
Pedang-pedang terbang tersebut bergerak dengan sangat cepat, dan segera menghabisi kawanan perompak yang mencoba melarikan diri.
Kecuali mereka yang memilih laut sebagai jalur pelariannya, semuanya terpenggal dengan cepat oleh pedang terbang itu.
Seorang perempuan muda terlihat menggerakkan dan mengendalikan pedang-pedang tersebut.
Dilihat dari kemampuannya mengendalikan beberapa pedang sekaligus secara bersamaan serta aura yang dipancarkannya, tampaknya perempuan muda itu telah mencapai level di atas pendekar bumi, hanya saja Ryutaro tidak mampu mengukur dan melihat batas kekuatannya.
Tentu saja, karena upaya itu memerlukan kontrol terhadap penggunaan energi daht sebagai dasarnya. Ryutaro sendiri belum mampu melakukan hal serupa.
Sama seperti itu, Ryutaro juga tidak menyangka bahwa upayanya menghabisi para perompak harus mendapat bantuan dari seorang wanita muda pada saat ini.
Sekalipun begitu, mantan panglima itu memilih tidak terlalu memikirkannya dan melanjutkan pembersihan sisa-sisa perompak di atas kapal.
Para perompak itu pasti tidak pernah membayangkan bahwa kedatangan mereka ke desa kecil yang remeh ini akan menjadi neraka bagi mereka. Mengakhiri kisah petualangan dan teror yang mereka tebarkan ke segenap penjuru lautan kekaisaran Hidama.
Dengan bantuan dari perempuan muda misterius tersebut, perompak terakhir berhasil dihabisi hanya dalam waktu tak lebih dari sepuluh menit.
Setelah memastikan bahwa tidak satupun di antara para perompak itu berhasil kabur, perempuan muda itu menarik kembali pedang-pedang terbang miliknyasebelum berjalan dengan tenang menghampiri Ryutaro.
“Tak kusangka, setelah ratusan tahun berlalu akhirnya aku bisa kembali bertemu denganmu, Panglima!” wanita itu memandang Ryutaro sekilas sebelum sibuk menyimpan pedang-pedangnya ke dalam kantong penyimpanannya.
“Aaa... Apa?? K-Kau.. Bagaimana kau mengenaliku? Siapa kau?” Ryutaro terperanjat mengetahui wanita muda itu mengenalinya.
Hal yang membuatnya kehilangan ketenangannya adalah sikap perempuan tersebut yang seolah acuh tak acuh bahkan setelah mengenalnya. Bukankah itu agak berlebihan untuk tidak bersikap hormat sedikitpun kepada seorang panglima?
“Apa?” Perempuan itu bukan saja tidak menjawab pertanyaan Ryutaro, bahkan kini berkacak pinggang dengan dagu terangkat dan mata mendelik meremehkan.
Sikap wanita muda itu berhasil mengikis habis sisa-sisa ketenangan yang masih dipertahankan Ryutaro sesaat lalu.
Bahkan, keringat dingin diikuti firasat buruk menghinggapi fikirannya.
Detik berikutnya, sebuah tamparan tiba-tiba dari perempuan itu mendarat di pipi Ryutaro.
Kerasnya tamparan itu membuat tubuhnya melayang dan berputar tiga kali sebelum menabrak dinding lambung kapal, menyebabkannya jatuh ke air laut di bawahnya.
__ADS_1
Yang membuatnya keheranan adalah bahwa sebelumnya jarak Ryutaro dengan perempuan itu setidaknya lebih dari lima meter. Bagaimana tangan perempuan tersebut bisa mencapainya?
Ryutaro bangkit dari dalam air ketika sebuah nama kemudian muncul di benaknya, dan saat berikutnya lututnya berubah menjadi lemas.
“Ppp- putri.. Nakano?!” Ryutaro segera berlutut saat mulutnya menyebut nama perempuan di hadapannya.
Putri Nakano, adalah salah satu putri kaisar Hidama di masa kejayaan Ryutaro sebagai panglima. Saat masih menjadi panglima, salah satu misi yang diterima Ryutaro adalah memerangi sebuah klan saudagar terkenal
di Hidama.
Klan tersebut terbukti mendanai serangkaian aksi pemberontakan dan upaya penggulingan kekuasaan kaisar, serta bekerjasama dengan kelompok aliran hitam dan penjahat ibukota.
Tanpa diketahui Ryutaro saat itu, putri Nakano ternyata nekad menyamar sebagai salah satu prajurit dalam misinya guna melampiaskan dendam pribadinya terhadap salah satu penerus Klan saudagar itu.
Putri Nakano kepergok setelah terluka dalam pertarungan sengit melawan sosok penerus klan incarannya. Ryutaro berhasil menyelamatkan nyawa putri Nakano setelah membunuh lawannya. Namun, dengan kematian sang penerus klan di tangan Ryutaro, Putri Nakano gagal melampiaskan dendamnya.
Ryutaro sendiri baru menyadari bahwa prajurit yang ditolongnya dan hampir kehilangan nyawa adalah adalah sang Putri Kaisar.
Namun justru sejak itu, kekesalan Putri Nakano pada Ryutaro mulai tumbuh.
Itulah kata-kata terakhir putri Nakano sebelum keduanya berpisah.
Rupanya, kekalahannya terhadap putra mahkota Klan Saudagar itu memunculkan sebuah motivasi baru dalam dirinya. Motivasi untuk menjadi tak terkalahkan.
Sejak saat itu, Putri Nakano menghilang dari istana dan baru muncul kembali setahun kemudian.
Kemunculannya ternyata hanya untuk menantang semua pendekar dan jagoan terkuat di Hidama.
Saat itu, seluruh pendekar dan jagoan di Hidama yang menerima tantangannya berhasil dikalahkan. Hanya Ryutaro seorang yang tidak mau meladeni putri Nakano saat itu, meskipun diyakini bahwa Panglima
tersebut adalah jagoan terkuat di Hidama.
Akhirnya, dengan menyamar sebagai seorang penyusup di istana, putri Nakano berhasil berduel dengan Ryutaro. Namun Nahas, Putri Nakano berhasil dikalahkan dengan telak bersamaan dengan terbongkarnya
identitasnya.
__ADS_1
Sebuah tamparan dari kaisar mendarat di sang putri sebagai akibat perbuatannya saat itu.
Kecewa dengan kekalahannya, obsesi putri Nakano untuk menjadi yang terkuat tidak menjadi surut. Justru kegilaannya pada kekuatan semakin menjadi-jadi. Akhirnya, perempuan itu kembali meninggalkan Istana
untuk kedua kalinya.
Kali ini, tekadnya adalah untuk mengalahkan Ryutaro, dan memberikan sebuah tamparan di wajahnya serupa dengan tamparan dari kaisar yang diterima sang putri. Namun, tak lama kemudian Ryutaro juga menghilang dalam sebuah misi dan tak pernah kembali.
“Baguslah karena kau segera mengenaliku. Berdiri! Tak perlu berlutut! Kau hanya boleh berlutut setelah kita memastikan posisi masing-masing lewat pertarungan. Dan siapapun di antara kita yang kalah, dialah yang harus berlutut. Bersiaplah..!”
Putri Nakano memandang Ryutaro dalam ketidaksenangan, lalu mencabut kembali salah satu pedangnya, siap untuk bertarung.
“Hamba tidak berani!” Ryutaro ternyata tidak bergeming dari tempatnya. Tetap berlutut.
Terlepas dari sejarah yang terus bergulir, perempuan muda di hadapannya tetaplah putri kaisar junjungannya.
Bahkan, saat negara sedang dikuasai oleh pemberontak seperti saat ini, mendukung trah kaisar baginya adalah sebuah Darma. Sebuah keharusan sebegai wujud kesetiaannya sebagai prajurit.
“Baik! Kalau kau tidak ingin bertarung, akui kekalahnmu dan jadilah pengikutku! Tenang, aku tidak lagi tertarik dengan kursi kekuasaan. Jadi aku bisa menjaminmu bahwa aku tidak akan menjadikanmu tameng
kekuasaan..”
Putri Nakano berkata tanpa memandang Ryutaro, sebelum kembali menyarungkan pedangnya.
“Baik. Saya Ryutaro telah mengakui kekalahan atas putri Nakano!. Selanjutnya, saya akan menjadi pengikut... Maaf tuan putri, tunggu sebentar”
Saat hendak mengucapkan sumpah setianya, Ryutaro tiba-tiba teringat bahwa dia pernah menyampaikan sumpah setianya pada Gentayu saat masih berwujud roh. Dia tidak bisa begitu saja memutuskan mengikuti Putri Nakano tanpa persetujuan Gentayu.
“Hmm.. ada apa?” Putri Nakano terlihat mulai kesal.
“Pemuda di sana, adalah tuanku sebelumnya..” Ryutaro menunjuk ke langit, tempat di mana Gentayu mengejar tiga pimpinan perompak, lalu berpaling kembali menghadap Putri Nakano.
“Dia memang telah mengatakan bahwa aku boleh tinggal dan mengabdikan sisa hidupku di sini tanpa harus mengikutinya. Tapi yang mulia, aku adalah ksatria yang berpegang pada prinsip. Aku akan mengikutimu setelah mendapatkan izinya..” Ryutaro berusaha menjelaskan dirinya guna menghindari kesalahpahaman putri Nakano.
“Kau mendapat izinku. Pergilah! Kita bukan tuan dan budak. Kau bebas, tuan Ryu..” Suara Gentayu tiba-tiba terdengar di belakang Ryutaro, mengagetkan baik Ryutaro maupun Putri Nakano.
__ADS_1