
Gentayu masih terus bergulingan di rerumputan menahan panas pada lidah dan kerongkongannya yang serasa terbakar.
Pemuda itu tampak sangat tersiksa. Tangannya memegangi kerongkongannya, dengan tubuh terus berkelojotan. Matanya mendelik, mukanya berwarna kemerahan layaknya orang yang dicekik sedangkan keringat sebesar biji-biji jangung membasahi kening dan wajahnya.
“Aaaaaakhhh.... Aakghkhhhhhhh... Hegh....!” Suara erangan disertai tubuh yang terus bergulingan keluar dari mulut Gentayu selama beberapa saat lamanya.
Pada sisi lainnya, Samhuri sang Pendekar Syair Kematian tampak melayang dengan tangan bersedekap di depan dada menyaksikan penderitaan Gentayu. Wajahnya justru tampak tampak puas melihat Gentayu terus mengerang kesakitan.
“Hahahahaha....! Akhirnya aku mempunyai penerus! Ilmu Syair Kematianku akhirnya menemukan penerusnya....! Hahahaha..hahahaha..hahaha....!” Tawanya terdengar membahana terdengar mengerikan bagi pendengarnya.
Andai ada hewan buas di dekat tempat tersebut, pasti hewan itu akan lari terbirit-birit mendengar tawa yang membuat bulu kuduk merinding tersebut.
“Hai anak muda, dengarkanlah:
Dialah Syair, dialah Kematian.
Awalnya adalah lena.
Tengahnya maut.
Puncaknya adalah pahit lidah.
Maka kutitipkan kepadamu asaku.
Akan masa depan syairku.
Maka menjadilah,
Syairku Syair Kematian!”
Bersamaan dengan ucapan pendekar tersebut, Gentayu berhenti mengerang. Rasa sakit dan panas yang dideritanya tiba-tiba menghilang begitu saja. Kemudian Samhuri membacakan sebuah syair :
“*Wahai jiwa-jiwa lemah.
Melangkah tiada arah
__ADS_1
Dalam noda-dosa sejarah tiada sudah
Engkau pongah selaksa gagah
Namun akulah
Akulah Sang penebus darah
Dalam langkah pedang para ksatria
Aku datang dari gelap jiwa durjana
Rembulan kubelah dan Mentari kucacah
Dengan lantunan nada syair berdarah
Maka menjadilah syairku
Syair Kematian*...”
Gentayu mencoba menggerakkan badannya kembali, namun bait-bait syair yang dibacakan pendekar Syair kematian tersebut terus terngiang-ngiang di telinganya seolah telah melekat dan tidak bisa dilupakan. Gentayu merasakan pusing dan mual saat hendak bangkit, dan segera dia memuntahkan seluruh isi perutnya saat itu juga.
“Hoh.. hoh..” suara nafasnya terengah setelah memuntahkan seisi perutnya di atas rerumputan terdengar sangat berat.
Bahkan Ryu yang berwujud roh harus pingsan terkena dampak dari kehadiran Samhuri sang pendekar Syair Kematian. Setelah berhasil mengumpulkan kembali kekuatannya, Gentayu kemudian menghampiri tabib Mo.
“Tuan tabib, anda tidak boleh mati di sini. Masih banyakyang mebutuhkan pertolonganmu... Tuan tabib! Tuan tabib!..” Gentayu mencoba mengoncang-goncangkan tubuh tabib Mo, namun laki-laki itu tampaknya sangat lemah. Bahkan saat diperiksa nadinya, hanya denyut halus yang terasa.
“Ini gawat..” Gentayu segera memutar otaknya.
Dia tidak memahami teknik pengobatan maupun menangani orang-orang yang terluka seperti ini. Tapi dia mengetahui, bahwa pada beberapa kondisi, luka seseorang dapat dibantu untuk dipulihkan dengan mengalirkan tenaga dalam.
Karena ragu, Gentayu segera mengambil kitab pengobatan warisan gurunya dari gelang gerobok dan kembali memasuki dunia tepi danau dalam dimensi batu Bulan Perak untuk mempelajari isi kitab itu. Saat ini, itulah langkah tercepat untuk belajar ilmu pengobatan dalam waktu yang sangat kritis mengingat kondisi tabib Mo yang harus segera diselamatkan.
Tak lama kemudian, dia telah kembali lagi ke hadapan tabib Mo yang masih dalam kondisi pingsan dengan detak jantung sangat lemah.
__ADS_1
Meskipun Gentayu baru sebentar pergi menuju dunia tepi danau di dalam dimensi batu Bulan Perak, namun setidaknya telah berlalu waktu dua hari lamanya menurut waktu di dunia tepi danau.
Segera dibaringkannya tubuh lelaki tua itu dengan posisi telentang menghadap langit. Tangannya tampak membentuk semacam segel tangan dan kemudian mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya pada beberapa titik di seputar dada, bahu dan area cakra mahkota di ubun-ubunnya. Lalu, dibantunya tabib Mo agar duduk. Lalu dari balik punggung tersebut, setelah melakukan gerakan segel tangan lainnya, telunjuknya menotok beberapa titik di sekitar punggung dan kemudian kedua telapak tangannya ditempelkan pada daerah dekat belikat tabib Mo. Tak lama, asap putih tipis nampak keluar dari ubun-ubun tabib Mo.
Tabib Mo, terbatuk sekali sebelum memuntahkan darah kental dari mulutnya.
Setelah berhasil sadar, lelaki itu mengangkat telapak tangannya memberi kode kepada Gentay untuk menyudahi sesi terapinya. Gentayu menurut dan menarik kedua telapak tangannya dari punggung.
“Cukup.. Hah... terima.. kasih.. hah..” tabib Mo mencoba mulai bicara walaupun masih dengan nafas yang terasa berat.
Tabib Mo kemudian berbalik menghadap Gentayu dan tersenyum. Lalu menepuk pundak anak muda tersebut.
“Engkau, pemuda yang berbakat. Aku yakin suatu hari jika masih berumur panjang, akan mendengar namamu di puncak kehebatan para pendekar pulau Emas Besar ini..” Tabib Mo merasa bangga terhadap kemampuan anak muda dihadapannya.
Gentayu hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepada tabib Mo.
Pada dasarnya, yang disampaikan tabib Mo bukanlah pujian, namun sebuah harapan untuk sebuah masa depan. Tentu saja harapan orang tua tersebut adalah sebuah motivasi tersendiri bagi orang-orang muda seperti gentayu sehingga selayaknya berterimakasih karena telah disemangati guna mencapai sesuatu yang tinggi di masa depan.
Mereka kemudian melanjutkan misi mereka untuk menemukan beberapa tanaman obat yang sepertinya tidak bisa dibudidayakan di pekarangan tabib Mo dan hanya tumbuh dalam kondisi yang membutuhkan kondisi lingkungan tertentu seperti bukit ini.
Cukup lama mereka berada di puncak bukit tersebut. Memilah bermacam tanaman obat. Bahkan ada beberapa yang harus diambil dengan cara yang khusus, semisal tidak boleh tersentuh kulit karena akan layu dan hilang khasiatnya, tidak boleh bergoyang daunnya sebelum masuk ke dalam wadah khusus dan sebagainya. Sepertinya tabib Mo tidak sedang secara khusus mencari obat untuk tetua Shou tapi lebih kepada mengumpulkan bekal bahan obat untuk jangka waktu tertentu. Maklum saja, untuk bisa mencapai bukit ini, selalu akan ada bahaya mengintai, sehingga lebih bijak datang sekali untuk kebutuhan berkali-kali.
Setelah selesai memanen tanaman obat di bukit tersebut, dalam perjalanan pulang Gentayu berfikir untuk segera melanjutkan perjalanannya kembali. Bagaimanapun, dia seharusnya hanya singgah sebentar di kota Sei Asin. Dua hari sudah terlalu lama baginya.
“Tuan tabib, berapa lama tetua Shou akan bisa pulih dan melanjutkan perjalanan kembalinya?” Gentayu tiba-tiba menanyakan kondisi tetua Shou yang sedang dirawat tabib Mo saat ini saat mereka mulai menuruni bukit untuk kembali ke rumah. Bukankah mereka berada di sini dan hampir mati dalam rangka menolong tetua Shou?
“Aih.. ini... akupun tak yakin” tabib tua itu menarik nafas panjang
“Lukanya sangat dalam. Dengan usianya yang sudah setua itu, seharusnya butuh lebih dari tiga pekan untuknya bisa bangun dan beraktivitas. Untuk pulih, mungkin butuh waktu lebih lama. Ada apa Gentayu? Apa kau ada keperluan lain sehingga harus segera pergi?” tabib Mo memberikan penjelasan dan menanyakan rencana Gentayu selanjutnya.
Gentayu kemudian menceritakan siapa dirinya, dan hubungannya dengan Ki Brajawana. Kemudian menceritakan tentang kejadian di padepokan Matahari Emas, dan pelariannya hingga bertemu tetua Shou dan berakhir di rumah tabib Mo. Tentu saja dia tidak menceritakan perihal batu Bulan Perak, gelang Gerobok dan gurunya serta sahabat rohnya, Ryu.
“Jadi, Shou telah menitipkan sesuatu kepadamu untuk disampaikan ke sektenya? Itu pasti sesuatu yang sangat penting. Karena dia yakin dirinya mungkin tak akan selamat, maka dia memintamu meneruskan tugasnya. Apapun itu, saranku segeralah berangkat. Shou aman bersamaku. Aku akan berusaha semampuku. Atas nama sahabatku itu, aku minta maaf dan menghaturkan terimakasih atas segala bantuanmu” tabib Mo tiba-tiba memberikan penghormatannya kepada Gentayu.
“Baiklah, kalau begitu saran tuan. Aku mohon pamit. Semoga kita masih akan berjumpa lagi. Sampaikan salamku pada nyonya Mo dan tetua Shou saat beliau telah siuman, tuan” Gentayu memberikan hormat sebelum berbalik dan melesat meninggalkan tabib Mo di tepi hutan di ujung desa.
__ADS_1