
"Putri, Demi keselamatanmu, sebenarnya aku ingin kamu menunggu disini saja, di tepi hutan ini. Tapi.. Karena aku tak tahu bagaimana cara mengaktifkan segel peta ini nantinya, jd tuan putri perlu untuk tetap bersamaku. Jadi dengan hormat, mohon tuan putri untuk masuk ke dalam gelang gerobokku ini. Tenang saja, aku menjamin tuan putri akan betah dan juga mendapatkan manfaat besar di dalamnya..." Gentayu menjelaskan.
"Kamu ingin aku masuk ke dalam cincin penyimpanan mu?" Nada keraguan jelas terdengar dalam pertanyaan putri Nakano.
"Gelang gerobok, namanya tuan putri. Tapi mohon jangan salah sangka dulu. Gelang gerobokku ini memiliki dua ruang terpisah. Salah satunya adalah alam tepi danau yang sangat menarik.
Aku menjamin Tuan Putri akan betah dan mendapatkan manfaat jika Tuan Putri berlatih di sana.."
Putri Nakano terlihat agak ragu-ragu mendengar penjelasan Gentayu. Namun kemudian mengeraskan rahangnya sebelum mengangguk.
Saat ini dia tak punya pilihan lain kecuali menuruti Gentayu.
Putri Nakano akhirnya tidak melakukan perlawanan apapun saat Gentayu mengarahkan cincin penyimpanannya ketubuhnya.
Dalam sekejap tubuh putri Nakano menghilang dari pandangan mata dan berpindah ke dunia tepi danau di dalam gelang gerobok Gentayu.
"Begini lebih baik" kata Gentayu saat putri Nakano telah menghilang dari pandangan.
Lalu tanpa menunda lagi gentayu segera melompat, menyerbu ke dalam hutan petir tanpa ragu.
Tanpa putri Nakano di sisinya, Gentayu dengan cepat melesat ke bagian dalam hutan petir.
Sambaran-sambaran kilat petir kecil tidak berpengaruh kepadanya. Semua energi petir itu dengan cepat menghilang karena diserap tubuhnya.
'Hahahaha.. Ilmu bulan menarik samudra dari guru Nyi Bulan Perak ternyata cukup kuat! Kekuatannya berevolusi mengikuti peningkatan levelku!'
__ADS_1
Gentayu awalnya tidak yakin bahwa hanya mengandalkan ilmu warisan Nyi Bulan Perak, gurunya, dirinya mampu menyerap energi petir di tingkat ini.
Setelah masuk lebih dari satu kilometer ke dalam hutan, Gentayu berhenti di dekat sebuah goa.
Kekuatan petir di tempat ini setidaknya telah meningkat 4 kali lipat dari wilayah tepian, saat Gentayu terpaksa mundur karena desakan putri Nakano.
Gentayu memeriksa sekilas bagian dalam goa. Menyadari bahwa tidak ada bahaya di dalamnya, dia segera memasukinya.
'Aku telah menyerap energi petir terlalu banyak. Sebelum melanjutkan, aku harus mengolah energi petir ini menjadi energi murni terlebih dahulu agar tidak membahayakanku'
Akhirnya, Gentayu memilih duduk untuk bermeditasi guna memurnikan energi petir yang telah diserapnya.
Gentayu memposisikan tubuhnya duduk bersila. Lalu mulai mengedarkan kesadarannya guna mengenali dan perlahan mengisolasi energi petir yang terperangkap di tubuhnya dengan kekuatannya.
Namun memang bukan itu tujuan Gentayu.
Dia ingin menyerap energi ini sepenuhnya dan menjadikannya bagian dari kekuatannya.
Oleh karena itu, berbekal pemahamannya terhadap Kitab Jari Petir warisan dari Cik Han atau Marobahan si Kakek Jari Petir, Gentayu segera mulai menggerakkan energi petir yang telah sepenuhnya diisolasi sebelumnya menuju titik-titik akupuntur tertentu di tubuhnya.
Saat belum menginjakkan kaki di Dunia Para Danyang dan bertemu Gola Ijo serta begawan Manik Baya, Gentayu sama sekali tidak dapat menelaah dua bagian terakhir dari kitab Jari Petir.
Itu karena keharusan seseorang untuk mampu membuka sendiri jalur meridian tubuhnya mengikuti pola yang rumit dan menyakitkan.
Di masa lalu, sekalipun langkah mirip dengan ini juga dilakukan, namun tingkat kerumitan dan tuntutan ketepatan waktu antara terbukanya titik dan mengalirnya energi melalui titik itu jauh berbeda.
__ADS_1
Rasa sakit yang ditimbulkan juga jauh berbeda karena perbedaan kapasitas muatan energi yang ditanggung tubuh seseorang.
Dahulu, langkah mengalirkan tenaga dalam bisa dilakukan bertahap dan secara terpisah. Namun, di level sekarang hal demikian tidak bisa dilakukan saat ingin menyerap energi alam, merubahnya menjadi energi murni sebelum diedarkan sebagai Qi atau prana dalam diri seseorang.
Semua harus dilakukan sekaligus dan sekali jalan. Hal yang mustahil dilakukan oleh praktisi tenaga dalam dengan asupan energinya yang minim dan terbatas.
Tenaga dalam, tak akan mencukupi untuk segera mengaliri jalur meridian baru yang terbuka tersebut. Berbeda kasus dengan energi alam atau Qi atau Prana ini yang bisa hadir melimpah dalam tubuh karena sumbernya juga melimpah.
Ekspresi kesakitan tampak muncul di wajah Gentayu. Keringat sebesar biji jagung juga mulai membasahi wajah itu. Namun Gentayu bertekad untuk menyelesaikan penyerapan ini dan menembus level pendekar bumi untuk unsur petirnya.
Andai Jerangkong ke lima di luar sana menyadari pertumbuhan kekuatan Gentayu yang akan terjadi saat keluar keluar nanti, tentu dia akan memilih masuk ke hutan petir sekarang dan segera bertindak.
Tampaknya harapan Jerangkong ke Lima bahwa Gentayu akan jatuh dalam kondisi dilemahkan oleh petir akan menjadi salah satu mimpi terburuknya. Bukan saja Gentayu tidak akan melemah, dia bahkan tumbuh lebih kuat.
Setengah hari berlalu saat rasa sakit yang dirasakan Gentayu memuncak. Dia nyaris kehilangan kesadarannya karena rasa sakit luar biasa itu. Namun saat itulah ledakan energi di pusat cakranya seolah menghentaknya.
Sebuah perasaan menjadi dipenuhi energi meluas ke seluruh tubuhnya. Rasa inilah yang diingatnya saat dirinya memasuki level pendekar Bumi sehabis melahap tanpa sengaja sosok iblis berwujud api, Bhanaspati.
'Ah.. aku memang telah berhasil menembus level pendekar bumi untuk elemen petirku. Tapi, aku ingin tahu, sejauh apa aku bisa mengembangkan elemen petirku di sini..'
Gentayu nampak belum puas dengan pencapaiannya.
Sebelumnya, sebagaimana dikatakan Manik Baya sebelum mereka berpisah, kekuatan elemen petir milik Gentayu memang telah melampaui kekuatan rata-rata puncak pendekar Sakti Mumpuni.
Hanya dibutuhkan langkah sedikit dorongan untuknya mencapai levelnya sekarang.
__ADS_1