
Butuh waktu dua minggu berikutnya bagi Gentayu untuk benar-benar bisa menyelaraskan diri dengan kekuatan barunya.
Energi yang diserapnya dari dua makhluk banaspati benar-benar luar biasa besar.
Dalam masa dua minggu itu, berkali-kali Gentayu nyaris kehilangan kesadaran karena memaksa menyerap seluruh kekuatan tersebut. Berkali-kali pula Gentayu mengalami pendarahan pada hidung, mata dan telinganya.
Namun akhirnya, setelah mengalami masa-masa kritis tersebut Gentayu berhasil menyelesaikan penyelarasan tersebut.
Kekuatan luar biasa kini memancar dari tubuhnya. Kekuatan puncak pendekar bumi!
Gentayu memang saat ini telah berada di level 9 Pendekar Bumi, jaraknya untuk menapaki level Pendekar langit hanya setipis benang saja. Itupun karena Gentayu sengaja menunda untuk menembus level Pendekar langit.
Sebenarnya, cadangan energi yang tersimpan di tubuhnya masih sangat besar dan sudah lebih dari cukup untuk membawanya menembus level Pendekar langit.
Sayangnya, untuk naik ke level pendekar langit dia harus mendapatkan dorongan dari luar agar kenaikan tingkatnya tidak membahayakan tubuhnya.
‘Aku harus melalui pertarungan dengan kekuatan yang setingkat di atasku. Itulah dorongan yang kubutuhkan saat ini. Sebelum itu, aku akan melatih kekuatanku yang sekarang untuk melawan siluman-siluman di level pendekar bumi. Setidaknya, aku bisa mengumpulkan cukup makanan untuk hewan-hewan peliharaanku..’
Gentayu segera bangkit dan melesat meninggalkan goa milik Gola Ijo. Tujuannya adalah bagian lebih dalam dari hutan tempatnya berjumpa dengan serigala berkaki perak.
Sebenarnya, Gentayu ingin bertemu dengan Gola Ijo sebelum memulai perburuan. Banyak hal ingin dia tanyakan, atau setidaknya dirinya bisa berterimakasih atas bantuan makhluk itu sejauh ini.
Namun hingga detik ini, Gola Ijo belum kembali.
Tentu saja Gentayu tidak mengetahui bahwa Gola Ijo saat ini ada di dalam pengawasan Dewa Cahaya Haruta setelah pertempuran melawan Mislan Katili.
__ADS_1
Tak ada yang tahu, bagaimana keadaannya sekarang.
Tak butuh waktu lama, Gentayu telah mencapai lokasi dirinya berjumpa dengan kawanan serigala perak sebelumnya.
Di tempat ini, suasananya terlihat sedikit berbeda dengan situasi terakhir kali dirinya di sana sebelumnya.
Bau anyir tercium memenuhi udara. Tampaknya, sebuah pembantaian besar belum lama terjadi di tempat ini.
Sisa-sisa ceceran darah mengering terlihat di beberapa pohon, semak dan bebatuan. Darah beraneka warna. Dari merah, hijau hingga hitam. Membuat Gentayu meyakini bahwa itu semua adalah darah para hewan siluman penghuni tempat ini.
Darah yang mengering itu menurut Gentayu menunjukkan bahwa pembantaian itu terjadi belum lama.
Kemungkinan, jika dirinya beruntung dia akan bisa bertemu dengan sosok pembantai tersebut.
Firasat Gentayu ternyata tidak meleset terlalu jauh.
Ringkikan kuda-kuda disertai teriakan manusia terdengar tidak jauh dari tempatnya berada.
Tanpa menunggu lebih lama, Gentayu segera melesat menuju puncak tertinggi pohon di tempat itu guna memastikan situasinya.
Gentayu memilih sebuah pucuk pohon jati emas liar yang mencuat di antara rerimbunan pohon lainnya. Bak burung besar, kedua kakinya mampu hinggap pada pucuk daun jati tersebut tanpa terjatuh. Ini adalah level berikutnya dari jurus Langkah Angin miliknya. Jurus meringankan tubuh yang dahulu berperan membuatnya lolos saat dikejar, dan mengunguli lawan saat melakukan pengejaran.
Dari puncak pohon itu, Gentayu menyaksikan lima orang penunggang kuda dengan pakaian zirah dan senjata lengkap mengepung seekor laba-laba hitam raksasa. Tak jauh dari pengepungan, sekitar dua puluhan orang berpakaian zirah dan senjata lengkap terlihat tengah mengawal ketat seorang lelaki muda berpakaian mewah.
Lelaki muda itu terus menerus memberikan perintah dengan teriakan dan isyarat tangannya. Tampak tak mempedulikan kesulitan yang dialami oleh kelima orang yang menerima perintahnya.
__ADS_1
Laba-laba hitam raksasa itu tampak beringas menyerang kelima orang yang mengepungnya. Dari auranya, jelas sekali bahwa laba-laba hitam raksasa itu kekuatannya setara dengan level puncak pendekar langit. Sementara para pengepungnya berada pada level pertengahan pendekar bumi.
Kendati demikian, tak terlihat bahwa Laba-laba hitam raksasa itu bisa mengungguli manusia-manusia yang mengepungnya dengan menunggang kuda mereka. Sepintas, kerjasama kelima orang tersebut terlihat sangat baik sehingga mampu menekan dan mendesak siluman laba-laba tersebut.
Tapi, setelah sedikit meneliti keadaannya lebih jauh, Gentayu akhirnya menemukan fakta berbeda terkait pertempuran lima lawan satu tersebut.
‘Mereka menggunakan jebakan! Laba-laba hitam itu kakinya telah terjerat!’ gumam Gentayu sembari memperhatikan benang aneh di kaki-kaki laba-laba hitam itu.
Barangkali karena sudah tidak sabar melihat lambatnya kelima orang itu menangani hewan raksasa tersebut, seorang lelaki kekar bersenjata kapak besar dengan pakaian sedikit berbeda dari seluruh pengawal melompat keluar.
Lelaki itu mengayunkan kapaknya dan berhasil menebas bagian ‘chepalotorax’ (segmen bagian dada dan kepala) siluman tersebut. Memenggal tubuhnya menjadi dua bagian terpisah!
‘Craks!’
Darah hitam kehijauan muncrat kemana-mana. Bahkan, lelaki muda berpakaian mewah yang sedari awal berteriak memberikan perintah juga terkena cipratan di bagian muka, membuatnya murka dan melampiaskannya pada pengawal di sampingnya.
Pengawal itu menerima sebuah tendangan di punggung karena dianggap gagal melindunginya dari cipratan darah.
“Bodoh!” katanya mengumpat.
Tapi, ketika lelaki muda itu hendak melayangkan tangannya kembali pada pengawal malang itu, mulutnya melongo tak percaya.
Dari balik bukit, tak jauh dari tempat bangkai laba-laba hitam itu terkapar, bermunculan puluhan, bahkan mungkin ratusan laba-laba seukuran dua kali tubuh manusia.
Mereka merangsek, dari sisi depan, kiri dan kanan rombongan itu dari atas bukit. Bergerak dengan sangat cepat
__ADS_1
Bau darah dari laba-laba yang terbunuh itu sepertinya membangkitkan kemarahan ratusan ekor laba-laba lain di tempat tersebut.