JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Apa Salahku??


__ADS_3

Ledakan dahsyat diiringi gelombang kejut terjadi!


‘JREDARRRR!’


Seluruh prajurit yang terlambat untuk tiarap itu terpental sejauh ratusan meter oleh gelombang kejut tersebut. Membentur tembok-tembok bangunan di sekitarnya.


Sekalipun mungkin ada yang nyawanya selamat, tapi pasti mereka terluka akibat benturan maupun terkena serpihan bangunan yang ikut terhempas bersama mereka. Semua bangunan dalam radius tiga puluh meter, semuanya rata dengan tanah.


Sebelumnya, panah Putik Embun diarahkan untuk menghadang pusaran energi keluar dari mulut Mpu Jangger. Ternyata pusaran energi tersebut justru keluar dari perut pertapa sesat tersebut dan meledak lebih cepat.


Mpu Jangger sepertinya menggunakan jurus meledakkan diri sendiri dengan memusatkan seluruh kekuatan energinya di satu titik sesaat sebelum mengeluarkan ancaman. Diah Rangi hampir telat menyadarinya, beruntung Putik Embun sangat sigap menyadari perubahan dalam diri Mpu Jangger.


Keduanya terkubur debu-debu puing dan reruntuhan bangunan. Namun tidak mengalami luka serius. Mereka segera bangkit, saat dua orang pendekar lainnya datang mendekat.


Suara ledakan itu sangat keras, sehingga mengundang mereka yang berada di sekitar tempat ini untuk datang melihat situasinya. Untungnya semua masih terkendali.


“Kalian, kalian tidak apa-apa? Suara apa itu tadi?”


“Aih.. kau bertanya seolah senang jika melihatku mati, hah??!” tiba-tiba, suara Diah Rangi meninggi mendengar pertanyaan lelaki dihadapannya. Salah apa coba lelaki ini? Datang dengan niat baik malah dimarahi.


Lelaki itu mengucek-ngucek matanya seolah tak percaya. Perempuan berpakaian kumal dan kotor dengan wajah yang sepenuhnya ditutupi debu dan pasir itu ternyata istrinya, Diah Rangi!


Lelaki itu mendekat dengan mengulum senyum masam. Bagaimana dia tidak mengenali istrinya sendiri?


“Maafkan abang, istriku. Abang benar-benar tak kenali adik kerna muka adik macam ni..” Lelaki itu kemudian berkata lebih lembut, lalu berjalan mendekat dan mengelap wajah istrinya. Membersihkan debu-debu yang menempel. Dan memeluknya erat.

__ADS_1


“Ehem! Ehem!” terdengar suara berdehem Putik Embun di sebelah mereka berdua yang tengah berpelukan.


Keduanya segera melepas pelukan mereka dengan muka bersemu merah. Bagaimana mereka lupa bahwa ada Putik Embun di sini??


“Maaf mengganggu kemesraan kalian. Tapi, sepertinya para pendekar di sisi barat masih perlu kita bantu..” Putik Embun berkata sambil kedua tangannya bersedekap. Tidak melihat kepada dua orang pasangan suami istri itu.


“Baiklah, Abang.. apakah akan ikut kita orang ke sisi barat?” Tanya Diah Rangi, bermaksud mengajak suaminya bergabung yang segera dijawab anggukan oleh lelaki yang masih terlihat gagah itu.


Mereka memeriksa kondisi para prajurit yang sempat terlempar akibat ledakan energi Mpu Jangger barusan. Dari sepuluh orang itu, semuanya masih bernyawa sekalipun mengalami luka serius. Bagi pendekar tingkat 2, terlempar kencang dan membentur tembok jelas bukan perkara kecil. Tubuh mereka belum sekuat para pendekar sakti, yang ketika membentur pepohonan sekalipun maka pohonnya yang akan roboh.


Setelah memberikan pertolongan sekedar memastikan mereka bisa bertahan hidup menunggu tabib datang, ketiganya segera melesat menuju sisi barat yang masih belum sepenuhnya ditaklukkan.


+++ +++ +++ +++ +++


Sementara itu, Gentayu masih dalam perawatan Mak Payung. Sementara Hao Lim dan kedua gadis dari Hidama selalu siaga menyiapkan apapun keperluan yang dibutuhkan tabib wanita itu.


Dari penuturan Hao Lim kepada Sakuza dan Yumiko di hadapan Mak Payung, diketahui bahwa sebenarnya karena Karang Setan-lah kekuatan Hao Lim menjadi terbatas. Bahkan termasuk yang paling lemah di antara para tetua di Sekte Naga Merah.


Hao Lim pernah berhadapan dengan Karang Setan. Dalam pertempuran itu, keduanya saling mengunci dan menyegel kekuatan lawan. Karang Setan mengunci sebagian besar kekuatan Hao Lim sebagai dalam salah satu gelang yang dipakai Karang Setan. Gelang itu mampu membuat pemakainya awet muda dan tetap perkasa selama menyerap dan mengurung banyak energi kehidupan manusia di dalamnya.


Penguncian itu membuat tubuh dan wajah Hao Lim menua puluhan tahun lebih cepat dan kekuatannya menurun drastis. Bahkan, dia harus melakukan latihan tertutup selama dua tahun penuh untuk sekedar mampu mengimbangi tetua terlemah di sekte Naga Merah.


Rupanya, pukulan Gentayu yang mengakhiri nyawa Karang Setan turut menghancurkan gelang tersebut dan mengembalikan kekuatan Hao Lim.


Sementara kekuatan karang Setan sangat sedikit yang berhasil disegel. Penyegelan dilakukan sesaat dan saat dirinya dikalahkan, segel itu segera dapat dihancurkan karang Setan. Saat itu Hao Lim hampir tewas jika saja para tetua lainnya tidak berhasil melarikannya kembali ke markas dan mendapat perawatan.

__ADS_1


Sementara itu, Kondisi Gentayu sendiri tidak banyak berubah.


Tangan di bagian telapak dan punggungnya masih menghitam meskipun segel iblis telah berhasil dilepaskan dari tangannya dan disimpan Hao Lim.


Mereka melihat, bahwa Gentayu tak sadarkan diri. Mirip kondisi orang yang tengah tertidur tapi pancaran energi yang kuat terus menerus keluar dari tubuhnya, menandakan kondisinya tidak sesederhana yang terlihat.


Mak Payung sendiri cukup heran dengan kondisi yang dihadapinya kini. Tubuh pemuda itu seolah tidak terluka. Tapi pancaran energinya memberi sinyal bahwa tubuh Gentayu sedang memulihkan dirinya dari sesuatu. Entah apa itu, yang jelas Mak Payung dan tiga pendekar wanita yang bersamanya harus memastikan kondisi Gentayu baik-baik saja dan aman dari bahaya.


Kenyataannya, saat ini kesadaran Gentayu seolah terbang dibawa oleh sosok perempuan cantik bergaun sutra putih yang indah. Rambut panjangnya tergerai nampak mengombak tertiup angin dalam perjalanannya membawa Gentayu. Gentayu tidak digendong, melainkan diangkat pada kerah jubahnya seperti induk kucing membawa anaknya.


Awalnya, Gentayu dibuat gelagapan dengan perlakuan wanita itu yang dianggapnya tidak manusiawi. Tapi setelah beberapa saat dia memilih menikmatinya saja. Toh tidak ada ruginya bagi dia ketika bisa bebas menikmati kecantikan wajah yang tidak biasa di depan matanya itu.


Senyumnya mengembang ketika hatinya benar-benar mulai mengagumi kecantikan paras wanita itu. Alisnya yang teratur bak semut beriring, dagunya yang lancip dengan mukanya yang oval tapi imut. Ditambah lagi bibirnya yang tipis merah merekah, benar-benar membuat Gentayu betah walaupun harus berhari-hari diperlakukan seperti ini.


‘PLAK!’


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanannya. Membuyarkan senyumannya sekaligus membuat pipinya kini berubah menjadi merah. Ada bekas cap lima jari di sana.


“Eh, Nona! Apa salahku?” protesnya.


“Salahmu adalah memandangi wajahku sampai pipimu memerah!” Wanita itu mendengus. Namun matanya tetap menatap ke depan. Terlihat puncak sebuah gunung di antara gugusan awan menghampar di depan sana, tak jauh lagi.


“Hah...! Apa-apaan..? Kenapa tak kau tutup saja wajahmu itu kalau tak boleh kulihat. Lagipula, dalam posisiku menghadapmu begini, mana bisa aku tak memandangimu?? Dasar!” Gentayu mengomel tak terima.


“Banyak Omong..!” tiba-tiba wanita cantik itu melemparkan tubuh Gentayu ke atas puncak gunung yang terlihat hanya puncaknya saja itu, karena badan gunung tersebut sepenuhnya tertutup awan.

__ADS_1


“AAAAAAa.....Apa yang kau lakukaaaaaaaan.....!!” Gentayu menjerit karena kini tubuhnya melayang dan terjun bebas dari ketinggian yang tidak diketahui pasti tingginyanya itu.


__ADS_2