
Pagi hari itu, Gentayu merasakan tubuhnya telah Kembali segar dan bisa bergerak.
Digerakkannya jemari tangannya mengepal dan membuka, berhasil!. Lalu diangkatnya lengan kanan dan kirinya bergantian, berhasil!. Padahal sebelumnya bahkan jarinyapun tak bisa digerakkan sama sekali. Kemudian dia mencoba untuk bangkit dari pembaringan yang terbuat dari tumpukan jerami di atas batuan goa itu. Kali ini, diapun berhasil duduk. Kepalanya bahkan sudah tidak lagi merasakan pusing serta sesak di dadanya kini tak lagi terasa.
‘Sepertinya, pengobatan yang diberikan Kakek Marobahan berhasil. Tapi, tunggu..’ Gentayu bangkit berdiri.
Digerak-gerakkannya kakinya. Lalu dia mencoba melangkah keluar ke mulut goa yang tepat menghadap arah matahari terbit tersebut. Udara segar yang sudah lama tidak dirasakannya kini dapat Kembali dihirupnya. Ada perasaan damai dalam hatinya saat menghirup segarnya udara pagi itu.
Gantayu berdiri di bawah siraman cahaya Mentari pagi. Menikmati kulitnya yang menyerap kehangatannya. Membiarkan tubuhnya menyerap energi matahari pagi yang sudah lama tidak daoat dirasakannya.
Setelah beberapa waktu berlalu, Gentayu ingin mencoba mengalirkan tenaga dalam di tubuhnya. Ada perasaan aneh saat dia menyalurkan energi hangat ke telapak tangannya. Gentayu merasa, seolah-olah energi ini bukan miliknya seperti selama ini dirasakannya.
“Itu energi hitam yang sangat kuat, bahkan hampir merenggut nyawamu..” terdengar suara lembut Kakek Marobahan di belakangnya.
Kakek itu menepuk bahunya pelan. “Kamu dianugerahi kemampuan aneh. Dua kekuatan yang berlawanan bisa berada bersamaan di tubuhmu. Aku sendiri bingung saat mengetahui gejolak tenaga dalammu ternyata disebabkan aliran dua energi yang saling bertolak belakang itu, dan bisa tiba-tiba bisa saling melengkapi. Saling mendukung. Pada orang-orang lain, tentunya akan merusak saraf dan mengancurkan sel dalam tubuhnya. Sepertinya bila dugaanku benar, setelah pulih nanti kekuatanmu akan jauh melampaui kekuatanmu saat terakhir kali berhadapan dengan musuhmu yang mengantarmu berakhir di tempat ini. Untuk itu, kusarankan kau melakukan pemulihan di sini sebelum melanjutkan kembali perjalananmu. Tempat ini sangat baik untukmu melatih kekuatanmu. Aku bisa memberikan sedikit saran, jika engkau mau menerimanya..” Kakek Marobahan menjelaskan kondisi Gentayu saat ini.
Tawarannya kepada Gentayu, tentu karena kakek ini menyadari satu hal dalam diri Gentayu, yaitu Gentayu adalah orang baik dan sudah selayaknya dibantu. Selama di bawah perawatan kakek Marobahan, Gentayu dan Kakek Marobahan seringkali terlibat percakapan walau tidak terlalu banyak. Dari percakapan-percakapan singkat itulah, Kakek Marobahan dapat menyimpulkan bahwa ada kebaikan dan ketulusan pada diri Gentayu.
“Baiklah, kakek. Kufikir juga tidak ada salahnya aku berangkat melanjutkan perjalanan setelah memulihkan diri. Terimakasih telah merawatku.” Gentayu menunduk memberi hormatnya kepada kakek tua itu.
Sebenarnya hatinya cukup mengkhawatirkan pedangnya serta amanat yang diterimanya dari mendiang tetua Shou. Sekalipun pedang itu adalah pusaka warisan gurunya, namun Gentayu cukup merasa tenang karena tidak akan ada orang lain yang bisa menggunakan pedang itu selain dirinya. Pedang itu hanya bisa dipakai secara maksimal oleh Gentayu saja. Pendekar dengan level lebih rendah darinya bahkan tidak akan sanggup sekedar memikulnya. Sedangkan bagi pendekar sakti, semakin lama pedang itu berada di luar sarungnya, maka pedang itu akan terus menghisap energinya. Hal itu karena pedang Satam memang jenis pedang yang setia kepada tuannya. Di samping itu, untuk melanjutkan kembali perjalanan menuju Sekte Naga Merah, Gentayu merasa perlu mempersiapkan diri terlebih dahulu setelah terluka parah dan nyaris kehilangan nyawa di hadapan Karang Setan.
Maka selama tiga hari berikutnya, Gentayu giat berlatih di bawah bimbingan Kakek Marobahan. Pendekar sepuh itu cukup antusias membantu pemulihan kekuatan Gentayu. Bahkan selama tiga hari itu, sang Pendekar Jari Petir banyak mengajarkan jurus-jurus pamungkas miliknya kepada Gentayu. Tampaknya pendekar sepuh itu begitu tertarik setelah mengenali kepribadian Gentayu yang bahkan rela bertaruh nyawa demi menolong sesamanya. Terlebih saat mengetahui bahwa Gentayu adalah seorang yang unik latar belakangnya dan juga memiliki bakat yang tak dimiliki banyak orang lain terutama dalam hal kecerdasan dan kejeniusannya. Dalam pandangan kakek Marobahan, Gentayu adalah sosok yang mungkin akan berada di puncak dunia persilatan pada saatnya nanti dan akan membawa banyak perubahan serta kebaikan bagi dunia di masa depan. Untuk itulah dia berfikir bahwa di ujung usianya saat ini, dia ingin berkontribusi maksimal membantu pemuda ini.
Hingga di hari ke tiga, Gentayu merasa bahwa persiapannya telah memadai. Diapun bermaksud untuk pamitan kepada kakek Marobahan atau Cik Han guna melanjutkan misinya menuju ke sekte Naga Merah.
"Gentayu. Awalnya aku berfikir untuk menjadikanmu muridku. Tapi setelah kulihat sendiri kemampuan dan kesaktianmu, ditambah kondisi unik tubuhmu yang bisa menyimpan dua jenis energi yang berlawanan, rasanya aku malah akan memalukan diriku sendiri. Aku bangga telah mengenalmu. Aku yakin, suatu hari, kau akan membawa perubahan besar bagi dunia yang terus bergejolak ini. Kuharap, saat engkau nanti memuncaki dunia persilatan, aku masih bernafas untuk melihatmu.." Cik Han atau kakek Marobahan tersenyum lembut. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari balik gelungan rambutnya yang gimbal karena jarang mandi dan hampir tidak pernah dibersihkan itu.
"Ini.. Mungkin aku hanya bisa membantumu sedikit untuk mempermudah perjalananmu dengan ini. Terimalah.." Pendekar sepuh itu ternyata mengeluarkan dua buah benda berbentuk mirip pedang dalam ukuran sangat kecil.
__ADS_1
"ini biasanya disebut kerambit. Senjata kecil yang biasa digunakan sebagai senjata rahasia sekaligus senjata pertarungan jarak dekat. Yang kuberikan kepadamu ini hanya bentuknya saja yang mirip kerambit. Tapi sebenarnya ini bukanlah kerambit. Senjata ini kudapatkan dari kakek guruku. Sebenarnya ini adalah semacam segel energi petir maha dahsyat yang dimampatkan dalam bentuk mirip kerambit. Penggunaannya seperti ini.." Cik Han sang pendekar jari petir mengakhiri penjelasannya dengan melompat tinggi ke udara, lalu dilemparkannya salah satu senjata itu ke arah tebing, dan..
'Tratak!! tratak..! tratak..!
DHUAR....!!!'
Sebuah kilatan petir besar terlihat menyambar dari senjata tersebut mengantam tebing batuan pada jurang tersebut..
'Grotak..! Grotak..! Grotak...! BUM!!
Suara bebatuan runtuh terdengar membahana di dalam jurang itu dan salah satu bagian dari tebing jurangpun runtuh seketika diikuti tanah yang bergetar seperti terkena gempa dahsyat. Debu-debu beterbangan dari bekas reruntuhan tebing tersebut, menimbulkan selubung pekat yang menghalangi pandangan untuk beberapa saat lamanya.
Gentayu yang menyaksikan kejadian itu sampai terloncat karena terkejut dengan gelegar suara petir yang disusul oleh runtuhnya batuan tebing itu. Ternyata sedahsyat itu senjata yang terlihat sederhana ini.
"Perhatikan lagi, Gentayu.." Cik Han yang telah kembali mendarat dan berada di dekat Gentayu sepertinya belum selesai dengan penjelasannya "Saatnya memanggil petir, lihat ini!"
Kali ini, Kakek tua tidak lagi melompat, melainkan hanya mengacungkan salah satu senjata lainnya ke udara. Tiba-tiba awan menjadi gelap seketika dan...
'DHUAR!!'
Sebuah petir raksasa terbentuk dalam hitungan kedipan mata di antara awan yang menghitam, dan seolah seperti tersambung dengan senjata di tangan kakek Marobahan melalui sebuah cahaya setipis benang. Petir itu menyambar ke arah yang ditunjuk oleh senjata itu, sebuah ledakan lain akibat petir dahsyat terdengar sekali lagi menghancurkan bebatuan yang tadi telah runtuh ke dasar jurang menjadi debu, dan sebagian menjadi batu pijar yang panas.
"Kedua senjata ini, bernama 'Karambuik Halilintar'. Sekarang, kuserahkan kepadamu. Bukankah kau kehilangan pedangmu?" kakek Marobahan menyerahkan sepasang senjata itu kepada Gentayu. Gentayu segera berlutut saat menerima kedua senjata itu dan menerimanya dengan kedua tangan terbuka di atas kepalanya.
"Murid menerimanya, guru. Terimakasih atas segala budi baik guru" Gentayu memanggil kakek pendekar ini dengan sebutan guru karena baginya, setiap orang yang mengajarinya ilmu apapun adalah gurunya, tak peduli apakah ada ikatan guru dan murid ataukah tidak.
"Hahahaha... Sudah kukatakan bahwa bakatmu terlalu tinggi untuk menjadi murid orang tua ini.. Hahahaha... Tapi tak apalah. Toh aku juga telah menurunkan beberapa jurus pamungkasku padamu. Kufikir, agar aku tidak malu sebagai gurumu, karena tidak bisa banyak mengajarimu aku juga ingin menyerahkan ini. Kau bisa mempelajarinya kapan-kapan dan mengajarkannya pada muridmu saat kau nanti punya seorang murid. Ini adalah kitab jari petir..." Kembali Gentayu menerima salinan kitab yang tampak sangat usang dari kakek tua itu.
"Terima Kasih sekali lagi guru. Saya berjanji akan menjaga amanat guru dan menjadi murid berbhakti. Semoga guru panjang umur, dan mohon jangan mati dulu sebelum aku kembali ke sini lagi, guru!" Gentayu menunduk sekali lagi sebagai tanda hormat dan takzimnya kepada gurunya. Tapi....
__ADS_1
'Pletak!'
Justru dia menerima sebuah pukulan tongkat di kepalanya. Sebuah benjolan segera terbentuk.
"Aduh! Apa salahku guru??" Gentayu protes sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.
"Murid sialan! Apa kau fikir aku harus di sini terus selamanya?? Huh! Kalau aku harus di sini terus, kau fikir siapa yang akan mengurusi istriku, hah?" Kakek itu mendengus sambil terkekeh.
"Jadi....?" Gentayu mengernyitkan keningnya berusaha mencerna perkataan gurunya itu.
"Iya. Aku punya istri. Kau fikir siapa yang membuat masakan yang kita makan selama kau di sini? Kau fikir aku bisa masak seenak itu? Hahahahaha..." Kakek itu menertawakan wajah gentayu yang berubah merah padam karena malu telah mengira selama ini gurunya ini yang memasak makanan untuknya.
"Istriku menitipkan salam untukmu. Dia juga pendekar hebat di masa mudanya. Kalau sudah selesai dari urusanmu, mampirlah ke kediaman kami. Di tepi desa Air Ketuan, kau cari saja pohon sungkai raksasa di sisi sungai tak jauh dari lokasi pertarunganmu melawan anggota Kelabang Hantu tempo hari. Panggil saja namaku di sana dan aku akan menjemputmu! Hahahahaha.... !" Cik Han atau pendekar Jari Petir tertawa lantang sebelum melayang dan menghilang. Meninggalkan Gentayu yang celingukan sendirian di tempat itu.
Tak lama berselang, tiba-tiba alam menjadi gelap pekat seperti malam. Gentayu yang masih diliputi kebingungan hanya mengamati perubahan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan sikap waspada. Setelah memunggu beberapa saat lamanya, tidak ada apapun yang terjadi. Namun dia kaget saat dengan seksama memperhatikan sekelilingnya. Ternyata, dia telah berpindah tempat. Bukan di bawah dasar jurang dengan tebing berbatu, namun di sebuah tanah luas. Sepertinya di pinggiran sebuah desa.
Tak jauh dihadapannya, terdapat sebuah batu nisan yang berdiri di atasnya sebuah prasasti. Dengan menyalakan api dari energi Matahari Emas di tangannya, Gentayu mengeja setiap hurup yang terukir di atas prasasti :
'GENTAYU'
'Pendekar Pahlawan Air Ketuan'
"Apa-apaan??" Gentayu menggerutu mendapati justru namanya yang diukir di atas prasati pada nisan tersebut.
****Nb. Maafkan kemarin tidak update chapter seharian. Semoga gak pada lari yaaa..😁
Jangan lupa, terus dukung yaa..
Terimakasih sudah mampir.
__ADS_1
Untuk yang sudah kasih like, kasih vote dan komen, semoga urusannya dipermudah, rizkinya diperlancar, dan Stay healthy, yaa****...