
Sore itu di rumah kepala desa Air Ketuan, demikian nama desa tempat Lestini dan adiknya tinggal, sang kepala desa sedang menerima dua orang sesepuh perguruan Bambu Hijau. Seorang diantaranya adalah wakil ketua perguruan berjuluk ‘Pendekar Pedang Seribu Bambu’ . Lelaki berumur 50an tahun dengan tinggi rata-rata serta rambut yang telah memutih sebagian. Nama aslinya adalah Kardak. Julukan Pedang Seribu Bambu bukanlah karena pendekar ini menggunakan bambu atau lainnya, tapi lebih karena dia berasal dari Padepokan Bambu Hijau, kalaupun julukan ‘Pedang Bambu’ disebabkan senjata pedangnya, tentu itu karena gagang pedangnya yang bercorak mirip bambu namun terbuat dari sebuah material yang sangat kuat namun lembut.
Sedangkan rekannya, adalah seorang pendekar bertubuh sedikit gemuk, berumur lebih tua dengan kepala sedikit botak di bagian depan dan tengah kepalanya. Memiliki nama asli Winamar, dialah sang ‘Pendekar Tongkat Hijau’, guru langsung pertama Kulais sebelum dibimbing oleh guru besar padepokan. Termasuk di antara pendekar terkuat di perguruan Bambu Hijau. Jelas sudah bisa ditebak bahwa kedatangan keduanya ke rumah kepala desa adalah guna mempertanyakan keberadaan pemuda asing yang telah melukai murid berbakat perguruan mereka, Kulais.
Tentu saja kepala desa yang tidak tahu menahu perihal keributan di depan gerbang desa menjadi kebingungan. Dia segera menanyakan hal itu kepada pembantunya, yang juga dijawab dengan gelengan kepala. Kondisi ini membuat keduanya mulai marah. Mereka menganggap kepala desa memang tidak mempedulikan kondisi murid-muridnya yang sedang berjuang mengamankan desanya.
Dalam pandangan para sesepuh tersebut, Kulais yang memimpin misi perguruan untuk membantu desa ini dianggap tidak mendapatkan perlakuan yang layak atas semua jasa dan jerih payahnya yang besar itu. Siang malam mereka menjaga desa ini dan mencegah kematian misterius yang sedang menimpa desa ini agar tidak terus memakan korban. Tapi tentu saja, semua yang disampaikan kedua sesepuh itu hanya berdasarkan klaim serta laporan Kulais dan kelompoknya saja. Bahkan, dalam laporan yang disampaikan Kulais, dia terluka karena menghadapi salah satu anggota aliran hitam yang datang untuk mengacau desa.
Sementara kepala desa hanya diam menunduk tanpa berani membantah. Hatinya terasa dongkol dan ingin membantah semua ucapan kedua sesepuh tersebut.
Bagaimana seorang yang kerjanya cuma mabok dan memeras para pedagang bahkan warga yang hendak keluar-masuk gerbang desa bisa disebut berjasa? Bahkan banyak warga yang sudah terlanjur keluar enggan kembali ke desa bukan saja karena ketakutan menjadi korban kematian misterius tapi juga karena setiap hendak keluar dan masuk desa diharuskan membayar sejumlah uang kepada para penjaga. Semuanya diketahui oleh kepala desa karena memang warga sendiri yang melapor kepadanya. Meskipun demikian, kepala desa hanya bisa mendiamkan saja kelakuan murid-murid perguruan Bambu Hijau tersebut. Tepatnya, dia tidak berdaya.
“Kami mau, pemuda itu mempertanggungjawabkan perbuatannya!” Kata sang wakil ketua, pendekar Pedang Seribu bambu.
Kepala Desa hanya diam tertunduk. Membantah ataupun menjelaskan situasinya hanya akan membuat keduanya marah dan berakhir dengan tidak baik. Kepala Desa itu cukup mengenal tabiat keduanya. Para pendekar sakti dari Bambu Hijau itu terkenal pemarah dan tak segan untuk main tangan bila ada yang berani membantah keduanya. Tabiat yang sepertinya lebih cocok melekat pada karakter pendekar aliran hitam daripada kelompok aliran putih seperti mereka.
Sepertinya, tabiat yang dimiliki Kulais dan rekan-rekannya diturunkan dari para sesepuh ini. Mungkin begitulah yang difikirkan kepala desa, dalam kepasrahannya dia terpaksa menganggukkan kepala mengiyakan. Berharap keduanya segera pergi meninggalkannya.
“Baik, tuan. Bila ada warga kami yang melihatnya berkeliaran di desa ini, pasti akan kami minta menemui tuan berdua untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Saya berjanji, tuan!” hanya itu saja kalimat terucap dari kepala desa. Suasana hening sejenak sebelum tiba-tiba..
‘DUM..! TAR!.! ... DUM.. TAR! ...DUM..! TAR!..’
Tiga kali suara dentuman terdengar di langit sisi utara dari kediaman kepala desa.
Ketiganya yang sedang duduk di gazebo rumah kepala desa segera mengarahkan pandangan ke sumber suara. Di atas langit di mana sumber suara berasal, terlihat warna-warni bubuk merah-putih-hijau membuyar di udara. Itu adalah sebuah sinyal atau pertanda dari sebuah kelompok kepada anggotanya yang lain.
Apakah desa ini sedang diserbu? Ketiganya berfikiran sama melihat hal yang tak biasa itu.
Tak lagi menunggu lebih lama, dua orang pendekar sakti dari padepokan Bambu Hijau itu segera melesat menuju sumber suara. Sedangkan kepala desa segera kembali ke rumahnya untuk mengambil senjatanya dan menyusul kedua pendekar sakti itu menuju hutan dekat desa diikuti pembantunya.
Kedua pendekar sakti dari Padepokan Bambu Hijau telah sampai ke daerah hutan dimana suara dentuman berasal. Berkat Ilmu meringankan tubuh keduanya yang tinggi, mereka bisa sampai dalam waktu singkat.
__ADS_1
Mereka cukup kaget ketika memasuki hutan, mereka disambut suara ledakan-ledakan energi yang seolah tak berhenti bersusulan. Suara ledakan yang tak biasa dari sebuah pertarungan, kecuali pertarungan itu dilakukan oleh para pendekar sakti berilmu tinggi. Pasti sedang terjadi pertarungan hebat di hutan ini, begitulah insting kependekaran mereka mencerna situasi saat itu.
Mereka memeriksanya dan segera menemukan seorang pemuda sedang dikeroyok oleh empat orang pendekar berpakaian hitam di salah satu sudut hutan tak jauh dari sungai.
“Siapa mereka? Apa kau mengenali seragam itu?” Kardak, sang Pendekar Pedang Seribu Bambu bertanya kepada sesepuh di sampingnya. Pendekar Tongkat Hijau yang ditanya hanya menggeleng sebagai jawaban sambil menyipitkan mata.
“Anak muda itu, lihatlah! Bukankah itu jurus-jurus dari Matahari Emas?” Pendekar Tongkat Hijau menunjuk ke arah medan pertarungan.
Dia ternyata mengenali jurus yang digunakan pemuda yang tak lain adalah Gentayu itu sebagai jurus dari padepokan Matahari Emas.
Tentu saja jurus-jurus dari padepokan Matahari Emas tidak asing bagi keduanya. Selain karena para sesepuh dari kedua perguruan seringkali menjalankan berbagai misi bersama yang ditugaskan pihak kerajaan, mereka juga sering bertemu dalam berbagai pertandingan beladiri. Kemunculan sosok semuda itu yang sedang bertarung dan dengan sempurna menguasai jurus-jurus tingkat tinggi dari padepokan Matahari Emas tentu mengejutkan kedua sesepuh tersebut.
“Siapa pemuda ini? Bukankah setelah meninggalnya mendiang Ki Brajawana, hanya Bandu Aji dan Juwana yang penguasaan ilmunya paling tinggi? Bahkan yang kudengar, keduanya belum menguasai jurus-jurus itu secara sempurna?” Kardak yang menjabat sebagai wakil ketua tentu memiliki pengetahuan yang cukup lengkap mengenai perguruan-perguruan di wilayah Lamahtang ini. Seingatnya, sosok pemuda hebat ini belum pernah muncul sebelumnya dari padepokan Matahari Emas.
Mata mereka kemudian makin terfokus pada medan pertarungan. Tampak pertarungan memasuki fase baru. Irama pertarungan menjadi semakin sengit dan semakin cepat.
Keempat lawan Gentayu telah mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Seorang diantaranya menggunakan pedang kembar, sedangkan seorang yang bertubuh gempal menggunakan sejenis jarum-jarum dan diikat dengan tali kecil berbahan logam, pendekar lain yang paling jangkung menggunakan cambuk dari logam bergerigi dengan ujung memiliki bola berduri tajam. Satu orang lagi yang paling kecil di antara keempatnya memilih bertarung dari jarak jauh menggunakan pisau-pisau yang dilemparkan.
Meskipun masih muda, tentu Gentayu memahami bahwa senjata yang dipakai keempat orang lawannya adalah senjata yang dilapisi racun. Salah satu karakter dari orang-orang aliran hitam adalah tidak segan menggunakan cara licik untuk memenangkan pertarungan. Menggunakan racun adalah salah satu yang paling umum dilakukan oleh hampir seluruh kelompok aliran hitam.
Gentayu sendiri tidak ingin mengambil resiko menghadang senjata mereka dengan ilmu Perisai Naga Api miliknya. Sekalipun kemungkinan besar senjata itu tidak akan mampu menembus kulitnya, racun yang dilepaskan dari masing-masing senjata itu tetap bisa mempengaruhinya.
Tiba-tiba Gentayu mengeluarkan pedang yang dikenali oleh kedua sesepuh dari Bambu Hijau sebagai pedang pusaka milik Pendekar Matahari Emas, yaitu pedang Satam. Mereka berdua terus mengamati jalannya pertarungan dari jarak aman dan terlindung.
“Pedang itu.. Pedang Satam! Sepertinya, pemuda ini mewarisi semua kemampuan Brajawana. Sekarang bagi kita tidak terlalu penting siapa pemuda ini dan kenapa kita tidak pernah mendengar kiprahnya. Yang jelas, ketika orang-orang Matahari Emas bertarung dengan serius seperti ini, pasti lawan yang dihadapinya adalah anggota kelompok aliran hitam!” Winamar, sang pendekar Tongkat Hijau memberi pendapat.
“Aku sependapat, kakang. Jadi, mari kita bantu anak muda itu! Sudah cukup lama otot-ototku kurang olahraga..” Kardak sang wakil ketua menjadi bersemangat.
“Tunggu!” tiba-tiba pendekar Tongkat Hijau memberi isyarat agar rekannya menahan diri untuk terlibat dalam pertarungan terlebih dahulu.
Terlihat dua orang wanita muncul dari balik rerimbunan semak di seberang arena pertarungan yang menghancurkan bagian hutan itu. Mereka langsung terlibat dalam pertarungan dan segera berbagi lawan. Dua orang, yaitu pendekar dengan pedang kembar dan yang menggunakan pisau lempar tetap menghadapi Gentayu. Sedangkan sisanya menghadapi masing-masing satu lawan lainnya.
__ADS_1
“Siapa mereka? Sepertinya mereka orang asing. Apa kita akan tetap membantu?” Pendekar tongkat hijau meminta pendapat Kardak. Sekalipun dirinya lebih senior, namun dia tetap harus meminta persetujuan Kardak karena posisinya sebagai wakil ketua.
“Aku akan tetap mengambil satu lawan pemuda itu, kakang bantulah kedua wanita itu..!” Kardak segera melompat ke tengah arena pertarungan diikuti Winamar di belakangnya. Dia langsung menerjang pendekar yang menggunakan pisau terbang yang kebetulan posisinya agak jauh dari tiga rekan lainnya.
Kehadiran kedua sosok sesepuh dari Bambu Hijau itu sempat mengagetkan kedua pihak yang bertarung. Namun tidak lama kemudian pertarungan kembali berlanjut setelah mereka semua melihat kemana keduanya berpihak.
Kini Gentayu hanya harus menghadapi pendekar yang menggunakan pedang kembar.
Awalnya dia cukup kerepotan saat harus menghadapi empat lawan sekaligus sehingga terpaksa menggunakan pedang pusakanya. Dengan hanya menghadapi satu orang lawan, Gentayu tidak butuh waktu terlalu lama untuk membalik keadaan. Dengan kecepatan yang meningkat drastis, pedangnya segera membuat goresan-goresan di kulit lawannya.
Sebenarnya, lawan tarungnya ini memiliki kemampuan yang lumayan baik. Seandainya mereka bertempur sebelum Gentayu bertemu dengan Pendekar Bulan Perak, tentu Gentayu bukanlah lawan yang berarti bagi pendekar pedang kembar ini. Tapi Gentayu saat ini mampu menguasai dengan sempurna jurus Matahari Emas, Bulan Perak dan Naga Api sekaligus sehingga membuatnya di atas angin.
Luka di tubuh pendekar pedang kembar memang hanya goresan-goresan kecil karena ternyata pendekar ini memiliki sejenis ilmu kebal. Sayangnya, pedang yang digunakan Gentayu bukanlah pedang sembarangan. Pedang yang dibuat dari batu meteor ini secara alami berkhasiat menetralisir racun, dan juga melunturkan pengaruh ilmu hitam lawan termasuk ilmu kebal yang dimiliki selama berasal dari kekuatan hitam.
Pendekar pedang kembar ini mulai frustasi saat tubuhnya terus menerima luka sementara lawannya justru semakin tak tersentuh. Kilatan-kilatan energi pedang kembarnya yang dahsyat berkali-kali melesat dan hanya menghantam ruang kosong.
Tiba-tiba pendekar ini melompat mundur ke belakang. Pedangnya ditancapkan ke tanah dan segera tanah disekitar area pertarungan itu bergetar walaupun tidak terlalu keras. Tindakannya ini ternyata diikuti oleh ketiga rekannya yang juga sama-sama mulai terluka. Mereka berempat berdiri saling membelakangi.
Saat pendekar lain yang membantu Gentayu sepertinya menunggu dengan waspada kejadian selanjutnya, Gentayu justru melakukan hal berbeda. Dengan kecepatan kilat, dia menerobos ‘formasi’ dan mengacaukan entah apapun itu yang sedang dilakukan keempat pendekar dari Kelabang Hitam itu.
Formasi yang baru akan dibentuk keempatnya kembali buyar. Si Pendekar pedang kembar yang menjadi lawannya bahkan menerima tusukan pedang gentayu di bagian perut walaupun sebenarnya tusukan itu masih sempat ditangkis. Sedangkan tiga anggota kelabang hantu lainnya yang menghindari tebasan pedang satam dan dahsyatnya hawa panas dari tubuh Gentayu semuanya terhempas ke semak-semak. Meskipun tidak terluka, namun senjata-senjata semua anggota Kelabang Hantu tertinggal di dekat kaki gentayu yang kini sedang memegang pedangnya dan menekannya lebih dalam ke perut pendekar pedang kembar.
Gentayu menarik pedangnya dengan cepat dari perut lawannya diikuti darah yang muncrat sebelum secepat kilat menebaskannya ke bagian leher lawannya. Leher itu terpenggal rapi dengan kepala seolah tetap ditempatnya. Pendekar anggota kelabang Hantu itu tewas tanpa sempat bersuara.
Ketiga anggota Kelabang Hantu lainya menjadi sedikit kecut. Pendekar Pedang Kembar adalah yang terkuat dari kelima orang yang dikirim mengejar dua wanita yang kini seperti dilindungi oleh tiga orang pendekar asing itu. Sundari, sekalipun dipercaya sebagai pemimpin kelompok tapi dia dipilih hanya karena lebih licik dari yang lainya.
Ketiga sisa kelompok Kelabang Hantu lainnya langsung berdiri dan saling berpandangan. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu.
Tiba-tiba salah satu diantara mereka, yaitu pendekar gempal si ‘jarum beracun’ mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya, namun belum sempat dia melakukan sesuatu dengan benda ditangannya, sebuah pedang hijau bergagang motif bambu telah meluncur dan menancap dan menembus dada kirinya. Ternyata salah satu sesepuh yang membantu Gentayu, yaitu Pendekar pedang bambu berhasil membaca pergerakan bekas lawannya dan menghabisinya. 'Sesuatu' dari tangan pendekar jarum beracun bertubuh gempal itu jatuh meluncur ke bawah kakinya dan...
'Blup!...'
__ADS_1
Suara letupan kecil terdengar saat benda itu akhirnya pecah saat membentur ranting pohon di bawah kakinya.