JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Lei Ziang


__ADS_3

Putri Nakano terperangah.


Untuk sesaat dia kehilangan kendali dirinya sendiri.


‘Pemuda ini.. Bagaimana dia seberuntung ini? Bagaimana senjata dewa itu bisa berakhir di tangannya?’ mata putri Nakano bergerak cepat, seolah tak mempercayai penglihatannya sendiri.


“Mari kita mulai..” Gentayu menyerahkan tombak kristal dan peta di tangannya kepada putri Nakano tanpa beban. Sedikitpun tidak memperhatikan ekspresi wajah dan tanggapan putri Nakano atas sikapnya.


Putri Nakano benar-benar dibuat linglung oleh situasi ini.


“tunggu dulu, tunggu, tunggu..! Mulai apanya? Mulai apa maksudmu?” putri Nakano segera pulih kembali tak lama kemudian.


“Yaaa.. mulai pemulihan kekuatan tuan putri dan dua senior tuan putri. Apalagi?!” Gentayu menjawab dengan enteng.


Putri Nakano menggeleng.


“Bocah! Tidak. Tidak sesederhana itu..” putri Nakano menggeleng dengan wajah masam.


“Mengaktifkan kristal ini tidak segampang yang kamu fikirkan. Butuh energi elemen petir yang besar.... Eh, Petir? Petir? Tunggu, tunggu, tunggu... Petir, ya?! Baiklah! Begini saja.. aku akan ikut bersamamu ke hutan petir besok!” Semangat tiba-tiba melonjak di wajah putri Nakano saat tubuhnya menegang.


Gentayu hanya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sembari nyengir sebelum memasukkan kembali peta dan kristal ke dalam gelang gerobok.


Mereka saling memandang sesaat sebelum putri Nakano mengajak segera kembali ke perkmpungan.


Besok, mereka akan bersama dalam perjalanan menuju hutan petir.


++++ +++ +++


Siang terik membakar bumi saat putri Nakano dan Gentayu akhirnya meninggalkan desa nelayan untuk pergi menuju hutan petir.


Putri Nakano meminta agar Ryutaro dan tabib Mamoto menunggu di desa sekaligus memastikan pemulihan pendekar Hideki dari luka-lukanya.


Dengan demikian, Ryutaro memiliki waktu yang cukup untuk melatih kembali kekuatannya. Sementara tabib Mamoto memaksimalkan upaya penembuhan Hideki selama periode menunggu keduanya kembali.

__ADS_1


Hutan petir adalah wilayah luar klan petir di dunia ini.


Sebenarnya, hampir semua faksi kuat dan berpengaruh di dunia Danyang memiliki apa yang disebut sebagai “Wilayah Luar” ini. Itu mungkin lebih cocok untuk menyamakannya dengan semacam perwakilan usaha dalam kacamata dunia modern sekarang.


Marga Api memiliki Lembah kenangan sebagai wilayah luar mereka. Sementara Marga Tanah menempatkan wilayah luarnya di gurun barat, dan Klan petir memiliki hutan petir di kekaisaran Hidama sebagai wilayah luar mereka.


Wilayah luar, sebanarnya bukanlah bagian dari dunia ini, dalam artian itu adalah ‘ekosistem sistem’ buatan yang mempertahankan sifat-sifat alami dunia Danyang.


Wilayah luar ini, merupakan semacam ruang spasial khusus yang diciptakan oleh kekuatan hebat. Tidak menutup kemungkinan bahwa itu adalah kekuatan milik orang-orang dengan kemampuan dewa.


Wilayah luar ini, lalu ditempatkan di tempat-tempat tertentu di seluruh dunia disesuaikan dengan keadaan.


Karena itu jugalah, wilayah Lembah Kenangan, Hutan Petir, dan titik wilayah luar Marga Tanah di Gurun Barat tidak mungkin ditemukan secara acak oleh manusia biasa.


“Kita tidak bisa menggunakan jenis teleportasi apapun untuk menjangkau wilayah itu. Bahkan, kita juga tidak bisa menggunakan kekuatan energi Daht kita di sana. Sifat aneh petir di sana adalah menekan energi Daht dan segala penyimpangan spasial. Maka, Satu-satunya cara adalah masuk secara normal dengan berjalan kaki”


Putri Nakano tampaknya cukup memahami apa yang disebut hutan petir.


Mereka akhirnya terbang menuju wilayah terdekat hutan petir dan berhenti di luar radius dua kilometer dari hutan.


Aku mendengar, bahwa salah satu putra mahkota sekte besar bernama Naga Timur, pernah dipenjara di sini karena bermaksud menggagalkan pernikahan anak kepala klan dengan mantan kekasihnya.


Sekte Naga Timur, tidak bisa melakukan apapun karena si putra Mahkota hanya dipenjara, tidak dibunuh. Selain itu, kekuatan keduanya juga tidak berbeda jauh. Akhirnya Mereka terpaksa menukar putra mahkota dengan tebusan yang besar kepada klan Petir..” putri Nakano menjelaskan sembari memimpin jalan.


Lalu dia melanjutkan penjelasannya


“Kecuali para petinggi dan tetua Klan, tidak ada seorangpun yang diizinkan masuk. Satu-satunya cara bagi kita sekarang adalah menyusup. Tapi, itu beresiko memancing kemarahan klan Petir. Klan Petir dan Marga Api tidak memiliki dendam di antara keduanya. Tidak baik bagi kita memulai konflik”


“Kita tidak datang untuk berkonflik. Jadi, serahkan hal-hal rumit itu kepadaku. Bila semuanya berjalan tidak sesuai rencana, kita hanya harus menggunakan sedikit trik...” Gentayu bicara dengan penuh percaya diri.


Selang beberapa menit berjalan, mereka akhirnya menemukan titik awal dari hutan petir.


Mata orang biasa, hanya akan melihat tebing gunung batu yang curam. Namun di mata Gentayu, tebing batu tersebut jelas adalah tirai energi raksasa yang melingkupi area sangat luas.

__ADS_1


Area yang dilingkupi tirai energi itulah hutan petir.


Mereka berdua berjalan semakin dekat dengan tebing gunung tersebut. Namun, saat mereka hendak menyentuh tebing tersebut, suara menghardik terdengar di atas kepala mereka.


“Lancang! Siapa yang berani coba-coba memasuki wilayah hutan petir kami tanpa izin?!!” Sosok


berjubah perak melayang turun. Matanya menatap tubuh Gentayu dan putri Nakano penuh selidik.


Sedikit riak listrik petir sesekali muncul di tubuh sosok berjubah perak ini. mirip benang-benang petir yang terlihat jelas.


Gentayu menyadari kekuatan orang dihadapannya tidak lebih lemah darinya. Kemungkinan, orang yang dihadapinya adalah salah satu penanggungjawab di tempat ini.


“Maafkan saya, Senior. Saya tidak bermaksud lancang memasuki hutan petir anda. Klan anda tentu memandang hutan ini sebagai wilayah yang tidak boleh dilanggar siapapun..”


Gentayu berbicara sembari menangkupkan tangannya ke depan, ke arah sosok itu bukannya membungkuk sebagaimana kebiasaan masyarakat Hidama sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain.


Putri Nakano di sampingnya telah membisiki identitas sosok jubah perak ini sebelumnya, bahwa orang ini dari bangsa Huang.


“Nama saya Gentayu. Dari negeri yang jauh Dwpantara. Sementara ini adalah kakak saya, putri Nakano. Kami mohon untuk diizinkan berlatih di dalam hutan petir ini..” Gentayu melangkah maju saat memperkenalkan diri.


Sosok berjubah perak sedikit terkejut mendengar nama putri Nakano disebut. Namun, sosok berjubah perak itu tidak menunjukkan ekspresinya. Hanya tangannya yang sempat menegang sesaat sebelum kembali tenang.


“Oh, jadi adik ini dari Dipantara, Nyonya ini adalah putri kaisar murid dari Sabrang Geni itu? Kalau aku boleh menebak, adik Gentayu ini adalah orang dari Marga Api juga ‘khan?”


Di luar dugaan, ternyata sosok berjubah perak justru menunjukkan perubahan sikap lebih ramah setelah Gentayu memperkenalkan diri.


“Bisa dibilang begitu..” Gentayu tersenyum saat kembali menangkupkan kedua tangannya ke depan.


“Tapi aku bukan Nyonya! Aku Nona!” Sebaliknya, putri Nakano membantah sengit dan memalingkan muka saat gentayu membenarkan pria berjubah perak.


“Hahahaha... ! Adik kecil, Nyonya eh, Nona Nakano. Aku yang tua ini mohon maaf. Namaku Lei Ziang, Pelindung petir di sini. Kebetulan, tuan Sabrang Geni juga adalah guru adikku, Lei You Won. Nona Nakano mungkin memanggilnya Yono. Hahahaha.. Sabrang Geni benar-benar merubah nama adikku..”


Lei Ziang tertawa terbahak-bahak saat mengingat adiknya yang ternyata juga berguru pada Sabrang Geni, ayah Gentayu.

__ADS_1


Sementara Gentayu tersenyum geli mendengar ayahnya mengganti nama adik Lei Ziang, putri Nakano tampak cemberut.


Itu karena ternyata, Sabrang Geni juga memanggil putri Nakano dengan nama “Nak Keno”.


__ADS_2