JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Nasibmu Telah Ditentukan


__ADS_3

Montawiraba meluncur turun dari angkasa laksana bintang jatuh. Kakinya mendarat di atas bebatuan, membuat bumi sedikit bergetar dan asap debu serta kerikil berhamburan.


Centini dan Pandak Lima berusaha melindungi wajah mereka agar tidak terkena hempasan kerikil dan debu. Sementara Pengawal bertato bulan sabit harus menerima nasib, terpental jauh ke belakang karena lokasi mendarat Montawiraba persisi di sebelahnya.


“Tuan, maafkan atas apapun kesalah fahaman yang terjadi di antara kita. Kami dari Telegu Merah, tidak bermaksud menyinggung tuan yang mulia..” Centini segera menghampiri Montawiraba dan membungkuk hormat.


Tapi, Montawiraba justru memandang mereka dengan wajah sinis. Sama sekali tak sedap dipandang. Andai bukan karena wajahnya yang tampan, rasanya Centini ingin mencakar wajah itu andai dia mampu.


“Kesalahfahaman? Anak buahmu berusaha merebut perintah dari Reksabumi kami dan kalian bilang salah faham?” Montawiraba berjalan mendekat dengan membusungkan dada. Jarinya menunjuk ke arah pendekar bertato bulan sabit. Pengawal Centini itu yang ditunjuknya terlihat meringis kesakitan berusaha membebat luka dari tangannya yang buntung.


Dari nada bicara dan sikapnya, jelas bagi Centini dan dua pengawalnya, pria ini sengaja sedang mencari gara-gara.


“Apakah Marga Tanah ingin berurusan dengan Telegu Merah??” Centini terpancing dengan provokasi Montawiraba, dia tidak biasa diremehkan sekalipun menyadari perbedaan kekuatan di antara mereka terlalu jauh.


Marga Tanah, sekalipun belum lama menjadi sebuah padepokan, namun pengaruh dan perkembangannya yang terlalu pesat membuat kelompok-kelompok, Marga bahkan kerajaan Sindur Kuntala menahan diri dari berurusan dengan mereka.


Selama ini, Telegu Merah dianggap terlalu misterius. Bagaimana sebuah kelompok yang hanya dipimpin oleh Pendekar Alam level awal bisa berubah menjadi kekuatan yang tidak bisa diremehkan.


Dunia persilatan Lemuria menyadari satu hal secara bersama, bahwa ada tokoh kuat bersembunyi di belakang mereka.


Tapi, tampaknya hari ini reputasi yang dibangun begitu kokoh di se antero Sindur Kuntala oleh kelompok Telegu Merah sama sekali tidak berarti di hadapan Montawiraba.


“Hah? Tak tahu diri! Kau fikir kami takut dengan kelompok kecil seperti Telegu Merah? Salah besar..!” Montawiraba kali ini maju mendekat dengan ekspresi menekan.


Aura puncak pendekar langit segera memancar dari dirinya, membuat nyali ketiga orang dari Telegu Merah ciut seketika. Mereka jelas bisa dibunuh hanya dengan sekali menjentikkan tangan!


Bersamaan dengan langkah maju Montawiraba, tanah berbatu di sekitarnya berguncang. Lalu, seperti memiliki nyawa sendiri, tiga buah pilar batu dan tanah terbentuk di belakang masing-masing dari tiga orang pendekar Telegu Merah.


Pilar batu-tanah itu memelintir, seolah membentuk jalinan, dan seketika itu pula menembakkan pisau-pisau batu dan tanah ke arah para pendekar Telegu Merah.


Pendekar bertato bulan sabit melakukan gerakan menghindar secepat yang dia bisa. Berkali-kali, tubuhnya terpaksa bergulingan setelah gagal melakukan salto belakang atau jungkir ke depan karena lengannya yang kini buntung.

__ADS_1


Sepuluh pisau batu-tanah yang meluncur secepat kilat dalam tempo dua tarikan nafas berhasil dihindari. Namun, pisau ke sebelas dan selanjutnya tak dapat dilewatinya.


Dua pisau berhasil menancap di pahanya, menembus tulangnya hingga keluar ke sisi belakang pahanya, membuat pendekar buntung itu harus jatuh dalam posisi berlutut.


Mulutnya tak sempat berteriak walaupun rasa sakit akibat tusukan dua pisau itu seperti merayap ke seluruh tubuhnya dengan cepat. Sebuah pisau lain telah menancap di keningnya, menutup kesempatannya untuk menghindar sekaligus mengakhiri petualangannya.


Pendekar itu mati setelah berkelojotan meregang nyawa selama lebih dari sepuluh tarikan nafas.


Nasib tak jauh berbeda di alami Pandak Lima.


Pendekar gempal itu berjumpalitan di udara dengan gesit ketika puluhan pisau melesat cepat ke arahnya, nyaris tak terlihat.


Pandak Lima, bahkan bisa bertahan ketika si pendekar bertato bulan sabit telah sekarat. Rupanya, sebagai pendekar paling beringas dia memiliki stamina dan teknik menyelamatkan hidup yang sangat baik.


Pilar batu yang menyerangnya telah habis akibat terus menerus melesat dalam potongan-potongan kecil sebagai pisau. Namun, bahkan setelah pilar batu-tanah itu habis, pilar kedua muncul tepat di hadapan Pandak Lima. Bahkan jaraknya hanya satu meter kurang dari kakinya yang kini menapak tanah.


Pandak Lima segera berusaha menjauh dari pilar kedua yang belum sempurna terbentuk itu.


Jarak waktu yang dibutuhkan oleh empat pilar yang kini mengepung dan menutup jalan Pandak Lima dengan kemunculan pilar kedua sebelumnya sangat cepat. Bahkan kurang dari satu detik!


Menggeliat perlahan seolah bernyawa, lima pilar itu bergabung dan mengurung Pandak Lima di dalamnya saat pendekar itu berniat melesat ke udara.


Dada dan kepalanya berhasil lolos dari sergapan lima pilar yang menjalin diri menjadi perangkap, tapi tidak dengan bagian bawah tubuhnya.


‘KREPEK!’


‘KREPEK!’


‘CEKRAK!’


Bunyi tulang remuk segera terdengar bersamaan dengan gerakan memelintir dari lima pilar yang kini saling memilin, menjerat dan meremukkan sekaligus tubuh Pandak Lima di dalamnya.

__ADS_1


“AAAAAHHK…!” Pandak Lima melolong kesakitan.


Darah kental menyembur dari mulutnya, seiring dengan berubahnya warna batuan dan tanah yang terus bergerak meremukkan bagian bawah tubuhnya. Batuan itu kini berwarna merah akibat darah dari tubuh Pandak Lima yang hancur. Daging tubuhnya tampak melorot turun dari sela-sela batuan-tanah. Meninggalkan tubuh bagian atasnya saja yang utuh!


Kematian yang tragis


Nasib lebih baik dialami Centini.


Dia tidak melawan ataupun berusaha menghindar. Gadis itu justru berlutut dan mengeluarkan seluruh harta benda dari tubuhnya. Dia cukup cerdas untuk menyadari bahwa kemungkinanya untuk bertahan nyaris tidak ada.


Sikap putri ketua padepokan Telegu Merah itu membuat Montawiraba mengerutkan kening.


Pria itu cukup cerdas untuk membaca situasi dengan cepat. Maka sejurus kemudian, batuan yang sedianya digunakan untuk membunuh wanita itu degan cepat telah berubah formasi untuk mencengkeram pangkal lengan, bahu, pangkal paha, dan seluruh organ gerak Centini.


“Nasibmu, biar diputuskan oleh orang yang kau singgung!” Montawiraba berkata pelan, namun cukup bisa didengar seniornya yang tengah mengawasinya entah di mana sekarang.


Dia baru saja hendak mebalikkan badan dari Centini, saat batuan yang awalnya hanya memerangkap gadis itu kini bergerak cepat membuntungi kedua tangan dan kaki gadis itu.


“AAAAAAAAKKKK!!” Centini berteriak kesakitan ketika bebatuan kasar di sekelilingnya mengayun memotong otangan dan kakinya.


Darah muncrat bahkan mengenai punggung Montawiraba. Pemuda itu berbalik melihat kondisi gadis tawanannya, lalu mendongak ke langit di sisi kanannya.


“Senior sudah memutuskan..” katanya lirih, namun bisa didengar Centini yang kini nyaris kehilangan kesadaran akibat rasa sakit yang dideritanya.


Montawiraba membungkuk hormat ke arah seniornya yang melayang turun dengan halus, seperti melayangnya kapas yang jatuh dari pohonnya.


“Ambil semua kantong, gelang, dan harta apapun di tubuh mereka. Pastikan tak ada yang tercecer. Aku ingin berbincang sebentar dengan gadis manis ini..” Dana Setra membungkuk di dekat kepala Centini, lalu menyingkap cadar merah yang dipakai gadis itu. Sementara Montawiraba segera menjelajah setiap inci tubuh lawannya yang telah tewas.


“Lumayan cantik..” Ujarnya sesaat setelah memandangi wajah Centini. Centini yang dipandanginya hanya meringis menahan kesakitan di seluruh tubuhnya. Matanya melotot marah ke arah Dana Setra. Mukanya merah dengan gigi gemeretuk marah.


“Senior.. aku menemukan ini..” Montawiraba setengah berteriak ketika memeriksa sebuah kantong di tubuh Pendekar bertato bulan sabit. Wajahnya nampak tegang sekaligus terkejut yang tak bisa ditutupi.

__ADS_1


__ADS_2