JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Pemusnahan Kehidupan


__ADS_3

Malam di tepian pantai itu tidak terlalu gelap.


Bulan separuh menggantung di ufuk langit timur. Namun cahanya terhalang oleh awan tebal di langit, membuat sinarnya meredup sekalipun tidak sepenuhnya menghilang.


“Kamu memiliki Peta kuno misterius itu khan?”


Putri Nakano segera berbalik dan menodong Gentayu dengan pertanyaan lain begitu suara tapak kaki pemuda itu baru saja mendarat di pasir pantai menyusulnya.


“Apa yang tuan putri maksud dua peta ini?” Gentayu segera mengeluarkan dua buah peta dari gelang geroboknya. Dua peta itu adalah bagian dari harta rampasan yang diperolehnya dari para perompak.


“Peta ini, sering disebut orang sebagai peta gerbang Sunda..” putri Nakano bicara sambil tersenyum saat telunjuknya menempel pada lembaran kulit berisi peta. Matanya fokus memperhatikan kernyitan pada dahi Gentayu saat ekspresinya berubah.


Ekspresi putri Nakano sepintas menunjukkan bahwa dia telah melihat sesuatu yang luar biasa, namun dia menutupinya dengan tersenyum.


“Gerbang Sunda?” Gentayu mengerutkan kening mendengar nama itu.


Nama tempat dia berdiri saat ini adalah kekaisaran Hidama, wilayah benua tengah di bumi. Sementara tatar Sunda, jika nama Sunda pada peta menurut perkiraannya mengacu pada semi-benua di dunia Danyang, itu terlalu berjauhan dan terdengar sedikit tidak masuk akal.


Keduanya berada di dunia berbeda.


“Seperti dugaanmu... Benar, bahwa Gerbang Sunda mengacu pada wilayah tatar Sunda atau Sundaland. Tidak ada wilayah daratan lain di dunia ini, selain nama semi benua tersebut. Klan Api mu, berasal dari salah satu sudut Sundaland itu..”


Putri Nakano berhasil menangkap simpul kebingungan fikiran Gentayu dan segera menjelaskannya.


“Lalu.. apa hubungannya peta ini, tatar Sunda di dunia para danyang, dan hutan petir?” Gentayu segera bertanya ketika kebingungan mulai menguasai fikirannya lebih jauh.


“Sebagai seorang pendekar, dan pernah menjadi pejabat kerajaan. Kamu tentu saja harus akrab dengan naskah kuno..” Putri Nakano mengambil jeda sebentar sembari memiringkan dagunya ke arah Gentayu di sampingnya.


Begitu melihat pemuda itu mengangguk, dia kemudian melanjutkan bicara.


“Harus kamu ingat, bahwa kehidupan normal dunia saat ini, bukanlah kehidupan yang pertama. Sebelumnya telah ada beberapa kali kiamat yang membinasakan kehidupan selama ribuan tahun tak terhitung lamanya..”


Gentayu mengangguk setuju ketika Nakano mulai menjelaskan kembali.


Memang begitulah yang diketahuinya dari bacaan-bacaan kuno di kerajaan dan di padepokan Pedang Tunggal. Bahwa kehidupan normal di bumi ini saat ini, telah didahului dengan beberapa kali kiamat dan pemusnahan kehidupan.


“Dalam catatan leluhur. Terakhir kali terjadi pemusnahan kehidupan adalah melalui banjir besar yang dahsyat dan menenggelamkan seluruh bumi waktu itu... dari mereka yang selamatlah keturunan manusia dan makhluk hidup dunia saat ini berasal..” Gentayu mengemukakan apa yang diketahuinya.


Putri Nakano mengangguk membenarkan.


Wanita itu berjalan perlahan ke samping Gentayu sebelum berbalik kembali menghadap laut. Tapi tidak beranjak dari sisi Gentayu.

__ADS_1


“Yang kamu ketahui tidak salah. Hanya kurang lengkap!” kata putri Nakano.


Gentayu hanya menoleh menaggapi penyangkalan putri Nakano. Dia secara alami menyadari, bahwa pemahamannya terlalu sedikit tentang dunia ini.


“Area manusia tinggal, yang menjadi pusat pemusnahan dalam banjir besar ribuan tahun lalu tanpa diduga adalah wilayah Dwipantara saat ini, negerimu. Wilayah itu, pernah berdiri sebuah kerajaan besar dan menjadi pusat peradaban dunia di zaman kuno sebelum dimusnahkan..” putri Nakano menghela nafas sejenak sembari memperhatikan reaksi wajah Gentayu. Tampak kerutan wajahnya makin dalam, tanda bahwa Gentayu sulit mempercayai hal tersebut.


Namun dia segera melanjutkan “Aku pernah berjalan ke salah satu sudut Benua Tengah, dan tak sengaja menemukan sisa-sisa perahu kayu jati kuno raksasa di puncak gunung wilayah bernama Konstantin.


Menurut catatan leluhur, itu adalah perahu penyelamat dari banjir besar dan dibuat oleh manusia suci, Nuh. Apakah menurutmu ada tempat di dunia ini yang mampu menumbuhkan kayu jati zaman kuno bahkan saat ini?”


Putri Nakano menyadari bahwa ceritanya tidak akan begitu saja diterima Gentayu. Oleh karena itu, dia mengeluarkan benda berwujud batu hitam yang terlihat rapuh karena memiliki serat.


“Ini adalah sedikit fosil kayu yang kuambil dari perahu itu. Fosil ini telah membatu di tengah salju puncak gunung selama ribuan tahun..” putri Nakano menyerahkan batu fosil kayu tersebut kepada Gentayu untuk diperksa.


Gentayu mengangguk setelah menerima fosil kayu membatu tersebut. Itu benar-benar fosil kayu jati zaman kuno yang hanya tumbuh di wilayah Dwipantara.


“Seingatku, wilayah Dwipantara juga merupakan wilayah kepulauan. Mirip seperti Hidama saat ini. Aku juga ingat, di sana ada pulau Padi , pulau emas, Pulau Sungai Intan dan pulau-pulau lainnya.


Namun sebenarnya, pulau-pulau itu sebelum peristiwa pemusnahan banjir besar adalah sebuah daratan yang menyatu dengan Benua Tengah. Wilayah luas itu, dahulu disebut Tatar Sunda..” Penjelasan putri Nakano sangat lembut dan santai. Namun, bagi Gentayu informasi itu terlalu padat dan tidak terduga.


Siapa yang akan berfikir bahwa negeri kepulauan yang sering terlibat perang besar dan kecil itu dahulunya adalah satu daratan?


Terlebih lagi, di atas daratan semi-benua tersebut pernah berdiri kerajaan besar dengan pengaruh mendunia?


“Tatar Sunda? Sundaland? Dwipantara... apakah ini.. apakah ini.. ini berarti bahwa dunia danyang dan dunia ini sebenarnya dunia yang sama?” Mata Gentayu terlihat bersinar. Bukan karena gembira, tapi karena sebuah informasi mengejutkan menyentak kesadarannya saat ini.


“itu bisa dikatakan demikian. Namun tidak tepat. Dunia yang kembar, barangkali lebih cocok...” putri Nakano hanya menggigit bibir bawahnya dan menariknya merapat ke gigi depan saat menjawab.


“Dahulu, leluhur manusia hidup berdampingan dengan suku-suku humanoid yang tersisa dari zaman purba. Mereka bersama-sama membangun peradaban dunia ini di berbagai penjuru. Mereka juga bertukar ilmu pengetahuan. Bahkan, dalam beberapa kasus terjadi perkawinan silang..”


“Suku Humanoid?” sebuah kata asing kembali memantik keingintahuan Gentayu.


“Oh, itu.. itu sebutan bagi suku-suku dengan tubuh, indra dan kemampuan mirip manusia. Tapi sebenarnya mereka bukan manusia seperti kita.. Mungkin lebih cocok disebut manusia purba, walaupun pasti mereka bukan manusia. Hehehe... Namun mereka adalah makhluk hidup tersisa yang berhasil selamat dari kiamat-kiamat sebelumnya..”


Gentayu mengangguk faham setelah Anjani menjelaskan.


“Manusia zaman dahulu, memiliki umur yang sangat panjang. Sampai ratusan bahkan ribuan tahun. Sayangnya keturunannya, manusia saat ini tidak mewarisi hal yang sama dengan nenek moyangnya. Manusia zaman sekarang, hidup dalam rentang usia hanya kurang lebih seratus tahun. Apa kamu tahu apa sebabnya?”


Gantayu jelas sudah dipastikan tidak akan tahu jawaban dari pertanyaan putri Nakano ini. Maka, putri Nakanopun tidak menunggu jawaban Gentayu saat melanjutkan penjelasannya.


“Manusia kuno hidup dan mempelajari sejarah dari suku-suku humanoid lainnya. Mereka mengerti, bahwa dalam rentang waktu yang panjang, dunia telah berkali-kali mengalami pemusnahan dan kebangkitan.

__ADS_1


Dengan fikiran seperti ini, para leluhur yang kuat kemudian bersama-sama membangun sebuah dunia baru, yang terpisah dari dunia ini dan berdiri sendiri. Guna menjadikannya sebagai tempat aman bila sewaktu-waktu bencana besar yang memusnahkan berulang di masa depan.


Sebenarnya mereka sama sekali tidak menciptakan dunia baru ini.


Mereka hanya membangun dunia itu dengan kekuatan dewa yang mereka miliki. Merekonstruksi sebuah dunia dengan sumber daya dari dunia ini sendiri.


Tentu saja mereka tidak sendirian. Mereka bekerja sama dengan suku humanoid lain. Karena bagaimanapun, secara fisik manusia adalah ras paling lemah sekalipun paling cerdas...” Putri Nakano menyentuhkan tangannya di air pasang pantai dan meletakkan kepiting kecil tangkapannya di atas kerah baju Gentayu.


“Ish..” Gentayu reflek mengibaskan kepiting yang sebenarnya tidak berbahaya baginya itu dari kerah bajunya kembali ke air laut dengan suara “pluk” di air.


Lalu kembali fokus dan bertanya “Apakah dunia yang dibangun itu adalah dunia para Danyang?”


“Benar!” putri Nakano mengacungkan dua jempol sementara dia memiringkan bahunya ke sisi kiri.


“Nenek moyang kita memang membangun dunia tersebut dengan kekuatan dewa yang mereka miliki waktu itu. Mereka berhasil mengekstrak lautan energi ilahi yang sangat padat di dunia ini dan memindahkannya ke dunia yang mereka bangun.


Memindahkan banyak tanaman, hewan dan apapun yang mereka bisa pindahkan. Jangan bertanya kepadaku, bagaimana caranya karena aku juga tidak tahu..” putri Nakano merapatkan bibirnya, menariknya hingga menempel pada gigi seri, lalu menggembungkan kedua pipinya.


“Tapi.. apakah karena hal itu juga energi ilahi di bumi ini menipis hingga saat ini? Sebagai akibatnya, umur manusia di sini semakin pendek seiring berjalanya waktu? Sangat berbeda dengan mereka di dunia Danyang..”


Gentayu jatuh pada kontemplasi sebelum bertanya. Ini adalah pemahaman yang diperolehnya hanya setelah berada di Dunia para Danyang.


“Aku juga berfikir begitu. Dan sepertinya, itu fikiran paling logis saat ini. Bahkan kecilnya ukuran tubuh penghuni dunia ini sepertinya juga berhubungan dengan Dunia tersebut.. Miris bukan?” putri Nakano menyatakan kesepakatannya dengan fikiran Gentayu.


“Tapi bersyukurlah kalian yang memiliki garis ketuurunan para dewa dari dunia Danyang..” kali ini putri Nakano bicara sambil menghadap wajah Gentayu. Jarak mereka tak lebih dari dua meter saja.


“Kenapa?” tanya Gentayu.


“Karena dengan memiliki garis keturunan dewa dalam klan, Kalian memiliki potensi yang sama untuk mencapai level mereka suatu hari nanti. Bahkan, kalaupun tidak mencapai level mereka, kalian tetap akan lebih kuat dari manusia di dunia ini. Apakah aku benar?”


Gentayu kembali terbenam dalam kontemplasinya.


Memang benar, bahwa orang-orang dari Dunia Danyang jauh lebih kuat ribuan kali dari manusia di dunia ini. Itu adalah fakta.


Sepertinya, ucapan putri Nakano memiliki dasar berupa fakta yang nyata.


Bahkan, Gentayu kini mulai berfikir bahwa faktor dalam kecepatan pencapaian latihannya juga disebabkan oleh apa yang disebut sebagai garis keturunan dewa ini.


Yah, Gentayu memang telah lama mengetahui, bahwa seluruh klan dengan afinitas unsur alam adalah keturunan dari mereka yang telah mencapai level dewa di masa lalu.


“Lalu, apa hubungannya dengan peta Gerbang Sunda ini?”

__ADS_1


Sekalipun penjelasan putri Nakano sangat membuka wawasannya, namun dia sama sekali belum menemukan benang merah semua hal itu dengan dua peta di tangannya saat ini


__ADS_2