JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Saran Seorang Sahabat


__ADS_3

Di sebuah tempat yang jauh, di Lembah Kenangan.


Datuk Rajo Narako yang biasanya selalu dalam posisi meditasi tiba-tiba membuka matanya. Matanya berkilat dan rona wajahnya menunjukkan kemarahan.


Beberapa waktu terakhir, lelaki berusia lebih dari lima ratus tahun dan tercatat dalam legenda dunia pendekar itu kehilangan kontak batin dengan Anjani.


Bagi Datuk Rajo Narako, Anjani adalah penanda terhadap keberadaan dan keadaan salah satu keturunan langsungnya di Dipantara, yaitu Gentayu.


Datu Api saat ini memang menghukum Anjani sekitar tiga puluh tahun lalu (menurut perhitungan di Dunia ini) karena satu kesalahannya, yaitu mempelajari beberapa hal yang hanya boleh dipelajari oleh keluarga inti Marga Api. Padahal posisi Anjani hanyalah sebagai pelayan pada salah satu keluarga inti Marga Api, yaitu orang tua Gentayu.


Anjani akhirnya hanya menjalani hukuman pengasingan setelah Sabrang Geni ayah Gentayu membelanya mati-matian di hadapan dewan petinggi Marga.


Sebenarnya, hukuman yang tertulis bagi pencuri ilmu di Marga Api adalah disamakan dengan penyusup, yaitu hukuman mati. Kendati begitu, nasibnya tidak lebih baik daripada kematian.


Dengan kejam, Datu Buana mengubah wujud gadis itu menjadi trisula dan membuangnya ke wilayah luar milik Marga Api di Dipantara.


Datuk Rajo Narako menerima trisula ini dan ditempatkan menjaga Lembah Kenangan sebelum ditemukan Gentayu melalui beberapa Puzzle yang saling berkaitan yaitu liontin dan lainnya.


Wujud Anjani yang berupa trisula ini kemudian ditanamkan kekuatan spiritual khusus dengan tujuan mudah ditemukan oleh keluarga dan keturunan Rajo Narako di masa depan.


Kekuatan spiritual yg ditanam ini juga memiliki kekuatan deteksi terhadap garis keturunan, sehingga saat bayi Gentayu diletakkan di wilayah ini, Trisula ini juga memberikan sinyal khusus kepada Datuk Rajo Narako.


Sayangnya, saat Rajo Narako bergegas menemui bayi tersebut saat itu, bayi itu sudah diselamtkan dan dibawa orang tua angkat Gentayu dan merawatnya hingga kematiannya.

__ADS_1


Insting pendekar Rajo Narako menyatakan, bahwa keselamatan keturunannya tersebut akan terancam akibat dendam dari Klan Iblis Selatan serta perebutan posisi kepala Marga Api sendiri bila sang bayi bersamanya.


Kekuatannya belum sepenuhnya pulih waktu itu untuk memberikan perlindungan dari orang-orang yang mengejar.


Karena sifat deteksi garis keturunan pada trisula Itulah, meskipun terhalang untuk kembali ke Marga Api karena melemahnya kekuatannya akibat luka pertarungan, namun Rajo Narako tetap dapat menerima informasi yang dibutuhkan nya dari Sabrang keni tentang kondisi Marga Api.


Seperti juga Anjani yang cerdas, Rajo Narako telah menyadari, bahwa proses penyusupan oleh para Bhakta Iblis di dalam beberapa Klan dalam marga api telah berlangsung sangat lama.


Marga Api terdiri dari 5 Klan besar, yaitu Arnageni, Setrageni, Acalageni, Wukirgeni dan Nimnageni. Semua Klan telah tersusupi, kecuali Klan Ancalageni klan Rajo Narako bernaung dan berasal.


Namun, tindakan tegas atas penyusupan itu hanya bisa diambil dan dilakukan oleh Klan bersangkutan sendiri dan kepala Marga sekalipun tidak berwenang.


Para penyusup itu, saat ini telah mencapai posisi-posisi penting dalam struktur Marga.


Orang terkuat dalam klan ini akan sekaligus sebagai kandidat kepala Marga berikutnya.


Karena posisi kuat inilah, upaya penyusupan dirasakan semakin intens beberapa dekade terakhir. Bahkan para penyusup telah merencanakan pembunuhan terhadap Sabrang Geni dan tokoh-tokoh penting klan.


Berkali-kali upaya pembunuhan terhadap garis keturunan Klan Ancalageni juga dilancarkan.


Upaya itu dikemas seolah-olah kecelakaan dan tak sedikit dari upaya itu berhasil digagalkan.


Barulah, setelah mengetahui bahwa Orang Tua Gentayu selaku kandidat kuat untuk menduduki kursi Kepala Marga tidak lagi memiliki anak, ancaman terhadap Klan Rajo Narako perlahan berkurang. Setidaknya, Klan tetap dapat berkembang secara alami.

__ADS_1


Lembah kenangan sendiri, terletak di salah satu gunung keramat di antara barisan pegunungan di pulau Emas Besar. Persisnya berada di wilayah Kerajaan Lambah Barapi. Gunung itu dianggap sebagai wilayah Marga Api di dunia luar.


“Ratusan tahun sudah aku mendiami tempat ini. Menyaksikan bermacam perubahan dunia berikut isinya. Pemulihanku juga sudah sempurna. Seharusnya aku bisa kembali saat ini membawa keturunanku..” itu adalah ucapan Rajo Narako, di hadapan lelaki muda yang memegang kuas melukis di hadapannya.


Nafasnya berat saat mengatakan kata ‘kembali’ karena dirinya bahkan telah berfikir tidak akan bisa kembali. Awalnya, ia merasa bahwa jalannya untuk bisa kembali seperti telah tertutup. Luka yang diderita akibat pertarungannya dengan Mislan Katili ratusan tahun lalu baru benar-benar pulih setahun terakhir.


“Tapi justru saat ini aku kehilangan jejaknya. Aku ragu jika ada manusia atau makhluk buas yang bisa membunuhnya di dunia ini. Kekuatannya telah mencapai puncak. Namun, bukan berarti maut tak akan menghampirinya, bukan?” Rajo Narako yang biasanya tenang kali ini nampak gelisah. Sementara, lelaki muda di hadapannya duduk dengan tenang dengan mata yang fokus menghadap kanvas lukis batunya.


“Kalau aku jadi dirimu, sahabatku.. Aku akan pergi memeriksa nadi hidupnya di pohon kehidupan Klan..” Kata lelaki muda itu memberi saran. Dia tak lain adalah sahabat Rajo Narako dari masa lalu bernama Abul Ardh, sang penguasa elemen tanah dan batu yang berjuang bersamanya melawan Mislan Katili ratusan tahun silam. Bedanya, lelaki yang terlihat senang melukis ini hanyalah ksatria Klan beyed dari Marga Tanah, bukan kepala Marga seperti Rajo Narako sebelumnya.


Pohon kehidupan yang dimaksud Abul Ardh adalah semacam wadah di mana catatan mengenai hidup anggota klan ditampung. Bila anggota klan telah meninggal, bagian titik yang merupakan tetesan esensi hidup orang yang bersangkutan akan berubah menjadi berwarna hitam. Titik itu disebut nadi hidup. Masing-masing klan dari tujuh marga memiliki yang disebut pohon kehidupan tersebut. Pohon kehidupan klan biasanya berada di ruang khusus kepala Marga.


“Berarti aku harus kembali ke Marga hanya untuk bisa tahu apakah cucuku itu masih hidup atau sudah meninggal?” Rajo Narako mendesah berat mendengar saran sahabatnya.


Berbeda dengan Abul Ardh sang ksatria yang ditugaskan klan untuk menjaga gurun di dunia, Rajo Narako justru memiliki posisi dan pengaruh penting dalam Marga Api. Kehadirannya jelas akan menimbulkan pergolakan baru di dalam Marga, setelah menghilangnya Rajo Narako selama ratusan tahun.


“Sudahlah, sebagai datuk Marga, kehadiranmu kembali tentu akan berdampak baik. Yaah… walaupun akan banyak tatapan tak menyukaimu karena mereka selama ini diuntungkan dengan ketidakhadiranmu. Marga Api, butuh sang datuk. Penyusup, harus dihapus sebelum segalanya terlambat. Jika butuh bantuan, datanglah ke Klan Beyed Marga Tanah. Sahabatmu ini, memastikan dirimu mendapatkan bantuan yang berarti..” Abul Ardh mengalihkan pandangannya dari kanvas lukis batu ke wajah sahabatnya.


Matanya memancarkan ketulusan sekaligus keteduhan, terlepas usia mereka yang terpaut lebh dari serratus lima puluhan tahun. Lalu lelaki muda itu menyerahkan sebuah lencana emas dengan cap khusus di tengahnya. Itu adalah lencana para ksatria!


“Baiklah..!” Rajo Narako menerima lencana itu dan mengangguk yakin dengan keputusannya untuk kembali ke Marga Api.


“Aku akan kembali. Kekuatanku sudah sepenuhnya pulih sekarang. Selama ini, aku hanya mendapatkan kabar tentang Margaku dan nasib keturunanku di sana yang mulai tersesat jalan melalui kaca jiwa. Aku melihat dan tahu, tanpa bisa berbuat apa-apa. Mungkin, ini memang sudah kehendak Sang Maha Tunggal untuk aku bertindak menyelamatkan Marga..” kata Rajo Narako mantap.

__ADS_1


Rajo Narako, selama ini adalah jagoan terkuat dalam trah Marga Api. Satu-satunya yang menghalanginya kembali adalah kekuatannya tidak mencukupi untuk mengaktifkan portal ke dunia Danyang. Kini, dengan kekuatannya yang telah sepenuhnya pulih, kembali ke Lemuria bukan lagi masalah.


__ADS_2