
Sepuluh hari telah berlalu.
Gentayu masih terbaring di atas pembaringan giok, di rumah goa milik tabib wanita tua penolongnya. Masih belum juga sadarkan diri.
Seluruh tubuhnya kini terbungkus oleh batang bambu yang diremukkan, dari ujung kaki hingga lehernya. Aroma obat keluar dari balik bambu yang membungkus Gentayu. Itu adalah salah satu teknik pengobatan milik tabib wanita tua tersebut untuk memulihkan luka dalam berikut seluruh tulangnya yang patah mematah.
Selama masa sepuluh hari itu, hanya tiga kali sang nenek tabib kembali untuk mengunjungi Anjani dan Gentayu. Tabib wanita tua itu biasanya akan memberikan beberapa petunjuk kepada Anjani, menyerahkan beberapa pil obat dan ramuan, lalu segera pergi meninggalkan mereka.
Namun hari itu, di hari ke sebelas, sang tabib wanita tua kembali mengunjungi Anjani. Saat itu gadis cantik itu tengah menumbuk ramuan obat untuk diminumkan kepada Gentayu. Kegiatan itu memang rutin dilakukan Anjani, meracik dan mengolah sendiri obat-obatan untuk Gentayu sesuai petunjuk sang tabib.
Berkat aktivitas yang dilakukan berulang dan terus menerus tersebut, lama kelamaan Anjani menjadi sedikit faham dan terbiasa dengan ramuan obat. Setidaknya, untuk luka sejenis di masa depan, Anjani faham apa yang harus dilakukan untuk menolong.
“Bagus.. kau semakin mahir dan terampil mengolah ramuan-ramuan itu..” puji sang tabib wanita tua melihat hasilkerja keras Anjani ketika dia memasuki rumah goanya.
“Kalau perhitunganku tidak meleset, seharusnya besok pagi dia sudah siuman. Sementara itu, kau bisa siapkan bahan-bahan ini..” wanita tua itu menyerahkan sebuah catatan dalam selembar daun lontar berisi daftar tanaman obat yang harus dikumpulkan Anjani.
Tidak akan sulit seharusnya mengumpulkan semua tanaman obat dalam daftar tersebut, karena semuanya telah tersedia dalam jumlah melimpah di sekitar rumah goa itu. Setidaknya, begitulah yang diperkirakan Anjani dari pengalaman selama sepuluh hari mengumpulkan dan meracik bermacam tanaman obat untuk Gentayu.
Rumah goa itu, terletak di sebuah lereng gunung. Dalam jarak radius tak kurang dari setengah kilometer persegi di sekitar rumah goa, terdapat tanaman pinang berjajar mengelilingi area ini. Tanaman pinang itu, dimaksudkan sebagai batas alami kebun obat milik wanita tua tersebut.
Meskipun demikian, di luar deretan tanaman pinang yang membatasi kebun milik tabib wanita tua tersebut, terdapat kebun tanaman obat lainnya menghampar sejauh mata memandang. Masing-masing kebun terlihat juga dibatasi oleh deretan pohon pinang seperti di kebun ini, namun dengan luas lahan yang lebih sempit dari milik tabib wanita tua ini.
Anjani sebenarnya cukup penasaran dengan situasi tersebut, namun dia harus menekan rasa penasaran itu hingga hari ini. Tepatnya, Anjani tidak berani untuk menanyakan kepada sang tabib. ‘Biarlah, pada saatnya pasti tabib itu akan menjelaskan..’ begitulah fikirnya selama beberapa hari ini.
Tak sampai satu jam kemudian, Anjani telah berhasil mengumpulkan seluruh tanaman obat yang tertulis dalam daftar, kecuali satu tanaman bernama teratai bulan. Tanaman itu harus diambil dari kolam di salah satu kedalaman hutan. Tempat itu, menurut catatan yang diberikan sang tabib berjarak tak kurang dari lima kilometer dari posisinya saat ini. Cukup jauh.
__ADS_1
Anjani memutuskan untuk kembali terlebih dahulu ke rumah goa guna menyerahkan hasil tanaman yang dikumpulkannya. Daftar tanaman tersebut, berbeda dari yang biasa dipetik dan diolahnya beberapa hari belakangan. Menurut perkiraannya, tanaman obat ini pastilah bahan-bahan untuk membuat pil obat unik seperti waktu pertamakali Anjani dan Gentayu tiba di tempat ini.
Ketika pintu rumah goa terbuka, Anjani tidak melihat sang tabib. Namun karena ini bukan kali pertamanya, Anjani maklum. Dia hanya menaruh begitu saja seluruh tanaman obat yang dikumpulkan di dekat rak kayu sederhana di sudut ruangan sebelum menutup kembali pintu goa dan pergi menuju kolam sesuai petunjuk.
Anjani melesat meninggalkan rumah goa. Gerakannya seolah dia sedang berlari di udara selama beberapa ratus meter. Kemudian perlahan turun ke tanah kembali untuk berlari mengambil awalan sebelum melesat lagi seperti sebelumnya. Hanya butuh dua kali dirinya menapak tanah, akhirnya
Anjani berhasil mencapai tepi kolam teratai bulan yang dimaksud.
Kolam itu lumayan luas.
Seluruh permukaan kolam benar-benar ditumbuhi teratai, tapi yang terlihat hanyalah teratai biasa.
Teratai bulan? Ah, sepertinya masih perlu sedikit usaha untuk menemukan tanaman tersebut di antara hamparan teratai yang memenuhi kolam ini, fikir Anjani.
Tepat ketika kakinya menapak tanah, sebuah suara yang berat terdengar bergema.
Pemilik suara itu terdengar marah. Dengusan terdengar menandakan sikap tidak senang karena seseorang memasuki area kolam wilayahnya.
Anjani mengerutkan kening. Tabib wanita itu sama sekali tidak menjelaskan situasi ini. Dia hanya diperintahkan untuk mengambil tanaman teratai bulan tanpa dijelaskan tentang apapun, termasuk sosok yang mengaku sebagai penguasa kolam ini.
‘Ini tidak baik!’ instingnya menyatakan bahwa situasinya mengarah kepada bahaya.
“Maafkan saya, wahai tuan penunggu kolam... Saya tidak bermaksud menerobos tanpa izin. Saya hanya diperintahkan tabib wanita tua di puncak gunung sana untuk memetik tanaman teratai bulan, tidak lebih, maafkan saya bila dianggap telah lancang..” Anjani menekan rasa cemasnya, karena sosok pemilik suara itu belum menampakkan diri namun tekanan kuat yang samar dirasakan tubuhnya.
“Hmmph...! Keluarkan medalimu!” Perintah suara misterius itu, bergema sekali lagi.
__ADS_1
Anjani berkeringat dingin. Keringat sebesar jagung mulai mengali ke dahinya, punggungnya mulai basah.
“Me.. medali?? Aku tidak tahu apa yang kau maksud medali.. aku hanya membawa catatan ini...”
Anjani dengan gugup mengangkat catatan daftar tanaman obat yang diterimanya dari tabib wanita tua di tangannya. Rasa gugupnya bahkan kini telah berubah menjadi perasaan gentar yang membuat sendinya serasa lemas.
Hal itu disebabkan oleh tekanan semakin kuat dari aura yang entah dari mana asalnya.
“Kau tidak memiliki medali, tetapi lancang memasuki tempat ini?? Cari Mati..!!” Suara itu berubah menjadi bernada tinggi penuh amarah.
Mendengar suara itu saja, membuat detak jantung Anjani berdetak lebih kencang.
Tak ada peringatan, tak ada penampakan wujud pemilik suara, tiba-tiba sebuah hembusan kencang angin dari samping kiri menghempaskan tubuh Anjani, melemparkannya beberapa depa ke belakang. Seolah, angin itu menyapunya seperti daun kering.
Anjani terjungkal karena sama sekali tidak melakukan persiapan apapun terhadap kondisi tersebut.
Tubuhnya menabrak semak rimbun di belakangnya, menimbulkan suara gemerosak dan suara ranting patah. Namun, angin keras itu ternyata tidak berhenti sampai di situ.
Angin lain yang justru lebih kuat menerjang dari arah belakangnya, menimbulkan suara menjerit ketika tubuh Anjani tersungkur ke tempatnya semula. Dengan wajah terlebih dahulu.
‘BRUK!’
Anjani meringis. Angin itu berhenti.
Perlahan, dengan menahan rasa perih akibat wajahnya menabrak tanah barusan dan meninggalkan memar, Anjani bangkit.
__ADS_1
“Tuan, Leluhur penguasa kolam...” katanya terbata, diselingi usahanya untuk menstabilkan nafas.
“Saya Anjani, datang ke tempat ini karena rekanku terluka parah. Kami sudah sepuluh hari lebih berada di puncak gunung itu.. baru hari ini, saya terpaksa datang kemari. Tanpa mengetahui identitas tuanku leluhur penguasa kolam.. maafkan saya, tapi, saya benar-benar membutuhkan tanaman teratai bulan itu..” Anjani kemudian berlutut di akhir kalimatnya, menghadap kolam.