JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Tanah Misterius III


__ADS_3

Seluruh hamparan lembah indah di hadapan Gentayu berubah.


Yang dilihatnya adalah hutan lebat, dengan kabut tipis yang melayang turun dan udara yang lebih dingin.


‘Aku masih di hutan yang sama dan belum beranjak dari bukit laba-laba? Ternyata bukit ini besar sekali..’ Gentayu mengucek matanya, berharap pemandangan di hadapannya berubah lagi. Tapi tidak ada perubahan apapun. Dirinya kini memang masih berada di hutan yang sama, di sebuah bukit menuju kaki gunung.


“Anak muda, kau harus memberi penjelasan kepadaku! Mengapa kau merusak lukisanku!” Suara cempreng di belakang Gentayu kembali terdengar.


Laki-laki tua kurus dan botak itu masih di sana. Memegang kuas lukisnya. Menunggu jawaban Gentayu.


Gentayu berbalik, dan segera berlutut begitu matanya melihat wujud laki-laki yang diduganya bernama Manik Baya tersebut.


Yang membuat Gentayu segera menjatuhkan diri dan berlutut adalah aura aneh dari lelaki di hadapannya. Aura itu berbeda dari aura para pendekar yang sebelumnya ditemui. Terasa sangat kuat dan berkuasa, tapi tidak mengintimidasi.


Dan, mata Gentayu yang jeli menangkap sesuatu yang tidak biasa dari lelaki ini.


Kaki laki-laki tua ini tidak benar-benar menapak tanah!


Memang ada kabut sangat tipis yang menyamarkan melayangnya kedua kaki lelaki tua botak ini. Jika tidak teliti mengamati, tidak akan terlihat. Untunglah, mata Gentayu cukup terlatih melihat hal-hal detail.


Karena hal inilah Gentayu segera menyadari, laki-laki ini bukan manusia yang bisa disinggung.


“Kenapa kau malah berlutut, anak muda? Cepat jelaskan dan jangan bermain drama seperti ini!” kakek botak bersuara cempreng bicara setengah menghardik. Tapi bibirnya terlihat menyunggingkan senyum nyaris tak terlihat.


“Maafkan saya, kakek. Saya tidak sengaja merusak karya kakek. Saya melakukannya hanya untuk menyelamatkan diri..” Gentayu menunduk, tak berani menatap wajah lelaki tua itu.


“Apa? Menyelamatkan diri? Apakah kau berfikir aku akan benar-benar membunuhmu?” lelaki tua itu kini tampak benar-benar marah dilihat dari nada bicaranya yang tinggi. Dengan mata yang melotot.


“Justru itu, kakek. Karena saya berfikir nyawa saya terancam, makanya saya berupaya menyelamatkan diri. Maafkan saya..” kali ini Gentayu semakin tertunduk dan nyaris bersujud.


“Lalu, bagaimana dengan rekan-rekanmu, sesama peserta yang lain? Apakah mereka juga menyadarinya?” nada bicara sang kakek berubah. Bahkan dia sepertinya tidak lagi mempermasalahkan ilusi lukisannya yang dirusak.


“Rekan-rekanku? Tapi.. saya datang sendirian kakek..” Kali ini, Gentayu bingung untuk menjawab.


“Oh, jadi maksudmu, rekan-rekanmu masih di belakangmu?” Kata lelaki tua itu sembari tangannya memayungi dahi dan dua matanya, melihat ke kejauhan. Seolah mencari seseorang di luar sana.

__ADS_1


“Rekan-rekanku? Siapa maksud kakek? Saya benar-benar sendirian kakek.. dan saya benar-benar tidak mengerti siapa yang kakek maksud.. Sungguh!”


Rupanya, kakek bersuara cempreng telah salah faham dengan Gentayu.


“Jadi, kau bukan bagian dari sayembara?”


“sayembara? Sayembara apa maksud kakek?” Gentayu semakin yakin, bahwa orang di depannya benar-benar salah faham.


“Sayembara putri Luh Cendrawani.. jadi kau benar-benar bukan salah satu dari mereka?” Kakek cempreng itu bertanya sekali lagi. Tapi sepertinya dia sudah maklum bahwa Gentayu bukan seperti bagian dari orang-orang yang dia maksud.


“Bu.. bukan, kakek.. bukan..” Jawab Gentayu. Meyakinkan seraya berharap lepas dari masalah apapun yang menantinya.


Lelaki tua itu tampak berfikir keras. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggunya.


“Ah, ... begini saja. Untuk menebus kesalahanmu, kau ikut aku sekarang..” Kakek tua itu berseru dengan semangat. Seolah menemukan sesuatu yang menarik.


“Tapi, kek..” Gentayu baru saja hendak berbicara lebih lanjut. Tapi sang kakek sepertinya tidak mau mendengar alasan apapun.


Kakek tua itu menggerakkan kuasnya, melukis udara kosong dan..


‘Whuzz...!’


Asap serupa awan itu membawa tubuh keduanya melesat ke atas awan dan segera lenyap di angkasa. Timbul dan tenggelam di antara awan dan mendung di langit.


Dalam kecepatan sangat tinggi di antara awan, tubuh Gentayu menjadi mati rasa . Darahnya seolah tertinggal di belakang tubuhnya. Nafasnya sesak. Bahkan, pakaiannya telah mengalami robek di sana-sini akibat terpaan angin karena saking cepatnya mereka melesat.


Di sisi lain, fenomena tak lazim terlihat.


Kakek bersuara cempreng itu tampak berdiri tenang di depan gentayu. Tak terpengaruh sama sekali dengan kecepatan terbang dan ketinggian mereka. Wajahnya santai menatap ke depan. Bahkan, rambutnya sama sekali tidak tersentuh atau diterbangkan angin.


Seolah, dia tidak sedang berada di sana saat ini.


Sedangkan Gentayu, di tengah upayanya mempertahankan diri agar tetap dalam kondisi sadar, sempat berfikir bahwa yang sedang dialaminya adalah ilusi lainnya dari kakek cempreng itu. Namun, semua dugaannya buyar saat memasuki awan hitam dan sebuah petir menyambar dadanya.


‘Cletar!!’

__ADS_1


Gentayu hanya kaget saja menerima sambaran petir tersebut. Kesadarannya yang hampir menghilang segera kembali walau hanya sesaat.


Percikan api terlihat ketika petir itu menyentuh kulitnya. Namun sama sekali tidak membakarnya ataupun membuatnya terluka parah.


Kekuatan petir itu sebenarnya sanggup menghancurkan sebuah pohon besar sekalipun. Tapi pada Gentayu, hanya meninggalkan asap hitam mengepul dari bidang dadanya yang tersambar. Dan asap itupun segera lenyap karena saking cepatnya tubuhnya melaju.


Di luar dugaan, tubuh Gentayu ternyata baru memberikan reaksi tak terduga beberapa detik kemudian. Saat asap tebal serupa awan telah meninggalkan awan hujan mengandung petir itu jauh di belakang.


Pada bekas sambaran petir di dadanya, muncul sebuah titik hitam kebiruan seukuran mata lubang tindik yang tampak hidup. Titik hitam kebiruan itu perlahan mulai melebar, memanjang, membentuk sebuah pola tanda petir.


Pola itu berhenti berkembang setelah mencapai ukuran sepanjang jari telunjuk. Semuanya berlangsung hanya kurang dari lima detik/


Gentayu sendiri tak sempat memperhatikan dan merasakan perubahan tersebut karena saat itu, dirinya nyaris kehilangan kesadaran. Tapi ekspresi lelaki tua cemptrng itu terlihat keheranan.


Semua kejadian itu tak luput dari pandangan pria tua itu, sekalipun posisi Gentayu berada di belakangnya.


‘Putra petir lainnya??’ gumam lelaki tua itu pada dirinya sendiri. Dia hanya melirik sebentar pada Gentayu di belakangnya, namun tubuh dan wajahnya fokus ke depan.


Dalam tempo penerbangan kurang dari sembilan puluh hitungan, akhirnya kecepatan melaju keduanya berkurang.


Tak lama kemudian, asap serupa awan itu membawa keduanya turun di depan sebuah pintu gerbang yang sangat besar, tinggi dan terlihat mewah.


Saat itu, Gentayu telah sepenuhnya kehilangan kesadaran karena cepatnya mereka melesat. Rambutnya acak-acakan. Pakaiannya compang-camping. Bermacam debu dan kotoran melekat di wajah dan kulit tubuhnya.


Tubuh Gentayu jatuh bebas dari ketinggian lima meter di atas tanah ketika asap yang menyelimutinya memudar.


Tapi ketika tinggal sejengkal kepalanya membentur tanah, tubuhnya tertahan dan jatuh dengan halus.


Gentayu pingsan!


Nb. Lanjut besok yaa..


Tubuh saya protes, minta istirahat.


Jangan lupa jaga kesehatan kalian juga..

__ADS_1


__ADS_2