mulai menemukan sebuah titik terang tentang sesuatu yang menggayuti fikirannya sejak bertemu dengan kelinci. Bila kelinci itu masih berada di tingkat pendekar bumi, Itu artinya, permata kelinci itu belum terbentuk, karena pembentukan kristal baru akan dilakukan setelah tingkat pendekar langit ke atas.


“Artinya, orang-orang Telegu Merah itu sangat kuat..” Gentayu berkata lirih.


Setidaknya, dia makin memahami bahwa kekuatan manusia di dunia ini bisa mencapai puluhan kali lipat dari para pendekar di pulau Emas Besar.


Nb.


Rombong\=kampung, dusun.


Taioko\=nona, anak gadis.


Sampai di sini, sepertinya baru ada beberapa orang yang menyadari setting tempat cerita ini berada di mana.


FYI, Silakan dicari saja arti nama lawas dari pulau Swarnadwipa dan Javadwipa. Atau, barangkali ada yang tidak tahu Swarnadwipa itu di mana?😁


Terimakasih buat pembaca yang telah membaca sampai sejauh ini. Kritik, saran, dan pertanyaan silakan saja dituliskan di kolom komentar.


Jangan lupa, dukung terus JBBK dengan cara like, rate bintang 5, dan silahkan Vote bila berkenan. Eh, btw JBBK jadi kayak singkatan komplek industri dan pergudangan yak..?!😂

__ADS_1


Tetap Sehat, Jaga imun, Jaga pola hidup sehat. Pandemi belum berakhir. Salam sehat


__ADS_2