
Di kediaman Lestini, Sakuza dan saudari seperguruannya, Yumiko merasakan kehadiran energi hitam dalam jumlah besar yang terus bertambah. Tanpa bersuara, mereka berdua beringsut keluar meninggalkan kediaman lestini. Mata keduanya terbelalak saat menyaksikan di angkasa, ada sosok dengan pancaran energi jahat yang sangat kuat melayang dan mengendalikan tiga lilitan ‘tali’ yang terbuat dari sepenuhnya energi hitam dengan tiga sosok yang terbelit dalam ikatan tersebut tidak berdaya.
Tampak salah satu dari ketiganya dihempaskan entah kemana dan segera disusul kilatan energi lain menghantam tubuh yang sedang menghempas tersebut. Itu adalah tubuh Gentayu yang kemudian menghilang terhalang oleh rumah dan pepohonan dari pandangan sakuza dan Yumiko. Ternyata nasib kedua orang sisanya juga tak kalah buruk. Keduanya bahkan dilemparkan ke udara dan dihujani dengan pukulan energi yang sangat dahsyat. Sakuza dan Yumiko segera melesat ke arah di mana sosok mengerikan tersebut melayang.
Betapa terkejutnya mereka, karena di sekitar tempat sosok yang melayang tersebut, puluhan mayat hidup sedang membuat kekacauan. Banyak warga desa yang tertangkap dan dihabisi tanpa ampun. Sisanya yang masih cukup berani memberikan perlawanan seadanya. Selebihnya melarikan diri dan bersembunyi. Keduanya menyadari bahwa akan semakin banyak korban dari warga desa berjatuhan jika mereka tidak segera bertindak.
Tanpa menunggu lebih lama, Sakuza mengeluarkan senjatanya berupa cambuk yang dialiri petir dari pangkal ke ujungnya, sedangkan Yumiko mengeluarkan sebuah busur panah yang unik. Sakuza segera terjun ke medan pertarungan. Cambuknya efektif mengurangi jumlah mayat hidup dengan cepat. Setiap kali cambuknya menyentuh kulit mayat-mayat hidup tersebut makan ledakan akan terjadi. Tentu saja yang meledak adalah tubuh mayat hidup tersebut.
Yumiko sendiri tidak kalah ganas senjatanya. Panah yang tidak dikeluarkannya saat menghadapi lima anggota kelabang Hantu itu kini mengamuk. Yumiko tidak terlihat memiliki anak panah yang menyertai busurnya. Namun setiap kali busur direntangkan dan dilepas, ratusan anak panah melesat dan meledakkan tubuh lawan-lawannya. Nampaknya mereka berdua mengangap lawan kali ini lebih mengerikan daripada Kelabang Hantu.
+++++++ +++++ ++++++ +++++
__ADS_1
Gentayu merasakan energinya mulai tersedot oleh sulur-sulur seperti akar tanaman berwarna hitam yang membelit kakinya itu. Dia segera mengeluarkan pedang satam di tangannya, namun belum sempat pedang itu beraksi, tangannya telah dibelit dan pedang tersebut telah terlepas dari tangannya.
‘saatnya mencoba ajian bulan menarik samudra’ batin Gentayu.
Jurus ‘bulan menarik samudra’ adalah bagian dari beberapa bab dari ilmu Bulan Perak. Jurus ini, berfungsi untuk menyerap energi dari alam semesta dengan cepat, selain juga dapat digunakan bahkan untuk menghisap energi lawan menjadi energi milik sang pengamal jurus ini. Tentu Gentayu tidak akan menggunakan jurus ini jika energi yang akan dihisap adalah milik Karang Setan ini, Karena prinsip dasar jurus ini adalah tidak akan bekerja maksimal jika lawannya lebih tinggi tingkatan keilmuannya.
Gentayu menyadari, bahwa sulur-sulur ini digerakkan dan dikendalikan bukan oleh Karang Setan namun oleh salah satu pusakanya yang saat ini tertancap di tanah tidak jauh dari tempat Karang Setan melayang. Menghisap energi Karang Setan adalah mustahil karena tubuhnya pasti yang akan hancur. Tetapi pusakanya ini pasti tingkatan energinya tidak lebih besar dari dirinya. Segera saja Gentayu komat-kamit membaca mantra ajinya dengan posisi tangan dan kaki yang telah menyatu terikat sempurna. Saat selesai membaca mantra, sulur-sulur tersebut terlihat mulai bereaksi. Kini sulur-sulur itu jadi berfungsi seperti sedotan yang menghisap energi dari pusaka Karang Setan yang berupa tongkat untuk mengisi tubuh Gentayu. Tampaknya Karang Setan tidak menyadari yang dilakukan Gentayu. Matanya mulai fokus ke arah lain. Arah itu adalah tempat di mana Kazusa dan Yumiko sedang bertarung melawan pasukan mayat hidup.
Saat Karang Setan sedang fokus terhadap aksi Yumiko dan Kazusa, Gentayu telah berhasil menyerap seluruh energi dari pusaka Karang Setan yang berupa tongkat tersebut. Gentayu merasakan bukan hanya energinya telah pulih, namun juga merasa setingkat lebih kuat dari sebelumnya. Gentayu tidak menyadari bahwa kekuatan putihnya yang telah tersedot benar-benar belum pulih. Sementara tenaga luar biasa yang dirasakannya saat ini justru berasal dari Tongkat sakti berkekuatan hitam. Setelah seluruh energinya tersedot kini tongkat ini selamanya hanya akan menjadi tongkat biasa tanpa kekuatan. Sedangkan bila korban jurus ini adalah manusia, tentu manusia tersebut harus mati mengering.
Saat Karang Setan mengangkat tangan kanannya, segera saja terbentuk pusaran angin di bawah kakinya yang masih melayang lebih dari lima meter dari tanah itu. Gentayu tahu bahwa itu adalah sebuah teknik kompresi energi di sekitar untuk dilepaskan sebagai pukulan jarak jauh. Sasarannya pasti dua Kazusa dan Yumiko! Gentayu segera melesat ke arah Karang Setan dan dalam tempo sepersekian detik, dia berhasil menghantamkan sebuah tendangan ke arah pendekar legendaris aliran hitam itu!
__ADS_1
“Tendangan Ekor Naga Api!”
‘BAM!!’
Terjadi suara benturan dua energi hebat di udara, menimbulkan suara ledakan bergema dan gelombang kejut yang mementalkan benda-benda dalam radius lebih dari 20 meter dari lokasi. Gentayu terpental ke belakang dan meluncur ke bawah mengantam atap rumah warga!
‘Brak! Bug!’
Suara benda jatuh dan atap rumah yang rusak terdengar bersamaan.
Di atas sana, Karang Setan masih kokoh berdiri. Tapi kini dia tidak lagi memperhatikan Kazusa dan Yumiko yang sedang menghabisi pasukan mayat hidup di bawah sana. Pendekar legendari itu nampak terkejut dirinya masih menerima serangan dari manusia yang seharusnya sudah mati, fikirnya. Dia menoleh ke arah tongkat pusakanya. Itu adalah tongkat yang sebenarnya berfungsi untuk mengisi ulang energinya dari para pendekar lawan maupun makhluk hidup di sekitarnya saat bertarung. Kini tongkat itu bahkan tidak lagi bisa berfungsi!
__ADS_1
Pandangan Karang Setan kembali tertuju ke arah Gentayu yang masih berusaha berdiri. Dia sedikit bingung bagaimana pemuda itu masih hidup saat energinya seharusnya dihisap habis, bahkan kini masih bisa menyerangnya?
“Tampaknya, hari ini aku bertemu dengan bakat yang hebat di masa depan! Baguslah.. Setidaknya, aku bisa membunuhmu saat ini sebelum kau menjadi masalah di masa depan...” Karang Setan berkata dengan dingin. Tanpa ekspresi . Namun seringainya terlihat lebih menyeramkan saat perlahan dia mulai turun menapak tanah. Karang Setan berjalan mendekati Gentayu yang kini sudah berdiri kembali dengan darah yang mengalir dari kedua sudut bibir. Benturan barusan tampaknya membuatnya terluka dalam.