JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Akhir Perjalanan


__ADS_3

Kabar kematian Karang Setan segera menyebar ke dalam benteng kerajaan. Berita itu sengaja disebarkan sesegera mungkin oleh para pendekar dari aliansi Bintang Harapan agar melemahkan mental para pendukung aliansi aliran hitam. Di sisi sebaliknya, Para prajurit aliansi dari tiga kadipaten menjadi lebih bersemangat setelah mendengar berita tersebut. Bagaimanapun, nama Karang Setan adalah momok bagi seluruh pendekar.


Hingga siang hari, para prajurit aliansi tiga kadipaten terus bergerak menyapu sisa-sisa pasukan Lamahtang di barak-barak dan kediaman para bangsawan. Mereka menghabisi setiap prajurit yang mereka jumpai. Bagi Prajurit Lamahtang yang menyerah, segera diikat dan disekap di dalam rumah-rumah bangsawan sebagai tahanan sembari menunggu keputusan selanjutnya atas nasib mereka.


Dari rumah-rumah para bangsawan tersebut juga, prajurit aliansi tiga kadipaten berhasil menyelamatkan lebih dari tiga ratus orang wanita muda yang disekap dan siap untuk dijual atau dijadikan budak. Ketika ditemukan, sebagian besar mereka tidak memiliki penutup tubuh sehingga membuat risih para prajurit yang hendak menyelamatkan mereka. Akhirnya, terpaksa mereka melucuti pakaian prajurit Lamahtang yang menjadi tahanan mereka untuk dipakaikan kepada para wanita tersebut.


Beberapa di antara wanita yang disekap itu bahkan ditemukan dalam kondisi mengandung. Dengan tubuh kurus kering dan banyak terdapat bekas luka akibat penyiksaan.


Ternyata bukan hanya itu. Kondisi lebih memprihatinkan kembali ditemukan saat prajurit aliansi membuka pintu-pintu ruang bawah tanah. Di sana, mereka menemukan ratusan orang bekas prajurit pendukung raja Prabu Menang dalam kondisi sangat menyedihkan.


Sebagian prajurit Prabu Menang itu bahkan telah tewas membusuk di tempat itu karena kekurangan makanan dan kondisi sanitasi yang buruk. Mereka yang bertahan hidup, adalah prajurit-prajurit dengan kemampuan di atas rata-rata. Namun tetap saja, saat ini mereka bahkan tidak mampu sekedar untuk r duduk sekalipun saking lemahnya.


Melihat kekejian tersebut, hati para prajurit aliansi menjadi bergolak. Mereka segera bergerak untuk menangkap para bangsawan yang tersisa. Sesuai perintah para pemimpin aliansi, para bangsawan korup dan kejam itu langsung dieksekusi di tempat.


Para istri dari bangsawan tersebut berikut anak-anak mereka dikumpulkan di sebuah bangunan di tengah kota. Beberapa di antara para bangsawan yang mencoba melarikan diri beserta keluarganya langsung dihabisi kecuali anak-anak mereka.


Itu mungkin hukuman yang belum setimpal untuk membalas kekejian dan pengkhianatan mereka. Namun setidaknya, mengurangi jumlah para bangsawan korup dan penjahat tersebut berarti membersihkan kehidupan kerajaan dari duri yang akan menghambat dan merusak pembangunan kembali kerajaan nantinya setelah perang usai.


Mpu Jangger dan Qiao Shen yang menyaksikan Lamahtang telah hampir sepenuhnya jatuh ke tangan pasukan aliansi tiga kadipaten dan Pendekar Bintang Harapan kini tidak lagi bisa berbuat banyak. Ribuan pasukan yang mereka bawa bahkan telah dihabisi hanya oleh dua puluhan orang saja.


Belum lagi melihat kondisi kerajaan yang kacau balau, dengan tumpukan mayat prajurit mereka berserakan di sepanjang jalan, membuat Mpu Jangger dan Qiao Shen tidak berani menampakkan diri terang-terangan.


“Gusti, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kalau Kakek Karang Setan saja bisa dikalahkan, berarti ada pendekar yang lebih sakti berada di balik semua ini” Qiao Shen bertanya kepada Mpu Jangger. Kabar kematian Karang Setan yang mereka dengan dari para prajurit aliansi jelas mengagetkan mereka berdua.


Niat mereka untuk menemui tabib guna mengobati luka Mpu Jangger sirna sudah. Jangankan menemui tabib, menampakkan identitas mereka saja saat ini sudah dipastikan akan membuat mereka dalam masalah besar.


Itulah sebabnya Mpu Jangger dan Qiao Shen meninggalkan kuda mereka sesaat sebelum memasuki pintu gerbang pagi tadi. Merekapun mengganti pakaian dengan pakaian prajurit aliansi yang mereka temukan diantara tumpukan mayat sebelum mencapai tempat ini, tepat di depan bangunan kepatihan yang hancur porak poranda.

__ADS_1


“Hei, Kalian.. cepat bantu yang di sana!”


Tiba-tiba, seorang berpakaian mirip Mpu Jangger dan Qiao Shen berteriak. Teriakan itu tertuju kepada mereka berdua. Dari pakaiannya, sepertinya orang itu adalah seorang tumenggung. Mungkin mengira Mpu Jangger dan Qiao Shen sebagai prajuritnya.


Tanpa berfikir panjang, Qiao Shen yang merasa dilecehkan segera menghantam orang itu menggunakan pukulan tapaknya.


Tumenggung itu terkejut, namun masih sempat menangkis serangan tapak Qiao Shen. Namun fatal akibatnya, pukulan Qiao Shen jelas dilambari oleh racun tingkat tinggi. Tumenggung itu segera menarik kembali tangannya yang kini terlihat membiru sambil meringis kesakitan.


“Ada Penyusup!!!”


Tiba-tiba, terdengar teriakan prajurit lain di belakang Qiao Shen dan Mpu Jangger. Prajurit itu menyaksikan bagaimana orang yang berpakaian sama persis dengannya justru menyerang atasannya. Tidak hanya itu, jelas orang itu berilmu tinggi dilihat dari kekuatannya yang sanggup melukai atasannya dengan sekali pukulan. Penyamaran mereka telah terbongkar.


Tak menunggu lama, empat belas orang prajurit aliansi tiga kadipaten segera mengepung dua petinggi Lamahtang itu. Kekuatan mereka jelas tidak sebanding, bahkan Mpu Jangger sendirian yang dalam kondisi terlukapun pasti mampu mengatasi mereka.


Qiao Shen maju menyambut serangan dari para prajurit itu. Secara kemampuan, mereka hanya sekelas Pendekar tingkat 2, jelas bukan tandingan senopati Lamahtang tersebut. Namun mereka tetap merangsek maju dengan senjata masing-masing.


Dua orang prajurit langsung roboh saat Qiao Shen menghentakkan kakinya ke tanah, menimbulkan gelombang kejut pada permukaan bumi yang mereka pijak.


Masing-masing dengan sebuah bekas tapak menghitam di dada mereka.


Prajurit yang lain menjadi ragu untuk bertindak, namun saat itulah sebuah anak panah melesat ke arah Qiao Shen.


Qiao Shen dengan sangat gesit justru menangkap anak panah tersebut menggunakan giginya sambil bersalto ke udara, karena ternyata anak panah tersebut datang tidak sendirian. Ada lebih dari sepuluh anak panah lainnya yang menyusul. Sayangnya, Qiao Shen terlambat menyadari sesuatu.


‘DHAR’!!


Batang anak panah di mulut Qiao Shen meledak. Menimbulkan kobaran api yang membakar muka Qiao Shen dan jelas menghancurkan gigi dan tentu saja berikut rongga mulut pendekar muda berbakat aliran hitam itu. Disusul puluhan anak panah berikutnya yang juga menancap di sekujur tubuh Qiao Shen. Tak ada yang meleset. Dan semuanya, meledak!

__ADS_1


‘DHAR’!!


‘DHAR’!!


‘DHAR’!!


Bau daging gosong menyeruak ke sekeliling bersamaan dengan tubuh Qiao Shen yang roboh.


Mpu Jangger jelas ingin mengumpati kecerobohan bawahannya itu, namun diurungkannya. Bukankah dia juga melakukan kecerobohan yang sama sehingga mengalami luka tertembus panah saat ini?


Putik Embun, sang Pendekar Panah Api muncul dengan senyum merekah. Wajahnya sudah tidak lagi ditutupi oleh cadar hitam. Rambutnya yang mulai memutih tersanggul rapi, manmpilkan sisa-sisa kecantikannya di masa lalu. Wanita itu berjalan mendekat ke arah para prajurit, menatap tajam ke arah Mpu Jangger. Jarak mereka hanya sekitar dua puluhan meter.


“Hah?! Mpu Jangger! Pengecut macam apa yang mebiarkan anak buahnya terbantai dan dia melarikan diri dengan menyamar? Cuih!” Katanya meludah sambil merentangkan busur panahnya, siap menembak.


“Kurang ajar! Jadi kau salah satu dari mereka yang menghabisi prajuritku, kau harus membayarnya sekarang juga??!”Mpu Jangger menatap geram ke arah Putik Embun. Bahkan lelaki tua ini lupa kalau dirinya tengah terluka. Darah dari bekas luka yang entah mengapa tidak juga bisa berhenti mengucur keluar itu mengalir semakin deras saat Mpu Jangger marah.


Tatapannya yang semula kabur akibat kehilangan banyak darah, kini seolah kembali terang. Tapi, tubuh tuanya tak bisa dibohongi. Akhirnya, setelah mengeluarkan kata ancamannya pada Putik Embun, tubuh Mpu Jangger limbung dan roboh ke tanah.


Sempat terlihat aura panas api keluar dari tubuhnya sesaat setelah ancamannya, namun aura panas itu kembali padam seiring tubuhnya roboh ke tanah.


“Jangan ada yang mendekat!!” Diah Rangi muncul kemudian, memperingatkan para prajurit yang ingin mendekat untuk memastikan kematiannya.


Lalu dia memberi aba-aba kepada Putik Embun untuk segera melepaskan panahnya.


‘Jleb!’


Panah itu menancap tepat di leher pendekar tua itu. Di atas tanah.

__ADS_1


“Semuanya Tiarap!!!” Teriak Putik Embun dan Diah Rangi Serentak sedetik kemudian.


Bersamaan dengan teriakan itu, dari tubuh Mpu Jangger sebuah sinar kebiruan membola semakin besar, lalu meledak beriringan dengan ledakan anak panah yang menancap di leher Mpu Jangger.


__ADS_2