
Prajurit itu adalah salah satu anggota prajurit penjaga gerbang istana. Prajurit penjaga gerbang istana sendiri merupakan salah satu bagian dari divisi pasukan pengawal raja, dipimpin oleh seorang senopati bernama Tiyung Lakitan. Tiyung Lakitan sendiri termasuk senopati paling setia yang dimiliki Prabu Menang saat ini selain beberapa senopati lain dan tentu saja, panglima Wiratama.
“Sembah dan hormat hamba, paduka raja dan tuanku panglima. Maafkan kelancangan hamba menyela pertemuan yang mulia. Hamba melaporkan, bahwa seorang teliksandi kerajaan barusan tiba di gerbang istana hendak melapor kepada tuanku panglima dan yang mulia raja. Sayangnya dia datang dalam kondisi terluka parah dan saat ini sedang ditangani oleh para tabib istana. Mohon berkenan yang mulia raja dan tuanku panglima menerima pesan ini” Prajurit itu melaporkan hal penting yang sedang terjadi hingga harus menghadap rajanya langsung. Dalam posisi berlutut, prajurit itu mengulurkan sebuah gulungan daun lontar yang memiliki noda darah hampir kering di salah satu sisinya kepada sang raja Prabu Menang.
Prabu menang menerima gulungan daun lontar itu dengan kening berkerut.
“Terimakasih, prajurit. Kau boleh pergi..” titah sang raja selanjutnya.
Prajurit itu menghaturkan sembah penghormatan kepada baginda raja dan panglima Wiratama, kemudian mundur beberapa langkah dalam posisi tetap berlutut sebelum berbalik dan berdiri meninggalkan ruangan pertemuan itu.
Prabu Menang segera membuka gulungan tersebut dan membaca isinya. Tampak ekspresi raja itu menjadi tegang, dan semakin tegang saat kembali melipat gulungan lontar itu. Prabu Menang menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan suara berat sebelum menyerahkan gulungan tersebut kepada panglima wiratama untuk dibaca.
Sebagaimana rajanya, ekspresi sang panglima juga menjadi buruk saat selesai membaca isi gulungan tersebut.
Ternyata, gulungan itu adalah sebuah surat curian dari padepokan Rambut Iblis kepada padepokan Kala Merah tentang pembagian tugas mereka dalam menampung kelompok Segoro geni dari pulau Padi Perak. Beberapa waktu lalu, panglima Wiratama memang menugaskan Senopati Benduriang, selaku senopati yang membawahi divisi teliksandi yang pernah dipimpin Gentayu sebagai kaptennya, untuk menyelidiki dan menghimpun informasi tentang kabar pergerakan aliran hitam dari pulau Padi Perak yang dikabarkan memasuki pulau Emas Besar dan berdiam di wilayah kerajaan Lamahtang.
Ternyata, dari laporan itu diketahui bahwa rombongan yang dimaksud itu adalah anggota kelompok Segoro Geni pimpinan Mpu Jangger. Laporan itu juga menyebutkan bahwa Segoro Geni datang atas undangan dari Perguruan Rambut Iblis yang lokasinya diketahui berada di sekitar kaki bukit Seguntang. Dokumen itu ditutup penyampaian rencana Segoro Geni dan Rambut Iblis dibantu oleh beberapa kelompok aliran hitam lainnya untuk menyerbu padepokan Matahari Emas dan beberapa perguruan lain yang jadwal dan rinciannya disebutkan dalam daftar terpisah. Sayangnya, daftar tersebut sepertinya gagal didapatkan.
“Berarti kita sudah mengetahui siapa yang bakal kita hadapi, kakang. Kuharap, setelah berhasil memadamkan gejolak akibat pemberontakan suku Kahubu, kita bisa mengurus segera kelompok-kelompok aliran hitam ini. Apapun tujuan mereka sehingga bekerjasama, pasti itu akan berdampak buruk bagi kerajaan” Prabu Menang berkata sambil pandangannya menatap jauh keluar jendela aula itu.
__ADS_1
“Hamba setuju yang mulia. Kelompok-kelompok aliran hitam terkenal sulit bersatu dan bekerjasama. Bahkan aku mengetahui, bahwa antarsesama aliran hitam itu sendiri mereka bisa saling bunuh dan saling berperang karena hal sepele. Ketika mereka bersatu, berarti ada hal atau orang kuat yang sengaja mempersatukan mereka entah apapun tujuannya. Masalahnya Yang Mulia, kita tidak tahu apakah kita akan punya waktu untuk mengurus mereka setelah menghancurkan dan memadamkan pemberontakan serta kekacauan dari Suku Kahubu nanti? Maksud hamba, bagaimana bila ternyata mereka bergerak justru saat kita sedang fokus menghadapi Suku Kahubu ini? Atau jangan-jangan mereka telah bergerak tanpa kita ketahui? Bukankah mereka sedang aktif memusnahkan aliran putih pendukung kerajaan? Menurut hamba, keberadaan kelompok dari Segoro Geni ini dan bersatunya aliran hitam dalam satu gerakan, tentu ini bukan suatu kebetulan bukan? Tentu serangkaian kekacauan ini didalangi oleh seseorang! Dan hamba yakin, dia adalah seseorang yang berambisi menggantikan bahkan merebut posisi yang mulia!” Panglima Wiratama akhirnya menyampaikan pandangannya.
Prabu Menang manggut-manggut setuju dengan apa yang dikemukakan panglimanya yang memang jenius ini. Sekarang yang terpenting adalah mengatasi segala kekacauan ini sesegera mungkin.
“Baiklah. Aku mengubah titahku tadi kepadamu, Kakang Wira. Dengarkan titahku, tapi engkau tetap boleh memberikan pendapatmu: Kuminta kita selesaikan urusan suku Kahubu ini dengan jalur tanpa peperangan. Nanti kuminta saja paman Mahapatih untuk mengutus seorang yang hebat dalam diplomasi untuk melakukan negosiasi dengan suku Kahubu. Kita tawarkan kepada mereka sebuah keistimewaan sebagai daerah otonomi khusus. Mereka dipersilahkan menjalankan urusannya sendiri setara dengan raja-raja bawahan, bukan lagi di bawah Kadipaten Bayunggalah. Tentu mereka tidak akan mau menurut begitu saja. Maka kusarankan, minta bantuan pendekar-pendekar sakti dari perguruan sekitar untuk membantu memperkuat pasukan kita mengepung suku Kahubu.
Sedangkan pasukan terbesar kita, posisikan sebagai pasukan siaga di kerajaan. Berjaga-jaga bila ternyata terjadi serangan mendadak, dan entah kenapa aku meyakini hal itu akan terjadi. Kita juga harus menyatukan kekuatan aliran putih segera.....” Sang raja menyampaikan titahnya.
“Baik yang mulia. Tapi perkara mempersatukan aliran putih ini tidak akan mudah yang mulia..” Panglima Wiratama memberikan pendapatnya. “Mereka cukup mengenal sepak terjang kelompok Rambut Iblis ini. Bahkan pasukan kita mungkin akan kesulitan jika harus berhadapan dengan mereka. Belum lagi ditambah dengan kelompok lainnya...”
“Lakukan operasi senyap. Kita hanya perlu menyingkirkan orang terkuat di dalam kelompok-kelompok ini, bukan?” Prabu Menang menjawab keraguan panglimanya.
++++ ++++ +++++ ++++++ +++++++ ++++++ ++++++ +++++
Sementara itu, tiga orang anggota kala merah terlihat memasuki pintu utama markas mereka yang berupa goa-goa batu di tepi sebuah dasar tebing jurang yang menganga. Mereka tampak memapah dua orang rekannya yang terluka parah. Kedatangan mereka segera disambut oleh penjaga pintu utama dan seorang sesepuh padepokan.
“Bagaimana? Apa kalian berhasil menangkap mata-mata itu?” Sesepuh itu menanyakan keberhasilan tugas yang dibebankan kepada mereka berlima seolah tanpa mempedulikan kondisi murid-muridnya yang terluka di hadapannya.
“Maafkan kami, guru Banta. Kami berhasil menyusulnya, dan melukainya cukup parah. Tapi gagal menemukan mayatnya..” Salah satu murid paling senior diantara kelimanya menjawab. Tiba-tiba..
__ADS_1
‘PLAK!’
‘PLAK!’
‘PLAK!”
Satu tamparan masing masing mendarat di pipi ketiganya. Sementara kedua rekannya yang tengah terluka kini telah terbaring di tanah kering tempat itu. Entah apakah mereka masih hidup, atau sudah mati. Para pendekar medis padepokan belum berani mendekat.
“Tidak Berguna! Mengurus teliksandi rendahan saja tidak becus!” Sesepuh yang dipanggil sebagai Guru Banta itu meluapkan amarahnya. Kini, ketiga murid apes tersebut harus menerima tendangan-tendangan yang menyertai sumpah serapah pendekar paruh baya bertubuh kurus tersebut.
Menyedihkan, lima orang murid itu semuanya sekarang benar-benar terkapar. Dua orang terluka karena pertarungan, dan tiga lainnya karena dihajar oleh gurunya sendiri. Para murid lain tidak berani mendekat. Sebagian justru segera berlari meninggalkan tempat itu karena khawatir menjadi sasaran kemarahan guru tersebut juga. Hanya dua orang pendekar medis yang tetap di sana mendampingi guru Banta atau apalah namanya itu.
Lima orang murid tersebut sebelumnya ditugaskan untuk meringkus dua orang murid padepokan yang belakangan diketahui sebagai teliksandi kerajaan. Kedua teliksandi itu terbongkar kedoknya setelah tertangkap tangan menyelinap ke dalam ruangan pribadi ketua padepokan yang saat ini sedang menghadiri pertemuan di markas padepokan Rambut Iblis sekutu mereka. Keduanya berhasil meloloskan diri padepokan setelah berhasil melumpuhkan pendekar yang memergoki aksi mereka beserta pendekar penjaga pintu utama. Mendapati laporan itu, si guru Banta ini kemudian memerintahkan lima orang murid-muridnya yang berada di level Pendekar Madya untuk mengejar dua orang teliksandi tersebut. Sayangnya, perhitungan guru Banta kurang cermat. Meskipun kedua teliksandi tersebut berguru di tempat tersebut sebagai murid pada level pendekar Pemula, namun tentu saja kemampuan sebenarnya jauh di atas itu.
Dalam pertempuran berikutnya di luar markas padepokan, salah satu dari kedua orang teliksandi itu terbunuh, sedangkan seorang linnya berhasil meloloskan diri dengan kondisi luka parah.
“Sekarang jika sampai surat itu sampai ke istana, semuanya rencana akan kacau! Benar-benar akan kacau!” Umpat guru Banta selanjutnya.
Tidak menunggu, guru Banta segera mengambil senjatanya dan menunggangi kuda menuju ke arah timur, ke arah Bukit Seguntang guna menemui ketua mereka sekaligus menceritakan prhal teliksandi istana yang ada di padepokan Kala Merah. Nyawanya bisa melayang jika para anggota koalisi menemui kegagalan hanya karena kecerobohannya membuat bocornya rencana-rencana mereka.
__ADS_1