JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Serangan Ke Istana XI


__ADS_3

Karang Setan Jatuh dengan keras menabrak bebatuan besar di tepi sungai. Itu adalah sungai yang sama, yang mengalir ke bendungan tak jauh dari istana kerajaan.


Dengan susah payah, tokoh sentral aliansi aliran hitam itu mencoba bangkit. Darah merah nampak mengucur dari kedua telinganya, lubang hidungnya, tepi matanya, bahkan mulutnya telah penuh darah kental.


Pendekar legendaris itu terluka parah. Dadanya serasa remuk, bukan karena menabrak batuan sungai. Tapi karena kuatnya terjangan energi dari Raungan Naga Kematian milik Gentayu. Karang Setan sebenarnya sempat membuat perisai energi untuk mengantisipasi serangan Gentayu. Dia berfikir bahwa pemuda itu akan meluncurkan pukulan pamungkasnya. Ternyata dugaannya salah.


Serangan itu menggunakan gelombang suara sebagai medianya. Bukan tangan maupun kaki. Perisai energi yang telah dibuatnya nyatanya tak mampu menahan gelombang suara yang menghantamnya dengan dahsyat, menghancurkan perisainya hanya dalam waktu dua detik.


Sedikit terhuyung-huyung, Karang Setan menapak hendak menuju ke bagian pinggir dari sungai itu. Namun langkahnya terhenti saat Gentayu ternyata telah berada tak jauh di depannya.


“Cih! Anak muda,.. tak kusangka kau mampu menekanku sejauh ini. Tapi, ini belum berakhir…” Karang Setan berkata sembari meludahkan darah kental di mulutnya yang kini berwarna merah. Kepalanya yang botak di bagian tengah diusapnya, meninggalkan noda darah yang berpindah dari tangan ke sisa rambutnya yang memutih.


“Iblis tua! Sebaiknya kau kembalikan pedangku! Atau kau akan menyesalinya..” Kata Gentayu kepada Karang Setan.


Sebenarnya, ucapannya adalah nasehat sekaligus permintaan halus secara terselubung kepada Karang Setan. Namun Karang Setan menerimanya sebagai pengancaman.


“Kurang ajar! Kau mau mengancamku? Bocah Sombong! Terima ini..!” Karang Setan menembakkan tekanan energi hitam dari kedua tangannya bersamaan.


Kelebat cahaya melesat cepat kearah Gentayu. Pemuda itu tidak mencoba menghindarinya, dan..


‘Des!’


Serangan itu menghilang begitu saja Ketika tangan kanan Gentayu menyilang di depan dada. Kali ini tanpa ledakan ataupun percikan cahaya sebagaimana lazimnya serangan energi yang ditangkis dengan perisai energi atau sejenisnya.


Karang Setan menyipitkan matanya tak percaya. Mencoba menyelidiki trik apa yang digunakan Gentayu. Kemudian pandangannya tertuju pada gelang hitam yang melingkar di lengan kirinya.


‘Hmm.. gelang itu rupanya’ karang Setan jelas mengetahui rahasia kecil Gentayu, karena pusaka sejenis pernah ditemui Karang Setan dalam banyak petualangannya sebelum ini.

__ADS_1


Gentayu menyadari pandangan selidik dari musuhnya itu, lalu tanpa menunggu musuhnya mempersiapkan diri Gentayu segera menyerang.


Mengandalkan serangan menggunakan jurus kombinasi Tinju Naga Api dan Pukulan Matahari Emas, Gentayu menghambur ke arah musuhnya. Dua buah pukulannya yang menyasar area perut dan dada dengan mudah dihindari Karang Setan. Energi pukulannya melaju menghantam air sungai, membuatnya muncrat menyembur ke udara.


‘Whozz!’


Saat itulah, sebuah serangan tapak terarah ke wajahnya sebagai balasan, tapi serangan itu dengan mudah dihindarinya. Membuat serangan itu menghantam batu di bawahnya dan menghancurkannya menjadi debu.


Pada detik yang sama, dari bawah, lutut Karang Setan seolah hendak mengunci gerak kaki Gentayu untuk melangkah. Sedangkan tangan kiri Karang Setan kini mengarah ke ulu hatinya.


Gentayu mengelak dengan memindahkan kaki kanannya ke belakang dan sedikit memiringkan bagian atas tubuhnya. Serangan yang mengarah ke ulu hati bisa dielakkan dan energi pukulan itu menghantam tanah tebing di bagian lain sungai. Namun tangan kanan lelaki tua itu kini melayang dari atas ke arah dada Gentayu yang posisinya sedikit condong ke belakang.


‘BUG!’


Lagi-lagi, pukulan itu menghantam ruang kosong, membuat energi pukulan tangan kosong Karang Setan melubangi tanah di bawah kaki Gentayu.


Aura mereka Kembali menekan udara di sekelilingnya, menciptakan pusaran angin yang arahnya selalu berubah-ubah tak stabil. Menerbangkan apapun disekitarnya. Air sungai yang mengalir tenangpun kini mulai bergejolak, membentuk ombak-ombak berukuran sedang. Sesekali Ombak menghempas daratan, atau terangkat ke atas membawa ikan dan rerumputan bersamanya.


Bebatuan di tepi sungai itu mulai beterbangan terhempas ke berbagai arah akibat pertarungan keduanya. Sama seperti pertarungan mereka di udara sebelumnya, kali inipun pertempuran kedua orang itu menimbulkan kekacauan bagi sekitarnya. Bebatuan yang terkena serangan langsungnya langsung hancur menjadi debu. Sementara tanah-tanah tebing di sepanjang tepian sungai di sekitar mereka juga tak luput menjadi sasaran.


Gentayu masih terus berusaha mendesak Karang Setan. Serangannya tetap sangat cepat dan penuh tenaga. Seolah energi bertarungnya tak ada habis-habisnya. Sebaliknya, Karang Setan juga tak segan menghamburkan energinya yang terlihat telah mulai berkurang agar segera dapat menjatuhkan Gentayu dan mengakhiri pertarungan.


Gentayu sama sekali tidak berniat mengendurkan serangannya. Bahkan, berupaya terus mendesak karena merasa inilah peluang terbesarnya mengalahkan Karang Setan, selagi pendekar bergelar Iblis Tua itu terluka.


Tapi kenyataannya, meskipun dalam kondisi terluka, Karang Setan masih memberikan perlawanan yang sulit dicarikan bandingannya. Tubuhnya yang kebal senjata membuat Gentayu tidak berfikir untuk menggunakan senjata menghadapiny. Gentayu memilih menggunakan serangan energi karena itulah yang lebih menguntungkannya saat ini. Selagi pedang Satam belum Kembali ke tangannya.


Karang Setan sendiri juga tidak berniat terus menghindar. Dia terus mulai meningkatkan dan mengubah pola pertarungan. Lelaki tua itu berfikir semakin cepat mengalahkan Gentayu akan lebih baik. Selagi tenaganya masih cukup! Karena jika pertarungan ini berlagsung lebih lama, akan makin besar pula energinya yang harus hilang diserap oleh Gentayu.

__ADS_1


Maka Karang Setan kini menyerang dengan jurus-jurus aneh yang sama sekali belum pernah dilihat Gentayu dalam banyak pertarungannya sebelum ini.


Karang Setan menghindari serangan-seranga Gentayu, membalasnya dengan lebih cepat, namun hanya dengan tangan kirinya saja karena tangan kanannya tampak sibuk seperti baling-baling berputar di udara.


Gentayu sebenarnya menyadari tingkah aneh ini. Namun, musuhnya memang pendekar yang terkenal aneh sehingga jurus-jurus aneh pasti akan digunakannya.


Angin kencang segera tercipta dari tangan kanan Karang Setan yang terus berputar di udara. Angin itu lama-kelamaan bertambah besar, mengangkut semua benda-benda di sekitar lokasi mereka bertarung. bahkan bebatuan berukuran kerikil juga ikut terangkat.


Benda-benda yang tersedot oleh pusaran angin itu terus berputar mengikuti gerak tangan kanan Karang Setan. Pendekar legendaris aliran hitam itu melakukannya sambil kadang berjumpalitan di udara menghindari serangan Gentayu, juga menyerang balik dengan tangan kiri dan kedua kakinya. Semuanya dengan kecepatan kilat tentu saja.


Perlahan-lahan, seiring angin yang terus melambat dan mulai berhenti, tumpukan kayu, batu, ranting dan benda lainnya itu terlihat membentuk sesosok makhluk. Tepatnya membentuk sosok boneka sampah!


Boneka sampah dan bebatuan itu tetap berputar mengikuti pusaran angin yang diciptakan Karang Setan. Gentayu menjadi waspada setelah melihat hasil dari perbuatan Karang Setan. Bagaimanapun, dia belum pernah menjumpai hal seperti ini.


Boneka sampah yang sempat berputar sangat pelan itu kemudian berputar cepat Kembali. Namun kali ini dengan arah sebaliknya. Tepatnya dari kanan ke kiri mengikuti jari telunjuk Karang Setan. Suara menderu mulai terdengar Ketika boneka sampah tersebut berputar.


Saat putaran boneka itu sudah sangat cepat, angin puyuh terbentuk di tempat tersebut. Boneka tersebut sebagai poros dari pusaran angin puyuh mengerikan yang terbantuk. Hebatnya, Karang Setan mengendalikan semuanya hanya dengan jari telunjuknya saja.


Dari dalam pusat pusaran angin tersebut, mulai terlontar berbagai macam benda yang tadinya tersedot masuk ke dalam pusaran. Semua bend aitu melesat dan mengarah tepat kea rah Gentayu berdiri.


Kini, Gentayu disibukkan bukan untuk menyerang Karang Setan, namun menghindari amukan angin puyuh yang seolah siap menerbangkannya. Ditambah lagi, lontaran material dari dalam pusat pusaran angin itu sungguh merepotkan.


Gentayu menggunakan kaki dan tangannya memukul balik setiap kali benda apapun terlontar ke arahnya. Bahkan, rerumputan kering yang seharusnya tidak berbahaya menjadi sangat padat dan keras setelah keluar dan melesat dari pusaran tersebut.


Beberapa kali Gentayu nyaris kehilangan keseimbangan karena tangan dan kakinya tak berhenti memukul balik benda-benda itu ke arah tuan pemiliknya, Karang Setan.


Namun pusaran angin itu terus menghisap kembali benda apapun yang ada di sekitarnya termasuk yang sudah ditendangnya menjauh.

__ADS_1


__ADS_2