JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Pendekar Misterius dan Anak Kecil


__ADS_3

Gentayu akhirnya meninggalkan gerbang desa 7 Tirai. Desa kecil yang merupakan kamuflase dari Sekte Naga Merah. Lembah itu ternyata bernama Lembah Tujuh Curup, sudah termasuk wilayah Kerajaan Lambah Barapi, tapi tidak terlalu jauh dari wilayah perbatasan dengan Lamahtang. Pulau Emas Besar memang hanya dikuasai oleh tiga kerajaan besar saja saat ini. Kerajaan Lamahtang menguasai sisi selatan dan timur, Lambah Barapi menguasai sisi tengah dan barat, sedangkan wilayah Utara hingga ujung pulau dikuasai penuh oleh Kerajaan Baharus.


Menurut hitungan dunia normal, Gentayu hanya menghabiskan waktu sebulan bersama Sekte Naga Merah. Menjadi guru bagi para murid dan anggota sekte selain para tetua, juga menjadi murid sekte karena mempelajari ilmu dan seluk beluk roh. Namun dalam kenyataannya, sebulan bagi Sekte Naga Merah bersama Gentayu senilai dengan lebih dari dua tahun. Semua berkat kehadiran Batu Buana atau Batu Bulan Perak dengan dunia tepi danaunya.


Salah satu pencapaian besar Gentayu selama sebulan di sekte tersebut adalah berhasil menempatkan Ryu di salah satu senjata rampasan dari Kelabang Hantu untuk menggantikan sementara pedang Satam yang dirampas oleh Karang Setan. Pedang kembar kini memiliki kekuatan setara pusaka tingkat tinggi.


Setelah berjalan cukup santai seharian penuh karena memang sudah lama sejak terakhir kali dia menikmati hidup tenangnya, Gentayu akhirnya tiba di sebuah perkampungan kecil. Sepintas, kampung ini terlihat biasa saja. Namun saat Gentayu memasukinya, inderanya yang terlatih dengan baik menangkap sesuatu yang ganjil dengan Kampung ini. Selain penduduknya yang amat sedikit, sepertinya, jumlah rumah yang berdiri di kampung ini lebih banyak daripada jumlah manusianya.


Gentayu ingin mengabaikan begitu saja suasana janggal tersebut dan bermaksud segera pergi dari sana. Bagaimanapun, dirinya masih sangat disibukkan untuk urusan dengan kelompok aliran hitam. Meskipun tidak sedang buru-buru, namun jelas Gentayu tidak ingin menambah urusan yang akan menyita waktu dan tenaganya. Dia berfikir bahwa menemukan penginapan sebelum matahari terbenam adalah pilihan yang tepat saat ini untuk mengistirahatkan diri. Sayangnya, keinginan Gentayu sepertinya akan sulit terwujud saat ini. Setidaknya, tidak setelah seorang lelaki tegap dengan topi caping lebar menghadang perjalannya.


“Maaf, Kisanak. Maafkan saya. Saya tahu kisanak sedang terburu-buru. Tapi, bisakah saya minta tolong agar kisanak pergi membawa anak ini?” Lelaki yang tiba-tiba menghadangnya itu menyerahkan begitu saja seorang anak kecil berusia sekitar lima tahunan tanpa menunggu persetujuan Gentayu.


Berkali-kali dengan wajah cemas lelaki itu tampak menoleh ke belakang. Seperti ada hantu yang sedang mengejarnya.


“Maaf tuan, apa yang sedang terjadi?” Gentayu menanyakan alasan lelaki misterius itu membawa sang bocah.


“Pergilah!” Lelaki itu berseru kepada Gentayu. Tidak menjawab, melainkan menghunus senjata yang sedari tadi tersampir begitu saja dipunggungnya.


Senjata tersebut berupa sebuah tombak dengan salah satu ujungnya berupa pedang dan sisi lainnya berbentuk layaknya tombak biasa bermata perak mengkilap. Lelaki itu segera berbalik memunggungi Gentayu dan bocah lelaki yang tadi dititipkannya agar segera dibawanya pergi dari tempat itu. Sikapnya menjadi sangat waspada.

__ADS_1


Gentayu sendiri belum bisa memastikan apakah harus menuruti lelaki tersebut ataukah tetap berada di tempat itu. Gentayu sama sekali tidak bisa membaca dan mengukur tingkat kekuatan lelaki misterius ini. Hanya ada dua kemungkinan yang dapat dijadikan penjelasan, lelaki ini lebih kuat darinya dan sengaja menyembunyikan kekuatannya atau sebaliknya benar-benar lemah sehingga kekuatannya tidak terpancar dari tubuhnya.


Apapun itu, Gentayu memilih membawa bocah tersebut menyingkir saja dari tempat tersebut. Tidak perlu terlalu jauh, karena dilihat situasinya lelaki ini akan kerepotan menghadapi lawannya. Menolong orang ini sepertinya tidaklah buruk karena dia yakin bahwa lelaki tersebut bukanlah sosok yang berbahaya. Setidaknya bukan dari aliran hitam.


Lelaki itu menggenggam erat batang tombaknya. Menoleh sebentar ke arah Gentayu sebelum melompat dan melesatkan tombaknya ke arah pohon sungkai tak terlalu jauh dari posisinya. Gentayu yang menyaksikan aksi lelaki tersebut terkejut saat melihat ada darah menyembur dari pohon sungkai tersebut saat mata tombak berbentuk pedang mengenai tanah di yang tertutup bayangan pohon. Sadarlah Gentayu, bahwa orang tersebut bukanlah pendekar sembarangan dan dipastikan lebih kuat darinya.


Dari bayangan pohon yang menyemburkan darah tersebut, muncul sesosok berjubah hitam yang kini memegangi dadanya yang telah tertembus tombak lelaki misterius. Tombak tersebut terlihat tercabut dengan kasar dan melesat kembali pada pemiliknya seolah memiliki fikirannya sendiri. Sosok berjubah hitam itu menyeringai, menunjukkan gigi-gigi dan mulutnya yang telah dipenuhi darah segar lalu segera diludahkannya.


Sosok berjubah hitam itu membusungkan dada dan menyapukan tangan kanannya pada lukanya. Ajaib! Lubang luka di dadanya akibat tertembus tombak tersebut segera menutup seolah tidak pernah terluka. Hanya ada sisa basah bekas darah yang warnanya tampak menyatu dengan hitam warna jubahnya.


Lelaki bercaping lebar tidak menunggu lebih lama lagi sebelum melemparkan tombaknya keudara dan tangannya membentuk formasi tertentu, lalu dalam kecepatan yang sulit diikuti mata tubuhnya telah berpindah ke belakang sosok berjubah hitam.


Sayangnya pukulan dan tendangan itu tidak cukup untuk melumpuhkan sosok berjubah tersebut. Namun memang sepertinya itu hanyalah serangan pembuka dari lelaki bertopi caping tersebut. Sebelum tubuh sosok berjubah tersebut menyentuh tanah, tombak lelaki bercaping lebar telah mendahului menembus leher lawannya.


Darah muncrat dan mengucur membasahi bumi. Kepala pemiliknya hampir putus menyisakan urat sebelah kiri dan sedikit lapisan kulit leher yang masih menyatukan kepala itu dengan badannya. Tubuh itu ambruk ke tanah dan tak lagi bergerak.


Sayangnya, hal itu hanya berlangsung tidak lebih dari lima detik. Tubuh yang seharusnya sudah kehilangan nyawa itu kembali bangkit bahkan dengan kepala yang tidak lagi berada di tempatnya! Sosok itu kembali membusungkan dadanya dan menyapukan tangannya pada sisa kulit dan urat leher yang masih menggantungi kepalanya agar tidak menggelinding.


Lagi –lagi, hal yang mustahil dan tak masuk akal terjadi!

__ADS_1


Darah yang telah bersimbah di tanah seolah tersedot kembali masuk ke tubuh sosok berjubah hitam melalui luka tebasan leher, sedangkan luka itu sendiri segera pulih seperti sediakala seolah tidak pernah hampir putus!


‘Rawa Rontek!’ gumam Gentayu yang menyaksikan sosok jubah hitam dua kali pulih dari luka yang seharusnya menewaskannya.


Dia mengenali ilmu ini karena di Sekte Naga Merah, Matriark Lim menceritakan bahwa orang tuanya tewas di tangan pemilik ilmu ini. Ilmu rawa rontek adalah ilmu yang membuat pemiliknya tidak akan mati meskipun dipenggal sekalipun selama masih ada setetes darahnya menempel di bumi.


“Hahahaha... Bukankah kau sudah pernah mendengar tentang diriku??Aku tidak akan bisa mati! Sebaiknya, kau serahkan saja anak itu padaku! Mungkin aku akan mengampunimu bahkan aku bisa memberimu posisi terhormat kalau kau bersedia bergabung bersama kami!” Jubah hitam merasa di atas angin saat melihat lelaki bercaping besar sepertinya mulai kesal.


Lelaki bercaping besar tidak menjawab, dia melakukan gerakan sapuan kaki melingkar di atas tanah sebelum menghentakkan kakinya dengan cukup keras.


‘Dugh!’


Tanah di sekitar tempat itu tiba-tiba bergetar hebat setelahnya. Lalu mendadak sebuah rekahan besar muncul dan menelan sosok berjubah hitam ke dalamnya sebelum menutup kembali. Tapi, dari tanah menangkup yang menelan si Jubah Hitam, sebuah ledakan tercipta menghamburkan material tanah ke udara bersama sosok jubah hitam bersamanya.


‘akan sangat sulit membunuh orang ini. Tapi bukan berarti orang ini tidak akan mati!’ dari tempatnya berdiri menyaksikan pertarungan, Gentayu memutar otaknya dan tiba-tiba dia mendapatkan sebuah ide.


Gentayu segera melompat ke arah lelaki berjubah hitam saat sosok tersebut hendak melakukan serangan balasannya. Bagaimanapun, sejauh ini si jubah hitam belum membalas sekalipun serangan pedekar bercaping besar.


Sosok berjubah hitam, mundur dua langkah saat Gentayu tiba-tiba menghadangnya dengan tendangan udara mengarah ke wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2