
Di sebuah desa pelabuhan, tampak seorang lelaki berpakaian selayaknya nelayan biasa tengah mengamuk.
Pria yang tampak lemah itu ternyata cukup tangguh untuk dikalahkan dengan mudah oleh empat puluh perompak yang mengeroyoknya.
Beberapa jam lalu, kawanan perompak ini menyerbu dan membakar desa. Menjarah seluruh harta benda milik penduduk desa, bahkan menculik hampir seluruh gadis-gadis desa yang berhasil mereka tangkap.
Awalnya, penduduk hanya pasrah desanya dijarah karena beberapa pria yang mencoba melawan akhirnya berakhir dengan kehilangan nyawa.
Tapi, ketika para perompak mulai melakukan penculikan dan pembakaran desa mereka, seorang warga desa mulai bangkit melakukan perlawanan dengan sengit.
Pria yang tengah berhadapan dengan sekitar empat puluhan perompak itu sebenarnya bukan penduduk asli desa tersebut. Kenyataannya memang tidak ada warga desa yang mengetahui latar belakang pria kurus itu sebelum tinggal dan menetap di desa itu.
Selain empat puluh orang perompak yang tengah mengeroyoknya, ada enam mayat perompak lain yang tergeletak di arena pertempuran tersebut. Tampaknya, pria kurus itu telah berhasil mengurangi jumlah musuh yang mengacau di desanya.
Walau demikian, kondisi pria kurus itupun tidak sedang baik-baik saja.
Puluhan luka sayat yang mengalirkan darah telah mulai menghiasi tubuhnya. Namun sejauh ini, tak ada tanda-tanda pria itu akan roboh dalam waktu dekat.
Dua perompak lainnya berhasil dirobohkan, membuat wajah tiga puluh delapan perompak lainnya menjadi semakin diliputi rasa ketidaksabaran ingin segera mencincang pria kurus ini menjadi potongan-potongan kecil.
Bagai banteng yang terluka, si pria kurus terus menebaskan pedang besarnya tanpa mempedulikan kondisinya yang terlihat menyedihkan.
Tiga perompak lain tumbang terkena tebasan pedangnya, menggenapi sebelas perompak yang terbaring menjadi mayat di tempat itu.
Pria itu hanya sendirian, mengahadapi puluhan orang yang terus merangsek dari berbagai sisi. Tak ada satupun warga lain yang keluar rumah untuk membantunya. Hingga tiba saatnya, si pria kurus mencapai batas kekuatannya.
Setelah berhasil membunuh dua orang lagi, pria kurus itu mulai terhuyung-huyung. Untuk menstabilkan posisi berdirinya, dia terpaksa bertopang pada pedangnya yang kini tertancap di tanah.
Pria kurus itu berjalan mundur, berusaha mengambil jarak dari pengeroyoknya. Tapi, para pengeroyoknya tidak membiarkannya begitu saja.
Mereka mengejar si pria kurus yang dikira akan melarikan diri, namun saat itulah sebuah tebasan paling kuat yang bisa dilakukannya untuk terakhir kali kembali memakan korban.
Lima orang terkena sabetan di bagian leher. Empat di antaranya langsung tewas, sementara seorang lainnya masih sempat menangkisnya dengan kapak di tangannya. Walau tetap saja, tebasan itu menggores leher si perompak.
__ADS_1
Serangan mendadak itu berhasil mengejutkan para perompak yang mengira lawannya sudah tak berdaya. Langkah pengejaran mereka berhenti sejenak dan mereka kembali memasang kewaspadan tinggi menghadapi lelaki kurus yang sejak awal memang terlihat lemah.
“Tak berguna! Kalian terlalu meremehkannya! Serang dia bersama-sama sekali lagi..!” Teriak seorang berbadan gempal di antara para perompak. Jelas dia adalah pimpinan dari kelompok perompak tersebut.
Mendengar seruan perintah pimpinannya, tak membuat para perompak itu segera bergerak maju. Keterkejutan atas serangan terakhir dari si pria kurus yang sekarang kembali bertopang pada pedangnya itu membuat nyali mereka sedikit surut.
Melihat anak buahnya tidak ada yang berani mendekati pria kurus itu, pimpinan perompak itu berinisiatif menyerang seorang diri. Dia segera melompat ke depan dengan kapak dilemparkan mendahului tubuhnya ke arah si pria kurus.
Pria kurus itu menangkis kapak yang melesat mengarah kepadanya dengan tebasan pedangnya.
‘Trank!’
Kapak itu terlempar ke samping dan menancap di tanah.
Lalu pimpinan perompak kembali melayangkan dua kapak lainnya. Satu kapak berhasil ditangkis seperti kapak pertama. Menancap ke tanah di sisinya.
Namun saat menangkis kapak ke tiga, pedang pria kurus itu terlepas dari tangannya walau kapak yang dilemparkan ke arahnya berhasil tepis.
Pria kurus itu jatuh dalam posisi berlutut. Kedua tangannya menahan tubuhnya agar tidak tersungkur ke tanah.
Puluhan mata pedang para perompak segera menempel di lehernya. Para perompak itu telah mengelilinginya, memaksanya menyerah.
“Tunggu apa lagi? Bunuh dia!” seru sang pemimpin perompak memberi perintah.
Salah satu perompak paling senior segera mengangkat pedangnya melaksanakan perintah pimpinannya sebagai algojo.
Pedang itu berkilat-kilat tertimpa cahaya matahari saat terangkat ke atas, dan detik berikutnya pedang itu bergerak cepat menebas ke arah leher si pria kurus.
‘Trank!’
Tiba-tiba pedang perompak yang bergerak menebas leher pria kurus itu hancur berkeping-keping saat jarak bilah pedang dengan leher sasarannya tinggal beberapa centimeter saja.
Gagang pedang juga terlepas dari genggaman pemiliknya, sedangkan tangan perompak tersebut tak berhenti bergetar.
__ADS_1
Sesuatu yang sangat kuat baru saja menabrak pedang milik perompak yang terayun hendak mencabut nyawa , membuat pedang itu hancur tanpa sempat diketahui apa penyebabnya.
Pemilik pedang menoleh ke sekeliling. Betapa makin terkejut dirinya saat mendapati seluruh rekannya yang berjumlah tiga puluhan orang itu semuanya telah roboh dengan kening berlubang sebesar jari kelingking, tembus hingga batok kepala bagian belakang.
Hanya dirinya dan pimpinan perompak saja yang tersisa.
Di hadapan kedua prompak itu, si pria kurus juga tampak terkejut dan sama-sama tidak memahami apa yang tengah terjadi di hadapannya.
‘Prok! Prok! Prok!’
Tiga kali tepuk tangan terdengar, membuat tiga orang itu menoleh ke sumber suara.
Seorang pemuda berpenampilan lusuh dengan dua pedang kembar di belakang punggung tampak berjalan santai ke arah mereka. Pemuda itu terlihat tenang, namun pancaran kekuatan yang dimilikinya membuat tiga orang bermusuhan itu sama-sama menelan ludah.
“Aku bisa mempertimbangkan untuk mengampunimu, jika kau tahu di mana letak hutan petir berada..” Pemuda itu terlihat tanpa basa-basi mengeluarkan ancaman sekaligus tujuannya berada di tempat itu.
Pemuda itu, jelas tengah dalam perjalanan menemukan hutan petir yang dimaksud dan berkeinginan menjadikan salah satu dari ketiganya sebagai penunjuk jalan.
Dia adalah Gentayu, yang datang ke negeri Hidama untuk memperkuat elemen petir pada tubuhnya.
Pria gempal pimpinan perompak dan anak buahnya sekali menelan ludah. Mereka yang seumur hidup hidup sebagai perompak di lautan, tidak mungkin mengetahui ada hutan seperti itu.
Harapan mereka untuk dibiarkan hidup semakin kecil.
Setelah menunggu beberapa saat tanpa jawaban, Genatyu mengibaskan tangannya ke udara.
Empat buah pisau energi berwarna kemerahan terbang dari keempat jarinya. melesat cepat tanpa bisa dihindari ke arah dua perompak yang tersisa dan berdiri gemetaran itu.
‘Dhem!’
‘Dhem!’
Terdengar suara ledakan kecil saat masing-masing dua pisau energi menancap di kepala dan jantung para perompak, mengubah tubuh mereka menjadi kabut darah, ceceran daging dan tulang.
__ADS_1
Pria kurus yang telah ditolongnya bahkan merasa ngeri melihat kematian para perompak di hadapannya. Dengan sedikit gemetaran, pria kurus itu berusaha melihat wajah penolongnya.
“Jangan takut, paman. Saya berada di pihakmu. Mari, kubantu paman, tunjukkan saja di mana rumah tabib di desa ini..” tanpa menunggu persetujuan pria kurus yang ditolongnya, Gentayu segera menggendong pria itu di punggungnya.