JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Sisa Pasukan Lamahtang III


__ADS_3

Mpu Jangger dan Qiao Shen tentu tidak menyadari, bahwa pasukan di belakangnya tidak akan pernah menyusul mereka.


Para pendekar dari kelompok Bunga Kebenaran benar-benar melaksanakan tugas mereka dengan baik. Jebakan yang mereka buat terlalu sempurna untuk bisa membuat sekitar tiga ratusan lebih pasukan itu lolos.


Mula-mula mereka dikejutkan dengan tebing di tepi hutan yang tiba-tiba runtuh. Runtuhnya tebing itu dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat seolah-olah alami.


Tiga orang kapten atau punggawa yang memimpin masing-masing satuan segera turun untuk memeriksa longsoran tersebut. Mereka memang harus lebih waspada, terlebih setelah melihat sendiri bagaimana ribuan rekan mereka tewas mengenaskan tak lama sebelumnya.


Setelah beberapa lama memeriksa, dan tak ada sesuatu yang mencurigakan, para punggawa itu berkesimpulan bahwa tebing dihadapan mereka runtuh disebabkan murni factor alam.


Karena jalan mereka kini telah tertutup, maka mereka terpaksa melalui bagian lain dari jalur itu yang mengantarkan mereka pada jalanan yang lebih datar dan lapang sekalipun sedikit memutar. Mereka berfikir, bahwa itu adalah jalan yang biasa dilalui penduduk dan pedagang untuk menjual hasil buminya di kota raja.


Sama sekali tidak menyadari, bahwa jalan yang terlihat ‘ramah’ itu justru menyimpan bahaya tak terduga. Baru beberapa saat pasukan itu melewati jalan yang mulus tersebut, tiba-tiba kuda-kuda di sisi kiri kanan jalan terperosok ke dalam lubang dalam. Tidak hanya dalam, lubang-lubang itu bahkan dilengkapi dengan bamboo dan batangan kayu yang diruncingkan sehingga membunuh kuda berikut penunggangnya yang terperosok saat itu juga.


“Awas!! Jebakan!! Merepat ketengah!! Di Kiri kanan ada jebakan!!” teriak salah satu kapten pasukan memperingatkan seluruh pasukan. Para prajurit itu terkejut melihat puluhan rekan mereka tiba-tiba terperosok masuk ke dalam lubang dan tewas tertembus puluhan batang bamboo dan kayu.


Segera saja, sisa pasukan yang menyadari bahaya di sisi kiri kanan jalan segera merepat ke tengah. Merek berjalan beriringan tiga-tiga dengan sikap waspada mengamati sisi kiri dan kanan. NAmun tak lama kemudian, pada bagian tengah pasukan yang beriringan tersebut, tanah yang mereka pijak mendadak runtuh.


Paukan yang dibelakang dan depan segera panik mendengar jeritan mereka yang terperosok dan lagi-lagi, tertancap pada batang kayu dan bamboo yang diruncingkan.


“Mundur!! Semuanya mundur!! Kita Kembali ke jalur awal!!” Salah satu Kapten paling senior, seorang lelaki berjenggot putih memerintahkan pasukannya untuk Kembali. Menurutnya, aka nada lebih banyak jebakan di depan jika mereka meneruskan perjalanan.

__ADS_1


Mendaki reruntuhan tebing sekalipun curam sepertinya lebih baik. Mungkin itulah yang ada di fikiran para punggawa dan prajurit itu saat dengan sedikit tergesa memutar arah perjalannya menuju jalur awal.


Padahal, semuanya memang telah diperhitungkan oleh para pendekar Bunga Kebenaran. Sebenarnya, dua jebakan itu dibuat guna menggiring pasukan ini untuk terus mendaki jalur yang dilongsorkan di jalur awal. Para prajurit itu, pasti berfikir bahwa longsoran itu digunakan untuk menggiring mereka melewati jebakan-jebakan sepanjang jalan desa menuju Kerajaan, sehingga mereka memilih menggunakan jalur awal, mendaki longsoran.


Tentu kuda-kuda mereka tidak akan bisa mendakinya. Artinya, mereka harus meninggalkan kuda-kuda mereka di tempat itu dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


“Ini lebih baik bukan, daripada kita harus melewati jalanan penuh jebakan itu?” Seorang prajurit di barisan belakang berkata kepada rekannya sesaat setelah melepaskan kudanya dan menurunkan perbekalan.


Rekannya hanya mengangguk dengan senyum kecut. Jarak ke kerajaan masih lebih dari 5 mil dan beban bawaan mereka terlalu banyak tanpa kuda mereka! Begitulah isi kepala seluruh prajurit itu saat ini. Mungkin.


Para prajurit akhirnya mendaki bekas longsoran yang menutup jalan yang akan mereka lalui. Cukup tinggi dan curam. Beberapa prajurit tampak kerepotan mendaki di antara bebatuan dan tanah yang basah dan lembek.


Tapi rencana sesungguhnya dari kelompok Bunga Kebenran yang dibantu Diah Rangi dan Putik Embun, yang kini juga telah datang bersama dua puluh pendekar yang membakar perkemahan dan membantai ribuan prajurit sebelumnya.


Gambaran umum rencana mereka telah dijelaskan oleh Diah Rangi dan Putik Embun. Semuanya sesuai dengan rencana awal. Hanya sedikit perubahan karena kehadiran kelompok Bunga Kebenaran, yaitu jebakan tanpa sisa!


“Tak kusangka, orang-orang yang Nyonya bawa begitu lihai dalam merencanakan dan menyusun jebakan..” Benduriang menyampaikan kekagumannya pada kelompok Bunga Kebenaran.


Para pendekar lainnya menganggukkan kepala tanda setuju.


Rencana mereka saat ini adalah mencicil atau mengurangi jumlah prajurit itu pelan-pelan. Mereka akan menyergap dan menghabisi para prajurit yang berada di barisan paling belakang tanpa suara. Dengan berjalan beriringan tiga-tiga, peluang membunuh mereka tanpa terdengar dan disadari oleh kelompok di depannya akan lebih besar. Selain itu juga akan lebih mudah daripada ketika mereka jalan bergerombol.

__ADS_1


Setelah pasukan itu tiba di area jebakan selanjutnya, barulah para pendekar akan kembali mengepung tempat itu guna memastikan tak lagi ada yang bisa kabur.


Tugas itu kini dipercayakan Benduriang dan empat pendekar lainnya yang bersenjatakan pedang dan pisau terbang. Kelimanya selain hebat dalam pertarungan jarak jauh, juga termasuk yang paling baik dalam bertarung jarak dekat. Pendekar pemanah akan melindunginya, memastikan aksi mereka berjalan mulus.


Benduriang dan keempat pendekar lainnya mengendap-endap di antara semak belukar. Dengan ilmu meringankan tubuh mereka, ranting yang terpijak tidak sampai mengeluarkan suara mencurigakan.


Tak butuh waktu lama, Benduriang segera menyergap dan menggorok leher sasarannya. Suara gelogok pada tenggorokan prajurit itu teredam oleh riuhnya para prajurit berdiskusi tentang nasib rekan mereka di perkemahan.


Begitu juga dua lainnya yang menggunakan pisau mampu membunuh lawannya dengan cepat tanpa suara. Pasukan itu terus berjalan, hingga tiba-tiba Sugirambe, sang punggawa yang berada di barisan belakang berteriak lantang


“Berhenti!!Awas ! Ada pembunuh!”


Kepanikan segera menyebar pada sisa prajurit yang kini tak lebih dari dua ratusan orang saja itu. Saking paniknya, kini mereka malah berkumpul dan berdesakan di tengah.


Barisan depan ikut-ikutan menjadi panik bahkan lebih dramatis. Mereka segera berlarian, berharap bisa menyusul Mpu Jangger untuk diselamatkan. Sementara yang di barisan belakang mendesak rekan di depannya dan memilih berada di barisan depan. Lebih aman, menurut mereka.


Karena barisan depan berlarilah, menyebabkan terjadinya kekacauan di bagian belakangnya. Sementara bagian paling belakang berusaha untuk tidak lagi berada di bagian belakang, karena merasa nyawanya terancam melihta rekan di belakang mereka tak lagi ada.


Dalam susana kacau itu, tiba-tiba dari barisan depan terdengar pekik jerit kematian. Rupanya, mereka tercebur ke sebuah lubang besar. Kali ini berisi api dan senjata tombak mengarah ke atas pada dasar sumur tersebut.


Para prajurit itu kini menjadi panik. Sebagian mereka memilih untuk berlari meninggalkan pasukannya. Tapi rupanya, Para pendekar pemanah telah siap di tempat mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2