
“Benar. Aku tidak berbohong khan kalau Itu memang seekor kelinci?!” Anjani membenarkan ucapannya sendiri sebelumnya melalui pembenaran Hao Lim. Lalu menoleh kepada Gentayu “Hei, pemuda gagah! Bukankah menangkap seekor kelinci bagi seorang pendekar terkuat di Lamahtang sepertimu seharusnya hal yang mudah? Ayo, tangkap dia.. Apa kau ingin kita mati kelaparan di hutan ini?” Anjani berkata sembari mengedipkan sebelah matanya.
Entah apa maksud gadis itu, namun Gentayu merasa itu artinya gadis cantik itu sedang memberikan tantangan untuknya. Dari mimiknya, jelas gadis itu mengetahui kalau kelinci di hadapan mereka ini tidak seperti biasanya.
Gentayu segera melompat kembali bermaksud menubruk kelinci yang kini telah melompat-lompat menjauh.
Gentayu menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk menghadang lompatan kelinci besar itu. Tapi, kecepatan kelinci itu sepertinya memang jauh melampaui kecepatannya. Ilmu meringankan tubuhnya terlihat sangat lambat bila dibandingkan kelincahan kelinci itu bergerak.
‘Gila! Apakah itu benar-benar kelinci? Bahkan seingatku, kuda tercepat saja tidak secepat itu..!’ Gentayu benar-benar dibuat penasaran setelah menyadari dirinya kalah cepat dari makhluk menggemaskan itu.
Gentayu tak mau menyerah. Dikerahkannya kemampuan terbaiknya untuk menangkap kelinci besar itu. Namun lagi, lagi, kelinci itu terlalu gesit untuknya.
Kejar-kejaran keduanya telah berlangsung lebih dari lima menit. Mereka memang tidak pergi menjauh dari area pertama kali Gentayu dan kedua perempuan itu ‘mendarat’. Mereka hanya berputar-putar dalam radius kurang dari satu kilometer jauhnya. Tapi jarak itu bukanlah jarak tempuh yang wajar untuk seekor kelinci.
“Hei.. kau tak mungkin bisa menangkapnya dengan cara itu..!” Anjani meneriaki Gentayu yang masih berupaya mengejar kelinci. Jarak keduanya semakin lebar seiring waktu.
‘Tidak ada cara lain..’ Gentayu akhirnya tidak lagi berfikir untuk menangkap kelinci itu menggunakan tangan kosong.
‘Zhuuut..!
‘DAR!’
Tembakan energi pertama Gentayu mengarah ke tubuh kelinci itu. Sang Kelinci yang menyadari dirinya dalam bahaya melompat tinggi, setinggi tiga kali orang dewasa lalu bersalto dan mendarat kembali di tanah. pukulan energi Gentayu hanya mengenai sebatang pohon besar, dan menciptakan lubang besar di batangnya.
Tapi, setelah menapak tanah kembali, sang kelinci itu kini tidak lagi dalam posisi membelakangi Gentayu seperti sebelumnya, melainkan menghadapinya.
Gentayu merasa aneh melihat apa yang dilakukan kelinci tersebut. Namun rasa anehnya berubah menjadi perasaan terancam ketika tiba-tiba kelinci itu menunjukkan perubahan fisik.
Mata kelinci itu berubah menjadi memancarkan kilatan api saat menatap Gentayu. Tidak hanya sampai di situ, bulu-bulu putih pada tubuhnya juga berubah menjadi bulu-bulu api berwarna putih kebiruan! Benar-benar api yang sangat panas.
__ADS_1
Setelah tubuhnya berubah, kelinci itu mengibaskan kepalanya. Lalu menatap tajam ke arah Gentayu yang kini menjadi waspada.
“Nona, apa kau yakin itu benar-benar kelinci?” Gentayu mundur beberapa langkah, berusaha mendekat ke arah Anjani dan Hao Lim.
Anjani tidak menanggapi. Kedua tangannya kini justru bersedekap di depan dada.
Sikap berbeda ditunjukkan Hao Lim. Dia yakin, bahwa kelinci di hadapan mereka ini sejenis siluman yang sangat kuat untuk bisa dihadapi, sehingga dia memilih mengambil ancang-ancang seandainya makhluk imut itu menyerang mereka.
Gentayu tidak menunggu lagi jawaban dari Anjani. Dia kini dipaksa harus melompat ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri.
Kelinci itu menembakkan bulu-bulu api putih kebiruan ke arahnya. Kecepatan serangan kelinci itu bahkan lebih cepat dari serangan energi rata-rata pendekar-pendekar aliran hitam yang pernah dihadapi Gentayu sebelumnya, selain Karang Setan tentu saja.
Sekeliling tempat mereka berada kini telah terbakar akibat serangan-serangan kelinci itu kepada Gentayu yang luput dan menghantam semak dan pepohonan.
‘Aku tak bisa terus menerus menghindar! Kelinci aneh ini sepertinya memiliki energi tak terbatas’
Gentayu melihat bahwa kelinci itu tidak terlihat berkurang kelincahannya setelah beberapa saat. Bahakan, dari waktu ke waktu kekuatan dan kecepatan kelinci itu terasa terus meningkat.
Pedang itu ternyata telah mengalami peningkatan kekuatan berkali-kali lipat setelah beberapa waktu berada di tubuh Karang Setan. Energi hitam pekat menyelimuti kedua bilah pedang warisan Ki Brajawana itu.
“Mari kita tunjukkan padanya, bahwa tempatnya yang layak adalah di dalam perut kami!” Gentayu berkata pelan, seolah sedang berbicara kepada pedangnya.
Pedang itu berkilau terang saat sebuah serangan bulu api kelinci menghantam bilah pedang. Gentayu termundur beberapa langkah ke belakang setelah benturan terjadi, lalu bergerak cepat untuk kembali menangkis tembakan bulu api berikutnya.
‘Zing!’
‘TANGK..!’
‘Zing!’
__ADS_1
‘TANGK..!’
Benturan antara bulu api kelinci dan pedang Satam terdengar nyaring seperti benturan benda bukan logam dengan logam.
Sekuat apapun Gentayu mencoba menghadang serangan bulu-bulu api kelinci itu dengan pedangnya, selalu saja dirinya dibuat termundur beberapa langkah. Kejadian itu terus berulang, membuat jarak antara Gentayu dan kelinci itu semakin melebar.
Bukan Hanya itu, sesekali bahkan kelinci itu mengarahkan serangan bulu apinya ke arah Hao Lim dan Anjani. Beruntung, keduanya memang telah bersiaga dan waspada.
Hao Lim terus menerus membuat perisai energi untuk menghalau serangan bulu api kelinci itu. Sementara Anjani, tampak tidak terlalu kesulitan menangkis dengan tangan kosong. Beberapa kali bahkan gadis itu terlihat menangkap bulu-bulu api yang kecepatannya bahkan sulit dilihat mata biasa itu.
Saat di tangan Anjani, bulu-bulu api itu terlihat seperti bulu kelinci biasa, hanya dalam bentuknya yang lebih lurus dan cenderung keras. Mungkin lebih mirip bulu landak kecil.
Saat jarak keduanya semakin menjauh itulah, si Kelinci tiba-tiba melompat ke belakang dan lenyap di balik rimbunnya semak-semak.
Gentayu untuk pertamakali merasa kesal karena gagal menangkap seekor kelinci. Tapi akhirnya dia menyadari sesuatu.
Anjani tampak tersenyum lebar melihat Gentayu gagal menangkap buruannya. Senyuman yang mirip dengan senyum saat seorang guru telah selesai mengajari seorang murid dan sang murid faham. Gadis itu bahkan bertepuk tangan sebentar sebelum melompat ke sampingnya.
“Bagaimana? Apa kau memahami sesuatu..?” Anjani bertanya, kembali dengan kedua tangan di pinggang.
Gentayu tidak menjawab. Dia berdiri dengan kedua tangan menopang pada pedang Satam yang tertancap di tanah. Pandangannya masih terarah kepada semak-semak tempat menghilangnya si kelinci.
“Ayo pergi. Di sini terlalu panas akibat kebakaran ini..” Anjani beranjak pergi menjauhi lokasi mereka berada yang memang tengah terbakar hebat.
Gentayu menyimpan kembali pedangnya di dalam tubuhnya sebelum menyusul Anjani. Hao Lim juga telah terlebih dahulu bergerak mengikuti Anjani. Ketiganya segera menjauh dari api, sekaligus mencari jalan untuk bisa keluar dari dalam hutan ini segera.
“Apakah semua hewan di dunia ini sekuat kelinci itu?” Hao Lim bertanya kepada Anjani karena menurutnya, kelinci itu bahkan lebih kuat daripada kadal api yang mereka lawan beberapa waktu sebelumnya.
“Tidak..” Jawab Anjani sambil membersihkan bunga-bunga tumbuhan hutan yang menempel di wajah dan rambutnya.
__ADS_1
“Kelinci itu, bahkan termasuk yang terlemah di antara para Danyang..”
“Danyang??” Hao Lim dan Gentayu membeo serentak.